
Ringkasan
Sonia adalah seorang wanita berusia 39 tahun yang dikenal anggun, percaya diri, dan memiliki pesona yang sulit diabaikan. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang tampak sempurna dari luar, ia memilih meninggalkan kota tempatnya tinggal dan memulai kehidupan baru di sebuah kawasan perumahan yang tenang. Di rumah barunya, Sonia bertemu Adrian, pria lajang berusia 27 tahun yang tinggal tidak jauh darinya. Awalnya hubungan mereka sederhana. Adrian memanggilnya “Tante Sonia”, sebuah panggilan yang selalu membuat Sonia tersenyum geli karena usia mereka sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh. Pertemuan-pertemuan kecil mulai mendekatkan keduanya. Percakapan larut malam di teras rumah, secangkir kopi yang dinikmati berdua, hingga tatapan yang bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya perlahan menciptakan ketegangan yang tak pernah mereka bicarakan. Sonia menyadari Adrian mulai melihatnya bukan sekadar sebagai wanita yang lebih dewasa. Sementara Adrian semakin penasaran dengan kehidupan dan masa lalu Sonia yang selalu ia sembunyikan di balik senyum tenangnya. Namun Sonia memiliki alasan mengapa ia datang ke tempat itu. Sebuah rahasia dari masa lalunya perlahan mengejar. Ketika hubungan mereka semakin dekat dan batas antara rasa nyaman dengan ketertarikan mulai kabur, Adrian harus memutuskan seberapa jauh ia berani memasuki kehidupan Tante Sonia. Dan Sonia harus memilih—kembali melarikan diri dari perasaannya, atau untuk pertama kalinya membiarkan seseorang benar-benar mengenal dirinya. Novel ini mengusung romansa sensual dewasa, drama, misteri masa lalu, kecemburuan, dan konflik hubungan, dengan perkembangan chemistry Sonia dan Adrian sebagai pusat cerita. Alurnya dapat dikembangkan menjadi 100–150 bab, dimulai dari pertemuan sederhana, ketertarikan yang tumbuh perlahan, hubungan yang semakin intens, munculnya orang-orang dari masa lalu Sonia, hingga rahasia terbesar yang mengubah hubungan mereka.
Bab 1 — Penghuni Baru di Rumah Sebelah
Hujan baru saja berhenti ketika sebuah mobil hitam memasuki jalan kecil di depan rumah Adrian.
Sore itu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Adrian sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi ketika suara mesin mobil menarik perhatiannya. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat putih yang sudah hampir setahun tidak berpenghuni.
Adrian meletakkan cangkirnya.
"Pindahan baru?"
Sebuah mobil bak terbuka menyusul beberapa menit kemudian. Dua orang pria turun dan mulai mengangkat kardus-kardus besar menuju rumah tersebut.
Adrian tidak terlalu tertarik.
Setidaknya sampai pintu mobil hitam itu terbuka.
Seorang wanita turun.
Adrian yang tadinya hendak kembali memainkan ponselnya tanpa sadar berhenti.
Wanita itu terlihat jauh lebih muda daripada yang dibayangkannya sebagai penghuni baru rumah tersebut. Rambut hitamnya jatuh melewati bahu. Ia mengenakan blus putih sederhana dengan celana panjang berwarna gelap.
Penampilannya tidak berlebihan.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Adrian memperhatikan sedikit lebih lama.
Mungkin cara wanita itu berjalan.
Atau bagaimana ia berbicara kepada para pekerja dengan tenang.
Sesekali wanita itu menyibakkan rambutnya yang tertiup angin.
Adrian baru menyadari dirinya sedang memperhatikan ketika wanita tersebut tiba-tiba menoleh.
Mata mereka bertemu.
Adrian langsung mengambil cangkir kopinya.
Berpura-pura sibuk.
Namun dari sudut matanya, ia sempat melihat wanita itu tersenyum tipis.
"Ketahuan."
Adrian menggeleng sambil tertawa kecil.
Ia segera masuk ke rumah.
---
Malamnya, ketika sedang makan bersama ibunya, Adrian akhirnya mengetahui identitas penghuni baru tersebut.
"Rumah sebelah sudah ada yang menempati," kata ibunya.
Adrian tetap makan.
"Tahu."
Ibunya menatap curiga.
"Kok tahu?"
"Ya lihat tadi."
"Namanya Sonia."
Adrian berhenti sebentar.
"Sonia?"
"Iya. Katanya dari luar kota."
"Sendirian?"
Pertanyaan Adrian membuat ibunya mengangkat alis.
"Kok kamu penasaran?"
Adrian langsung mengambil air minum.
"Kan cuma tanya."
Ibunya tersenyum penuh arti.
"Dia tinggal sendiri. Usianya tiga puluh sembilan tahun."
Adrian hampir tersedak.
"Tiga puluh sembilan?"
"Kenapa?"
"Nggak kelihatan."
Ibunya semakin curiga.
"Kamu sudah memperhatikan rupanya."
"Bukan begitu."
"Kalau ketemu, panggil Tante Sonia."
Adrian tertawa.
"Umur saya dua puluh tujuh, Bu."
"Memangnya kenapa?"
"Selisih dua belas tahun saja."
"Tetap panggil Tante."
Adrian menggeleng.
"Baik."
Ia kembali makan.
Namun entah mengapa nama itu tersimpan dalam pikirannya.
Sonia.
---
Dua hari berlalu.
Adrian belum pernah berbicara langsung dengan tetangga barunya.
Sampai suatu sore.
Ia baru pulang bekerja ketika melihat Sonia berdiri di depan pagar rumahnya.
Di samping wanita itu terdapat beberapa kantong belanjaan.
Salah satu kantong tiba-tiba robek.
Beberapa buah jeruk menggelinding ke jalan.
Satu di antaranya berhenti tepat di depan sepatu Adrian.
Adrian mengambilnya.
"Sepertinya jeruknya mau kabur."
Sonia menoleh.
Untuk pertama kalinya mereka berhadapan dari jarak dekat.
Adrian sedikit terkejut.
Wanita itu memang cantik.
Namun bukan kecantikan seperti perempuan muda yang sering ditemuinya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sonia memiliki tatapan yang tenang dan percaya diri.
"Terima kasih."
Sonia menerima jeruk tersebut.
"Sama-sama, Tante."
Sonia yang tadinya tersenyum tiba-tiba mengangkat sebelah alis.
"Tante?"
Adrian hampir tertawa melihat reaksinya.
"Ibu saya yang menyuruh."
"Oh."
Sonia mengangguk pelan.
"Jadi kamu Adrian?"
Sekarang giliran Adrian yang terkejut.
"Tante tahu nama saya?"
"Ibumu cerita."
Adrian melihat kantong belanjaan yang robek.
"Biar saya bantu."
"Tidak perlu."
"Kalau jeruknya kabur lagi bagaimana?"
Sonia tertawa.
Itu pertama kalinya Adrian mendengar wanita tersebut tertawa.
Entah mengapa terdengar menyenangkan.
"Baiklah."
Adrian mengambil dua kantong belanjaan.
Mereka berjalan menuju rumah Sonia.
Begitu masuk, Adrian memperhatikan bagian dalam rumah tersebut.
Masih banyak kardus belum dibuka.
"Taruh di dapur saja."
Adrian berjalan menuju dapur.
Setelah meletakkan belanjaan, ia kembali ke ruang tengah.
Sonia berdiri di dekat pintu.
"Terima kasih, Adrian."
"Sama-sama, Tante Sonia."
Sonia menatapnya.
Lagi.
"Kamu sengaja, ya?"
Adrian berpura-pura tidak mengerti.
"Sengaja apa?"
"Memanggilku Tante."
"Memangnya salah?"
Sonia melipat kedua tangannya.
"Berapa umurmu?"
"Dua puluh tujuh."
"Aku tiga puluh sembilan."
"Saya tahu."
"Siapa yang kasih tahu?"
"Ibu."
Sonia menggeleng sambil tersenyum.
"Lengkap sekali informasi dari ibumu."
Adrian tertawa.
Sonia berjalan menuju dapur.
"Mau minum?"
"Tidak usah."
"Anggap saja ucapan terima kasih."
Adrian melihat jam tangannya.
"Baiklah."
Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan di meja makan.
Dua cangkir kopi berada di antara mereka.
Percakapan yang awalnya terasa sedikit canggung perlahan menjadi santai.
Adrian mengetahui Sonia bekerja sebagai desainer interior dan sebagian besar pekerjaannya dapat dilakukan dari rumah.
Namun ketika Adrian bertanya alasan Sonia pindah ke lingkungan tersebut, wanita itu terdiam.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup bagi Adrian untuk menyadarinya.
"Aku cuma ingin suasana baru," jawab Sonia.
Adrian mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Ada sesuatu dalam tatapan Sonia ketika menjawab pertanyaan tersebut.
Seperti ada cerita yang sengaja disembunyikan.
Mereka melanjutkan percakapan.
Hingga tanpa terasa hampir satu jam berlalu.
Adrian berdiri.
"Saya pulang dulu."
Sonia ikut berdiri.
"Terima kasih sudah membantu."
"Sama-sama."
Adrian berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Sonia memanggilnya.
"Adrian."
Ia berbalik.
"Ya?"
Sonia berdiri beberapa langkah darinya.
Rambut panjangnya jatuh di salah satu bahu.
"Kalau hanya ada kita berdua..."
Adrian menunggu.
"...jangan panggil aku Tante."
Adrian tersenyum.
"Lalu?"
"Sonia."
"Baik, Tante Sonia."
Sonia menatapnya tidak percaya.
Adrian langsung tertawa.
"Maaf."
Sonia menggeleng.
"Kamu memang menyebalkan."
Adrian membuka pintu.
"Selamat sore, Sonia."
Untuk pertama kalinya, nama itu keluar langsung dari bibirnya.
Aneh.
Hanya sebuah nama.
Namun suasana tiba-tiba terasa berbeda.
Sonia tidak langsung menjawab.
Tatapannya tertahan pada Adrian selama beberapa detik.
Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
"Selamat sore, Adrian."
Pintu akhirnya tertutup.
Adrian berjalan pulang.
Jarak rumah mereka hanya beberapa meter.
Namun sepanjang perjalanan singkat itu, ia terus tersenyum sendiri.
Sementara di balik pintu rumahnya, Sonia masih berdiri.
Wanita itu menghela napas.
Ia seharusnya tidak terlalu memikirkan pertemuan tersebut.
Adrian hanya tetangganya.
Seorang pria yang dua belas tahun lebih muda darinya.
Tidak lebih.
Sonia berjalan menuju meja makan.
Ia hendak mengambil cangkir ketika menyadari Adrian meninggalkan sesuatu.
Sebuah gantungan kunci.
Sonia mengambilnya.
Ia memandang benda kecil itu sambil tersenyum.
"Menyebalkan."
Ia meletakkannya di atas meja.
Namun beberapa detik kemudian, Sonia kembali mengambilnya.
Besok ia harus mengembalikannya.
Atau mungkin...
Sonia menatap jendela.
Dari sana ia dapat melihat rumah Adrian.
Sebuah pikiran kecil muncul dalam kepalanya.
Bagaimana kalau ia mengembalikannya malam ini?
Sonia melihat jam.
Pukul sembilan lewat dua puluh.
Terlalu malam?
Mungkin.
Namun sebelum sempat berubah pikiran, Sonia sudah mengambil cardigan.
Ia keluar dari rumah.
Berjalan melewati halaman.
Kemudian berhenti tepat di depan pintu rumah Adrian.
Sonia melihat gantungan kunci di tangannya.
Ia tersenyum kecil.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu terbuka beberapa detik kemudian.
Adrian berdiri di sana.
Keduanya saling memandang.
"Tante Sonia?"
Sonia mengangkat gantungan kunci milik Adrian.
"Kamu meninggalkan ini di rumahku."
Adrian melihat benda tersebut.
Kemudian kembali menatap Sonia.
"Sepertinya gantungan kunci saya memang sengaja ingin menginap."
Sonia tertawa kecil.
"Sayangnya aku mengusirnya."
Adrian mengambil gantungan kunci tersebut.
Jemari mereka sempat bersentuhan.
Hanya sebentar.
Namun keduanya sama-sama terdiam.
Sonia segera menarik tangannya.
"Sudah malam," katanya.
Adrian mengangguk.
"Terima kasih sudah mengantarnya."
Sonia berbalik.
Ia baru berjalan dua langkah ketika suara Adrian terdengar dari belakang.
"Sonia."
Sonia berhenti.
Entah mengapa ia menyukai cara pria itu memanggil namanya.
Ia menoleh.
"Ya?"
Adrian berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Besok kalau ada barang saya yang tertinggal lagi, tidak perlu buru-buru dikembalikan."
Sonia mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Biar saya punya alasan datang."
Sonia terdiam.
Adrian tersenyum.
"Selamat malam."
Pintu tertutup.
Sonia berdiri sendirian di bawah cahaya lampu teras.
Ia menggeleng perlahan.
Namun senyum di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Malam itu Sonia belum mengetahui bahwa pertemuan sederhana tersebut akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Sesuatu yang seharusnya tidak ia cari.
Namun perlahan mulai ia tunggu.