7
Tesla berkata, "Dengar, maafin saya, oke? Saya gak tau kalo kamu benar-benar fobia. Kamu belum mati, jadi berhenti bersikap kanak-kanak!”
"Kanak-kanak? Enak aja! Lo tuh yang anak-anak!”
"Sssut!" dia mendesis, “berhenti berteriak. Jangan marah lagi. Ayo pergi sekarang.”
Dia berjalan di depanku, dan aku senang karena takingin dia melihat gaya berjalanku yang goyah. Lututku masih lemah karena perjalanan.
“Novi, cepatlah," panggilnya dari balik bahu.
"Sabar!"
Dia berhenti; melihat ke belakang, lalu tampak memerhatikan langkahku yang lemah.
“Duh, lamanya," katanya, lalu dia berjalan kembali ke arahku; meraih tangan kiriku, lalu meletakkan di belakang punggungnya.
“Biar saya bantu," katanya dengan lembut, lalu melingkarkan lengan kanannya di belakang punggungku.
"Gue gak butuh!"
Aku mulai menarik tangan dari belakang punggungnya, tetapi dia menahanku dengan tangannya yang bebas.
"Diam!” perintahnya, dia pun mempererat cengekeramannya padaku, "ayo pergi. Kita udah terlambat kalo kamu terpincang-pincang begini!”
Aku melotot ke arahnya, tapi takingin berdebat lebih jauh.
*
Kami memasang senyum palsu di wajah, saat wanita di konter toko pengantin tersenyum. Mungkin, kami terlihat sangat manis, dengan tangan di sekitar satu sama lain.
"Eh, Pak Tesla, selamat datang," si rambut coklat cantik menyapa sambil tersenyum.
"Kami mau coba gaun tunangannya," Tesla menjawab, sambil tersenyum lebar pada wanita itu, yang matanya berbinar saat menatapku.
"Wokey, gaunnya sudah siap. Tinggal dipasang aja.”
Wanita itu pun berdiri, lalu membawa kami ke ruang dalam.
"Mana perempuan yang saya ajak bicara kemarin?"
"Oh, maksud Bapak Mbak Veli? Dia keluar hari ini, Pak. Suaminya ada urusan darurat. Tapi dia nitipin perintah buat bantu Bapak. Oh iya, saya Reyna," ucapnya, lalu dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Tesla.
"Ini tunangan saya, Novi yang cantik," dia memperkenalkan; Reyna meraih tanganku dan menjabatnya dengan hangat.
"Yuk, Kak, ikut saya," dia mengajak, dan tampak memberi isyarat dengan tangannya, lalu membawa kami ke dalam kamar pas besar, dilengkapi dengan sofa yang elegan dan platform untuk berdiri.
"Gue tunggu di sini," Tesla berkata; melepaskanku kemudian mencium mulutku. Mataku pun membelalak kaget.
"Jangan kaget begitu, Sayang," bisik Tesla di telingaku. Kemudian, dia melangkah mundur, dengan ekspresi geli di wajahnya.
"Bu Novi, apa Anda siap?" Reyna bertanya.
Aku mengangguk; memaksakan senyum, lalu membalikkan punggung ke arah Tesla, setelah memberinya tatapan tajam.
"Ya, saya siap."
"Apa pun hasilnya, gaun itu bakal sangat bagus kalo Ibu yang pakai," katanya.
Aku meletakkan tangan di belakang, lalu memberi jari tengah pada Tesla
**
Aku memang mengetahui jauh sebelumnya, bahwa Tesla telah memilih gaun untuk kukenakan. Namun, aku tak pernah mengira gaun itu akan sempurna—seperti dibuat untuk seorang putri. Itu memamerkan bahuku yang seperti krim, serta memeluk lekuk tubuhku yang sempurna. Roknya cukup berat karena memiliki begitu banyak lapisan, yang menciptakan tampilan seperti balon. Aku tidak terlalu suka mengikuti perkembangan dunia fashion, jadi tidak terlalu keberatan mengenakan pakaian terbaru, asalkan merasa nyaman. Gaun itu mungkin hanya dibuat untukku. Meski roknya berat, aku merasa nyaman.
Akan tetapi, mengenakan gaun dan melihat bayangannya di cermin, membuatku mengingat banyak kenangan kembali. Aku pun tersenyum sedih, saat mengamati manik-manik gaun yang tampak seperti dijahit tangan.
"Wah, sempurna," Reyna berseru, “kayaknya kami gak perlu menyesuaikannya lagi sama sekali."
"Ya, benar," kataku, lemah, cmpuran berbagai jenis emosi berputar-putar di dalam diri, "bisa saya lepas sekarang?"
Aku takingin tinggal di dalam gaun lebih lama lagi. Lagi pula, itu tidak sepenuhnya dibuat untukku. Meski sangat indah, gaun itu hanyalah kostum untuk dipakai esok harinya.
"Tapi, bagaimana sama kerudungnya?"
"Oh, jangan khawatir. Saya tahu kok, itu pasti sempurna,” jawabku, dengan lambaian.
"Pak Tesla gak mau liat Ibu pakai gaun ini?" tanya Reyna lagi.
Aku pun mulai kehilangan kesabaran.
"Gak, dia gak boleh dan saya gak bakal biarin. Kami punya tradisi sendiri!”
Wajah cantik Reyna bersinar seakan penuh pengertian.
“Ah, ya, sebagian besar klien kami juga punya tradisi kayak gitu.”
"Ya, saya salah satu dari mereka. Jadi, sekarang tolong bantu saya?”
"Baik, Bu.”
Reyna pun melangkah; mendekat dan membantuku.
***
"Kenapa saya gak boleh liat?" Tesla menuntut.
"Itu tradisi, Sayang, ingat?" katanku, dengan senyum palsu.
"Tapi saya beneran mau liat," katanya, lalu menoleh ke Reyna, "terima kasih."
"Sama-sama, Pak Tesla," jawab Reyna, “kami bakal kirim gaun itu, besok jam enam pagi, terus turut membantu kalo ada yang harus ditambal."
"Terima kasih," kataku seraya menarik lengan Tesla, “yuk pergi, Sayang."
"Oke," jawabnya, lalu membawaku ke luar pintu.
"Abis ini kita ke mana?" aku bertanya saat kami sudah di luar gedung.
"Plaza," jawabnya.
"Baguslah, jaraknya gak terlalu jauh," aku berkata sambil naik ke dalam kursi penumpang. Aku cukup berenergi untuk bertahan di dalam mobil lagi.
****
"Ini, coba ini.” Tesla memberiku semacam steik, tetapi aku sudah lupa apa namanya.
"Hem ...,” aku pun memaksakan senyum sambil mengunyah, walau ingin sekali membuangnya, “enak.”
"Mantap, Pak," kata Tesla kepada pria di depan kami.
"Hehe. Makasih."
"Coba ini, Sayang," kataku kepada Tesla, sambil memasukkan ayam bertekstur krim, dalam jumlah yang agak banyak ke dalam mulutnya.
"Hem ...,” reaksinya, dia berseri-seri dengan pipi yang menggembung, lalu mengacungkan jempol.
Kami menghabiskan waktu satu jam, untuk mencoba memasukkan sebanyak mungkin makanan ke dalam mulut masing-masing—demi kesenangan katering. Usai mencicipi makanan, kami mengunjungi Event Organizer. Hatiku dipenuhi begitu banyak emosi saat melihat tempat pelaminan—tempat di mana aku akan menikah dengannya. Ya, aku akan menikah dengannya—seorang Tesla Pundalisa.
Dua tahun sebelumnya, semua yang kami lakukan hari itu, sudah pernah juga kulakukan, dengan dipenuhi kegembiraan dan cinta. Namun, kali bersama Tesla, hanyalah sesuatu yang harus kulakukan demi menyelamatkan pantat bapak.
*****
"Lo udah rencanain ini semuanya," kataku, kepada Tesla saat makan siang.
"Ya dong. Emang itu yang saya lakuin. Saya berencana."
"Maksud gue, apa lo udah rencanain semuanya?"
"Iya," katanya, dia pun menyeruput anggurnya, “saya udah berencana, kalo kamu bakal tinggal di rumah saya selama enam bulan ke depan," lalu berhenti sejenak dan berkata, "kecuali satu hal."
"Apa?"
"Bulan madu. Saya sama sekali belum mikirin itu sampai sekarang. Semua orang pasti berharap, kalo kita pergi berbulan madu."
"Lo pasti bercanda."
"Gaklah.”
"Gue udah punya rencana. Gue mau, kita pergi ke ...," aku berhenti di tengah kalimat dan tersenyum.
"Apa? Kamu mau pergi ke mana?"
"Hehe," jawabku, "biar gue aja yang buat rencana bulan madunya.”
Dia memandangku sejenak sebelum mengangkat bahu dan berkata, "Oke silakan.”
"Lo harus libur seminggu setelah pernikahan."
"Apa kamu bercanda?"
"Gaklah, libur atau gue bakal bulan madu sendirian. Kita bisa ngedit beberapa foto bersama, terus ditunjukin ke keluarga lo."
"Haduh, oke baiklah. Satu minggu. Terus kita mau ke mana?"
"Itu rencana gue, lo cari tau aja sendiri,” jawabku, dengan seringai.
