Pustaka
Bahasa Indonesia

TRISULA TANPA TOMBAK SISI

47.0K · Baru update
yanktie ino
45
Bab
32
View
9.0
Rating

Ringkasan

Tak ada yang bisa menghibur Imran saat dua saudara kembarnya meninggal bersamaan, meninggalkan dirinya, ummi serta abba mereka. Juga , Wulan, kakak iparnya, dan Fitri calon kakak ipar yang akan menikah dua bulan lagi. Dan yang menambah beban adalah, ujung-ujungnya, Wulan ingin Imran menggantikan Ikhlas suaminya, dan Fitri ingin Imran menggantikan Ikhsan calon suaminya. Simak bagaimana jatuh bangunnya Imran menolak dua perempuan itu, sebab dia tak sama dengan Ikhlas maupun Ikhsan. Dilain sisi, ada Riris, yang sejak kelas 2 SMA menjadi yatim piatu, dengan 2 adik yang bahkan satunya masih ba lita! Riris berjuang penuh, menjadi OFFICE GIRL di dua kantor, tanpa malu, bahkan Riris menolak cinta manager HRD sekaligus dosennya agar bisa selalu fokus pada dua adiknya. Bisakah Imran menggaet cinta Riris tanpa ditolak seperti managernya Riris?

RomansaTuan MudaCoganCinta Pada Pandangan PertamaKeluargaWanita CantikCinta PertamaSweet

Bab 01 DUA GUNDUKAN

Imran memandang dua gundukan tanah merah di depannya. Dia duduk bersimpuh, lututnya menempel tanah yang masih lembap, bahunya bersandar pada kaki Hanum, umminya, yang duduk di kursi lipat di sebelahnya seakan mencari kekuatan bertahan dari semua badai yang datang sejak kemarin.

Sesekali tangan kanannya menggenggam ujung gamis hitam Hanum erat-erat, seperti anak kecil yang takut terlepas.

Yang pasti sejak tadi tangan kirinya memukul gundukan tanah seakan protes keras pada kedua kakak kembarya yang pergi lebih dulu meinggalkan dirinya sedirian.

Rangga berdiri di sisi lain kursi Hanum. Tubuhnya tegak, tetapi tangannya terus mengepal lalu mengendur, berulang-ulang, seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap berdiri.

‘Enggak begini kan kompetisi kita kali ini,’ ucap Imran dalam hati.

Sejak usia lima tahun, mereka bertiga sadar bahwa hidup adalah lintasan panjang. Mereka berlari di jalur yang sama, dengan aturan yang mereka buat sendiri yaitu siapa yang paling cepat, paling pintar, paling kuat.

Mereka menetapkan target, dan semua menyediakan hadiah untuk siapa pun pemenangnya. Mereka bersaing sehat memacu prestasi. Mereka saling iri dalam konteks IRI YANG SEHAT.

KALAU DIA BISA, AKU PASTI LEBIH BISA. Itu memacu mereka untuk selalu jadi pemenang.

Walau mayoritas kompetisi dimenangkan si bungsu Imran, nilai, logika, perhitungan, strategi.

Satu-satunya kekalahan Imran adalah perkara yang tak pernah dia anggap perlombaan, yaitu masalah perempuan!

Dia tidak pernah tertarik. Tidak pernah tergoda. Sejak SMP hingga sekarang, fokusnya selalu lurus ke depan, ke garis akhir yang bahkan dia sendiri tak tahu apa bentuknya.

Kini garis itu berakhir di dua gundukan tanah.

Di seberang pusara, Wulan, kakak ipar Imran atau istri Ichsan duduk di kursi roda. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Selang infus menjulur dari punggung tangannya, direkatkan dengan plester bening.

Galih adik Wulan berdiri di belakang kursi roda itu, satu tangannya mencengkeram pegangan besi, Rachmad, ayah Wulan, berdiri di samping, menunduk, matanya tak pernah lepas dari sosok putri sulungnya.

Miring ke arah tenggara, Imran melihat Fitri duduk dikelilingi kerabatnya sendiri. Punggungnya tegak, tetapi bahunya kaku. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, jari-jarinya saling menekan hingga memucat.

Fitri calon istri Ikhlas, dua bulan lagi mereka akan menikah.

Orang-orang mulai mendekat. Satu per satu. Tidak ada yang berbicara keras.

Seorang lelaki paruh baya, kerabat jauh, berhenti di depan Hanum. Dia menunduk, menyalami Rangga lebih dulu, lalu Hanum.

“Turut berduka, Bu Hanum ..., ” Kalimatnya menggantung. Dia menarik napas, menelan ludah.

“Saya pamit dulu, Bu.”

Hanum mengangguk kecil. Bibirnya bergetar, tapi dia memaksa tersenyum. Tangannya terangkat sedikit, seolah ingin membalas lebih, lalu jatuh kembali ke pangkuan.

“Terima kasih sudah datang,” suara Hanum nyaris tak terdengar.

Lelaki itu mengusap wajahnya cepat-cepat dengan telapak tangan, berpaling sebelum air matanya jatuh terlalu jelas. Dia menepuk bahu Rangga singkat, tepukan kaku, seperti orang yang tidak tahu harus menyalurkan duka ke mana.

Seorang perempuan mendekat berikutnya. Dia berhenti sejenak di depan dua gundukan tanah, menunduk lama, lalu beralih ke Hanum.

“Bu, yang sabar ya, ” Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu hanya menyentuh punggung tangan Hanum sebentar, sangat sebentar, seperti takut melukai.

Hanum mengangguk lagi. Kali ini matanya basah. Dia mengangkat ujung kerudung, menyekanya cepat-cepat.

Imran merasakan gerakan itu di atas kepalanya. Dia tahu, umminya tidak ingin terlihat runtuh.

‘Ummi selalu begitu,’ pikir Imran.

‘Menjaga agar kami tidak melihatnya terjatuh.’

Seorang pemuda, rekan kerja Ichsan, berdiri canggung di hadapan Rangga. Suaranya parau.

“Pak, saya ..., saya pamit.” Dia berhenti, menghela napas.

“Mas Ichsan orang baik, Pak. Saya banyak belajar dari beliau.”

Rangga mengangguk. “Terima kasih.”

Hanya itu. Suaranya datar, tapi rahangnya mengeras. Kenangan anak sulungnya yang memang paling mengayomi dan juga meggurui dua adiknya, walau selisih usia mereka hanya hitungan menit saja.

Mungkin karena tututan dengan sebutan SULUNG, tanggung jawab Ichsan memang lebih besar dari Ikhlas dan Imran.

Pemuda itu menunduk dalam-dalam, lalu melangkah pergi cepat-cepat. Bahunya naik turun, napasnya tidak stabil.

Di sela-sela pamitan, Imran menunduk lebih dalam. Matanya terpaku pada tanah di depan lututnya.

‘Kita selalu bareng,’ batinnya.

‘Bahkan kalah pun bareng. Tapi sekarang ..., ‘ Imran tidak menyelesaikan kalimat itu.

Seorang tetangga mendekat. Dia menyalami Rangga, lalu Hanum, lalu, ragu-ragu, menoleh ke Imran.

“Kang, ” dia berhenti, menelan ludah.

“Yang kuat, ya.”

Imran mengangguk kecil. Tidak berkata apa-apa.

Orang itu tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan, lalu berjalan pergi.

Ketika langkah-langkah terakhir menjauh dan suara mulai menipis, pemakaman terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Angin bergerak pelan, mengibaskan ujung kerudung Hanum.

Imran tetap bersimpuh.

‘Kompetisi kita selesai Kang, A,’ pikir Imran akhirnya.

‘Dan aku satu-satunya yang masih berdiri di lintasan. Aku pecundang. Aku looser!’’

Imran tidak tahu apakah itu kemenangan atau hukuman. Sebab yang dia tahu adalah dia kalah!

Pelayat mulai menipis, tetapi tidak benar-benar habis. Selalu ada satu-dua orang yang kembali mendekat, entah sekadar menyalami ulang, entah hanya berdiri ragu di kejauhan.

Hanum mengangkat kepala perlahan. Wajahnya pucat, matanya bengkak, tetapi sorotnya kembali mengeras, sorot seorang ibu yang tahu, jika dia runtuh sekarang, semua akan ikut jatuh.

Tatapannya beralih ke seberang. Ke kursi roda itu.

Wulan.

Menantunya. Dan juga dia toleh calon menantunya.

Fitri.

Semua persiapan pernikahan sudah siap kecuali souvenir dan makanan dari cattering, bahkan semua sudah dibayar lunas termasuk souvenir yang baru dipesan 3 hari lalu.

Pelayat terakhir akhirnya benar-benar pergi. Langkah kaki menjauh. Suara menghilang.

Tersisa mereka. Dua gundukan tanah. Dua orang tua yang berdiri terlalu lama. Seorang adik yang hidup sendirian.

Imran kembali bersimpuh.

‘Enggak begini kesepakatan kita,’ katanya dalam hati.

‘Kalian lari duluan. Aku ditinggal di garis akhir!’

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, saat rumah sakit menghubungi dan memberitahu kematian dua kakak kembarnya, Imran merasakan sesuatu yang lebih tajam dari sedih.

Marah yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa.

Pelayat terakhir akhirnya benar-benar pergi. Langkah kaki menjauh. Suara menghilang.

Tersisa mereka. Dua gundukan tanah. Tanah merah yang masih basah.

Dua nama yang sejak kecil selalu disebut bersamaan.

Rangga menarik napas panjang. Terlalu panjang untuk sekadar menguatkan diri.

Tangannya terulur ke bahu Hanum, isyarat halus agar mereka bersiap pergi.

Imran masih bersimpuh.

Seakan jika dia berdiri sekarang, maka semuanya akan benar-benar selesai.

Seakan dengan meninggalkan pusara ini, dia mengakui bahwa lintasan itu memang hanya menyisakan dirinya seorang.

Hanum bergerak lebih dulu.

Perlahan, dengan tubuh yang tampak jauh lebih ringan dari beban yang dipikulnya, Hanum menunduk.

Wajahnya sejajar dengan kepala Imran.

Tidak ada tangis. Tidak ada isakan.

Hanya suara pelan, nyaris seperti doa yang salah alamat.

“Dek ….”

Hanum berhenti sejenak, menarik napas.

“Sekarang cuma kamu yang Ummi punya.”

Imran menegang.

“Tolong ….”

Suara itu pecah di satu titik yang nyaris tak terdengar.

“Jangan pernah tinggalkan Ummi.”

Kata-kata itu tidak keras.

Tidak dramatis.

Justru karena itulah, dadanya terasa seperti diikat perlahan.

Imran bahkan tak berani mengangguk kecil. Sekecil apa pun untuk disebut janji. Terlalu besar janji itu bila dia sanggupi untuk ditarik kembali.

Sebab urusan nyawa bukan wewenangnya.

Bahkan atas hidupnya sendiri.

Saat akhirnya Imran berdiri, lututnya gemetar. Bukan karena lelah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak semalam, dia menyadari satu hal yang membuat napasnya sesak, dua kakaknya tidak hanya meninggalkan kenangan. Mereka juga meninggalkan kehidupan yang harus dia jaga!

Dan di atas semua itu, seorang ibu yang kini menggantungkan seluruh dunia yang tersisa padanya.

Imran mendekat lagi ke dua gundukan tanah itu. Tak ada yag berani melarang atau menahannya.sekan

“Kalian lari duluan,” bisiknya penuh penekanan mengampaikan marah atau protes pada kedua kakaknya.

“Dan aku ditinggalkan bukan di garis akhir!”

“Tapi di awal sesuatu yang tidak pernah kupilih.”