Bab 04 DITOLAK
Motor berhenti di parkiran kantor.
“Katanya Pak Budi punya pacar baru ya?” bisik Wati pelan, nyaris tak terdengar.
“Ah, mana mungkin,” Wendy menyahut cepat.
“Orang kayak beliau, ”
“Apa yang kalian bicarakan?”
Suara itu muncul dari belakang. Datar. Pendek. Tidak keras, tapi cukup membuat dua tubuh itu membeku.
Wendy refleks menoleh. Wati langsung menunduk.
Budi berdiri dengan jarak aman. Tidak mendekat. Tidak pula mengancam. Sikapnya justru terlalu tenang untuk ukuran teguran biasa.
“Kamu,” ucapnya singkat, menatap Wendy sebentar, “siapa namamu?”
Wendy tercekat. “W–Wendy, Pak.”
Budi mengangguk kecil. Bukan tanda mengenal, hanya mencatat.
“Dan kamu?” pandangannya beralih.
“Wati, Pak,” jawab Wati lirih.
Budi menghela napas pendek, lalu berbicara dengan suara yang sama sekali tidak meninggi.
“Saya tidak tertarik dengan gosip,” katanya.
“Apalagi yang menyangkut urusan pribadi.”
Dia menatap mereka bergantian, cukup lama untuk membuat udara terasa berat.
“Kalau kalian tidak sedang bekerja, pastikan percakapan kalian tidak terdengar di area kantor.”
Satu jeda.
“Ini peringatan.”
Tidak ada ancaman lanjutan. Tidak ada nada marah. Justru itulah yang membuat dada Wendy dan Wati mengempis bersamaan.
“Iya, Pak, maaf, Pak,” ucap mereka hampir serempak.
Budi tidak menunggu jawaban lain. Dia berbalik, melangkah pergi.
Beberapa menit kemudian, supervisor cleaning service menerima pesan singkat dari Bagian Umum ,
‘Tolong ingatkan seluruh petugas CS soal etika berbicara di area kerja.’
‘Tidak perlu nama. Cukup ditegaskan.’
Di sudut lain ruangan, Wendy dan Wati duduk kaku. Tidak ada lagi bisik-bisik. Tidak ada tawa.
Idola mereka barusan menegur, dan itu jauh lebih menakutkan daripada dimarahi.
Sementara itu, Budi melangkah menuju ruangannya dengan rahang mengeras.
Selama tidak ada nama yang disebut.
Selama tidak ada yang berani membawa gosip itu ke permukaan. dia masih punya ruang untuk menjaga jarak, dan harapan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa?” Suparno menoleh heran.
Suasana pantry kecil itu terasa aneh, terlalu senyap untuk jam segini.
“Kenapa kayak di arena pemakaman?”
Wendy mendesah, setengah frustasi.
“Tanpa sengaja, kami kena tegur pujaan hati,” ucapnya lirih, tapi masih terdengar dramatis.
Wati langsung menyikut lengannya.
“Jangan lebay. Nanti ada yang dengar kita bilang dia pujaan hati, makin marah dia.”
Riris yang sejak tadi diam, menutup botol minumnya dan mengaitkan tas di bahu. Kontraknya memang bukan full day, dia sudah bersiap pulang.
“Kalian ditegur Pak Budi?” tanyanya datar.
Wendy mengangguk cepat.
“Bukan marah sih, tapi dingin. Dingin banget.”
Wati lalu mengambil alih, menceritakan kejadian itu singkat dan berurutan, bagaimana bisik-bisik mereka terdengar, bagaimana Pak Budi bertanya nama tanpa nada tinggi, dan bagaimana peringatan itu jatuh tanpa satu kata kasar pun.
Riris menyimak sambil berdiri. Begitu cerita selesai, dia langsung teringat pesan yang masuk hampir bersamaan ke ponsel semua office girl dan office boy .
“Pantes,” gumamnya.
“Barusan semua dapat pesan dari supervisor. Soal kelancangan bicara di jam kerja.”
Wendy dan Wati saling pandang.
“Makanya,” lanjut Riris, menyampirkan tas lebih mantap, “aku bilang apa. Jangan ember.”
Dia menatap mereka sekilas, bukan menggurui, lebih seperti mengingatkan.
“Di kantor besar gini, satu kalimat bisa nyampe ke mana-mana.”
Riris melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan Wendy dan Wati yang kini benar-benar bungkam. Suparno menggaruk kepala, lalu ikut membereskan alat.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Tak ada aturan yang melarang orang bergosip saat jam istirahat, atau ketika langkah sudah meninggalkan gerbang kantor.
Budi paham itu. Justru itulah yang membuat dadanya semakin panas.
Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, dari wanita yang selama ini memenuhi pikirannya.
‘Sudah saya bilang, Anda duda famous. Jangan dekati saya!’
‘Itu akan membuat saya punya banyak musuh.’
‘Jangan pernah dekati saya lagi. Di mana pun.’
Budi memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
‘Aku cuma cinta kamu. Aku tidak peduli dengan mereka,’ balas Budi,
Balasan datang cepat. Terlalu cepat.
‘Kamu mungkin tidak peduli. Tapi mereka peduli.’
‘Mereka bisa membully. Bahkan menyingkirkan saya.’
Darah Budi seperti mendidih.
‘Siapa yang melihat?’
‘Siapa yang membuka mulut?’ balas Budi.
Budi masih ingat jelas, hari itu, sepulang mengisi kuliah tamu minggu lalu. Hanya satu pengakuan. Tak ada keramaian. Tak ada saksi yang seharusnya berarti. Tapi rupanya ada mata yang memperhatikan. Dan lidah yang bergerak lebih cepat dari etika.
‘Di kampus, tak ada yang mempermasalahkan. Mayoritas mahasiswa adalah pegawai, sudah berpasangan, sudah dewasa. Tak ada ruang untuk gosip murahan.’
‘Tapi di kantor ini. Semua terasa berbeda.’
‘Lalu aku harus bagaimana?’ balas Budi cepat.
‘Kamu terima aku, lalu kita proklamirkan saja hubungan kita.’ pinta Budi.
Lama. Balasan tak langsung datang.
‘Belum diterima saja sudah seperti ini.’
‘Apalagi kalau saya benar-benar jadi pasangan Anda.’
Budi menghembuskan napas kasar. Tangannya mengepal.
“Aaaaaarrrrgh, ” dia hampir membanting ponselnya ke meja, saat ketukan terdengar di pintu.
Tok. Tok.
“Pak Budi?”
Suara sekretarisnya membuat Budi terpaksa menahan amarah yang berdesak di dada. Dia mengusap wajah, menarik napas panjang.
“Masuk,” ucapnya akhirnya. Nada datar. Tapi badai di dalam kepalanya belum reda sama sekali.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Alhamdulillaaaaaah, ”
Ucapan itu nyaris bersamaan keluar dari mulut Dadang, Drajat, Rangga, dan Imran, ketika ustaz menutup pengajian malam itu dengan suara hangat dan penuh doa.
“Malam ini adalah malam terakhir pengajian tujuh hari,” ujar sang ustaz.
“Insyaallah, kita akan bertemu lagi di pengajian empat puluh hari. Kalau nanti tidak menerima undangan lewat pesan, mohon tetap hadir. Takut ada yang terlewat.”
Beberapa kepala mengangguk. Beberapa mata terlihat berkaca-kaca.
Bagian konsumsi segera bergerak. Malam itu bukan hanya prasmanan sederhana yang tersaji, tapi juga souvenir penutup, setiap tamu mendapat sajadah yang bagus, dibungkus rapi. Tak ada kemewahan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan rasa terima kasih.
“Masyaallah, sajadahnya bagus, Kang,” ujar seorang bapak setengah baya sambil menyalami Rangga.
“Alhamdulillah, Pak,” jawab Rangga pelan.
“Mugi tiasa kapaké.”
Imran berdiri di sisi ayahnya, menunduk sopan setiap kali tangan disodorkan kepadanya.
“Nu sabar, Nak,” ucap seorang ibu tetangga, menepuk bahu Imran pelan.
“Kami semua ikut ngiringan doanya.”
Imran hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
Malam semakin larut. Sebagian tamu pamit pulang, sebagian lain, yang memang tinggal, tak langsung beranjak. Tanpa diminta, mereka mulai menggulung karpet-karpet besar di ruang depan.
“Ayo, Pak, karpetnya kita gulung saja,” seru seorang tetangga.
“Biar besok nggak capek.”
“Eh, jangan repot-repot, Pak,” Rangga refleks menahan.
“Ah, Kang Rangga,” sahut yang lain.
“Ini bukan repot. Ini tetangga.”
Beberapa orang lain sudah masuk ke ruang tengah, mengangkat sofa, memindahkan lemari hias kembali ke tempat semula. Suara gesekan pelan terdengar, diselingi canda kecil yang tetap dijaga agar tak terlalu ramai.
“Yang ini berat, rame-rame ya,” kata seorang pemuda.
Imran ikut membantu. Tangannya memegang ujung karpet, gerakannya pelan tapi pasti.
“Kamu nggak usah angkat berat-berat, Ran,” tegur seorang bapak.
“Kami saja.”
Imran menggeleng pelan.
“Biar saya ikut, Pak. Terima kasih sudah membantu.”
Rangga berdiri sejenak, memandangi pemandangan itu. Ruang yang selama tujuh hari kosong dan sunyi, perlahan kembali ke bentuk semula, namun hatinya justru terasa penuh.
Imran menunduk, suaranya sedikit bergetar ketika berkata, “Terima kasih, terima kasih semuanya. Kami benar-benar tidak bisa membalas.”
Seorang tetangga menepuk pundaknya. “Tak perlu dibalas, Kang. Hidup itu gantian. Hari ini kalian, besok bisa jadi kami.”
Imran berdiri di samping Rangga. Dia menatap wajah-wajah yang masih bertahan membantu, meski acara sudah usai.
“Terima kasih,” ucapnya singkat, lirih, tapi sungguh-sungguh.
Malam itu, bukan hanya karpet yang tergulung. Bukan hanya perabot yang kembali ke tempatnya.
Ada duka yang perlahan ditopang, oleh tangan-tangan yang tak meminta apa pun, selain kebersamaan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
