2
"Haha. Oh, gitu? Mohon maaf, ada sesuatu yang harus Anda ketahui, Tuan!” aku berusaha sangat keras untuk mengucapkan setiap kata secara terpisah, “saya gak mudah ditipu gitu aja meskipun lagi mabuk.”
Aku menatapnya dengan mata menyipit. Saat itu aku berada dalam posisi yang canggung; lengan atas di atas meja, sedangkan lengan bawah membingkai kedua sisi wajah. Tanganku membuat gerakan di atas kepala.
"Oh, jadi kamu mabuk?" dia bertanya dengan nada takpercaya.
Aku pun tertawa serak, lalu membenamkan wajah ke lengan.
"Ya Tuhan, Anda ini idiot, ya?” kataku.
"Apa kamu bilang?"
"Gak ada.”
Aku menatap ke arahnya dengan mata menyipit.
"Kalo mau ngomong ngalor ngidul mending cari orang lain aja.”
Kopiku tiba. Aku mengucapkan terima kasih kepada wanita itu, yang buru-buru kembali ke konter. Kunikmati perasaan hangat dari cairan panas; menyesapnya dengan hati-hati.
"Tadi sudah saya bilang, saya di sini mau ngajak kamu bicara,” ucapnya lagi, tetapi dengan nada sabar yang sedikit memaksa.
Penglihatanku semakin jelas, jadi punya waktu untuk mempelajarinya. Aku menegakkan tubuh; memandangi makhluk tampan di hadapan; menduga bahwa dia pasti berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Rambutnya hitam dan tampak berantakan, tetapi tetap terlihat bersih. Hidungnya sempurna dan bibirnya kelihatan lezat jika dimakan. Dagunya terbelah, dicukur bersih sehingga aku sampai bisa mencium aromanya. Keseluruhan wajah kasar dan pakaian formalnya—dengan dasi biru tua dan jas hitam—menimbulkan aura kekuatan serta kepercayaan diri.
"Oh, tentang pernikahan tadi?" aku terkekeh, akhirnya teringat apa yang dia katakan sebelumnya, “dasar gila! Ada-ada aja.”
"Loh, bukannya tadi saya bicara baik-baik? Ingat, saya juga bilang barusan, kalo kamu gak punya pilihan selain menerima tawaran saya.”
"Maksud lo apa, kenapa saya gak punya pilihan!? Oh iya, nama lo siapa tadi?”
"Tesla Pundalisa," jawabnya, dia mencondongkan tubuh ke depan, sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti, “serius, kamu gak bisa nolak tawaran saya, karena kontrak kita sudah sah.”
Wajahku berkerut, bingung, agaknya kopi sudah memberikan efek sehingga penglihatan menjadi jelas seketika.
“Tunggu, kontrak apaan sih?”
Dia tersenyum seperti puas, mungkin karena melihat reaksiku, lalu bersandar ke kursinya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Bapak kamu tanda tangan kontrak, sebelum kita bicara kesepakatan di sini.”
“Apa? Bapak saya?”
Saat itu kepanikan dan malapetaka mulai muncul di perutku. Kata 'bapak' membuatku sadar bahwa pria itu mungkin tidak sedang bercanda.
“Kesepakatan apa?" tanyaku.
"Biasa sih," jawabnya, “cuma kontrak pinjaman uang. Jaminannya, kamu harus jadi istri saya.”
Kata-katanya seperti bergerak di udara dalam gerakan lambat, lalu merayap ke dalam telinga; otakku memproses. Ketika kode pesan itu berhasil dipecahkan, rahangku menganga. Pikiranku mencoba menyangkal informasi. Namun, ledakan kemarahan tiba-tiba berkobar dan aku berteriak, "Gak mungkin! Itu gak masuk akal!" Aku mulai bangun, rasanya ingin meninggalkan kopi serta si pria gila itu.
Akan tetapi, dia menghentikan: meraih pergelangan tanganku kemudian menarikku kembali ke arahnya.
"Saya sudah bilang, kalo kamu gak punya pilihan," ucapnya—pelan, tetapi terdengar sedikit marah.
Aku mendekatkan kepala ke arahnya, hampir mengutuk diri sendiri; sakit karena alkohol masih bersarang di otak.
Aku menatap tajam, lalu berkata, "Saya gak ada hubungannya sama bisnis bapak saya, jadi saya gak peduli."
"Ya, itu benar," dia menjawab sambil mengangguk; menatap mataku, lalu mengencangkan cengkeramannya, "tapi saya yakin bahwa Anda gak bakal mau kalo bapak Anda dipenjara."
"Saya yakin, kesepakatan kalian itu ilegal. Liat aja, saya bakal buka buku hukum, abis itu saya pasti hubungin Anda. Sekarang udah abad 20, Tuan. Gak usah ngelantur deh!"
"Sekarang abad 21," balasnya, dengan cepat.
Aku mengabaikan, tetapi dia melanjutkan, "Kalo tetap keras kepala, telpon saja bapak kamu. Saya yakin, beliau bakal dengan senang hati ngejelasin tentang detailnya."
Kemudian, dia menarik tanganku dengan kuat.
"Lepasin gue!"
"Gak bakal saya lepasin, kecuali kamu mau dengerin saya dulu."
"Gue gak sudi dengerin kebodohan lo!"
"Kamu gak kasian, kalau bapak kamu dipenjara?"
"Ya Tuhan, benci banget gue sama lo!"
"Saya cuma nuntut apa yang sudah jadi hak."
"Gue bakal ganti utang bapak gue. Gue juga punya uang!"
Dia menggeleng, seakan mengatakan 'tidak' kemudian berkata, "Saya buat kontrak karena suatu alasan. Emangnya kamu gak liat? Saya ini gak butuh uang lagi!"
Aku menatapnya dengan penuh perhatian.
"Saya butuh istri. Bapak kamu juga sudah tanda tangan. Yang saya lakuin sekarang ini hanyalah mengklaim," tambahnya.
"Buat apa kamu istri?" aku bertanya karena takpercaya. Mungkin karena terlalu banyak minum, jadi mungkin aku sedang berhalusinasi. Ya Tuhan, itu benar-benar gila!
"Saya tadi sudah bilang, kalau saya punya alasan," dia menjawab sambil mengangkat bahu, "tapi saya gak mau kasih tau alasannya sekarang. Ayo, duduk dulu," lalu mendesak dengan lembut, tetapi tegas pada saat yang bersamaan.
"Gak, saya mau pergi."
"Kalo kamu pergi, saya gak punya pilihan, selain nyeret kamu lagi ke kursi, sampai ikat kamu di situ. Saya gak bercanda."
Ada sesuatu dalam caranya berbicara, yang membuatku memercayai setiap kata. Dengan enggan, aku menghentakkan kaki kembali ke kursi, lalu duduk dengan gusar.
"Bagus, senang rasanya kalo kita saling memahami," ucapnya.
"Gak, kamu ngancam saya tadi. Silakan lanjutkan dan selesaikan, supaya saya bisa pergi ke kantor polisi terdekat, buat nangkap kamu."
Dia pasti mengabaikan pernyataan terakhirku, karena memulai pidatonya, "Pertama, saya mau minta maaf atas ...."
"Permintaan maaf gak saya terima! Sekarang, lanjut ke topik berikutnya."
Dia pun menarik napas dalam-dalam—tampak jelas sedang berusaha menenangkan amukan indranya, lalu melanjutkan, "Seperti yang tadi saya bilang, bapak kamu sama saya sudah tanda tangan kontrak, jadi ketika uang masuk ke rekening bisnisnya, kamu jadi istri saya."
Aku mengangkat tangan, seraya membuka mulut.
"Biar saya selesaikan. Dalam kontrak, kami sepakat kalo bisnis sudah berjalan, kamu bebas, jika mau pergi."
Aku mengangkat tangan; bertanya-tanya; memahami apa yang dia maksud.
Kemudian, aku mengangguk singkat, lalu berkata, "Berapa lama bisnisnya bisa berdiri lagi?"
"Kontraknya sampai enam bulan," katanya, formal, seperti sedang melapor untuk beberapa rekan bisnis, "jadi, itu akan dimulai pada hari pernikahan."
"Terus, kalo saya gak mau nikah sama kamu?"
"Sederhana," jawabnya.
Kemudian, dia meletakkan tangan di atas meja, dekat kopiku yang sudah mendingin.
"Bapak kamu bakal kehilangan bisnis, terus berakhir dengan banyak masalah hukum. Kalo kamu baca buku hukum, kamu bakal tau semuanya," tambahnya.
Sebenarnya dia tidak harus mengatakannya lagi. Meskipun tidak memiliki pengetahuan tentang bisnis, aku sadar bahwa kontrak hukum tertulis adalah sah. Aku harus membayar harga yang sangat mahal jika melanggarnya.
Aku juga tidak heran bahwa bapak akan melakukan apa saja untuk bisnis kesayangannya. Jadi, aku benar-benar ingin terbang ke mana pun dia berada, lalu mencakar wajahnya karena melangkah terlalu jauh. Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti itu, kepada daging dan darahnya sendiri?
"Jadi, gue gak lagi mimpi nih?"
"Ya, ini nyata."
"Ya Tuhan!"
Aku menundukkan kepala karena kalah.
Meski ingin membunuh bapak, aku juga tidak ingin beliau kehilangan bisnis—yang telah dibangun dengan keringat dan darahnya. Bapak juga pasti tidak akan mau dipenjara! Ibu pasti bakal mati karena galau.
Dia seperti mengabaikan ekspresi emosional-ku, lalu melanjutkan, "Bicaralah sama bapak kamu tentang ini. Saya yakin dia bakal jelasin sebelum kita menikah."
Aku mengangkat kepala sekali lagi.
"Pernikahan? Kapan?" aku taksanggup menyelesaikan pertanyaan.
"Dua hari dari sekarang," jawaban langsungnya, lalu berdiri dan menatapku, "terus, jangan coba melarikan diri, Rapunsel Novi."
Peringatan yang dia tinggalkan sebelum pergi berdering di otak, berulang kali. Masih dalam keadaan linglung, aku melihat ke bawah—ke cangkir kopi yang setengah kosong, mencoba memikirkan segala kemungkinan yang bisa dilakukan, untuk mengatasi kekacauan yang sengaja dibuat oleh Bapak.
