Bab 3 — Tatapan yang Mulai Berbeda
Adrian benar-benar tidak datang keesokan harinya.
Tidak ada ketukan pintu.
Tidak ada pesan singkat.
Tidak ada alasan sederhana untuk sekadar berdiri di depan rumah Sonia.
Anehnya, justru itulah yang membuat Sonia gelisah.
Sejak pagi ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan. Laptop menyala di atas meja ruang kerja, beberapa rancangan interior terbuka di layar, tetapi pikirannya berkali-kali teralihkan.
Setiap kali terdengar suara motor dari depan rumah, Sonia tanpa sadar menoleh ke arah jendela.
Namun bukan Adrian.
Menjelang sore, Sonia mulai kesal pada dirinya sendiri.
"Aku ini kenapa?"
Ia menutup laptop.
Kemarin dirinya sendiri yang mengatakan agar Adrian tidak datang.
Seharusnya ia senang pria itu menuruti permintaannya.
Namun rumah terasa terlalu sunyi.
Sonia berjalan menuju dapur.
Ia membuat secangkir kopi.
Ketika membuka lemari, matanya berhenti pada dua cangkir yang digunakan mereka malam sebelumnya.
Sonia mengambil salah satunya.
Kemudian tersenyum kecil.
"Menyebalkan."
Entah sudah berapa kali ia menggunakan kata itu untuk menggambarkan Adrian.
Namun semakin sering mengatakannya, semakin Sonia menyadari bahwa kata tersebut tidak lagi benar-benar berarti demikian.
Ponselnya bergetar.
Sonia langsung mengambilnya.
Sebuah pesan masuk.
Bukan dari Adrian.
Senyum di wajahnya menghilang.
Nama yang muncul di layar membuat tubuhnya membeku.
Dimas.
Sonia tidak membuka pesan itu.
Ia hanya memandang nama tersebut.
Sudah hampir tiga bulan sejak terakhir kali mereka berbicara.
Sonia mengira kepindahannya ke tempat ini akan mengakhiri semuanya.
Namun ternyata tidak.
Ponsel kembali bergetar.
Pesan kedua.
Kali ini Sonia membacanya.
Sonia, sampai kapan kamu mau menghindar?
Wajah Sonia berubah dingin.
Ia langsung mematikan layar ponsel.
Kopi yang baru dibuatnya dibiarkan begitu saja.
Sonia berjalan menuju jendela.
Langit mulai gelap.
Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di sana.
Masa lalu yang ingin ditinggalkannya ternyata belum selesai.
Dan nama Dimas adalah bagian terbesar dari masa lalu itu.
---
Keesokan harinya, Adrian pulang lebih cepat dari biasanya.
Sekitar pukul lima sore.
Ketika melewati rumah Sonia, ia melihat wanita itu sedang berdiri di halaman depan.
Sonia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang. Rambutnya diikat seadanya.
Di tangannya ada selang air.
Adrian menghentikan motornya.
"Rajin sekali."
Sonia menoleh.
Untuk sesaat, wajahnya yang sejak tadi murung berubah.
"Kamu."
Adrian membuka helm.
"Kenapa? Kecewa?"
Sonia mematikan air.
"Katanya mau datang lusa."
Adrian melihat jam tangannya.
"Belum malam."
"Memangnya harus malam?"
Adrian tersenyum.
"Saya kira kamu menunggu."
Sonia langsung menatapnya.
"Siapa yang menunggu?"
"Tidak ada."
Adrian kembali menyalakan motornya.
"Kalau begitu saya pulang."
Sonia terdiam.
Adrian mulai menjalankan motor perlahan.
Satu meter.
Dua meter.
"Adrian!"
Pria itu berhenti.
Ia menoleh.
Sonia berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
"Kamu mau kopi?"
Senyum Adrian langsung muncul.
"Katanya tidak menunggu."
"Aku cuma menawarkan."
Adrian mematikan mesin motor.
"Kalau begitu saya terima tawarannya."
Sonia menggeleng.
Ia tahu Adrian sengaja menggodanya.
Namun entah mengapa, suasana hatinya yang sejak kemarin buruk perlahan membaik.
"Masuklah."
---
Beberapa menit kemudian mereka duduk di teras belakang.
Seperti sebelumnya.
Dua cangkir kopi berada di atas meja kecil.
Namun kali ini Adrian menyadari sesuatu yang berbeda.
Sonia lebih banyak diam.
Biasanya wanita itu selalu memiliki sesuatu untuk dibicarakan.
Namun sore itu, pikirannya terlihat berada di tempat lain.
"Kamu baik-baik saja?"
Sonia menoleh.
"Tentu."
"Bohong."
Sonia mengangkat alis.
"Kamu sekarang bisa membaca pikiran?"
"Tidak."
Adrian mengambil cangkirnya.
"Tapi wajah kamu gampang dibaca."
Sonia tertawa kecil.
"Memangnya ada tulisan apa di wajahku?"
Adrian berpura-pura memperhatikan.
"Hm..."
"Apa?"
"Tertulis: jangan ganggu, sedang banyak pikiran."
Sonia akhirnya tertawa.
"Dasar."
Adrian ikut tersenyum.
Setidaknya ia berhasil membuat wanita itu tertawa.
Namun beberapa detik kemudian, Sonia kembali diam.
"Kamu mau cerita?"
Sonia menggeleng.
"Tidak ada yang perlu diceritakan."
Adrian tidak memaksa.
Ia hanya duduk di sana.
Mereka menikmati kopi dalam diam.
Anehnya, Sonia justru merasa nyaman.
Adrian tidak bertanya lagi.
Tidak mencoba mencari tahu.
Ia hanya menemani.
Hal sederhana yang sudah lama tidak Sonia rasakan.
"Kamu tahu?" kata Sonia tiba-tiba.
Adrian menoleh.
"Apa?"
"Aku pindah ke sini karena ingin melupakan sesuatu."
Adrian diam.
Ia menunggu Sonia melanjutkan.
Namun wanita itu hanya memandang halaman.
"Seseorang?" tanya Adrian akhirnya.
Sonia tersenyum tipis.
"Mungkin."
"Pria?"
Sonia menoleh.
"Kamu penasaran?"
"Sedikit."
Sonia memperhatikan wajah Adrian.
Ada sesuatu dalam tatapannya.
Sesuatu yang membuat Sonia ingin tersenyum.
"Kenapa?"
Adrian mengangkat bahu.
"Tidak tahu."
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Adrian terdiam.
Kini giliran Sonia yang tersenyum.
"Kenapa diam?"
"Saya sedang berpikir."
"Berpikir apa?"
"Apakah saya punya hak untuk cemburu."
Sonia tidak menyangka jawaban tersebut.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Suasana berubah.
Sonia tiba-tiba menyadari jarak mereka.
Tidak jauh.
Adrian duduk tepat di sampingnya.
Hanya dipisahkan beberapa sentimeter.
"Adrian..."
"Ya?"
Sonia ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak jadi.
Ia berdiri.
"Aku mau ambil makanan."
"Saya bantu."
"Tidak perlu."
Sonia berjalan menuju dapur.
Ia membutuhkan jarak.
Bukan karena Adrian melakukan sesuatu.
Justru karena pria itu tidak melakukan apa-apa.
Tidak menyentuhnya.
Tidak mendekatinya.
Namun keberadaannya saja sudah cukup membuat Sonia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak muncul.
Di dapur, Sonia memegang tepi meja.
Ia menarik napas.
"Tenang."
Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba berbunyi.
Sonia melihat layar.
Dimas.
Wajahnya langsung berubah.
Panggilan masuk.
Sonia menolak.
Namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berbunyi.
Dimas menelepon lagi.
Sonia hendak mematikan ponsel ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
"Kamu tidak mau angkat?"
Sonia terkejut.
Adrian berdiri di pintu dapur.
"Tidak penting."
Ponsel kembali berbunyi.
Adrian sempat melihat nama di layar.
Dimas.
Ia tidak bertanya.
Namun Sonia dapat melihat perubahan kecil pada wajahnya.
"Kamu bilang mau ambil makanan," kata Adrian.
Sonia mengangguk.
"Aku lupa menyimpan di mana."
Adrian tertawa.
"Kamu benar-benar banyak pikiran."
Sonia ikut tersenyum.
Panggilan berhenti.
Ia mengambil beberapa makanan ringan dari lemari.
Ketika hendak berbalik, tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah gelas.
Gelas itu jatuh.
Adrian bergerak cepat.
Tangannya menangkap gelas sebelum menyentuh lantai.
Namun gerakan itu membuat tubuh mereka berdiri sangat dekat.
Sonia membeku.
Adrian juga.
Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.
Sonia dapat merasakan napas pria itu.
Tangannya masih berada di lengan Adrian.
Tidak ada yang bergerak.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Sonia melihat sesuatu yang berbeda di mata Adrian.
Bukan lagi sekadar tatapan seorang tetangga.
Bukan pula candaan.
Ada ketertarikan di sana.
Jelas.
Dan Sonia menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ia memiliki tatapan yang sama.
"Adrian..."
Suara Sonia terdengar pelan.
Adrian tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Beberapa detik terasa begitu panjang.
Sonia akhirnya mundur.
Ia melepaskan tangannya.
"Terima kasih sudah menangkap gelasnya."
Adrian melihat gelas di tangannya.
Kemudian tersenyum kecil.
"Sama-sama."
Namun suasana sudah berubah.
Mereka kembali ke teras.
Percakapan berlanjut.
Namun tidak lagi sama.
Sesekali mata mereka bertemu.
Kemudian salah satu mengalihkan pandangan.
Sonia tahu.
Adrian juga tahu.
Ada sebuah batas yang perlahan mulai mereka dekati.
Dan semakin dekat dengan batas itu, semakin sulit bagi keduanya untuk berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa.
Sekitar pukul sembilan malam, Adrian akhirnya pulang.
Sonia mengantarnya sampai pintu.
"Terima kasih kopinya."
Sonia mengangguk.
"Terima kasih sudah datang."
Kalimat itu keluar tanpa sengaja.
Adrian berhenti.
Sonia langsung menyadarinya.
Namun terlambat.
Senyum muncul di wajah Adrian.
"Jadi benar kamu menunggu?"
Sonia memutar mata.
"Pulanglah."
Adrian tertawa.
Ia berjalan menuju rumahnya.
Sonia menutup pintu.
Namun sebelum sempat melangkah, ponselnya kembali berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Sonia melihat layar.
Dari Dimas.
Kali ini hanya satu kalimat.
Aku tahu kamu tinggal di mana sekarang.
Wajah Sonia langsung pucat.
Ia berdiri diam.
Jantungnya berdegup cepat.
Sementara dari balik jendela rumah sebelah, Adrian melihat lampu rumah Sonia masih menyala.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Namun satu hal sudah ia sadari.
Ada seseorang dari masa lalu Sonia.
Dan entah mengapa, hanya dengan melihat nama pria itu di layar ponsel Sonia...
Adrian sudah merasa tidak menyukainya.
Sama sekali.