10
10
"Kamu udah siapin semuanya, Nov?" Tesla bertanya, saat kami diantar sopir menuju rumahnya. Saat itu, aku sudah berganti kembali ke gaun hijau limau, yang diberikan ibu tadi paginya.
"Iya, udah ada di bagasi," kataku. Mungkin, mataku terlihat berat saat itu.
"Kamu ngantuk, ya?" tanyanya kemudian.
Dia telah mencoba memberitahuku sepanjang sore, untuk mengurangi anggur.
"Kayaknya kamu terlalu banyak minum, Nov," tambahnya, lalu dia terkekeh sinis, tangannya sibuk menarik dasi kupu-kupunya, "aktingnya mantap, mirip kayak istri beneran. Hehe."
"Gak! Gue ngelakuin itu bukan berarti benar-benar berniat."
"Loh, kok panik?"
"Gue gak panik, Tesla. Gue cuma mau lo sadar, kalo lo terlalu banyak minum, itu aja."
"Hem ... ya, mungkin ...," ucapnya, lalu terdiam, mungkin mulai tertidur.
"Tapi, lo bakal nyesel udah banyak minum, waktu naik pesawat nanti," kataku, dengan seringai jahat.
"Kenapa emang?" dia bertanya, matanya sudah terpejam.
"Liat aja nanti ...," jawabku.
Aku pun menatapnya, yang sedang tidur dan tersenyum.
*****
Hari sudah mulai gelap ketika kami tiba di rumah. Aku membangunkannya, lalu menyuruhnya untuk membantu membawa barang. Dia kelihatan malas menurut, tetapi tampak hendak keluar dari mobil.
"Apa-apaan ini?" dia bertanya, mungkin karena melihat koper di samping pintu.
"Bawa aja ke luar," kataku. Kemudian, aku menyibukkan diri pada ponsel, untuk mendengarkan pesan-pesan.
Dia menggerutu pelan, sambil meraih dua koper. Aku akan berjalan keluar pintu, tetapi pesan di ponselku berbicara, suara Soni tereengar nyaring dan jelas, "Nov, ini gue Soni. Plis, telpon gue balik ya."
Aku yakin, Tesla mendengar semuanya. Namun, aku tidak terlalu peduli. Biar saja dia mati karena rasa penasaran, karena aku tidak akan pernah menjelaskan apapun.
"Siapa tuh?" dia bertanya ketika mengambil koper terakhir.
"Ada deh," aku menjawab sambil mengangkat alis ke arahnya.
Dia hanya berdiri di sana tanpa bergerak; menatapku dengan tajam.
"Apa?" ucapku, "gue udah bilang, gak ada hubungan seksual dalam pernikahan ini. Gak ada pacar ataupun kekasih," dengan datar dan dingin.
Dia mendesah. Mungkin dia menyesal telah terjaga.
"Gue gak punya hubungan yang bakal mengkhawatirkan reputasi lo, paham?" tambahku.
"Terus, siapa tadi?"
"Cuma teman."
"Gak terdengar kayak teman tuh," sahutnya.
"Berhenti kepo, Tesla. Gue gak suka. Gue aja gak nanya kamu tentang Vita kok."
"Vita?"
"Kenapa? Lo lupa namanya? Yang waktu makan malam itu tuh," tambahku, dengan nada sinis.
"Stop, Novi!"
"Emang gue ngapain?"
"Berhenti ngomong kayak tadi," jawabnya.
"Lah?"
"Kamu itu lagi nyindir!
"Gue anggap itu seni," aku mengakhiri pembicaraan, "ayo pergi. Gue saranin ya, mending nanti lo tidur aja lagi. Gue lebih suka lo tidur."
*****
Aku menyerahkan tiket ke Tesla, ketika kami sampai di bandara. Sedetik kemudian, dia malah menatap tajam ke arahku.
Aku tersenyum puas. Sisi jahatkulah yang berkuasa saat itu.
"Saya gak percaya kamu benar-benar ngelakuin ini, Nov!" dia hampir berteriak.
"Sekarang udah percaya, kan? Hehehe," balasku, dengan seringai.
"Papua Nugini? Kamu gak bercanda? Itu ada di belahan dunia lain, Novi!"
"Dan gue udah buat rencana pergi ke sana, sebelum lo muncul, jadi gue tetap bakal pergi meski gak sama lo."
"Masalahnya ... Anda ... memesankan saya ... penerbangan komersial!!!" ucanya seraya menunjuk-nunjuk tiket, "kita bakalan terbang selama berjam-jam!"
"Ya, benar. Tapi ... kata mereka, lo bakal duduk di belakang. Asal lo tau ya, Tes, di situlah ketidaknyamanan terbesar. Xixixix," balasku.
Di wajahnya, terlukis perasaan seperti frustrasi.
"Kamu sengaja ngelakuin ini?"
"Yahiyalah ...," aku menjawab sambil meletakkan tangan dada, "... gue sengaja, dan lo pasti gak bakal bisa tidur. Gue kasih tau mereka kalo suami gue suka sama anak-anak. Jadi, mereka dengan senang hati bilang, bahwa ada banyak anak sekolah yang duduk di samping lo. Xixixix."
"Terus, kamu duduk di ...?" tanyanya.
"Gue udah punya jadwal penerbangan kelas bisnis, beberapa bulan yang lalu."
"Gak, gue gak bakal biarin itu terjadi," sahutnya. Kemudian, dia mulai berjalan ke barisan panjang loket.
"Lo mau apa, Tes?" aku bertanya dengan suara keras.
"Gue mau perbaikin masalah ini," katanya.
"Terserah lo, Sayang. Cepat ke sini ya, abis ngomong sama dia."
Dia berhenti jalan, lalu berputar ke arahku.
"Maksud kamu apaan lagi?"
"Makanya, lo liat waktunya di tiket itu! Bentar lagi kita bakal naik," aku menjawab, lalu melihat arloji kemudian melanjutkan, "nah, jadi ayo ikut saya atau pulanglah."
Aku pun berjalan ke arah yang berlawanan, dengan terus tersenyum. Aku takpeduli sama sekali apakah dia ikut atau tidak.
"Sialan!" aku mendengar dia mengutuk di belakang. Namun, langkahnya terdengar sedang mengikutiku ke area tunggu.
"Lo bakal senang di bulan madu kita, Sayang," ucapku.
*****
"Kamu tenang aja ya, Sayang," kataku.
Kemudian, aku menatap ke bawah,.ke arahnya. Dia duduk, begitu tidak pada tempatnya, di antara dua anak yang berat dam sedang bertengkar. Dia berhasil berganti menjadi celana panjang dan kemeja putih muda.
"Kamu gak boleh ninggalin saya gitu aja di sini, Novi," desisnya.
Aku pun tersenyum padanya dan mengejek, "Sayang, tempat duduk yang bagus lagi nungguin gue. Bersikap yang baik dong. Jangan sampai anak-anak ini nangis," lalu mencium pipinya.
Dia memalingkan wajahnya dari tanganku. Aku pun terkekeh.
"Lo gak bakal nangis, kan, Tes?"
Dia hanya menatap, dengan rahangnya yang terkatup.
"Jangan percaya diri dulu, Novi. Kita bakal ketemu lagi sebelum kamu sadar."
Peringatan dalam suaranya itu, seharusnya bisa membuat siapa pun khawatir, tetapi aku tidak.
"Gue nantiin momen itu, Sayang," balasku, dengan pura-pura ceria.
Kemudian, aku berjalan menyusuri lorong pesawat menuju kelas bisnis. Saat aku meliriknya, matanya terpejam—lebih seperti sedang berdoa, ketika kedua anak besar itu saling mengulurkan tangan di depannya. Tangan mereka ke mana-mana, sedangkan suamiku yang tampan dan kurus kering itu, tampak takbisa berbuat apa-apa selain berasap.
"Semuanya pasti berjalan lancar," aku membatin, lalu memikirkan apa yang bisa kulakukan selanjutnya, ketika sampai di tujuan bulan madu kami.
*****
Kami mendarat di Korea untuk penerbangan transit.
"Dari mana aja kamu?" suara Tesla menggelegar, tepat di telingaku saat aku menjawab telepon.
Kemarahan dan kelelahan dalam suaranya bisa kudeteksi, dan aku tabisa menahan senyum puas. Aku pun memberi tahunya nama kafe, lalu memutuskan sambungan sebelum dia bisa meneriakkan komentar lain.
"Pesankan gue kopi," katanya, ketika kami tiba setelah beberapa menit. Dia menjatuhkan diri di kursi, di sampingnya, lalu merosot.
Aku pun menghela napas. Melihat rambutnya berantakan, serta lingkaran hitam di sekitar matanya, aku bangkit untuk memesan minuman keras. Lagi pula, aku tak tega membuatnya menderita sepanjang jalan—karena dia bakal menghadapi lebih banyak dalam beberapa hari ke depan.
"Ini," aku menyerahkan kopi panas yang mengepul. Dia mengambilnya, lalu menatapnya dengan mata setengah tertutup di tepi cangkir. Dia menghirup sedikit cairan panas, tanpa mengalihkan pandangan dari wajahku yang mungkin terlihat segar.
"Keliatannya kamu udah istirahat yang cukup, Yang?" ucapnya, dengan nada getir.
"Yahiyalah, gue kan tidur dengan nyenyak," jawabku, dengan nada berseri-seri, "tapi lo keliatan gak sehat."
"Itu salah kamu," dia memvonis, "tapi ...," lalu menghela napas sambil bersandar di kursi, dan tersenyum, "penderitaan saya bakal segera berakhir."
Aku membeku, agaknya dia tak lagi semarah seperti sebelum lepas landas.
"Maksud lo apa, Tes?"
"Saya bilang ke teman, tepat setelah turun dari pesawat," dia menjawab; seringainya melebar dan mata hitamnya berkilat, "nanti ada kursi tambahan tepat di sebelah kamu."
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ku mengerti.
"Gak! Gak ada kursi tambahan di sebelah gue! Gue gak bakal duduk sama orang lain."
"Jadi, kamu mau buat masalah sama orang lain itu, sampai dia pindah tempat duduk?"
Aku pun langsung mengerang.
"Ya Tuhan, gue jadi bener-bener mau buat lo lebih menderita, Tesla!
"Sayang, kayaknya itu gak bakalan terjadi," dia menjawab sambil mengedipkan mata.
"Bangsat!" bentakku. Seharusnya aku tidak memesankan kopi untuknya. Sial!
*****
Dua jam kemudian, "Gue gak nyangka lo pakek koneksi lo," aku mengerutu padanya.
"Dan saya juga gak percaya, kamu biarin suami kamu menderita berjam-jam, tanpa tidur, kelelahan, dengan dua anak laki-laki hiperaktif yang gak mau berhenti berantem," jawabnya, "kayaknya saya gak bakalan kaget lagi kalo ada memar di tangan."
Aku mendengkus.
"Memar? Jangan bilang kalo.lo ikut beranrem sama mereka?"
"Ya enggaklah! Mereka cuma mutusin kalau gue bisa jadi karung tinju yang bagus," jawabnya.
Dengan gelisah, dia berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Ketika agaknya telah menemukan yang terbaik, dia menutup mata sambil tersenyum
"Akhirnya, dapet juga tempat yang bagus buat istirahat. Jangan ngomong lagi ya, Sayang. Saya benar-benar butuh tidur yang nyenyak."
"Tidur aja yang nyenyak, gue masih punya banyak kejutan buat lo," bisikku, dengan manis dan mengejek.
"Harusnya saya gak biarin lo ngatur bulan madu sialan ini ...," tambahnya, lalu mungkin langsung tertidur.
