Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 — Kopi di Malam Hari

Sejak pertemuan malam itu, ada sesuatu yang berubah.

Tidak besar.

Tidak pula cukup jelas untuk disebut sebagai sebuah perasaan.

Namun bagi Sonia, perubahan kecil itu mulai terasa ketika ia bangun keesokan paginya.

Hal pertama yang dilakukannya setelah membuka tirai kamar adalah melihat rumah di sebelah.

Rumah Adrian.

Sonia berdiri beberapa saat di depan jendela.

Halaman rumah itu masih sepi.

Sebuah motor terparkir di dekat teras. Berarti Adrian belum berangkat bekerja.

Sonia tersenyum kecil.

Kemudian ia tersadar.

"Apa yang kulakukan?"

Ia segera menutup tirai.

Sonia berjalan menuju kamar mandi sambil menggelengkan kepala.

Pria itu baru dikenalnya beberapa hari.

Adrian juga dua belas tahun lebih muda darinya.

Tidak ada alasan baginya untuk memikirkan pria tersebut.

Terlebih lagi, Sonia datang ke tempat itu justru untuk memulai kehidupan baru.

Kehidupan yang tenang.

Tanpa hubungan rumit.

Tanpa seseorang yang membuatnya harus kembali membuka bagian masa lalu yang ingin dilupakannya.

Namun semua pemikiran itu mendadak terasa tidak berguna ketika satu jam kemudian bel rumahnya berbunyi.

Sonia yang sedang menyiapkan sarapan berjalan menuju pintu.

Begitu pintu dibuka, ia langsung terdiam.

Adrian berdiri di sana.

Pria itu mengenakan kemeja kerja berwarna biru tua dengan lengan digulung hingga siku.

Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas.

"Selamat pagi, Tante Sonia."

Sonia menghela napas.

"Kamu sengaja, ya?"

Adrian tertawa.

"Selamat pagi, Sonia."

"Nah. Lebih baik."

Adrian mengangkat kantong yang dibawanya.

"Saya membawa sesuatu."

"Apa?"

"Sarapan."

Sonia mengangkat alis.

"Untukku?"

Adrian mengangguk.

"Saya beli terlalu banyak."

Sonia langsung tersenyum penuh arti.

"Benarkah?"

"Tentu."

"Kamu tinggal bersama ibumu."

Adrian terdiam.

Sonia melipat kedua tangan di dada.

"Kalau kamu membeli terlalu banyak, kenapa tidak diberikan kepada ibumu?"

Adrian kehilangan jawaban selama beberapa detik.

Sonia tertawa.

"Masuklah."

Adrian ikut tersenyum.

Kebohongannya terlalu mudah terbaca.

Mereka berjalan menuju ruang makan.

Adrian mengeluarkan dua bungkus nasi kuning dari kantong.

Sonia melihatnya.

"Jadi kamu membeli dua?"

"Iya."

"Dan keduanya terlalu banyak?"

Adrian tertawa.

"Sudahlah. Makan saja."

Sonia duduk di seberangnya.

Untuk pertama kalinya setelah pindah, ia sarapan bersama seseorang.

Aneh.

Biasanya Sonia menikmati kesendirian.

Namun pagi itu, suara Adrian yang terus bercerita justru membuat rumah tersebut terasa lebih hidup.

"Kamu tidak terlambat kerja?" tanya Sonia.

Adrian melihat jam tangannya.

"Masih ada waktu."

"Jam berapa masuk?"

"Setengah sembilan."

Sonia melihat jam dinding.

Pukul delapan lewat lima belas.

Ia langsung menatap Adrian.

"Adrian!"

Pria itu mengikuti arah pandangannya.

Wajahnya berubah.

"Waduh."

Sonia tertawa.

"Kamu bilang masih ada waktu."

"Tadi memang masih."

Adrian buru-buru berdiri.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Kamu yang terus bercerita."

Adrian mengambil kunci motornya.

Sebelum pergi, ia menoleh kepada Sonia.

"Enak sarapannya?"

Sonia mengangguk.

"Enak."

"Besok saya belikan lagi."

"Tidak perlu."

Adrian tersenyum.

"Kalau begitu saya beli untuk diri sendiri. Kalau kebanyakan, saya antar ke sini."

Sonia tertawa.

"Pergilah. Nanti kamu benar-benar terlambat."

Adrian berjalan menuju pintu.

"Selamat pagi, Sonia."

"Selamat bekerja."

Pintu tertutup.

Sonia kembali duduk.

Di depannya masih ada setengah bungkus nasi kuning.

Ia menatap kursi kosong yang beberapa detik lalu ditempati Adrian.

Kemudian tersenyum.

Rumah itu kembali sunyi.

Namun untuk pertama kalinya, Sonia merasa kesunyian itu sedikit mengganggunya.

---

Malam datang lebih cepat.

Hujan mulai turun sekitar pukul tujuh.

Sonia sedang duduk di ruang kerja ketika ponselnya berbunyi.

Sebuah nomor baru mengirim pesan.

Sudah makan?

Sonia mengerutkan kening.

Siapa?

Balasan datang cepat.

Tetangga menyebalkan.

Sonia langsung tertawa.

Ia tahu siapa.

Dapat nomor saya dari mana?

Beberapa detik kemudian.

Ibu.

Sonia menggeleng.

Ibu Adrian benar-benar menjadi pusat informasi.

Belum makan. Kenapa?

Kali ini balasan tidak langsung datang.

Satu menit.

Dua menit.

Sonia kembali bekerja.

Lima menit kemudian bel rumah berbunyi.

Sonia terkejut.

Ia berjalan menuju pintu.

Ketika dibuka, Adrian berdiri di sana.

Rambutnya sedikit basah terkena hujan.

Di tangannya terdapat dua bungkus makanan.

Sonia memandangnya tidak percaya.

"Serius?"

Adrian tersenyum.

"Katanya belum makan."

"Kamu baru saja tanya lima menit lalu."

"Saya sudah di jalan waktu mengirim pesan."

Sonia terdiam.

Berarti Adrian memang berniat datang bahkan sebelum mengetahui dirinya sudah makan atau belum.

"Kalau tadi aku bilang sudah makan?"

"Saya makan dua porsi."

Sonia tertawa.

"Masuklah."

Adrian masuk.

Malam itu mereka kembali makan bersama.

Hujan semakin deras.

Setelah makan, Sonia membuat dua cangkir kopi.

Mereka duduk di teras belakang.

Udara terasa dingin.

Sonia mengenakan cardigan tipis.

Adrian duduk di sebelahnya.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup dekat untuk membuat Sonia menyadari keberadaannya.

"Kamu sering begini?" tanya Sonia.

"Begini bagaimana?"

"Mengantar makanan kepada wanita yang baru dikenal."

Adrian tertawa.

"Tidak."

"Kenapa kepadaku?"

Adrian memandangnya.

Sonia menunggu jawaban.

"Karena kamu tinggal sendiri."

Jawaban sederhana.

Namun entah mengapa membuat Sonia terdiam.

"Aku terbiasa sendiri."

"Saya tahu."

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Saya juga tahu."

"Lalu?"

Adrian mengangkat bahu.

"Entahlah."

Sonia tersenyum.

"Kamu aneh."

"Kata orang, saya menyebalkan."

"Itu juga benar."

Mereka tertawa.

Hujan terus turun.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

Anehnya, tidak ada yang merasa canggung.

Sonia menikmati kopinya.

Adrian memandang halaman belakang yang basah.

Kemudian Sonia tiba-tiba bertanya.

"Adrian."

"Hm?"

"Kamu punya pacar?"

Adrian menoleh.

Sonia langsung menyadari pertanyaannya mungkin terdengar terlalu pribadi.

"Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa."

"Tidak punya."

"Oh."

"Hanya 'oh'?"

Sonia menatapnya.

"Mau jawab apa?"

Adrian tersenyum.

"Saya kira kamu penasaran."

"Siapa yang penasaran?"

"Kamu."

Sonia tertawa kecil.

"Percaya diri sekali."

Adrian tidak menjawab.

Kini giliran Sonia yang merasa diperhatikan.

Tatapan Adrian bertahan sedikit lebih lama.

Sonia memegang cangkirnya lebih erat.

"Apa?"

Adrian menggeleng.

"Tidak apa-apa."

"Kalau tidak apa-apa, jangan lihat seperti itu."

"Seperti apa?"

Sonia tidak menjawab.

Adrian tersenyum.

"Kamu gugup?"

Pertanyaan itu membuat Sonia langsung menoleh.

"Aku?"

"Iya."

"Kenapa aku harus gugup?"

Adrian mendekat sedikit.

Hanya sedikit.

Namun cukup membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.

"Entahlah."

Sonia menatapnya.

Untuk beberapa detik, suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar.

Adrian tidak lagi tersenyum.

Sonia pun terdiam.

Mata mereka bertemu.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang belum berani mereka sebutkan.

Sonia yang pertama mengalihkan pandangan.

Ia berdiri.

"Sudah malam."

Adrian memahami maksudnya.

Ia ikut berdiri.

"Saya pulang."

Sonia mengantarnya menuju pintu depan.

Ketika Adrian hendak keluar, Sonia memanggilnya.

"Adrian."

Pria itu menoleh.

"Terima kasih untuk makanannya."

"Sama-sama."

Adrian tersenyum.

"Lain kali saya datang lagi."

Sonia seharusnya mengatakan tidak perlu.

Namun kata-kata itu tidak keluar.

Sebaliknya ia hanya mengangguk.

"Hati-hati."

Adrian berjalan menembus hujan kecil menuju rumahnya.

Sonia berdiri di depan pintu.

Ia memperhatikan sampai pria itu masuk ke rumah.

Barulah Sonia menutup pintu.

Ia bersandar di sana.

Kemudian menghela napas panjang.

Ada sesuatu yang mulai terjadi.

Sonia menyadarinya.

Dan justru karena menyadarinya, ia mulai merasa takut.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Adrian.

Kopinya enak.

Sonia tersenyum.

Ia mengetik balasan.

Besok kubuatkan lagi.

Jarinya berhenti.

Sonia membaca kalimat itu.

Kemudian menghapusnya.

Ia mengganti dengan kalimat lain.

Terima kasih. Selamat malam.

Pesan terkirim.

Tidak lama kemudian balasan datang.

Selamat malam, Tante Sonia.

Sonia tertawa.

Besok jangan datang.

Balasan Adrian muncul hampir seketika.

Baik. Saya datang lusa.

Sonia menatap layar ponselnya.

Ia ingin membalas.

Namun akhirnya memilih meletakkan ponsel.

Senyum masih tersisa di wajahnya.

Malam itu, sebelum tidur, Sonia kembali membuka tirai kamar.

Lampu kamar Adrian terlihat dari kejauhan.

Ia berdiri cukup lama.

Sonia belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang tumbuh di antara mereka.

Namun satu hal mulai ia sadari.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Ia mulai menunggu seseorang datang mengetuk pintunya.

Dan tanpa Sonia ketahui, dari balik jendela rumah sebelah, Adrian sedang memandang ke arah yang sama.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel