Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

11

Saat tiba di Papua Nugini, kami langsung disambut panasnya terik matahari. Saat kamk melangkah keluar dari bandara, kaus tipis Tesla sudah basah kuyup oleh keringat. wajahnya pun memerah.

"Kamu belum pesan taxi sama sekali?" dia bertanya, ketika aku mengatakan bahwa kami harus mendapatkan taksi.

"Belumlah," jawabku, mataku sambil mencari-cari tukang taksi.

"Pasti kamu sengaja dan udah rencanain ini!" dia bertanya dengan nada yang kesal.

Mungkin, cuaca panas membuat amarahnya sulit mereda.

"Gue emang gak rencanain hal-hal kecil macam taxi!"

"Sekadar informasi, Sayang, detail kecil macam taxi itu bakal sangat ngebantu," sahutnya. Matanya berbalik menatapku, agak sipit mungkin karena sinar matahari.

"Dan yang lo harus tau, ini kedua kalinya gue di sini. Gue tau persis kita bakal ke mana."

"Terus, di mana tepatnya?"

"Pokoknya adalah," jawabku.

Matanya malah menatapku lagi seakan curiga.

"Di suatu tempat di mana tepatnya?"

"Duh! Jangan banyak tanya dklu! Biarin gue yang nanganin ini, oke?"

Wajahnya menjadi tampak cemberut.

"Gimana saya bisa tenang, kalau kamu gak tau ke mana kita harus pergi?"

"Gue tau! Lo diam aja!" seruku.

Kemudian, aku mengangkat tangan untuk meminta perhatian seseorang di belakang.

"Ambil tas kita terus pegang erat-erat barang-barang berharga," perintahku, untuk membawa semua koper menemui sopir taksi.

"Luar biasa!" ucapnya, sampai terlihat giginya.

"Cepat dong, Tes!" aku berteriak dari balik bahu, "kita gak punya banyak waktu!"

"Kamu ngomong mah enak, masalahnya saya yang bawa koper," sahutnya, "kenapa sih baju kamu banyak banget?"

"Itu bukan baju, Sayang. Itu perlengkapan, jadi lo harus hati-hati."

"Kayaknya gue benar-benar gak peduli ...."

"Hei! Gue yakin lo gak bakal senang apa yang bakal gue lakuin, kalo sampai cat gue hancur!" aku memperingatkannya sebelum naik ke dalam taksi.

Dia dan supir tampak berjuang mengangkut koper di bagasi, selama beberapa menit. Setelah selesai, dia membuka pintu dan membungkuk.

"Geser dikit," perintahnya.

"Maaf, gue gak dengar," aku menantang.

"Jangan bikin jengkel terus, Novi!"

Dia menegakkan badan kemudian membanting pintu di sampingku; melangkah ke sisi lain, lalu naik.

"Nah, gitu kan baik," aku mengejek.

"Diam, Sayang," dia menyahut dengan sinis.

Betapa anehnya kami, mengatakan sayang sembarangan satu sama lain, padahal sedang sama-sama kesal. keringat menetes di pelipisnya, mengalir di pipinya yang memerah. Aku pun refleks menyekanya.

"Suasana hati saya benar-benat buruk sekarang, jadi jangan sampai biat gue emosi," lanjutnya dengan gigi terkatup.

Akan terapi, aku berpura-pura ngeri.

"Gue gak percaya lo bakal kayak gitu."

"Diam bisa gak? Saya udah berusaha menunaikan amanah dari bapak kamu."

"Oh, kontraknya? Menurut lo gue harus terima kasih gitu?"

Dengan cepat, dia menoleh.

"Bukannya ini semua gara-gara kontrak sialan itu? Ya, kan?"

"Iyalah! Gue gak bakal ada di sini kalo bukan karena kontrak terkutuk itu," balasku.

"Kalian berdua mau kemana?" sopir berbicara, agaknya ragu-ragu, mungkin takut memotong perdebatan kami.

"Bukan kamu yang terjebak, tapi saya yang dijebak sama kamu!" Tesla malah menjawabku, mungkin belum mendengar pertanyaan sopir.

"Gue juga gak mau dengerin ocehan logis lo lagi," aku membalasnya kemudin berbalik menghadap sopir, "Hotel Aston, ya."

"Oke," jawab sopir.

Mobil pun dinyalakan.

*****

Aku mengantar Tesla ke lobi utama hotel, juga koper dan semuanya. Udara sejuk ber-AC menyambut kami. Aku pun menikmatinya sejenak.

Seorang gadis cantik tersenyum ketika aku sampai di konter.

"Selamat datang di Aston Hotel, ada yang bisa saya bantu, Bu?"

Aku tersenyum ramah kemudian berkata, "Saya pesan dua tempat tidur terpisah," dengan cukup penekanan.

"Boleh saya tahu nama Anda, Bu?"

Wanita itu kembali melihat ke komputer.

"Rapunsel Novi," jawabku.

"Kok Rapunsel?" Tesla menyahut, di sampingku. Dia bau matahari, kemejanya masih basah kuyup.

"Ya, Rapunsel. Saya uudah buat reservasi sebelum nikah sama kamu," jawabku kepada Tesla, "ada yang salah?"

"Bu Rapunsel Novi membuat reservasi untuk kamar Double Bedroom."

"Apa artinya?"

"Ini kamar ganda, Bu."

"Coba jelasin," aku meminta lagi, karena tidak terlalu suka mendengar kamar 'Double Bedroom'.

"Kayaknya kita harus berbagi ranjang, Sayang," bisik Tesla, di sampingku, sebelum wanita itu sempat membuka mulutnya.

"Apa? Gak bisa!" sahutku.

Aku mencondongkan tubuh ke wanita itu; meletakkan kedua tangan di meja marmer yang dingin, lalu berkata, "Yang saya pesan itu kamar yang ada dua tempat tidurnya."

Ia melihat layarnya lagi, lalu menatapku seperti canggung.

"Kamar itu tak tersedia, Bu Novi."

"Apa?" aku berseru dengan bingung, "kalau gitu kasih saya satu Run of the House atau semacamnya," lalu emosi.

Aku tak ingat nama kamar yang paling mahal di hotel itu.

"Masalahnya tetap gak bisa, Bu. Diperlukan reservasi buat memesannya. Hari ini, kami penuh sampai minggu depan."

"Kamu pasti bercan ... da?"

"Udahlah, kita gak punya pilihan lagi sekarang," Tesla menyela, lalu menepisku ke samping kemudian berbicara dengan wanita itu, "kami ambil kamar yang tadi aja. Maaf, istri saya kecapean.

"Tapi ...," ucapanku terpotong tatapan Tesla.

"Jangan coba-coba bilang, kalo kita bakal cari hotel lain. Saya ini udah lelah, Novi," ucapnya, dengan nada dingin.

"Ya udah, tapi lo harus tidur di lantai!"

Tesla pun tersenyum pada wanita, yang akhirnya menatap kami dengan tampak bingung.

"Istri saya suka bercanda, Mbak," ucapnya, "mana yang harus kami tandatangani?"

Wanita itu mengangguk kemudian memberi kamk kertas untuk diisi. Tesla menangani tagihan. Setelah itu, kami pun pergi ke kamar. Ada yang memimpin jalan sambil menarik koper di gerobak bagasi.

Aku bingung melihat kamar tidur ketika kami telah sampai. Kamar itu sangat besar dan luas. Pemandangan dari jendela kaca sangat menakjubkan, tetapi hanya ada satu tempat tidur. Tesla sedang sibuk memberikan tip kepada pelayan, sedangkan aku berpikir untuk mendominasi tempat tidur. Setelah menjatuhkan tas, dengan setengah berlari, aku melemparkan diri ke atas tempat tidu—lenganku terentang.

"Lo ngapain sih?" tanyanya, dengan alis berkerut.

"Gue lagi berbaring di tempat tidur."

"Tempat tidur ini buat berdua!" sahutnya.

Tangannya diletakkan di pinggul. Aku bisa melihatnya bernapas dengan berat. Dia pasti benar-benar lelah.

"Gak, ini milik gue. Lo tidur di bawah," aku membalasnya seraya menunjuk ke lantai berkarpet.

"Persetan!" dia malah memaki, dan tanpa sepatah kata pun, di menjatuhkan diri di sampingku, "tempat tidur ini cukup besar buat dua orang," ucapnya.

Dia berhasil beringsut di satu sisi, sebelum tubuh rampingnya yang besar menghantam tempat tidur.

"... dan mungkin beberapa kegiatan lain," tambahnya. Matanya pun melirik.

Aku tersentak kemudian mendorongnya dengan tangan dan kaki.

"Satu-satunya aktivitas yang ada di tempat tidur ini adalah gue yang tidur di atasnya."

Aku pun mendorong lebih keras hingga bagian bawah tubuh Tesla jatuh dari tempat tidur.

"Sana tidur di bawah!" aku menambahkan dengan gerutuan, memberinya satu tendangan terakhir.

Akan tetapi, dia melompat kembali ke tempat tidur.

"Gak bisa, Sayang. Saya yang bayar kamar ini kok."

Aku mendorongnya dengan empat anggota badan, tapi kali itu dia menjadi lebih berat.

"Gue bakal ganti uang lo dengan senang hati. Sekarang turun dari tempat tidur ini, sekarang!"

"Kamu takut saya sentuh?" godanya.

Kepala cokelatnya yang kusut menoleh ke arahku. Bibirnya menyeringai jahat.

"Gue gak takut apa pun," aku berbohong.

"Yang bener?"

Aku pun mengangkat alis kemudian berkata, "Beneran kok."

Dia malah memberiku kedipan mata. Kami pun berbaring di sana, seraya bertempur dengan tatapan tak berkedip. Agaknya kami sama-sama tak berniat untuk menyerah.

Karena ingin mengusirnya, aku mengangkat lengan kanannya kemudian meletakkan di lehernya.

Alih-alih melompat dari tempat tidur, aku malah mengangkat tangannya kemudian menyilangkan di bawah kepalanya. Sambil menyipitkan mata, aku mengangkat kaki kiri kemudian menyilangkan di atas kakinya yang terentang.

"Gak bakal bisa, Novi," dia berkata kemudian menguap.

Untuk upaya terakhir, aku menyilangkan lengannya yang bebas di depan dada.

"Gak, gak bakal bisa kamu, Nov."

Aku tetap seperti itu untuk waktu yang lama, sambil memikirkan cara lain untuk menguasai tempat tidur sendirian.

"Kalo gitu, ayo kita suit!" aku menantang.

Dia malah mengernyit.

"Apa itu?"

Dia melepaskan diri dariku, jantungku semakin berdetak kencang.

"Batu, kertas, gunting. Siapa pun yang kalah, harus mengambil langkah ke tepi ranjang. Siapa yang bertahan, dia menang."

Agaknya dia tidak akan pernah menyerah. Lagi pula, dialah membayar sendiri kamar itu. Namun, aku juga tidak bisa menyerah.

Dia segera duduk di tengah tempat tidur, dan aku melakukan hal yang sama. Kami menyilangkan kaki dan saling berhadapan; tinju mengepal dan siap bertempur.

"Kertas, gunting, batu!" kami berdua berteriak, dan aku melolong kemenangan, ketika batuku menghancurkan guntingnya. Kemudian, aku mendorongnya ke depan, lebih dekat ke tepi tempat tidur di belakangnya.

Tekad terlihat jelas di matanya, saat aku menatapnya. Sungguh, permainan itu lumayan berat. Yang harus kami lakukan, sebenarnya hanyalah menggertak.

"Kertas, gunting, batu!"

Nah, giliran aku yang kalah. Dengan terpaksa, aku memelototinya seraya mundur.

Sepuluh menit berlalu, kami berdua sudah duduk di kedua ujung tempat tidur.

"Kertas, gunting ...."

"Tunggu! Tunggu-tunggu!" aku memotongnya dengan satu tangan, "sekarang harus ada kesepakatan."

Dia menang dua ronde berturut-turut. Dalam permainan itu, jika sekali lagi dia menang, maka permainan berakhir.

Dia memberiku seringai.

"Takut tidur di bawah?"

Aku mengabaikan pertanyaannya.

"Oke," aku berkata setelah menimbang, "kita bakal bagi tempat tidur."

"Kamu sangat bijaksana, Novi" katanya. aku yakin dia sedang menyindirku.

"Tapi lo gak boleh nyeberang ke sisi gue," aku mengingatkan.

"Wokey, asal kamu juga gak nyeberang ke sisi saya."

"Oke setuju," sahutku.

Aku menyeka dahi dengan punggung tangan. Lagi pula, kami telah duduk dengan setengah pantat di udara, selama lebih dari lima menit.

"Itu adalah hal paling melelahkan yang pernah saya lakuin di tempat tidur," gumamnya. Dia kemudian tampak menenangkan diri.

"Iya, janji, itu yang terakhir yang lo rasain di ranjang bareng gue."

"Gak usah janji kalo gak bisa ditepatin, Novi," katanya, dengan nada serius.

Aku menatap mata hitamnya, dan apa yang terlihat hampir membuatku ternganga: api, listrik, kelaparan.

Apakah Tesla menjadi bernafsu?

Aku memilih untuk mengabaikan ketakutan, lalu berdiri. Aku benar-benar butuh mandi.

"Kemana kamu?"

"Mandi."

"Mau ditemenin?"

"Diam!"

Aku pun membanting pintu kamar mandi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel