4
Aku tidak punya gaun untuk makan malam yang elegan. Dua tahun sebelumnya, aku memang pernah menghadiri acara dan sebagainya, tetapi setelahnya tidak suka bersosialisasi. Jadi, yang bisa kulihat saat itu dalam lemari hanyalah kaus, kemeja, beberapa celana panjang, celana pendek; sepatu bot, syal, sweater compang-camping, dan lain-lain. Namun, tidak ada gaun sama sekali.
Karena putus asa, aku teringat ruang bawah tanah, lalu berlari tanpa alas kaki. Ternyata kotak-kotak itu masih ada—termasuk yang berisi gaun putih yang tidak pernah dipakai. Namun, aku sekuat tenaga untuk tidak melihat kotak kenangan, tetapi menyibukkan diri dengan kotak cokelat yang lebih besar. Akhirnya, kutemukan yang berlabel GAUN.
Kubuka kotak itu, lalu menghela napas lega karena penutup plastiknya masih utuh. Aku mengambil gaun malam hitam yang hanya terpakai sekali; menutup kotaknya, sebelum melihat gaun lain yang hanya akan membuaku bingung, lalu berlari kembali ke atas. Sudah jam enam dan aku belum mandi. Mencium gaun itu, aku merenung sejenak; mengangkat bahu dan pergi untuk mengambil parfum terkuat, lalu menyemprotkannya ke gaun itu. Puas, aku menjatuhkan gaun itu ke tempat tidur.
Setelah mandi, aku mengeringkan rambut kemudian menatanya, lalu berdandan seperti biasa: berpakaian; memakai anting-anting berlian—tidak ada perhiasan lain karena akan membuatku gatal. Kemudian, aku menunggu calon suamiku menelepon.
Akan tetapi, ketukan di pintu menandakan kedatangannya. Aku meraih kunci, lalu pergi untuk membuka pintu.
"Udah siap?" dia bertanya; menatapku dari atas ke bawah.
Mungkinkah dia sedang kagum?
Dengan sadar, aku menarik gaun lebih rendah dari lutut kemudian memandangnya. Aku yakin, diriku tidak terlihat buruk, sedangkan dia terlihat begitu tampan, mengenakan jas hitam dan dasi abu-abu tua. Aku adalah wanita cantik, jadi tidak ingin pria tua dan kekar sebagai suami.
"Oke," jawabku, “beneran nih kita harus kayak gini?"
"Iyalah, Novi. Lagian itu alasan utamanya, kenapa kita harus nikah."
Aku mengerutkan kening, "Keluarga lo?"
"Ya, jangan nanya apa-apa lagi. Kamu harus pura-pura bahagia. Cuma itu yang mau mereka liat."
"Oalah, gue tau sekarang. Lo gak bakal dapat warisan kalo belum nikah. Ya, kan?”
Dia memandangku.
"Itu hanya terjadi di film, Nov. Saya cari istri supaya mereka gak ngurusin saya lagi.”
"Cuma itu alasannya?"
"Kamu gak kenal keluarga saya," katanya.
Jelas, percakapan kami pun berakhir.
Aku melangkah keluar kemudian mengunci pintu. Dia membimbingku menyusuri jalan setapak; melintasi halaman kecil, lalu ke mobil hitamnya.
Aku berhenti bergerak saat dia membuka pintu penumpang.
"Kenapa lagi?"
"Gue gak bisa naik mobil kayak gini," aku menjawab sambil menggeleng.
"Hah?"
"Gue ...,” aku takbisa beralasan, dan tidak akan pernah mau, “gue gak bisa."
"Dengar, Novi, kita gak punya waktu buat bercanda, oke? Kalo gak mau pergi, kamu tetap gak punya pilihan. Keluarga saya uudah nunggu di restoran."
Aku menatapnya dengan putus asa.
"Enggak, bukan itu. Gue cuma gak bisa naik sedan."
Dia menatapku dengan tatapan tajam, lama, lalu berseru, "Baik!" dan membanting pintu penumpang yang menyebabkanku tersentak; berjalan; membuka kursi belakang, "masuk sekarang!”
"Terima kasih," aku menjawab sambil buru-buru naik ke dalam.
Sekali lagi, pintu dibanting di samping; aku melihatnya melangkah dengan tampak marah ke sisi pengemudi.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, saat menyalakan mesin dan melaju. Akj bersandar ke kursi sambil memejamkan mata; mencengkeram tas kecilku di pangkuan dengan cemas.
"Pelan-pelan dong. Gue gak bisa napas nih," aku meminta karena tidak tahan lagi.
Rem mobil yang tiba-tiba membuatku maju, kepalaku hampir membentur bagian belakang kursi penumpang.
"Sebenarnya masalah kamu apa kalo kita ngebut!?"
"Gak kenapa-napa ....”
Aki terdiam dengan suara kecil. Ya Tuhan, betapa aku benci menjadi rapuh seperti itu.
"Kamu mengidap fobi ....”
"Ya, ya, itu," aku memotongnya.
"Duh, ini beneran gila," hanya itu yang dia katakan saat berbalik, lalu mulai menyusuri jalan lagi, tetapi dengan kecepatan yang lebih normal.
Ketika sarafku mulai tenang, aku menyadari betapa mudahnya amarah Tesla tersulut. Pasti kami akan mendapatlan masalah karena itu!
*****
Saat kami sampai di restoran, Tesla memerintahkanku untuk keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, mungkin agar tidak ada yang melihatku keluar dari pintu belakang mobil. Betapa senangnya aku, akhirnya bisa mengembalikan kaki ke tanah yang kokoh.
Setelah menyerahkan kunci ke pelayan, dia pun berkata, "Ayo pergi," sambil mendekat.
Dia meraih tanganku, lalu meletakkannya di lekukan lengannya.
Katanya, "Tersenyumlah, kamu harus pura-pura bahagia.”
"Emang kenapa?"
"Biar keluarga saya pergi ninggalin saya secara damai, sampai pernikahan," jawabnya. Dia menuntunku masuk ke dalam restoran yang elegan, berkilauan gelas-gelas anggur, juga dilengkapi gaun mewah dan jas yang bagus.
Jantungku mulai berdegup kencang, saat kami mendekati sekelompok tiga orang—satu pria dan dua wanita—di ujung ruangan berkarpet. Terdengar alunan musik Jazz yang lembut. Entah kenapa, itu membantu menenangkan sarafku yang hiperaktif.
"Wah, syukurlah cucu Nenek udah datang," kata seorang wanita tua, yang mengenakan gaun abu-abu.
Ia menoleh ke arah kami. Aku menyiapkan senyum, berusaha sekuat tenaga untuk mengingat perintah Tesla. Ada banyak wajah cantik yang melihat ke arah kami.
Aku memandang Tesla melalui sudut mata, yang ternyata sedang tersenyum seperti orang gila. Aku hampir mendengkus. Tangan kiriku lantas menyentuh tangan kanan, yang mencengkeram lekukan lengan Tesla, ternyata tegang sekali dia. Aku melonggarkan cengkeraman ketika tangan hangatnya berada di atas tanganku.
"Perhatian semuanya, ini Rapunsel Novi. Novi, merekalah keluarga saya," Tesla berbicara dengan nada gembira di setiap kata, yang hampir bisa dipercaya telingaku. Ternyata dia merupakan aktor yang sangat bagus!
"Hai," aku menyapa serta berseri-seri pada kelompok itu.
"Kalian berdua duduklah!" wanita tua dengan rambut keabu-abuan berbicara sekali lagi, sambil menggerakkan tangan ke arah dua kursi kosong di sampingnya. Begitu aku duduk, ia memandangku dengan tampak kagum, bahkan matanya penuh dengan kilauan.
"Kamu secantik yang dibilang Tesla, Sayang,” tambahnya.
Aku memandang Tesla dengan cemberut dan geli, sedangkan dia malah mengangkat bahu, lalu menatap semua orang di sekitarnya dengan tatapan yang mengatakan, “Iyalah, Tesla gituloh!”
“Saya Husna—Nenek Tesla," tambahnya, lalu memandang pria di seberang meja panjang yang duduk di ujung sana, "kalo itu Gesya."
"Saya suaminya. Hehe," sahut lelaki tua yang diperkenalkan sebagai Gesya itu.
Matanya menatap Nenek Husna dengan penuh kasih. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya padaku.
"Senang bisa liat kamu, Novi. Selama ini Tesla sembunyikan kamu terus dari kami," tambahnya, dengan senyum hangat.
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya, tetapi Tesla seperti sudah memikirkannya, karena dia berkata padaku, "Saya bilang ke mereka kalo kamu terlalu sibuk kerja.”
Suara Tesla begitu lembut sehingga aku hampir ragu, apakah Tesla adalah orang yang meneriaki perilakuku di dalam mobil.
"Iya sih," aku berdehem serta berbicara, "saya emang terlalu sibuk."
Ada jeda singkat, sebelum wanita cantik yang duduk di seberangku berkata, “Kalian lupa, ya, kalo saya juga ada di sini?" lalu tersenyum, mata hitamnya memberi tahuku siapa dia, "Saya Ida, ibu Tesla, senang sekali bisa liat pacarnya Tesla.”
Dengan terpaksa, aku tersenyum tulus padanya dan menjawab, "Tesla udah cerita juga tentang Ibu," lalu melihat ke sekeliling meja; menambahkan, "juga kalian semua."
Bukan karena aku pembohong yang cukup baik, tapi bisa dibilang kebohonganku itu mengalir secara alami.
"Yah, kenapa kita gak mulai makan malamnya, supaya bisa lebih mengenal satu sama lain?" suara ceria Nek Husna.
Seolah diberi aba-aba, seorang pelayan muncul membawa makanan.
"Novi Sayang," Nek Husna berkata seraya menoleh ke arahku, "jangan tersinggung ya, kalo Nenek punya kursi khusus di sini.”
"Gak apa-apa, Nek. Saya juga gak pilih-pilih makanan kok,” aku menjawab, lalu tertawa bersama kelompok itu.
Aku berusaha sangat keras untuk tidak menghela napas lega. Keluarga Pundalisa sama sekali tidak buruk! Yah, kecuali Tesla! Bayangkan saja, tindakan Tesla saat itu sangat luar biasa. Dia menjadi pria yang sempurna: meletakkan serbet sendiri di pangkuan; menunjukkan beberapa penampilan manis; menyelipkan beberapa rambut yang terurai ke belakang telinganya. Tindakannya itu pasti terbayar, karena keluarganya memandang kami dengan tampak puas. Aku jadi merasa takenak karena sedang bersandiwara.
"Loh, Elisa mana?" Tesla bertanya kepada kelompok itu, begitu mereka mulai menyantap sup.
"Bukannya kamu kenal sama sifat adik kamu?” Bu Ida menjawab sambil memutar mata, “dia emang selalu terlambat."
"Nenek juga udah gak heran kalo Lisa lagi sama-sama Vita,” tambah Nek Husna, suaranya terdengar masam.
Kening Tesla berkerut.
“Si Vita ada di sini?"
"Kamu tahu gak, kenapa," sahut ibunya, lalu matanya berkedip ke arahku dan berkata, "tapi jangan khawatir, Sayang, ada kami kok.”
Aku hanya tersenyum, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Vita siapa?
Seolah suara hatiku terdengar ke seluruh ruangan, dua super-model berlari dari tangga atas melintasi ruangan, tampaknya menuju ke arah kami. Aku dapat dengan jelas melihat saat mereka semakin dekat—ternyata mereka tidak pantas jika hanya disebut super-model, tetapi lebih dari itu, yaitu superstar dari Hollywood! Rambut, gaun, tumit, dan kaki mereka benar-benar sempurna. Yang lebih pendek pasti si Elisa, karena rambutnya terlihat seperti versi feminim dari rambut Tesla. Dia mengenakan gaun biru tua yang menjulur ke lutut. Gadis lain—yang lebih tinggi, pastilah si Vita.
Semua orang di meja memerhatikan kedatangan mereka berdua. Masing-masing dari kami, kecuali aku, memiliki ekspresi mulai dari ketidaksetujuan hingga kejengkelan. Aku menyadari bahwa mata mereka hanya terfokus pada teman Elisa, membuatku bertanya-tanya mengapa.
Gadis berambut coklat, dengan mata coklat mencolok, serta bergaun merah, berjalan langsung ke arah Tesla. Tanpa peringatan, dia yang kutebak bernama Vita mencium mulut Tesla sepenuhnya, sambil memegang sisi wajah Tesla dengan kedua tangan.
Mataku melotot; rahangku jatuh bersama-sama dengan sendok.
