Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 03 TIDAK MINUS

Riris menutup mushaf kecilnya tepat ketika jarum jam merayap mendekati waktu Subuh.

Dua rakaat fajri telah dia tunaikan, ayat-ayat Al-Qur’an sudah dia lantunkan perlahan, cukup untuk menenangkan daada sebelum hari kembali menuntutnya berdiri tegak. Sholat subuh pun usai dia lakukan.

Dia melipat sajadah, lalu bergegas ke dapur.

Mesin cuci berhenti berputar. Riris membuka tutupnya, mengangkat cucian yang tadi dia masukkan sebelum wudhu. Airnya dia buang, lalu dia bilas satu per satu. Tangannya cekatan, geraknya terlatih, bukan gerak orang yang terpaksa, melainkan orang yang sudah lama berdamai dengan rutinitas.

Disambi masak, untuk sarapan, makan siang dan makan malam adik-adiknya 

Berat memang, meninggalkan mereka, tapi itu sudah digariskan sang khalik.

Ada pembantu yang tak menginap, akan datang nanti jam 11, membereskan rumah, mencuci piring dan menyetrika, nanti jam 2 pembantu menemani dua adiknya pulang sekolah dan belajar hingga jam 7 kadang jam 8 malam.

Riris akan kembali dari kuliah jam 9, kadang jam 7 atau jam 8 tergantung jumlah mata kuliah hari itu 

Tugas pokok mencuci dan masak dia yang lakukan. Dulu saat masih ada ibunya, pembantu datang jam 11, pulang jam 3 sore.

Tapi sejak orang tuanya meninggal, Riris minta tambahan jam, pastinya dengan tambahan gaji.

Pagi Riris kerja sebagai OG atau office girl di kantor besar, siang dia kerja di perpustakaan Nasional, sekalian numpang baca.

Dan malam dia akan kuliah

Sore biasanya dia akan pulang sejenak, mandi dan istirahat, berangkat sehabis shalat maghrib 

“Untung ibu punya rumah ini, sehingga nasib kami tak terlunta-lunta karena tercekik bayar kontrakan.”

Rumah ini adalah rumah Umar Cayapata, ayah kandung Riris. Ayah kandung Riris, meninggal saat Riris berusia 4 tahun.

Lalu ibunya Soraya Caraka, menikah lagi dengan Achmad Waskita, Ayah Firdauz dan Firda ketika Riris berusia 8 tahun

Sayang ayah Achmad meninggal saat Riris berusia 16 tahun, disusul Soraya dua bulan kemudian, saat Riris baru saja kelas 2 SMA semester akhir.

Riris dapat beasiswa untuk kuliah, tapi tak dia ambil, sebab kalau dia ambil, dia tak bisa bekerja.

Tabungan ibu dan ayahnya tak mau dia gunakan, sebab itu cadangan sekolah dia adiknya

Ayah Achmad meninggalkan uang penjualan rumah miliknya, dan Riris tak mau menggunakan, sebab dia merasa itu hak penuh dua adiknya

Sebenarnya tanpa bekerja uang itu cukup buat hidup beberapa saat, tp Riris berpikir, tanpa bekerja, uang itu akan habis, dan itu bahaya, jadi dia bekerja untuk makan juga biaya hidupnya, uang sekolah kedua adiknya yang dia ambil dr uang tabungan ayah Achmad 

Dari tabungan ibunya, Riris juga punya cukup uang, tapi Riris tak mau gunakan, itu untuk jaga-jaga bila keadaan darurat, misal adiknya sakit

Jadi kehidupan Riris sama sekali TIDAK MINUS, dia hanya tak mau tanpa income.

Dari dapur, aroma bawang putih mulai menyeruak.

“Bangun, Firda,” panggilnya pelan, tanpa meninggikan suara.

“Firdauz, Subuh dulu. Nanti kesiangan.”

Tak lama, langkah kecil terdengar menyeret.

“Teh, hari ini aku ada ulangan,” suara Firda masih serak.

“Matematika?”

“Iya.”

“Habiskan sarapanmu nanti. Jangan cuma roti.”

Firda mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi.

Riris kembali ke kompor. Satu wajan untuk tumisan pagi, satu panci untuk persiapan siang, satu lagi dia siapkan untuk malam.

Dia memasak bukan untuk pagi ini saja, dia memasak untuk memastikan adik-adiknya tidak perlu berpikir soal makan ketika dia tidak ada di rumah.

Berat memang, meninggalkan mereka setiap hari. Tapi itu sudah digariskan Sang Khalik, dan Riris memilih tidak melawan garis, dia menguatkan langkah di atasnya.

Pukul sebelas nanti, pembantu akan datang. Tidak menginap. membersihkan rumah, mencuci piring, menyetrika.

Pukul dua, pembantu itu menemani Firda dan Firdauz pulang sekolah, memastikan mereka belajar, sampai jam tujuh. Kadang jam delapan malam.

Riris akan pulang dari kampus jam sembilan malam. Kadang jam tujuh. Kadang jam delapan. Tergantung jadwal hari yang tak pernah ramah pada tubuh.

Tapi masak tetap dia yang urus, sambil mengaduk sayur, dia tersenyum kecil. Itu bukan keluhan. Itu prinsip.

Dulu, ketika ibu masih ada, pembantu datang jam sebelas, pulang jam tiga. Dulu, rumah ini terasa penuh, meski tidak pernah benar-benar ramai.

Riris menyalakan ketel. Air mendidih. Dia menuang ke gelas-gelas plastik, menyiapkan teh hangat. dia mematikan kompor. Sarapan siap.

Makan siang dan malam tersimpan rapi.

Riris berdiri sejenak di dapur, menatap rumah yang sunyi itu.

‘Aku tidak miskin,’ batinnya tenang.

‘Aku hanya memilih hidup dengan batas, agar kami tidak jatuh saat dunia kembali menarik karpetnya.’

Dan dengan itu, hari kembali dimulai.

“Pelajarannya ada yang susah hari ini?” tanya Riris sambil membagi piring.

“Matematika,” jawab Firda pelan.

“Yang mana?”

“Pecahan.”

“Nanti Teteh lihat malam.” Firda mengangguk.

“Aku IPA.” Firdauz menyuap nasi, lalu mendongak.

“Yang kemarin sudah paham?”

“Lumayan.”

“Kalau ada yang bingung, dicatat.”

Itu saja.

Tidak ada pembahasan lain. Tidak ada pengarahan hidup. Tidak ada wejangan. Rutinitas adalah bahasa mereka.

Riris mencuci piring, merapikan dapur, lalu menyiapkan masakan untuk siang dan malam. Semua sudah dia ukur, porsi, waktu, tenaga.

Sore, Riris akan pulang sebentar. Mandi. Berganti baju. Malam, kuliah.

Dia duduk sebentar di kursi dapur, meneguk air putih.

‘Hidupku bukan kekurangan,’ pikirnya.

‘Aku hanya tidak ingin hidup dengan menghabiskan apa yang bukan untuk hari ini.’

Tabungan ibunya tetap dia jaga. Bukan karena dia tidak percaya diri.

Melainkan karena dia percaya, hidup selalu menyimpan kemungkinan darurat.

Riris berdiri. Mengambil tas. Mengunci pintu.

Hari berjalan. Bukan ringan. Tapi terkendali. Dan bagi Riris, itu sudah lebih dari cukup.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Riris menghentikan motornya tepat di depan gerbang sekolah. Mesin belum sepenuhnya mati ketika dua adiknya sudah turun.

Firda yang paling kecil langsung meraih tangan Riris lebih dulu. “Teh,” katanya pelan.

Riris menunduk, mencium kening adiknya, lalu menepuk kepalanya singkat.

“Masuk kelas yang rapi. Jangan lari di tangga.”

Firdauz menyusul, salim cepat, lalu berlari lebih dulu. Firda tertawa kecil, mengejar kakaknya.

Riris menunggu sampai dua bocah seragam itu benar-benar hilang di balik pintu kelas, baru dia memutar setang dan keluar dari area sekolah.

Firda pulang jam sebelas nanti. Masuk pendalaman materi sampai jam dua. Setelah itu jemputan sekolah akan membawa mereka berdua pulang.

Semua sudah terjadwal rapi. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan.

Sekolah ini mahal. Elite. Dan tidak pernah sekali pun dia menunggak.

Tambahan les Firda bahkan lebih mahal dari SPP bulanan. Sudah termasuk makan siang. Riris tahu itu. Dan dia memilihnya dengan sadar.

Kalau mau, antar-jemput bisa dimulai dari pagi. Tapi dia tidak mau waktu singkat bersama adik-adiknya tergerus jadwal orang lain.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel