Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

8

Baru pada malam sebelum pernikahan, aku membaca biodata Tesla. Dia berusia 29 tahun, lulus paling top di kelasnya. Setelah kematian ayahnya, Gesya—kakeknya, memutuskan untuk pensiun. Tesla pun mengambil alih kerajaan keluarga—belum pernah menikah, belum punya anak juga. Tidak banyak dalam data, yang benar-benar memberitahuku sesuatu yang lebih pribadi, jadi aku tidak repot-repot membacanya dua kali. Aku lebih peduli tentang bagaimana harus bertindak di pesta pernikahan, dan benar-benar gelisah. Jika mencoba menganalisis semuanya, hanya satu hal yang terlintas di benak: aku bisa gila!

Aku memutuskan untuk tidak menelepon Soni terlebih dahulu, tetapi nanti setelah pernikahan. Aku tidak terlalu suka tentang hal yang pasti. Banyak yang harus dijelaskan Soni sebelum kami melakukan pembicaraan. Sebelum tidur, aku menelepon untuk reservasi pesawat tambahan. Tesla memberiku paspor dan visa sebelumnya, dan juga sangat membantu dalam transaksinya. Setelah akhirnya mencetak tiket, aku melakukan lebih banyak panggilan internasional untuk pemesanan lagi. Setelah hampir dua jam, aku menatap tiket pesawat, paspor, dan visa Tesla dengan seringai jahat.

Jadi, aku yakin dia akan menyukai perjalanan pesawatnya. Hehehe.

Sebenarnya aku tidak keras hati, tetapi dengan semua yang dilakukan Tesla dan bapak kepadaku, aku pikir harus melakukan lelucon kecil.

Pernikahan kubiarkan berjalan sesuai dengan cara Tesla, tetapi bulan madu akan kupastikan persis seperti yang kurencanakan. Itulah satu-satunya yang kuyakinkan sebelum pergi tidur.

*

Ternyata orang tuaku tiba hari itu. Ya Tuhan, aku benar-benar lupa, bahwa mereka akan hadir di pesta pernikahan. Ibu tampak sangat senang. Biasanya sebagian besar ibu akan menuntut penjelasan, mengapa putri mereka tiba-tiba memutuskan untuk menikah, tetapi Rapunsel Vika—ibuku, tampak sangat gembira dan tidak bertanya sama sekali. Apa itu karena nama keluarga Pundalisa?

Dia juga berkata, "Sayang, Anak Mama, Mama bangga banget deh sama kamu, Nak. Gak papa, gak usah jelasin ke Mama, ya? Mama udah tau kok, kenapa kamu gak pernah cerita," sambil memelukku.

"Seandainya kamu liat wajah mama, Nov, waktu Bapak ceritain," ucap ayahku, dari belakang.

Karena masih marah, aku memilih diam dan tak menjawab. Jadi, bapak harus mengerti bagaimana perasaanku. Dia pun mundur sedikit, mungkin agar ibuku berbicara.

"Sayang, kok kamu belum siap-siap?" tanyanya, membuatku sadar bahwa mereka—orang tuaku, sudah berpakaian pernikahan.

"Mama, pernikahannya masih enam jam lagi. Kenapa Mama semangat banget?"

"Ya, dong, Novi Anakku!"

Dengan lembut, ibu mengusap rambut pirangku, seraya tersenyum. Ternyata, dia masih benar-benar cantik. Keanggunannya pun terlihat sangat alami. Mata coklatnya bagai batu mulia. Bahkan, usia seakan memberi cahaya baru, bukan malah membuatnya tua. Dengan gaun merah itu, dia semakin terlihat cantik; lekuk tubuhnya juga masih ramping. Sebuah mutiara kalung tergantung di lehernya yang mulus. Ah, dia tampak seperti sepuluh tahun lebih muda.

"Ayo, Nov, kamu harus bersiap-siap. Gaun sama penata rias kamu udah nunggu di plaza."

"Ma! Ini baru jam tujuh! Pernikahannya masih lama, jam satu!"

"Novi, berhenti merengek! Kamu harus mandi yang lama, harus santai. Enam jam gak cukup!” ucapnya.

Aku pun didorongnya ke kamar mandi. “Isi bak mandi, terus mandi yang santai. Mama udah siapin berbagai jenis aroma terapinya. Sebentar, Mama ambil dulu.”

Aku pun menurut, karena merasa takmungkin membujuknya pergi.

Kemudian, aku menghabiskan waktu satu jam di dalam bak—dengan aroma lavender yang kuat, pun banyak hal lain dari lilin yang dinyalakan ibu. Bapak mungkin pergi ke plaza, mungkin ya. Aku jadi merasa lega karena tidak melihatnya. Bagaimana tidak, dia sudah berbohong kepada ibu, membiarkan ibu mengira bahwa aku menikah karena mau. Ah, itu benar-benar menyebalkan!

"Ma, Novi udah selesai mandinya! Nanti kulit Novi bakal rontok kalo kelamaan!” aku berseru dari kamar mandi, lalu membungkus diri dengan jubah sutra, yang diberikan ibu sebelumnya.

"Bagus, sekarang keringkan dan pakai gaun itu," ibu menyahut samhil menunjuk gaun hijau daun, di tempat tidurku.

Aku menghela napas seraya berjalan ke tempat tidur; memakai gaunnya; dan ketika selesai, keningku berkerut karena melihatnya mengepak banyak barang.

"Mama lagi ngapain?” aku bertanya karena curiga.

"Mama beliin kamu beberapa pakaian seksi, Sayang," kata ibu, dengan nada seperti bernyanyi, “Tesla harus liat keindahan aset kamu."

"Mama udah ketemu sama dia?"

"Ya dong. Dia datang sama bapak kamu. Mama nanya, kenapa dia gak bawa kamu. Oalah, ternyata dia manis banget, Novi. Katanya mau dapat izin Mama dulu. Xixixix!”

"Hadeh, ini judulnya kayak mertua sama menantu sedeng!” aku berkata dalam hati.

Ternyata, Tesla tidak memberitahuku tentang pertemuannya dengan ibu.

“Ma! Apaan tuh!” aku berseru karena kaget.

"Apaan sih! Kok teriak?"

"Kotak apaan itu!" tanyaku lagi, rasaku ngeri saat melihat kotak berwarna cerah itu.

"Jangan bilang kalo kamu gak tau ini?" ibu malah bertanya balik, lalu melemparkan kotak itu ke depanku, “ini buat pengaman kamu, kalau kamu belum mau punya anak."

"Ma! Novi tau itu!" sahutku, aku pun mengambil kotak dari tangannya, "dan Novi tau betul buat apa ini! Duh, Mama jangan buat Novui malu!"

"Nih, Mama juga bawain kamu pil," tambahnya, "kamu tau kan, cara pakeknya? Liat ini ... ada kencan ....”

"Mama!" aku tersentak saat dia mengambil pil itu, "Novi ini dua puluh tiga! Novi juga tau cara pakek pil sialan itu!"

Ibu malah menatap dengan tampak bingung. "Kenapa kamu kayak ketakutan? Mama cuma peduli, Sayang.”

"Kalau gitu, berhenti ngelakuin hal-hal kayak gini. Astaga, ini memalukan, Ma.”

Aku lantas melihat sekeliling. Meskipun tahu bahwa kami sendirian, aku tetap ingin memastikan agar tiada yang mendengar percakapan kami.

“Apaan lagi itu?" aku bertanya karema melihat pakaian warna-warni di dalam koper.

"Pakaian dalam, celana dalam, sama banyak lagi."

Aku mengerang; menarik koper ke arahku; melemparkan pil dan kotak kondom ke dalam, lalu menutupnya.

"Ma, berhenti, oke? Novi tau apa yang harus Novi lakuin selama bulan madu."

"Emangnya kamu mau ke mana?"

Mata coklat ibu menatapku dengan tampak gembira.

"Di suatu tempat yang jauh," jawabku.

"Panas gak, tempatnya?"

"Banget.”

Akhirnya aku pun tersenyum—mencoba memikirkan reaksi Tesla begitu mengetahuinya. Eh, itu malah membuatku pusing.

"Ayo, Ma, kita pergi. Gak ada lagi kotak dan pil, oke?”

"Oke-oke!” ibu menjawab sambil mengangkat kedua jempolnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel