6
Aku berbaring di tempat tidur; terjaga dan termenung; mencoba memikirkan semua yang terjadi hari itu, dan aku sudah merasa lelah. Semuanya berlangsung begitu saja dan gila. Kemunculan tiba-tiba Tesla Pundalisa, kejutan dari pernikahan yang tidak kuketahui, pembicaraan dengan bapak, makan malam, perilaku Vita yang mengejutkan, juga panggilan telepon dari Soni.
Mengingat nama Soni dan teman-temanku, membawa kembali begitu banyak kenangan. Kebanyakan dari mereka bahagia. Namun, mengingat saat-saat bahagia yang kuhabiskan bersama Soni, akan mengingatkanku juga pada Deni. Mengingat Deni, sama seperti aku membuka Kotak Pandora—segala sesuatu yang buruk keluar; berputar-putar di sekeliling.
Aku memainkan cincin di jari, sambil memikirkan Tesla Pundalisa. Selama 23 tahun, aku belum pernah bertemu pria dengan kesombongan, temperamen, dan kepercayaan diri yang begitu besar seperti dia. Dia sangat berbeda dari Deni, tetapi aku malah bersyukur. Aku takbisa membayangkan: menikah dengan seseorang yang akan sangat mengingatkanku, pada pria yang masih menghantui mimpiku—baik terjaga atau tidak. Ya, tahun-tahun yang berlalu telah menyembuhkan sebagian besar rasa sakit, tetapi tidak dengan bekas lukanya—yang selalu ada untuk mengingatkanku, tentang kemungkinan yang akan kurasakan, jika memberikan seluruh hati kepada orang lain lagi.
Terlebih, bertemu dengan Tesla Pundalisa mengingatkan, bahwa aku tidak boleh ceroboh seperti sebelumnya. Dia tidak mungkin punya keinginan lagi, karena sudah memiliki segalanya.
Pernikahannya denganku nanti, hanyalah demi kenyamanannya, serta membayar hutang bapakku. Jadi, aku takperlu memberikan apa pun, terutama hati.
Akan tetapi, bukankah aku cantik dan seksi? Ya, tentu saja! Pastinya Tesla juga tidak akan menyangkalku sama sekali. Dia pasti tidak naif. Aku bisa mendeteksi ketertarikan fisik yang dia rasakan terhadapku. Aku dengan gelisah berbalik ke satu sisi, lalu menutup mata—agar membiarkan kantuk datang perlahan; berharap bahwa kami tidak akan bertindak, atas apa yang disebut ketertarikan. Aku pun berdoa, lalu mengistirahatkan pikiran.
*
Aku terbangun. Terdengar suara ketukan marah di pintu depan, serta dengung bel-nya yang seakan taksabar. Aku mengerang, lalu melihat jam: 10.30 pagi. Waktu bergerak lambat untuk terdaftar dalam kepalaku yang mengantuk, ketika akhirnya otakku mengonfirmasi, aku melompat dari tempat tidur dan tersandung ke lantai.
"Sialan!"
Aku berlari; menyusuri koridor yang tertuju ke pintu. Aku tidak perlu memeriksa siapa yang ada di luar—karena merasakan kehadiran amarah yang kuat di balik pintu, sebelum membukanya.
"Jangan bilang kalo kamu bakal keluar pake pakaian kayak gini," ucap Tesla dengan mata melotot.
Saat mengikuti tatapannya, aku sadar, ternyata masih memakai piyama yang super tipis. Aku pun tersentak; menyilangkan tangan di depan dada, sambil sedikit meringkuk. "Maaf, kayaknya gue ketiduran."
Dia mengangkat satu alis ke arahku.
“Emangnya apa yang kamu lakuin tadi malam? Bukannya saya antar kamu lebih awal?"
Aku menarik napas dalam-dalam; menyesal, karena aroma jantannya tiba-tiba memenuhi indraku. Untuk mencegah diriku memejamkan mata karena menikmati aroma segarnya. Aku pun melangkah mundur dan berkata, "Masuklah. Saya mau siap-siap dulu.”
"Cepetan!!!” perintahnya. Dia pun segera melangkah ke ambang pintu. Hari itu, dia berpakaian santai dengan kemeja putih sederhana, juga celana gelap.
"Ya, ya, jangan terlalu emosi. Duduklah dulu di sana," aku menjawab sambil menunjuk satu-satunya kursi yang ada. Segala sesuatu yang lain ditempati oleh kanvas dan beberapa hal lainnya.
"Untung kamu masih sediain tempat buat duduk," katanya, sinis.
"Saya gak peduli apa yang kamu pikirkan," aku menjawab sambil berjalan kembali ke kamar, "dan jangan sentuh apa pun!" lalu berteriak sebelum berlari menyusuri koridor dan ke lemari.
Aku meraih kemeja pertama yang tersentuh, lalu memakainya. Kukenaka celana pendek yang digunakan tempo harinya, lalu mengambil sepasang sepatu bot coklat, yang tergeletak di kaki tempat tidur. Tas coklat besar di belakang pintu adalah satu-satunya hal yang terpikir olehku. Untuk mencocokkan pakaian yang aneh, aku mengambilnya, lalu melempar tas tangan yang kugunakan tadi malamnya ke dalam. Setelah itu, aku mengambil ponsel dan kunci. Aku melihat sekali lagi ke cermin, lalu memutuskan untuk menahan rambut pirangku, dengan gaya sanggul yang berantakan. Aku tidak benar-benar memakai make-up, jadi tetap baik-baik saja.
"Ayo pergi," aku mengajak, seraya berjalan kembali ke ruang tamu.
Ternyata, Tesla memilih untuk tidak duduk di kursi. Dia malah melihat-lihat karya seniku dengan ... kekaguman, mungkin, yah, itu sebelum dia memandang tubuhku lagi.
"Jadi, kamu berpikir bakal keluar pakai baju kayak gitu?” ucapnya, alisnya juga berkerut,.mungkin karena tidak setuju.
“Ada yang salah?"
Aku melihat giginya terkatup sejenak sebelum menjawab, "Hadeh, ya udahlah. Ayo pergi,” dia berjalan ke pintu kemudian membukanya, sedangkan aku hanya mengangkat bahu.
Aku mengikutinya keluar kemudian mengunci pintunya, sambil berpura-pura memutar leher.
Kali itu, dia tidak membukakan pintu untukku ketika kami sampai di mobilnya, tetapi langsung pergi ke sisi pengemudi dan masuk.
"Kamu benar-benar pria terhormat, Sayang," teriakku. Kemduian, aku membuka kursi belakang; membungkuk. Seketika mulutku menganga. "Apa ini?" tanyaku.
Aku terkejut melihat kotak-kotak itu.
"Kotak-kotak itu isinya sampah,” katanya dari belakang kemudi.
"Terus?"
"Ya ada di situ, buat cegah kamu duduk di belakang. Sini," ucapnya, dia menepuk kursi penumpang dengan tangan kanannya.
"Gak," aku menggeleng dengan kuat, “gak bakal sudi gue.”
"Mending kamu singkirkan fobia itu selamanya," katanya, terdengar serius.
"Plis ... gue gak bisa ...." Tenggorokanku tercekat.
Sebenarnya benci mengemis, tapi aku sangat menginginkan kursi belakang.
"Gak," dia berucap seolah itu adalah hal terakhir yang kudapatkan.
"Gue benci sama lo, Tesla!”
Aku membanting pintu kursi belakang, lalu dengan kaki gemetar, berjalan membuka sisi penumpang. Saat naik, aku merasa mual. Kutarik napas dalam-dalam; bersandar pada jok kulit, lalu menutup pintu—terlalu lemah untuk membantingnya lagi. Dengan membabi buta, aku meraih sabuk pengaman dan mencoba kekuatanku untuk mengikatnya. Tangan hangat Tesla memegang tanganku, membantuku mengerjakan tugas. Aku tidak berani memandangnya, karena takut dia akan menciumku, dan aku belum kuat untuk itu.
"Sialan, kamu benar-benar gak bercanda tentang itu, ya?" dia bertanya sambil menatapku.
"Lo nyetir aja," kataku, sambil terengah-engah.
Mungkin, aku akan berhasil, jika memohon sekali lagi untuk duduk di belakang, tapi dia terlalu keras kepala.
Dia melakukan apa yang kuperintahkan, lalu menyalakan mesin. Saat mobil meluncur, jantungku berdebar sepuluh kali lebih cepat, dan aku mencengkeram tas; buku-buku jariku memutih.
"Kamu baik-baik saja?" dia melihatku, dan tampak prihatin.
"Diam!” bentakku, aku terlalu takut untuk berbicara.
Aku memejamkan mata dan membayangkan diri duduk di belakang. Kepanikanku sedikit surut.
“Gue benar-benar benci lo karena ini," tambahku, dengan suaran yang sedikit lebih kuat.
"Kamu harus mengatasi rasa takut kamu, Novi," katanya yang nyaris lembut.
Aku membuka mata. Siapa dia, memberitahu apa yang harus kulakukan atas ketakutanku? Dia tidak tahu apa-apa tentang ketakutanku! Dia tidak tahu bahwa itu bukan rasa takut ... itu adalah ... kenangan.
Aku, secara mental menggeleng dan membentaknya, "Gue gak pernah minta buat jadi istri lo. Dan gue gak minta lo buat jadi psikiater gue!"
"Hei, saya cuma mencoba menenangkan kamu sekarang," balasnya.
"Gak, lo cuma mikirin apa yang mungkin dipikir orang lain, kalo mereka liat tunangan lo keluar dari kursi belakang!"
Dia terdiam cukup lama.
"Ya, kamu benar," akhirnya dia berkata, yang agaknya sedang jujur, “saya gak mau kamu duduk di sana karena alasan itu."
Aku menutup mata lagi, ketika kepanikan dan bayangan yang meningkat mulai melintas di benak. Air mata mengancam akan keluar, dan aku melawannya dengan keras.
“Gue berada di taman ...,” aku mencoba membayangkan, tidak terlalu sulit bagi pikiran artistikku, “bunga di mana-mana ... gue sendiri ... ya, ada seekor anjing dan gue berjalan-jalan sama dia ... ada lebih banyak bunga ....”
Perutku mulai mereda sedikit.
Tesla menyela, "Tutup aja mata kamu ...."
"Diam! Lo nyetir aja. Jangan berpura-pura kalo lo benar-benar peduli, lagian mata gue udah nutup!" bentakku.
Kami berkendara dalam diam sekali lagi.
**
Aku terkuras secara mental pada saat kami mencapai gedung, tempat aku akan memakai gaun.
"Ayo pergi," dia memegang sikuku.
Aku tersentak; menjauh darinya, terhuyung-huyung di kakiku.
"Jangan sentuh! Gue masih kesal!”
