Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5

Serangkaian amarah tiba-tiba meletus di sekitar meja. Aku mendengar Bu Ida terkesiap, "Luar biasa!"

Nek Husna mengucapkan salah satunya seperti, "Pelacur kurang ajar," atau mungkin yang lain, karena aku tidak bisa membayangkannya mengucapkan kata jalang, sedangkan Kek Gesya hanya berkata, "Ya Tuhan ...," lalu memejamkan mata.

Aku di sisi lain tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat, lagi pula tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Syukurlah, Tesla seperti masih terkendali. Dia meraih bahu ramping Vita, tetapi tidak mendorongnya terlalu lembut.

"Apa?" Vita berkata, dia mungkin tidak menyadari, bahwa enam pasang mata seolah melemparkan pisau ke arahnya.

"Kamu sadar gak sama kelakuan kamu, Vit?" Tesla membentak, lalu menoleh ke arahku dan berkata, "maaf ya, Sayang," lalu mengerutkan kening pada Vita, "Vita kayaknya terlalu mabuk.”

"Saya ...," aku memulai komentar, tetapi taktahu bagaimana melanjutkan.

Si cantik Vita dengan cepat menoleh ke arahku dengan seringai, lalu berkata, "Jadi," dan terhuyung mundur dalam dua langkah kecil, "ini tunangan rahasia kamu, Tes?" sambil menoleh ke arah Tesla, "gue kira pacar lo kayak bidadari, ternyata ....”

"Cukup, Vita!" Elisa menyela; memegang lengan Vita, lalu berbalik ke arah kelompok di sekitar meja, "maaf ya, Semuanya, Lisa gak nyangka bisa kayak gini," serta menoleh ke arahku, "Lisa juga mau ketemu Kakak baik-baik, tapi ...."

"Ah, Lisa!" Vita berteriak, “kenapa bilang gitu!?’

"Bawa dia pulang," Tesla berkata dengan sangat berwibawa.

"Mama gak nyangka kamu bawa dia ke sini dalam kondisi mabuk, Lisa," kata Bu Ida.

"Ma, dia udah minum duluan. Lisa juga gak mau dia ke sini tapi dia malah maksa. Dia bilang bakal buat keributan kalo Lisa gak ngizinin,” jawab Lisa, sambil memapah Vita, “Lisa anter dia pulang sekarang.”

"Bagus, lebih baik antar dia pulang," Nek Husna menyela dan mengangguk.

"Gak! Saya mau makan malam sama kalian!” sahut Vita.

"Jangan, Vit, pulang ajalah," Tesla menghentikannya dengan dingin, dan aku hampir merasa kasihan pada si Vita.

"Ayo, Vit," Elisa mengajak Vita mundur, mungkin malu dengan perhatian yang mereka dapatkan—dari tamu lain di restoran.

"Masih ada waktu buat batalin, Tesla!" Vita berteriak, tepat saat Elisa berhasil menyeretnya keluar ruangan.

Meja pun sunyi untuk waktu yang cukup lama.

"Nenek udah gak nafsu buat makan," kata Nek Husna, sambil meletakkan serbet di atas meja.

Bu Ida meraih tanganku dari seberang meja, lalu meremasnya dengan lembut, "Maaf ya, Sayang. Vita biasanya gak kayak gitu."

"Gak papa kok, Bu."

"Yaiyalah gak papa!" Nek Husna kedengarannya mengamuk, "perempuan itu butuh obat!"

"Sangat setuju!" Kek Gesya menggeleng perlahan seraya berkata.

"Vita punya masalahnya sendiri," agaknya Bu Ida tidak setuju, "dia juga pernah jadi gadis yang manis kok."

"Kayaknya Novi kaget deh, Ma," Tesla berkata sambil menyeka mulutnya dengan serbet, "apa kita pulang aja?"

"Tapi hidangan utama ...."

"Kayaknya udah gak ada yang semangat buat lanjutin makan malam ini," Tesla menyela protes ibunya.

"Ya, Kakek setuju," Kek Gesya mengangguk, "kita masih bisa ngatur yang lain."

"Bukan," Tesla menanggapi, "Maksud Tesla, kita masih bisa senang-senang di pesta pernikahan, kan?"

"Oke, kalo gitu kita harus atur ulang tanggalnya besok," ucap Bu Ida.

"Ya, besok sebelum pernikahan, masih banyak yang harus kita benerin," Nek Husna menambahkan; meraih tanganku, lalu tersenyum pada keluarganya, "Nenek gak mau kalo Novi sampai lelah."

"Oh, itu pasti," ucap Bu Ida, "kalo gitu, kita ketemu lagi di pesta pernikahan, Sayang. Kalo kamu punya masalah besok, jangan ragu telpon kami, oke?" sambil tersenyum begitu hangat.

Aku mencoba untuk membalas senyumannya. Namun, untungnya kelompok itu seperti mengerti, bahwa aku sudah merasa taknyaman—tidak seperti di lima menit sebelumnya—meskipun semua itu hanya pura-pura.

"Ya, Bu. Saya bakal ingat baik-baik. Makasih, Semuanya," hanya itu yang bisa kukatakan.

Kemudian, Tesla membimbingku berdiri. Dia menoleh ke kakek dan neneknya, lalu memberi mereka senyum. Haruskah aku mencium atau memeluk mereka juga? Ah, agaknya senyumlah yang paling aman.

"Kita ketemu lagi di pesta pernikahan ya, Semuanya," ucap Tesla.

Kami pun berjalan keluar dari restoran dengan bergandengan tangan.

Saat yakin bahwa mereka sudah tidak melihat, aku melepaskan tangannya; memelototi calon suamiku yang manis dan gila itu.

"Apa?!" aku bertanya dengan jengkel menghadapnya.

Wajah kami hanya beberapa inci, sehingga hampir kualihkan pandangan karena terpapar pesona.

"Lah, kamu yang kenapa?"

Agaknya, dia bisa menenangkan diri, terlepas dari semua yang terjadi padaku dalam satu hari.

"Apa karena Vita?" dia bertanya lagi, "kalo kamu khawatir atau cemburu ...."

"Hah!" aku mendengkus, "kecemburuan adalah hal terakhir yang bakal kamu dapetin dari gue, Sayang."

"Terus kenapa tadi?"

Alisnya membentuk garis lurus.

"Gue cuma mau ngejelasin, kalo setelah nikah nanti, gue gak mau dipermalukan kayak gitu lagi. Gue gak peduli apa yang lo lakuin sama cewek itu," aku membalas, lalu berhenti dan menekankan, "lo harus hati-hati sama hal itu!"

Tesla menatapku lagi seperti takpercaya.

"Jadi kamu kira, saya bakal ngelakuin sesuatu sama dia? Dia cuma seseorang yang ...."

"Terserah! Ingat aja apa yang gue bilang."

Kemudian, aku mulai berjalan keluar restoran.

"Tunggu," ucapnya, dia meraih pergelangan tanganku, lalu memutarnya sehingga aku menghadapnya, "beneran, saya gak punya hubungan sama sekali sama Vita."

"Lo gak perlu ngejelasin. Berhenti ganggu gue!" perintahku, "karena gue juga punya syarat yang harus lo penuhin."

Mungkin dia takberani bertanya, jadi hanya diam.

"Setelah kita nikah, gue gak mau lo ngelakuin hubungan seksual sama siapa pun. Paham?"

Dia terlihat heran.

"Seksual?"

"Kekasih, pacar, atau apalah sebutannya," tambahku, "bisa gak?"

"Bisa apa?"

"Jangan punya kekasih, pacar, apa pun namanya."

"Kenapa saya cari lagi kalo udah punya kamu?"

Kerutan di dahinya menghilang secara perlahan, dia pun menyeringai padaku. Itu membuatku bingung, dengan cara yang takbisa kujelaskan.

"Dalam mimpi lo kali, Tesla Pundalisa."

Kemudian, aku pun berbalik.

Dia malah tertawa dengan suara rendah, yang membuatku semakin marah. Aku berjalan keluar dari pintu, lalu mencoba mengabaikannya sebisa mungkin.

Saat sampai di depan mobil, aku langsung berjalan ke pintu belakang, naik ke dalam kemudian membanting pintu hingga tertutup.

Kami saling diam sejenak.

Kemudian, aku mendengar Tesla seperti berkata, saat mobil berhenti di lampu merah.

"Apa?" aku bertanya karena tak mendengar dengan jelas.

"Parfum kamu terlalu kuat."

Untung saat itu gelap karena malam, jadi, pastinya dia takbisa melihat wajahku, yang mungkin memerah karena malu.

"Gue numpahin setengah botol di tempat tidur, terus sebagian besarnya jatuh ke gaun!" aku berbohong—takmungkin memberitahu bahwa gaunku baru keluar dari kotak, setelah disimpan selama dua tahun. Parfum adalah satu-satunya solusi.

Agaknya dia memang percaya, karena tidak berkomentar apa-apa lagi. Sebagai gantinya, dia mengubah topik, "Bebaskan hari kamu, besok."

"Kenapa?"

Aku mencondongkan tubuh ke depan untuk menatapnya. Saat itu aku berencana, untuk meneruskan beberapa lukisan yang belum selesai, besok harinya.

"Jangan lupa, besok itu satu hari sebelum pernikahan. kamu belum punya gaun, kan?"

"Kenapa perlu gaun? Gue kira cuma kita, hakim, terus beberapa saksi."

"Kamu itu nikah sama seorang Pundalisa, Nov, apalagi udah ketemu keluarga saya tadi. Mereka gak bakal pernah puas kalo pernikahannya sederhana."

"Maksud lo?"

Dia memandang kaca spion, saat lampu merah berubah warna menjadi hijau.

"Keluarga saya, taunya kita udah rencanain pernikahan dari setengah tahun lalu."

"Apa?!" aku bereaksi karena takpercaya, "terus lo berhasil buat mereka percaya?"

"Tapi saya baru cerita sebulan yang lalu kok, sebelum tanda tangan kontrak sama bapak kamu."

"Lo udah kasih tau mereka nama gue? Dari sebulan yang lalu?"

"Iya. Hehe."

"Jadi lo yakin kalo bisa buat kontrak sama bapak gue? Terus lo bisa tau tentang gue juga dari sebulan yang lalu?"

"Saya meneliti dan buat perencanaan sendiri. Jangan nanya-nanya lagi. Mending kita ngarang cerita buat diceritain ke mereka."

"Cerita apa?"

"Di mana kita ketemu, gimana, kapan, dan di mana saya lamar ... intinya hal-hal kayak gitu," dia menjelaskan, "nenek itu detail banget orangnya. Saya yakin dia bakal ngajuin banyak pertanyaan ke kamu, cepat atau lambat."

Dia pun merogoh saku di dada; mengeluarkan secarik kertas, lalu menyerahkannya kepadaku. Aku mengambilnya.

"Apa ini?"

"Masih banyak yang harus kamu tau tentang saya. Kalau tentang kamu, bapak kamu udah kasih tau saya waktu tanda tangan kontrak."

"Huh, udah gak kaget gue," aku bergumam, lalu menjatuhkan kertas itu ke dalam tas, tanpa membacanya.

"Jadi, cerita kita gimana?"

"Ya, ceritanya, kita ketemu di sebuah pesta, ngobrol, terus pacaran sampai hampir dua tahun. Saya ngelamar kamu tahun lalu, diterima, dan sekarang kita bakal nikah dua hari lagi."

Aku terdiam beberapa saat untuk mencerna semuanya.

"Coba ceritain lebih detail, gimana ngelamarnya."

"Kenapa?"

"Biasanya, orang-orang tuh selalu kepo sama detail lamaran."

"Kamu aja yang buat detailnya. Cuma itu yang saya kasih tau sejauh ini, mereka terima kok."

"Ya iyalah, mereka pasti terima. Wong mereka cuma fokus nanya di mana pengantin ceweknya."

"Terus ide yang kamu punya mana ngarang lamarannya?"

"Gue gak tau. Lo dong yang harusnya kasih tau gue. Gue kan gak ada di sana."

"Lah, saya juga."

"Tapi harusnya lo tu mikir. Bukan salah gue nanti, kalo cerita kita ini bakal tercampur aduk."

Dia menghela napas.

"Baik, saya lamar kamu di dalam kafe. Cincin itu ada di dalam es krim. Kamu temuin, terus nangis, bilang iya, orang-orang tepuk tangan dengan gembira. Tamat."

"Gue nangis? Gak, gak mungkin. Gue ketawa bahagia, gak sampe nangis."

"Yaudah, kamu tertawa bahagia, tapi sambil berlinang air mata."

"Kok pakek air mata segala? Gak, gak ada air mata. Gue cuma senang dan ketawa. Mata saya kering."

Tesla menggeleng.

"Nenek mana bisa diceritain gitu. Dia lebih suka kalo kamu nangis."

"Gue gak peduli, oke? Gue gak nangis. Titik."

"Good girl."

"Nah!" aku membentaknya.

Dia menghentikan mobil, dan aku sadar, kami sudah sampai di rumahku. Aku pun keluar.

"Saya bakal jemput kamu lagi, jam sepuluh pagi. Kita harus sesuaikan gaun kamu, abis itu kita cicipi makanan," katanya.

Aku menjawab, "Oke, baiklah," sambil membuka pintu.

"Eh, weit! Nanti saya lupa," suaranya menghentikanku.

Aku berbalik kemudian melihatnya meraba-raba di dalam saku dadanya lagi. Ketika tangannya muncul kembali, ada sebuah kotak hitam kecil. Dia menyerahkannya.

"Itu cincin lamarannya yang kamu ambil dari es krim. Untungnya hal-hal terjadi begitu cepat pas kita makan malam tadi, jadi gak ada yang ingat cincinnya."

Aku mengambil kotak itu tanpa membukanya, lalu turun dari mobil tanpa sepatah kata pun, dan mulai berjalan ke rumah. ketika sampai, aku mendengar mobilnya berputar di jalan.

Setelah itu, aku membuka pintu; menghela napas, dan tidak begitu yakin bagaimana perasaanku Hanya dalam satu hari, hidupku berubah 180 derajat, dan aku mencoba yang terbaik untuk bertahan.

Aku menutup pintu; menyandarkan punggung di sana, lalu menatap kotak hitam kecil di tangan; membukanya, sehingga terlihatlah gelang perak sederhana, dengan cincin berlian bundar di atasnya. Batu itu berkilauan meskipun ruang tamu sedang gelap. Dengan tangan kanan, aku mengambil cincin itu; menyelipkannya ke bawah dengan satu jari ramping. Aku mengangkat tangan kiri dalam kegelapan, lalu tersenyum tipis.

Itu adalah kedua kalinya aku memakai cincin pertunangan.

Lampu ponsel berkedip terus-menerus, menyadarkanku kembali. Aku menyalakan lampu kemudian menekan tombol untuk mendengarkan pesan. Yang pertama adalah dari ibu: memintaku untuk menelepon kembali sesegera mungkin. Yang kedua adalah dari orang yang paling tidak kuharapkan, untuk dihubungi.

Aku membeku, mengagumi cincin berlian di jariku. Suara bariton yang kukenal berkata, "Nov, ini gue, Soni. Duh, dah lama banget kita gak ngobrol. Ada yang mau gue omongin, Nov."

Saat itu juga, aku menyadari bahwa hari itu, adalah hari paling malang dan gila dalam hidup.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel