Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 05 OJEK PAYUNG

Hari ke-10.

Rumah terasa sepi dengan cara yang berbeda. Bukan karena tak ada orang, melainkan karena tak ada lagi suara yang ditunggu.

Semua kerabat sudah kembali ke rumah masing-masing sejak kemarin. Tinggal Rangga, Hanum, dan Imran, bersama kehilangan yang kini menetap.

Imran sengaja menahan diri. Selama masih ada orang luar, dia tak ingin menyentuh apa pun yang berhubungan dengan kamar Ikhlas dan Ichsan. Itu bukan urusan teknis. Itu urusan batin.

Kemarin, Wulan datang.

Perempuan muda itu duduk berhadapan dengan Rangga dan Hanum. Wajahnya pucat, tubuhnya jelas belum pulih benar, tapi ucapannya tenang, tenang yang kering, tanpa emosi berlebih.

“Abba, Ummi,” katanya pelan.

“Saya pamit. Saya mau kembali ke rumah orang tua.”

Hanum menggenggam tangan menantunya lama, tanpa berkata apa pun.

Wulan melanjutkan, masih dengan nada yang sama datarnya.

“Rumah itu akan saya jual. Dengan semua isinya.”

Dia mengeluarkan sebuah kunci dan meletakkannya di meja, mendorong perlahan ke arah Imran.

“Ini kunci rumah. Kuncinya almarhum.”

“Kalau keluarga mau mengambil barang-barang almarhum, silakan. Kalau tidak diambil, nanti ikut terjual.”

Tak ada ancaman. Tak ada permintaan. Hanya fakta.

Imran menatap kunci itu lama, lalu mengangguk.

“Iya, Teh,” jawabnya pendek.

Tak ada lagi yang dibicarakan. Wulan menyalami Abba dan Ummi, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Hari ini, Imran memanggil dua tukang.

Bukan ke rumah Rangga, melainkan ke rumah Ichsan dan Wulan.

Tugas mereka jelas, mengambil barang-barang milik Ichsan.

Kunci rumah kini ada di tangan Imran. Bukan sebagai simbol, tapi sebagai tanggung jawab.

Tukang itu pula yang nanti, bila waktunya tiba, akan membantunya melakukan hal yang paling dia tunda, menyentuh kamar Ikhlas dan Ichsan di rumah Abba Rangga dan Ummi Hanum.

Namun bukan hari ini.

Hari ini, Imran hanya berdiri di ambang keputusan, menarik napas panjang, dan bersiap kehilangan untuk kesekian kalinya, dengan cara yang lebih sunyi.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Sekarang sudah selesai, Ummi dan Abba boleh masuk dua kamar itu,” ucap Imran pelan.

Rangga menoleh cepat.

“Kok, ?” Kalimatnya menggantung. Dia tak melanjutkan.

Hanum melangkah lebih dulu. Tiga hari lamanya dia dan Rangga menahan diri, tak sekali pun menginjakkan kaki ke kamar dua anak yang telah pergi. Kini, begitu pintu terbuka, langkah Hanum terhenti.

“Jadi begini, Dek?” ucapnya lirih.

Dua kamar itu tak lagi seperti sebelumnya. Bukan kosong, justru sebaliknya. Tampilannya terasa acak, tapi bukan tanpa makna.

Imran berdiri sedikit di belakang mereka.

“Filosofinya sederhana, Mi,” katanya tenang.

“Aku menggabungkan semua milik A’a dan Akang dalam hal yang sama.”

Dia menunjuk kamar pertama.

“Di sini, dua ranjang mereka aku satukan. Dua lemari pakaian juga. Semua pakaian mereka ada di satu ruang.”

Lalu dia menggeser pandangan ke kamar satunya.

“Yang ini aku jadikan tempat semua buku, semua alat musik, semua koleksi mereka. Enggak ada lagi pemisahan.”

Imran menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap terkendali.

“Aku menyatukan mereka, seperti sekarang mereka disatukan di pemakaman sana.”

“Ide ini datang hari ketujuh. Waktu aku ke makam.”

Rangga dan Hanum saling pandang. Tak ada kata keluar. Tak ada sanggahan.

Bukan karena mereka langsung sepakat, melainkan karena mereka tak pernah membayangkan cara ini.

Namun perlahan, tanpa diucapkan, keduanya memahami, tak ada lagi ciri khas kamar Ikhlas, tak ada lagi jejak kamar Ichsan.

Yang tersisa hanyalah kehadiran bersama, tanpa nama, tanpa pembeda.

Dan justru karena itu, rasa perihnya berkurang.

Tak ada yang perlu diprotes. Tak ada yang perlu dikembalikan.

Karena pada akhirnya, Imran telah melakukan satu hal penting,

menghapus jejak, tanpa menghapus kenangan.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Waduuuuh, ” Riris mengerem pelan, menepikan motornya di bawah kanopi ruko yang sudah setengah tutup. Hujan turun makin deras, bukan rintik, tapi hujan yang seperti dijatuhkan sekaligus dari langit.

“Aduh ya Allah, ,” gumamnya. Dia menatap jam di ponsel. Hampir jam tujuh malam.

“Semoga Firda enggak rewel. Hujan begini biasanya dia gampang pilek.”

Riris menyampirkan jas hujan di setang, tak jadi memakainya. Terlalu deras. Dia memilih menunggu sebentar, menenangkan napas setelah seharian kuliah.

Di kejauhan, lampu-lampu mall besar memantul di aspal basah, ramai, hidup, kontras dengan pikirannya yang selalu teratur dan sunyi.

Di sisi lain area parkir mall itu, Imran baru saja keluar dari toko buku. Satu kantong kertas cokelat tergenggam di tangan kirinya, langkahnya terhenti begitu melihat hujan yang menggila.

“Wah, ” dia menoleh ke langit, lalu ke arah mobilnya yang terparkir cukup jauh.

“Payung, Om.”

Imran menoleh.

Seorang anak laki-laki berdiri di bawah lampu taman, tubuhnya kecil, jaketnya tipis. Di tangannya ada payung besar, jelas kebesaran untuk badannya.

“Kamu kelas berapa?” tanya Imran sambil menerima payung itu.

“Kelas empat, Om.”

Imran melangkah. Anak itu mengikutinya, menjaga posisi payung agar tak miring.

“Orang tua kamu enggak marah kamu ngojek payung malam-malam begini?”

Anak itu menjawab tanpa ragu, suaranya datar tapi jujur.

“Orang tua saya sudah meninggal semua, Om. Dua tahun lalu. Selisih dua bulan.”

Langkah Imran melambat.

“Oh,” Hanya itu yang keluar.

“Kamu umur berapa sekarang?”

“Delapan, Om.”

“Tinggal sama siapa?”

“Sama kakak dan adik saya.”

Imran meliriknya.

“Kakak kamu kerja?”

“Iya. Kerja di dua tempat. Kalau malam kuliah.”

Delapan tahun. Yatim piatu. Kakaknya kerja dua tempat, masih kuliah.

Imran terdiam.

‘Hebat.’

‘Dan kejam sekali dunia kalau anak sekecil ini harus berdiri di hujan.’

Mereka hampir sampai di mobil ketika tanpa sengaja punggung tangan Imran menyentuh tangan anak itu.

Dingin. Tidak wajar.

“Eh, ” Imran spontan berhenti.

“Kamu demam.”

Anak itu menarik tangannya refleks. “Enggak, Om.”

Imran jongkok sedikit agar sejajar.

“Siapa namamu?”

“Firdauz.”

Imran mengangguk pelan. Nama itu menempel di kepalanya, entah kenapa terasa familiar.

“Kamu menggigil,” kata Imran tenang, bukan menuduh.

“Kalau kamu sakit, siapa yang jaga adik kamu?”

Anak itu terdiam.

Tanpa banyak bicara lagi, Imran membuka pintu mobil.

“Naik.”

“Om, ”

“Enggak pakai debat,” potong Imran, suaranya tegas tapi hangat.

“Kita ke klinik kecil dulu. Habis itu Om antar kamu pulang.”

Hujan masih mengguyur mall itu tanpa ampun. Mesin mobil menyala.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel