Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

12

Aku mengganti baju dengan kemeja putih dan celana pendek denim, serta sandal kulit saat Tesla bergiliran mandi. Kutulis catatan bahwa aku akan keluar, tetapi tak kujelaskan ke mana.

Meski sebenarnya tiada janji atau apa, aku tetap butuh waktu untuk menyendiri dan berpikir.

Itulah yang biasanya kulakukan. Ketika pikiran terguncang karena banyak hal di saat bersamaan, aku akan berpikir, merenungkan, dan merencanakan.

Meski yang kuinginkan hanyalah berbaring di tempat tidur, atau memejamkan mata untuk beristirahat, aku takyakin apakah itu mungkin. Pikiranku lelah dengan semua olok-olok yang ada. Dia bukan lawan yang mudah, karena pastinya sudah terbiasa, sedangkan Soni itu lebih mudah. Sial! Soni lagi! Mengapa aku jadi sering memikirkannya setiap sendirian?

"Sudah dua tahun, Yu, lupain aja," aku membatin kemudian berteriak, "Ya Tuhan, kayaknya sekarang gue harus minum!"

Setelah itu aku pun berjalan ke bar.

*****

Sudah dua jam aku menenggelamkan diri pada bir, sendirian. Ya, aku memang suka bir, apalagi bir lokal Papua Nugini. Aku jadi ingat, bahwa di masa sebelumnya, pernah juga menikmati bir bersama Soni, di sana.

Sakuku bergetar. Aku meraba-rabanya sambil merasa sedikit pusing. Setelah ponsel kuambil, aku segera berceloteh,

"Ya, siapa ni?"

"Heh, kamu di mana? Ini sudah gelap."

"Pasti lo lagi," sahutku, datar.

"Ya ampun, Novi! Kamu di mana? Minum lagi?"

"Gue udah ninggalin pesan buat lo, jadi jangan khawatir."

"Catatan apa? Yang cuma tulisan 'keluar' itu?"

"Ya, yang itu."

"Yaelah, saya udah tau kalo kamu udah pergi, meskipun gak liat catatan sialan itu. Di mana kamu? Saya udah di luar nih!"

"Betapa pintarnya lo berbohong, Tesla," aku menjawab, "gue ini lagi di bar," lalu mengubah ponsel menjadi mode pesawat.

Lagi pula, untuk apa dia mencariku? Bukankah dia bisa menguasai tempat tidur sendirian?

Saat sedang menghabiskan setengah botol bir lagi, aki merasakan kehadiran seseorang, ia berdiri sekitar setengah meter dariku.

"Halo," suara laki-laki menyapa. Dengan mata setengah tertutup, aku mendongak, dan akhirnya melihat seorang pria tampan. Wajahnya berseri-seri, senyumnya juga begitu indah.

"Hai," ucapku, yang sedang tersenyum.

"Sendiri?"

"Eh ... ya."

"Boleh saya gabung?"

"Gak boleh!" kata suara lain di belakang pria itu. Aku mengerang. Ternyata itu si setan—Tesla.

"Maksud kamu?" tanya si pria tampan, yang langsung menoleh.

Aku hanya bisa mendengarkan. Mataku sudah terpejam, mungkin akibat terlalu banyak minum bir.

"Kamu gak boleh gabung sama dia."

"Memangnya Anda siapa?"

"Saya suaminya."

Aku terkekeh seraya berdiri. Namun, hampir saja ku terjatuh, jika si tampan itu tidak menangkapku. Aku hendak mengucapkan terima kasih, tetapi Tesla malah merenggutku dari pelukan si tampan kemudian berkata, "Ayo, kita balik."

"Tapi masih ada sati botol yang belim abis," sahutku.

Kemudian, tubuhku terasa lemas, jadi meluncur ke bawah. Tesla meraih lenganku, lalu mengangkatnya.

Kami sudah tidak memperhatikan si tampan lagi.

"Gue belum mabuk, Tes!" aku berkata, lalu membuka mata. Wajah kami menjadi berjarak beberapa inci.

"Lo ngegemesin deh, Tes. Tapi lo itu gila," kataku.

"Kamu benar-benar mabuk, Sayang."

Tesla mengangkat satu lenganku, lalu disentuhkan ke wajahnya yang dicukur bersih. Kemudian dia mencondongkan tubuh ke arahku. Hanya beberapa sentimeter lagi, bibir kami bakal bertemu. Namun, aku malah muntah ke seluruh bajunya.

Mungkin, secara naluriah, Tesla mundur, tetapi sudah terlambat. Kemejanya sudah tertutupi oleh ... oke, Anda bisa membayangkannya sendiri. Namun, tiba-tiba aku tertangkap kembali olehnya. Ya, sast itu tubuhku seketika lemas dan hampir jatuh ke lantai.

Beberapa menit kemudian, aku sudah dibawanya ke luar bar.

"Jangan-jangan, gue bakal mati sekarang," pikiran terakhirku.

Saat membuka mata kembali, kepalaku terasa sangat sakit. Sinar matahari yang mengenai mataku semakin memperburuk.

"Ya Tuhan, Novi gak bakal pernah minum lagi," erangku, mencoba bangun tapi gagal total.

Tubuh juga pikiran terasa sakit. Selain sakit kepala, mataku pun kabur. Aku takbisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya, setelah ... oh, ya, telepon dari Tesla ... lalu si tampan ... Tesla lagi .... Kemudian ... aku takbisa mengingat lebih jauh karena otakku sedang sakit parah. Aku pun membabi buta; mengulurkan tangan ke samping, lalu membeku ketika merasakan dada seorang pria.

Dada telanjang dengan bulu halus!

Aku memutar mata ke kanan, lalu menahan teriakan ketika melihat sosok Tesla yang tertidur di samping. Dengan hati-hati, aku mengangkat jari kelingking dari dadanya, lalu jari manisnya, jari tengahnya ... jari telunjuk ... ibu jari ... dan dengan sangat lembut, aku mengangkat telapak tangan dari dadanya yang berotot—yang naik turun dengan indah, pola pernapasannya juga halus. Lengan kiri terbentang di atas kepalanya, dan tangan kanan ada di sampingku.

Aku hampir takut saat mengintip ke dalam selimut, yang menutupiku dari pusar ke bawah. Kalau ternyata telanjang, aku bisa sangat ... baik, berhenti di situ.

Aku sudah sepenuhnya terjaga, walau kepala masih saja berdenyut. Aku menyelinap keluar dari tempat tidur, sepelan mungkin, dan saat kaki menyentuh lantai, aku melihat pakainku. Aku pun kaget, jadi langsung menutup mulut. Aku tidak mengenakan kemeja hitam-putih dan celana pendek denim lagi. Sebagai gantinya, aku mengenakan salah satu baju tidur hitam pemberian ibu! Baju itu terlalu halus, terlalu terbuka, dan ....

"Ya Tuhan," bisikku.

Kemudian, aku menoleh kembali ke Tesla; mengambil bantal, lalu membantingnya ke wajah Tesla.

"Apa yang udah lo lakuin ke gue?!"

Tesla pun melompat dalam hitungan detik, sedangkan aku tersentak untuk kedua kalinya, karena melihat apa yang dia kenakan. Memang, aku pernah melihat laki-laki memakai Boxer, atau tanpa Boxer. Akan tetapi, Tesla terlalu seksi, dan terlalu marah untuk dilihat, jadi aku buru-buru berbalik menghadap jendela kaca, yang menghadap ke jalan.

"Apa sih yang salah sama kamu, Nov?!" teriaknya, keras. Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui, bahwa dia praktis cemberut.

"Harusnya gue yang nanyain itu! Baju gue mana!?"

"Apa? Baju apa?"

"Baju yang gue pakai tadi malam!"

"Maksud kamu yang kena muntahan isi perut?"

"Isi perut apaan?"

Aku berhenti, kejadian tadi malamnya .... Seketika aku tertunduk dan mengerang, "Ya Tuhan, gue muntah."

"Ya, dan kamu gak cuma muntah di lantai, tapi ke baju gue juga!"

"Oke-oke, gue ngerti!"

Aku berdiri, berhenti, lalu duduk kembali karena menyadari bahwa tubuhku hampir telanjang.

"Jangan bilang kalau lo yang ngelucutin baju gue!"

"Yahiyalah, emang gue yang lakuin."

Dia pun menerima bantal terbang lagi dariku, sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya.

"Lo bisa kan bangunin gue, atau percikin air ke muka, biar gue bisa bangun dan ganti baju sendiri!"

"Kamu jatuh pingsan, Novi! Lagian saya lagi gak mud buat bangunin kamu. Saya tahu kamu pasti susah kalo disuruh bangun."

"Terus! Apa lagi yang lo lakuin?"

Aku memelototinya dengan tatapan menuduh.

Wajahnya malah menjadi kosong.

"Apa maksud kamu?"

Mungkin, Tesla mengerti apa yang aku maksud, jadi, dia tersenyum.

"Hahaha! Kamu gak ingat?" tambahnya.

Mataku pun melebar ngeri.

"Ingat apa?"

Tesla menyilangkan tangan di dada kemudian berkata, "Kalo gitu cukup saya aja yang tau."

Setelah itu, dia berbalik pergi ke kamar mandi, lalu menutup pintunyanya, sebelum bantal terbang mencapainya lagi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel