Bab 02 TAK ADA LAGI TRISULA
“Ade ..., kita pulang, yok.”
Suara Rangga terdengar rendah, hampir tenggelam oleh desir angin yang menggerakkan dedaunan di sekitar makam. Lelaki itu berdiri di belakang Imran, sedikit membungkuk, tangannya ragu-ragu hendak menyentuh bahu anak bungsunya.
“Kasihan AKANG sama A’A kamu,” lanjutnya pelan.
“Jangan ditahan-tahan terus. Kita harus pulang.”
Imran tidak menoleh.
Tatapannya masih tertuju pada dua gundukan tanah merah di hadapannya.
Dalam ajaran yang dia pahami sejak kecil, Imran tahu abbanya benar.
Malaikat baru akan datang setelah pelayat terakhir benar-benar meninggalkan makam. Setelah langkah ketujuh menjauh.
Imran tahu itu. Dia paham. Dia mengerti.
Namun pengetahuan tidak selalu sejalan dengan kesiapan.
Sejak dalam kandungan, dia tidak pernah sendirian. Detak jantungnya pernah berbagi ruang. Napas pertamanya di dunia disambut dua tangis lain yang sama kuatnya. Dan kini, dalam satu siang yang kejam, dia diminta berjalan sendiri, meninggalkan mereka di balik tanah.
‘Kita enggak pernah pergi duluan dari yang lain,’ batinnya.
‘Selalu bareng.’
Sejak dalam kandungan, dia tidak pernah sendiri.
Imran menggeleng pelan. Gerakan kecil, nyaris tak terlihat, tetapi cukup bagi Hanum dan Rangga.
Melihat keengganan itu, isak tertahan yang sejak tadi Hanum jaga akhirnya pecah.
Hanum menggeser tubuhnya di kursi. Tangannya terangkat, menyentuh punggung Imran dengan ragu, lalu menetap di sana.
“Dek ..., ” suara Hanum gemetar.
“Ummi tahu kamu berat.”
Hanum tidak memaksa. Tidak menarik. Hanya hadir.
Di sudut berseberangan, Wulan menunduk di kursi rodanya. Isaknya tertahan, bahunya bergetar halus. Tafida memeluk kepala putrinya ke daada, sementara Galih dan Rachmad berdiri membisu, mata mereka tak lepas dari dua gundukan tanah, tetapi tubuh mereka tak bergerak mendekat.
Mereka melihat. Mereka tidak menyela.
Di sudut lain, Fitri berdiri di antara kedua orang tuanya. Tangannya saling menggenggam kuat di depan tubuh. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tidak punya tempat keluar.
Tahira mengusap punggung Fitri pelan. Joko berdiri tegak, menatap ke depan tanpa berkedip, seperti orang yang tahu, jika dia menunduk sedikit saja, air mata akan jatuh.
Fitri tidak melangkah. Tidak memanggil. Juga tidak mendekat.
Jarak itu seperti garis tak terlihat yang tidak bisa dia lewati.
Imran menarik napas dalam-dalam. Tangannya menyentuh tanah di depan lututnya sekali lagi, sentuhan terakhir.
‘Enggak begini kesepakatannya,’ katanya dalam hati.
‘Kita akan selalu bareng.’
Imran berdiri perlahan.
Hanum langsung bangkit, memegang tangan Imran erat. Rangga menopang bahu anaknya dari sisi lain.
Langkah pertama meninggalkan pusara terasa lebih berat daripada semua kompetisi yang pernah mereka adakan dan dia menangkan.
Langkah pertama menjauh dari makam terasa seperti menarik tubuh dari lumpur. Langkah kedua membuat napasnya tersendat. Dia tidak menoleh.
Di sudut lain, Wulan menutup wajahnya.
Di sudut terakhir, Fitri menunduk dalam-dalam, seolah kehilangan arah pulang.
Imran tidak menghitung langkah ketujuh.
Dia hanya tahu, saat jarak itu terlewati, dia tidak lagi menjadi “salah satu dari tiga”.
Sudah tak ada lagi TRISULA, sekarang dua tombak sudah tertanam dalam keabadian.
Dia menjadi tunggal. Bukan lagi Tri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Imran masih berada di area pemakaman.
Mobil-mobil jenazah dan kendaraan keluarga terparkir berjajar jauh di sisi luar, meninggalkan hamparan tanah luas yang basah dan licin. Bogor tidak pernah benar-benar kering. Bahkan setelah hujan berhenti, tanahnya tetap menyimpan lumpur.
Imran berdiri beberapa langkah dari pusara. Rangga sudah lebih dulu berjalan ke arah mobil bersama Hanum, perlahan, seolah takut jarak terlalu cepat akan merobohkan perempuan itu.
Imran belum bergerak.
Sejak berdiri tadi, pandangannya berkali-kali kembali ke dua gundukan tanah merah itu. Bukan sekali dua kali. Seakan setiap langkah menjauh harus dia bayar dengan satu kali menoleh.
‘Kalian benar-benar pergi,’ batinnya getir.
‘Tanpa menunggu aku siap.’
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Aduh!” Di sudut lain pemakaman, tidak jauh dari jalur setapak, terdengar suara terkejut.
Dua gadis terpeleset hampir bersamaan. Satu jatuh terduduk. Satu lagi kehilangan keseimbangan dan nyaris ikut terseret.
Imran refleks melangkah maju satu langkah.
Matanya langsung menilai cepat. Ada empat, lima orang di sekitar mereka. Tangan-tangan sudah terulur. Mereka tidak sendiri.
Langkah Imran terhenti.
Bukan karena tidak mau menolong. Tapi karena hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tahu batasnya sendiri.
Dia menoleh kembali ke pusara. Tanpa suara. Tanpa kata.
“Aku pamit, Kang… A,” gumamnya pelan.
“Tunggu aku di pintu surga.”
Kalimat itu tidak ditujukan untuk siapa pun. Dan mungkin justru karena itu, terasa paling jujur.
Imran berbalik. Langkahnya mantap, meski dadanya terasa kosong.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ya ampun, Wen!” Riris mengeluh sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor tanah.
“Kenapa sih kamu pegangan kenceng banget, jadi aku ikut jatuh!”
Wendy masih tertawa kecil, setengah malu, setengah senang.
“Ya salah sendiri kamu berdiri mepet aku.”
“Ini pemakaman, Wen.”
“Iya, tahu,” Wendy mendesah, lalu mendekat dan berbisik, “tapi kamu lihat tadi nggak?”
“Lihat apa?”
“Dia.”
Riris mengikuti arah dagu Wendy. Seorang lelaki tinggi, berpakaian hitam, berjalan menjauh dengan punggung tegak dan langkah tenang.
“Manager finance itu,” Wendy berbisik lagi, seperti sedang membicarakan rahasia besar.
“Pak Imran.”
Beberapa temannya ikut melirik. Ada yang mengangguk. Ada yang tersenyum tipis.
“Ganteng sih,” salah satu berkomentar lirih.
“Tapi kayak jauh.”
“Jauh banget,” Wendy mengangguk.
“Kayak bukan buat orang-orang kayak kita.”
Mereka tertawa kecil. Tertahan. Sadar tempat.
Riris tidak ikut tertawa.
Dia menatap punggung Imran sampai lelaki itu semakin kecil di kejauhan.
“Aneh ya,” gumamnya.
“Apa?” Wendy menoleh.
“Tatapannya tadi,” Riris menjawab pelan.
“Kayak orang yang bukan cuma kehilangan, tapi juga sedang dipaksa bertahan.”
Wendy mengangkat bahu. “Kita ini siapa, Ris.”
Riris mengangguk. Tapi entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.
Dia tidak tahu bahwa lelaki itu tidak menoleh. Tidak tahu bahwa Imran bahkan tidak menyadari keberadaannya.
Mereka berenam berjalan pelan meninggalkan area pemakaman.
Tanah masih licin. Enam motor terparkir berjajar di bawah pohon besar.
Begitu suara dari area makam meredup, obrolan mulai muncul lagi.
“Pak Imran tadi kelihatan banget,” Wendy membuka suara.
“Diam aja udah bikin orang pengin lihat terus.”
“Iya,” sahut yang lain.
“Padahal lagi berduka.”
“Kalau Pak Budi gimana?” satu suara menyela.
“HRD itu loh. Katanya sekarang duda muda.”
Beberapa tertawa kecil.
“Dua-duanya sih,” Wendy mengangkat bahu.
“Versi beda aja.”
Riris tidak ikut menanggapi.
Dia mengambil helm dari motor, mengenakannya perlahan. Tangannya cekatan, seperti orang yang terbiasa melakukan segalanya sendiri.
“Ris,” Wendy menoleh.
“Kamu kok anteng amat. Masa nggak kepikiran sama sekali?”
“Enggak.” Riris menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku sibuk.”
“Semua orang juga sibuk.”
Riris menyalakan motor. Suaranya menenggelamkan kelanjutan pembicaraan.
“Firdaus harus sekolah. Firda masih kecil. Aku kuliah,” katanya singkat.
“Urusan lain nanti.”
Tidak ada penjelasan lebih jauh. Tidak ada pembelaan.
Motor-motor lain ikut menyala. Satu per satu meninggalkan area pemakaman.
Riris tidak menoleh ke belakang. Tidak juga mencari siapa pun.
Baginya hari ini bukan tentang siapa yang menarik perhatian,
melainkan tentang bagaimana semua kewajiban tetap harus berjalan
meski dua orang asing baru saja dikuburkan.
