Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3

Saat itu aku langsung menelepon bapak, dengan sekuat tenaga agar tidak berteriak terlalu keras.

"Ah, Bapak di mana sih! Ya Tuhan ....”

Hampir saja ku tersandung di jalan. Rasa mabuk sebelumnya terasa kembali, saat ku berdiri dan berjalan.

“Ya udah! Tunggu Novi di situ! Gila! Masak dalam waktu 3 hari Novi beneran nikah gitu aja!?"

Kemudian, segera kututup telepon; memaki, “Anjinglah, Bangsat!” karena terlalu emosi.

Aku melirik ke samping: ternyata seorang ibu sedang berjalan sambil menutupi telinga anaknya. Hem, pasti itu karena kata-kata terakhirku. Meski tatapannya begitu tajam, aku mengabaikan—terlalu sibuk mendengar alamat yang diberikan bapak di telepon. Setelah itu, aku pun langsung menuju restoran milik bapak.

*

Sebenarnya, aku ingin sekali melukis wajahnya ketika berhadapan, hanya saja begitu malas. Beliau bukan seorang bapak yang percaya diri lagi—seperti biasa, bahkan tampak seperti sedang ketakutan. Itulah alasan mengapa ku ingin sekali melukisnya, di atas kanvas. Namun, aku sudah terlalu marah kepada lelaki tua itu.

Restorannya ada di seberang. Aku segera menyerbunya. Mungkin wajahku terlihat merah padam. Aku berjalan ke tempatnya berdiri dan berada di depan meja, dia berpakaian putih sambil memegang gelas anggur. Aku mempertimbangkan: apakah harus tetap mencakar wajahnya?

Ah, tentu saja tidak! Beliau sudah tua, rapuh, dan banyak berkeringat. Menancapkan kuku ke kulit keriputnya merupakan kejahatan. Kata orang, mata hitam pekatnya tampak persis seperti milikku. Ia menatapku yang berhenti di luar ruang pribadinya.

Lenganku bersilang di dada. Kuentakkan sepatu bot ke lantai dua kali: menunggu penjelasan, dan tidak mau repot-repot menuntutnya secara lisan.

"Novi Sayang, ayo duduk dulu," Rapunsel Noval—bapakku, menyapa sambil menunjuk kursi di sampingnya.

Aku melihat sekeliling: beberapa pelanggan memandangi kami seperti sedang ingin tahu. Sendok, sumpit, dan garpu berhenti di tengah jalan menuju mulut mereka. Dengan masih melotot, aku meraba kursi kemudian duduk dengan kaku. Dia pun melakukan hal yang sama.

"Mau makan apa, Sayang?”

"Kenapa Bapak jadiin anak sebagai jaminan cuma buat modal makanan?”

Dia kelihatan kaget, membuatku hampir menyesal. Kuselipkan beberapa helai rambut ke belakang satu telinga, lalu mencoba untuk tenang.

"Nov, Sayang, coba ngertiin du ....”

"Novi udah coba mengerti, Pak, tapi tetep gak bisa," aku membentak, "kenapa Bapak bisa ngelakuin itu ke Novi anak Bapak sendiri!?

"Bapak putus asa, Nov!" dia menjawab sambil mengangkat tangan, "lagian cuma Tesla yang mau ngebantu. Yang lain gak ada, Sayang.”

Kemarahan naik lagi ke tenggorokanku.

"Baik apanya, Bapaaak? Dia minta anak Bapak sendiri dan Bapak mau-mau aja gitu? Ya Tuhan, Novi pikir cuma ibu yang gila!”

Aku pun menggeleng karena takpercaya.

"Sayang, dengerin Bapak dulu. Ini cuma enam bulan. Ayolah, coba dulu aja, Sayang. Dua tahun lalu juga bukannya kamu mau nikah? Nah, sekarang jangan sampai enggak.”

Aku menganga: tak menyangka bahwa yang berbicara adalah benar, bapakku sendiri.

"Wah, gak nyangka Novi, Pak. Apa hanya karena kejadian dua tahun lalu, Bapak bisa ngomong kayak gini? Apa ibu juga yang nyuruh Bapak?”

"Bukan! Tapi itu juga salah satu alasan kenapa ....”

"Brengsek banget sih! Bapak gak berhak nikahin Novi karena itu!” aku berteriak, sambil menggerakkan tangan untuk penekanan.

"Ya udah, coba liat bagaimana kamu sekarang. Bapak sama ibu tuh sekarang liat kamu udah kayak orang malas hidup. Mungkin aja, kan, Tesla bisa ubah kamu? Tesla itu lelaki baik-baik kok”

"Baik karena bisa ngebujuk Bapak buat jadiin saya jaminan?”

"Sayang, dengerin dulu sebentar, oke? Dengerin, Bapak ngelakuin ini buat nyelamatin perusahaan kita. Ini juga buat masa depan kamu sendiri."

"Gak usah ngeles, Pak. Bapak cuma mau nyelamatin perusahaan Bapak aja. Pokoknya Novi tetep gak mau!”

"Tapi nanti juga jadi warisan kamu, Sayang.”

"Iyalah, lagian Novi kok yang bayar utangnya!”

"Oke, Bapak tau ini gak masuk akal, tapi Bapak juga mikirin perasaan kamu, makanya Bapak bilang kontraknya cuma 6 bulan. Abis itu kamu bisa minta cerai kalo mau.”

Aku tertawa sinis, karena sadar bahwa perhatian orang-orang sedang tertuju pada kami lagi.

"Kayaknya Bapak emang udah ngerencanain ini baik-baik.”

"Novi Sayang, Bapak beneran ngelakuin ini demi kamu sama ibu.”

"Emangnya ibu udah tau masalah ini? Apa ibu juga setuju sama Bapak? “

Aku tidak akan terkejut jika dia menjawab ‘ya’—karena sudah paham bagaimana sikap ibu. Namun, ternyata dia menggeleng. Itu membuatku mengerutkan kening.

Pada saat itulah aku menyadari bahwa bapak memang putus asa— dalam memenuhi kebutuhan. Meski ingin sekali meninggalkan dan pergi sejauh mungkin, aku ragu apakah bisa melakukannya. Bapak adalah orang yang selalu ada ketika kubutuh. Dialah yang menemaniku menghadapi kesedihan, sampai akhirnya menandatangani kontrak sialan.

"Emang apa sih maunya si Tesla? Terus kenapa harus Novi? Masak gak bisa cari cewek lain buat istri?”

"Bapak juga gak tahu, Sayang. Asal kamu tau, Bapak juga nanyain hal yang sama ke dia. Tapi cuma dijawab kalo dia punya alasan sendiri. Tapi tenang, Bapak udah suruh dia janji, dia gak boleh maksa kamu ngelakuin apa yang gak mau kamu lakuin.”

"Jadi karena itu Bapak berani tanda tangan?" aku bertanya dengan sinis.

Dia menghela napas.

"Gak sih, tapi Bapak percaya sama kata-kata dia. Dia itu salah satu orang yang paling Bapak percaya."

"Oke, Novi percaya Bapak kayak gitu. Makanya, Bapak mempercayakan anak Bapak sendiri ke dia.”

Aku sadar bahwa dia sudah begitu menderita karena komentar sarkastisku, tapi tetap saja aku keceplosan.

Dia mengulurkan tangan; memegang tanganku di atas meja, lalu meremasnya.

"Kamu udah melalui banyak hal, Novi, Bapak juga tau. Tapi ini udah dua tahun. Sudah waktunya kamu muvon dan ambil risiko. Pertimbangkan pernikahan ini sama Tesla, demi awal yang baru. Siapa tau, ternyata dia lelaki yang ....”

“Bapak salah, Pak. Novi ini udah muvon. Novi juga udah siap buat awal yang baru. Tapi bukan gini juga caranya!” aku membentak, "baik, Novi bakal turutin kemauan Bapak. Bukan karena Novi ikhlas, tapi Novi cuma mau Bapak ingat, kalo Novi ngelakuin ini buat nyelamatin pantat Bapak!”

Kata-kataku mungkin cukup baginya, jadi dia mengangguk, perlahan, lalu tersenyum tipis seperti sedang berterima kasih.

"Novi pergi dulu, butuh waktu buat mikir dan tenangin pikiran. Novi kok jadi heran, zaman sekarang kok masih adaaaa aja orang tua yang jodoh-jodohin anak,” sindirku.

Kemudian, aku melepaskan genggamannya kemudian berdiri. Dia juga membuat gerakan seperti berdiri, tetapi aku menghentikannya, "Gak usah, Novi gak butuh tumpangan, lagi mau jalan kaki aja.”

"Novi, jangan kasih tau ibu ya,” dia berkata dengan tampak ketakutan.

Itu membuatku hampir tertawa. Lagi pula, ibu pasti bakal melompat kegirangan, saat mengetahui bahwa aku akan segera menikah—apa pun alasannya.

"Gak kok, tenang aja. Novi gqk bakal bocorin ke ibu. Karena Novi yakin, Bapak juga bakal tersiksa karena udah menyimpan rahasia kotor,” sindirku lagi, “gak usah khawatir, Novi gak bakal kabur.”

Setelah itu, aku berbalik kemudian berjalan ke luar. Aku enggan melihat ke belakang, karena yakin, dia pasti tampak terluka. Ah, lukaku juga terlalu dalam, jadi sudah cukup adil!

**

Aku berjalan menyusuri jalan-jalan, merasakan angin musim semi yang berakhir; berharap akan mati dan layu bersama bunga-bunga di akhir musim. Ah, betapa indahnya itu!

Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Saat kulihat layarnya, nomor yang membuat ponselku berdering itu ternyata tidak bernama.

“Rapunsel Novi, ya?” suara si penelepon, “ini saya—Tesla Pundalisa.”

"Oke gud, Calon Suami Gue," kataku, “kenapa telpon?”

"Nanti malam siap-siap ya. Saya sampai di depan pintu rumah kamu tepat jam 7 malam. Saya mau ajak kamu makan malam sama keluarga.”

"Makan malam ap ....” belum selesai kujawab, telepon sudah terputus.

Mendengar kata ‘keluarga’ membuat wajahku terlihat sedikit memucat—mungkin!

Ya! Siapa yang tidak mengenal Keluarga Pundalisa? Tanpa disangka-sangka, aku akan menikah dengan salah satu anggotanya. Dengan beku, aku pun berdiri di trotoar. Ketakutan dan kecemasan mengalir di setiap sel tubuh. Ah, betapa ku tersadar, bahwa yang akan kunikahi, adalah salah satu anggota dari keluarga paling kaya.

Waduh!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel