Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 — Lelaki dari Masa Lalu

Sonia tidak tidur nyenyak malam itu.

Kalimat dari Dimas terus terulang di kepalanya.

Aku tahu kamu tinggal di mana sekarang.

Sonia berbaring sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.

Ia sudah memblokir nomor Dimas.

Namun itu tidak membuat perasaannya lebih tenang.

Dimas selalu memiliki cara untuk kembali.

Dan Sonia mengetahui satu hal tentang pria itu.

Jika Dimas mengatakan sesuatu, biasanya ia benar-benar akan melakukannya.

Sonia akhirnya bangun.

Jam menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit.

Ia berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air.

Rumah terasa begitu sunyi.

Sonia berdiri di depan jendela.

Dari sana, rumah Adrian terlihat gelap.

Semua penghuninya mungkin sudah tidur.

Entah mengapa, hanya dengan melihat rumah itu, Sonia merasa sedikit lebih tenang.

Sonia tersenyum getir.

Beberapa minggu lalu ia bahkan tidak mengenal Adrian.

Sekarang keberadaan pria itu mulai memberikan rasa nyaman yang tidak pernah dimintanya.

Dan justru itulah yang membuat Sonia takut.

Ia tidak ingin Adrian terseret dalam masalah masa lalunya.

Sonia menutup tirai.

"Jangan libatkan dia," bisiknya kepada diri sendiri.

Ia sudah membuat keputusan.

Mulai besok, ia akan menjaga jarak.

---

Pagi berikutnya, keputusan itu langsung mendapat ujian.

Pukul tujuh lewat tiga puluh, bel rumah berbunyi.

Sonia yang sedang membuat kopi berhenti.

Ia sudah bisa menebak siapa yang datang.

Bel kembali berbunyi.

Sonia menarik napas.

Kemudian membuka pintu.

Benar.

Adrian berdiri di sana.

Ia membawa kantong kertas yang sama seperti beberapa hari lalu.

"Selamat pagi."

Sonia menatap kantong itu.

"Jangan bilang kamu membeli sarapan terlalu banyak lagi."

Adrian tertawa.

"Kali ini saya jujur."

"Apa?"

"Saya memang sengaja beli untuk kamu."

Sonia terdiam.

Adrian mengangkat kantong tersebut.

"Boleh masuk?"

Seharusnya Sonia mengatakan tidak.

Bukankah semalam ia sudah memutuskan menjaga jarak?

Namun melihat senyum Adrian, semua kalimat yang sudah disiapkannya menghilang.

"Masuklah."

Adrian tersenyum.

Keputusan Sonia untuk menjaga jarak bertahan kurang dari delapan jam.

---

Mereka sarapan bersama.

Namun Adrian segera menyadari perubahan sikap Sonia.

Wanita itu lebih pendiam.

Sesekali pandangannya tertuju pada jendela.

Seperti sedang menunggu sesuatu.

Atau seseorang.

"Kamu tidak tidur semalam?"

Sonia terkejut.

"Kenapa?"

"Mata kamu."

Sonia menyentuh wajahnya.

"Kelihatan?"

"Sedikit."

Sonia tersenyum.

"Cuma kurang tidur."

"Karena Dimas?"

Tangan Sonia berhenti.

Ia menatap Adrian.

"Kamu ingat namanya?"

"Saya tidak sengaja melihat kemarin."

Sonia tidak menjawab.

Adrian meletakkan sendok.

"Dia siapa?"

Sonia menghela napas.

"Seseorang dari masa lalu."

"Pacar?"

"Bukan."

"Mantan suami?"

Sonia menggeleng.

"Suamiku sudah meninggal."

Adrian langsung terdiam.

Untuk pertama kalinya Sonia mengatakannya dengan jelas.

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Sonia tersenyum tipis.

"Sudah empat tahun."

Adrian tidak tahu harus berkata apa.

Kini ia mulai memahami kesedihan yang sesekali muncul dalam tatapan Sonia.

"Lalu Dimas?"

Sonia menunduk.

"Teman lama."

Hanya itu.

Adrian tahu Sonia tidak mengatakan semuanya.

Namun ia memilih tidak memaksa.

"Kalau ada masalah..."

Adrian berhenti.

Sonia menatapnya.

"Apa?"

"Hubungi saya."

Sonia tersenyum.

"Kamu mau jadi pahlawan?"

"Tidak."

Adrian mengambil cangkir kopinya.

"Tetangga."

Sonia tertawa kecil.

"Hanya tetangga?"

Pertanyaan itu keluar tanpa sengaja.

Adrian langsung menatapnya.

Sonia menyadari kesalahannya.

Ia segera berdiri.

"Aku ambil air."

Adrian tersenyum.

Namun tidak mengatakan apa-apa.

---

Hari itu berjalan biasa.

Sampai pukul empat sore.

Sonia sedang bekerja ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Ia tidak terlalu memperhatikan.

Namun beberapa detik kemudian bel berbunyi.

Sonia berjalan menuju pintu.

Ketika membukanya, wajahnya langsung berubah.

Seorang pria berdiri di sana.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Tubuhnya tinggi.

Mengenakan kemeja abu-abu.

"Dimas."

Pria itu tersenyum.

"Akhirnya ketemu juga."

Sonia tidak membalas senyumnya.

"Bagaimana kamu tahu alamatku?"

"Itu tidak penting."

"Buatku penting."

Dimas menatap ke dalam rumah.

"Boleh masuk?"

"Tidak."

Jawaban Sonia tegas.

Senyum Dimas menghilang.

"Kita perlu bicara."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Sonia."

"Aku sudah bilang jangan cari aku lagi."

Dimas mendekat satu langkah.

Sonia langsung memegang pintu.

"Pergi."

"Aku datang jauh-jauh hanya untuk—"

"Dia sudah bilang pergi."

Sebuah suara terdengar dari belakang.

Dimas menoleh.

Sonia ikut menoleh.

Adrian berdiri beberapa meter dari mereka.

Ia baru pulang kerja.

Helm masih berada di tangannya.

Dimas memandang Adrian dari atas ke bawah.

"Siapa kamu?"

Adrian berjalan mendekat.

"Tetangga."

Dimas tersenyum sinis.

"Saya sedang bicara dengan Sonia."

Adrian melihat Sonia.

Wajah wanita itu terlihat tegang.

"Sepertinya dia tidak ingin bicara dengan Anda."

Dimas menatap Adrian tajam.

"Kamu tidak perlu ikut campur."

Adrian tetap tenang.

"Saya tidak ikut campur."

Ia berhenti di dekat pagar.

"Saya cuma memastikan tetangga saya baik-baik saja."

Sonia memandang Adrian.

Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Dimas kembali menatap Sonia.

"Kita belum selesai."

"Buatku sudah."

Dimas terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

"Baik."

Ia berbalik.

Namun sebelum pergi, Dimas melihat Adrian sekali lagi.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada kata-kata.

Namun ketegangan di antara keduanya jelas terasa.

Dimas masuk ke mobil.

Beberapa detik kemudian mobil itu pergi.

Sonia masih berdiri di depan pintu.

Adrian mendekat.

"Kamu baik-baik saja?"

Sonia mengangguk.

"Terima kasih."

"Dia Dimas?"

Sonia kembali mengangguk.

Adrian melihat arah mobil tadi pergi.

"Dia bukan teman lama biasa, kan?"

Sonia terdiam.

Adrian menatapnya.

"Kamu tidak perlu cerita kalau belum mau."

Sonia tersenyum lemah.

"Masuklah."

Adrian mengikuti Sonia.

---

Malam itu mereka kembali duduk di teras belakang.

Tidak ada candaan seperti biasanya.

Sonia memegang cangkir kopi dengan kedua tangan.

"Dimas adalah adik mendiang suamiku."

Adrian terkejut.

Sonia akhirnya mulai bercerita.

"Setelah suamiku meninggal, Dimas banyak membantuku."

"Sepertinya dia menyukai kamu."

Sonia menatap Adrian.

"Kamu cemburu lagi?"

Adrian tidak tersenyum.

"Kali ini mungkin iya."

Sonia terdiam.

Jawaban itu terlalu jujur.

"Adrian..."

"Saya tahu."

Adrian menatapnya.

"Saya tahu saya tidak punya hak."

Sonia memandang pria di sampingnya.

Jantungnya kembali berdetak berbeda.

"Kenapa kamu peduli padaku?"

Adrian tersenyum kecil.

"Saya juga sedang mencari jawabannya."

Mereka saling memandang.

Lama.

Sonia merasakan pertahanannya kembali melemah.

Ia ingin menjaga jarak.

Namun setiap kali Adrian berada di dekatnya, keinginannya untuk menjauh justru semakin sulit.

Angin malam bertiup.

Sonia sedikit menggigil.

Tanpa mengatakan apa-apa, Adrian melepas jaket tipisnya.

Ia menyerahkannya kepada Sonia.

"Aku tidak apa-apa."

"Pakai."

Sonia akhirnya menerima.

Jaket itu terasa hangat.

Ada aroma samar milik Adrian.

Sonia tersenyum.

"Terima kasih."

Adrian mengangguk.

Mereka kembali diam.

Namun kali ini keheningan terasa berbeda.

Sonia menyandarkan tubuhnya pada kursi.

Tanpa sadar, bahunya bersentuhan dengan lengan Adrian.

Ia tidak menjauh.

Adrian juga tidak.

Untuk beberapa menit mereka hanya duduk seperti itu.

Dekat.

Sangat dekat.

"Adrian."

"Hm?"

"Kalau aku bilang jangan terlalu dekat denganku..."

Adrian menoleh.

Sonia juga menatapnya.

"...kamu mau dengar?"

Adrian berpikir sebentar.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Apakah kamu benar-benar ingin saya menjauh."

Sonia terdiam.

Adrian menunggu.

Namun Sonia tidak mampu menjawab.

Karena jauh di dalam hatinya, ia sudah mengetahui jawabannya.

Tidak.

Ia tidak ingin Adrian menjauh.

Justru sebaliknya.

Dan kesadaran itu membuat Sonia semakin takut.

Malam semakin larut.

Ketika Adrian akhirnya pulang, Sonia masih mengenakan jaketnya.

Adrian sudah berjalan beberapa langkah ketika Sonia memanggil.

"Jaketmu."

Adrian menoleh.

"Besok saja."

Sonia tersenyum.

"Sengaja ditinggal?"

Adrian tertawa kecil.

"Biar saya punya alasan datang."

Kalimat yang sama.

Sonia mengingatnya.

Adrian berjalan pulang.

Sonia berdiri di depan pintu sambil memeluk jaket tersebut lebih erat.

Namun jauh di ujung jalan, sebuah mobil abu-abu terparkir dalam kegelapan.

Di dalamnya, Dimas duduk sambil memperhatikan rumah Sonia.

Ia melihat Adrian keluar dari sana.

Wajahnya berubah.

Tangannya menggenggam kemudi.

Sonia mungkin menganggap semuanya sudah selesai.

Namun bagi Dimas...

Semuanya baru saja dimulai.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel