
Ringkasan
Suatu hari, dalam keadaan mabuk, aku dilamar oleh seorang Tesla Pundalisa. Dia begitu arogan, dan aku tidak berdaya menolaknya. Karena pernikahan itu tak pernah kuinginkan, aku berjuang mempertahankan sikapku yang riang, sambil berusaha tetap tenang setiap kami berdekatan. Candaan, petualangan, keharusan, dan rahasia, menjadi ujian pernikahan kami. Akankah sandiwara kami berakhir? Atau, malah menjadi ikatan takdir yang tak berakhir? Yuk, baca kisahku! Pasti seru!
1
Siang itu, tampaknya cuma diriku yang berjalan dalam keadaan pusing. Tampak orang-orang sedang bergegas menyusuri trotoar serta menyeberang jalan, seperti mencoba berpacu dengan waktu demi mendapatkan uang.
Mereka berbeda denganku, yang hanya menghabiskan waktu dengan berkeliaran, serta berjuang untuk tetap berjalan dalam garis lurus.
Sambil menahan senyum, aku melihat sekeliling; bertanya-tanya mengapa orang-orang itu berwajah miris, berbicara di telepon sambil berjalan begitu cepat. Syukurlah, aku seorang wiraswasta yang baik.
Ku menarik napas dalam-dalam, ternyata rasa bir masih menempel di mulut. Ya, aku telah minum selama waktu makan siang—tanpa alasan yang jelas. Aku pun mengucek mata agar penglihatan menjadi lebih baik.
Perlahan, aku berjalan sambil berusaha keras untuk tidak jatuh ke tanah—setiap kali ada seseorang menabrakku—meraba-raba dinding; bersandar, sambil terengah-engah.
"Kayaknya gue kebanyakan minum nih,” pikirku.
Tanganku mati rasa, kaki seolah hilang kekuatan.
“Bisa-bisa gue pingsan nih di sini, kalo gak nemu tempat istirahat."
Sambil menyipitkan mata, aku berjalan menuju toko terdekat; menjatuhkan diri di anak tangga paling bawah, lalu berusaha menjaga kepala agar tetap tinggi. Jika kepalaku jatuh lebih rendah lagi, pasti aku akan muntah saat itu juga.
Ponsel pun mulai berdering. Aku tidak menjawab, yakin kalau itu pasti dari ayah. Beliau memintaku bertemu sejak seminggu sebelumnya. Jadi, aku berpikir untuk menelepon kembali esoknya, begitu kembali ke diriku yang sadar.
Sebenarnya, aku sedang tak punya masalah, tetapi memang biasanya seperti itu, melakukan apa pun yang terlintas di benak tanpa berpikir. Ketika memesan botol pertama, aku ingin melupakan seseorang. Pada botol yang kedua, aku ingin mengikhlaskan takdir hidup. Pada botol-botol berikutnya, semua pikiran malah terbang ke luar jendela.
Aku berdiri setelah otak sedikit jernih. Karena membutuhkan secangkir kopi, aku harus mencari tempat yang tepat. Kebetulan di seberang jalan ada kedai kopi, dan itu adalah tempatku berlangganan. Jadi, aku masuk ke sana.
"Kepala gue pusing, bikinin kopi yang kuat dong," aku berkata kepada wanita di belakang konter, begitu memasuki toko.
"Biasanya suka kopi apa, Kak?"
Aku melihat ke menu, tetapi huruf-hurufnya bergabung menjadi satu.
"Ehm, bikinin apa ajalah yang penting kuat."
"Oke, satu kapucino siap, Kak, sebentar lagi,” jawabnya, dengan tersenyum.
Kemudian, aku merogoh dompet untuk mencari beberapa koin, menyerahkan segenggam penuh kepada wanita itu, sambil berkata, "Bantu itung cobak. Saya gak bisa.”
Wanita itu menatapku dengan tampak penasaran, tetapi melakukan apa yang kuminta.
Ia pun menyerahkan sisa koin kemudian berkata, "Baik, silakan ditunggu ya, Kak,” sedangkan aku masih berjuang untuk tetap berdiri.
"Oke, mantap."
Kemudian, aku pergi ke meja terdekat untuk menyamankan diri, lalu meletakkan dagu di tangan.
"Rapunsel? Novi?" terdengar suara laki-laki dari atasku.
"Hem?" hanya itu yang bisa kukatakan.
Aku merasakan beberapa gerakan di seberang meja. Ketika mengintip melalui kelopak mata yang berat, aku menyadari bahwa seorang pria sedang duduk di kursi kosong di hadapan.
"Saya Tesla Pundalisa. Dan saya mau bicara sama kamu.”
"Waktunya gak tepat. Saya lagi gak mud ngomong."
Kemudian, menutup mata sekali lagi.
"Justru sekarang waktu yang terbaik," suara itu seakan menggoresku dengan kesal, sehingga aku membuka mata sekali lagi. Mata kami akhirnya bertemu.
"Waktu terbaik apaan?"
Akan tetapi, aku tidak benar-benar ingin mengobrol.
"Saya mau ngasih kamu sebuah tawaran, dan kamu gak bakal bisa menolak."
Aku mendengkus.
"Tawaran apaan tu?"
"Kamu harus jadi istri saya."
Alkohol yang mengalir dalam pembuluh darah tiba-tiba menuju ke kepala, saat aku menatap pria asing yang tampan itu dengan takpercaya.
