Bab 8
Hari ini terlihat kesibukan di ruang kepengurusan OSIS. Mereka sedang sibuk karena harus mempersiapkan kegiatan terakhir yang harus mereka selenggarakan pada periode jabatan mereka.
"Vin, ini proposal yang udah di-acc kepsek." Erik yang merupakan salah satu pengurus OSIS itu menyerahkan proposal yang dijilid biru itu pada Kevin.
"Oke, makasih."
Kevin berterima kasih setelah melihat proposalnya telah ditandatangani oleh Kepala Sekolah Tunas Bangsa.
"Gimana Vin, udah beres?"
"Udah Al, nih." Kevin menyerahkan proposalnya pada Aldy.
"Oke sip. Rik lo bisa panggilin anak-anak OSIS? sekarang kita rapat, acaranya lusa jadi harus cepet disiapin," Titah Aldy. Erik pun mengangguk paham lalu bergegas mengumpulkan pengurus osis yang lain.
***
"Ya, sekian rapat kali ini. Semoga lusa lomba bazarnya bisa berjalan baik. Dan mohon kerja samanya. Terimakasih." Aldy menutup rapat hari ini.
Aldy melihat Revan yang sedang berjalan keluar ruang OSIS bersama pengurus yang lain.
"Van, gue mau ngobrol sebentar," Aldy menahan lengan Revan.
"Ada apa Al, biasanya juga kalo ngomong mah ngomong aja," ucap Revan santai.
"Oke to the point aja. Lo udah berapa lama jadi relawan di Cisarua?" tanpa basa-basi, Aldy langsung pada topik utama.
"Ohh itu. Pasti lo tau dari Tea, ya?"
"Nggak usah bahas gue tau dari mana atau dari siapa. Jawab pertanyaan gue!" Aldy sedikit meninggikan nadanya bicara.
"Iya. Baru tiga bulan ini. Kenapa? Gue cuma ngusir rasa sepi hidup gue, Al," ucap Revan memelan.
"Gue cuma pengen lo terbuka. Gue, Kevin, Doni, kita tuh keluarga lo. Kalo lo ngerasa sepi lo bisa main ke rumah gue, atau yang lain."
"Tapi apa salah gue jadi relawan di sana?"
"Nggak salah Van, malah gue seneng ternyata lo lebih manusia dibanding kita-kita hahaha," Aldy melayangkan canda. Kembali mencairkan suasana.
"Sorry Al, bukan gue gak mau cerita lagian bukan masalah besar juga, kan," jelas Revan.
"Oke-oke. Ayo keluar," Aldy merangkul Revan sambil berjalan keluar ruang OSIS.
Aldy memang sangat khawatir dengan keadaan Revan karena memang Revan tak punya keluarga. Ayahnya meninggalkannya saat ibunya sedang hamil dirinya dan ibunya pun kini sudah tiada. Saat ini tak ada keluarga bagi Revan selain Aldy, Kevin, Doni, dan Om Danang- ayah angkat Revan.
***
Tea sudah seminggu menjadi relawan di sini dan selalu merawat ayahnya. Tapi entah kenapa ia sekarang merasa usahanya sia-sia. Ayahnya tak menunjukkan perubahan yang signifikan. Ferdi masih dengan sikap tak kooperatif dan kasarnya.
Saat ini seperti biasa Ferdi sedang duduk di atas batu di pekarangan belakang rumah sakit. Tea pun duduk di atas rumput yang hijau.
"Ayah inget gak, waktu Tea udah TK, Ayah baru ajarin Tea main sepeda roda dua? Ayah waktu itu sabar banget walaupun Tea lamban belajar sepedanya."
Tea tertawa sendiri mengingat memori demi memori yang ia lewati bersama Ayahnya.
"Ayah bilang, jatuh itu gak masalah. Yang masalah itu kalau aku jatuh dan gak berusaha bangkit, ya kan?"
"Tapi semenjak Tea kelas lima SD Ayah berubah. Ayah kasar sama Tea. Kenapa, Yah? Ayah jahat karena selama tujuh tahun ini Ayah ninggalin Tea, Mamah, sama Kak Lea." Tea berkata dengan pipi yang telah basah oleh air matanya.
Saat Tea bersama Ayahnya pasti ia bercerita tentang masa lalunya bersama Ayahnya. Tapi sayangnya, Ferdi seperti tak ingin mendengar ceritanya. Ferdi juga tak merespon ucapan Tea.
"Sekarang Tea pulang dulu ya, Ayah. Jangan nakal ya, di sini. Tea besok ke sini lagi kok," ucap Tea sambil menggamit tangan Ferdi lalu mengecupnya.
"Dah Ayah! Assalamu'alaikum." Tea beranjak sambil melambaikan tangannya.
Seperti biasa tak ada respon dari Ferdi selain tatapan kosong.
***
Sepulang sekolah, Aldy sudah merencanakan untuk pergi menemui Ferdi Haikal. Ia saat ini sedang mengemudikan mobilnya menuju arah Cisarua. Saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba ponsel Aldy berdering menampilkan nama Aurel.
"Halo, ada ap-" belum selesai Aldy bertanya, Aurel langsung memotong ucapan Aldy.
"Kak, tolong Aurel, Kak! Aaaa sakit!"
Terdengar nada ketakutan dan panik dari suara di sebrang yang membuat Aldy yang mendengarnya tak kalah panik.
"Kamu di mana? Aurel?!" suaranya meninggi mendengar adiknya berteriak kesakitan.Tak terasa tangannya sudah memutih karena kepalannya yang sangat keras pada kemudinya.
"Aurel! Jawab Kakak!"
Tut. Tut. Tut.
Tak ada jawaban lagi setelah itu. Aldy frustasi. Ia menonjok kemudinya. Ia langsung memutar arah. Ia tau harus kemana sekarang.
***
"Aaarrrrrgghhhhh!" Aldy mencoba menahan amarahnya.
Rambutnya yang berantakan karena ia jambak sendiri menggambarkan bahwa ia benar-benar khawatir pada Aurel. Saat ini ia sedang menunggu Kevin melacak keberadaan Aurel di rumah Kevin.
"Sabar, Al," Doni berusaha menenangkan sahabatnya ini.
"Ahh, got it. Ini di daerah Bukit Kota, Al." Kevin memberikan secarik kertas berisi alamat yang kemungkinan besar Aurel ada di sana.
"Oke. Thanks Vin. Gue pergi," Aldy bergegas pergi keluar.
Untuk beberapa saat Kevin dan Doni terdiam, bingung dengan apa yang akan mereka lakukan untuk membantu Aldy.
"Gue kok gak enak hati ya, Vin? Coba telpon Revan," ujar Doni memecah keheningan.
"Udah gue hubungin tapi gak bisa. Mungkin lagi di RSJ."
"Ngapain dia di RSJ?" Doni terkejut karena ia belum mengetahui bahwa Revan menjadi sukarelawan di rumah sakit jiwa.
"Ceritanya panjang. Ayo kita harus ngikutin Aldy!" Kevin langsung menyambar ponsel, dompet, dan kunci mobilnya.
***
Aldy telah berdiri di depan rumah bernuansa klasik. Ia langsung memencet bel rumah itu. Tak disangka keluar seseorang yang terlihat seperti bodyguard.
"Siapa?"
"Gue Aldy, kakaknya Aurel. Adik gue ada di dalem, kan?"
"Bos, kakaknya udah dateng," ucap pria dengan tubuh kekar itu pada seseorang lewat monitor yang terpasang di telinganya.
"Masuk."
Pria itu memperbolehkan Aldy masuk setelah seseorang yang ia panggil bos menyuruh Aldy masuk rumah tersebut.
Saat masuk ke halaman rumah itu Aldy langsung diserang. Namun tak semudah itu mengalahkan Aldy yang merupakan atlet karate sabuk hitam itu. Aldy bisa melumpuhkan tiga orang yang mengahadangnya di depan termasuk pria yang menyambutnya di gerbang tadi. Setelah membereskannya ia terus masuk ke rumah bertingkat itu.
"Aurel! Aurel! Di mana kamu?" ia berteriak mencari keberadaan Aurel.
Hingga saat ia hendak masuk ke sebuah ruangan di lantai dua, ia dihadang oleh dua orang bodyguard, lagi.
"Minggir!" geramnya datar pada dua pria itu.
"Minggir!!!" akhirnya Aldy membentak dua pria itu.
Saat bahunya ditahan, Aldy langsung menyerang dua pria itu. Walaupun badannya lebih kurus namun tonjokan Aldy cukup kuat membuat bodyguard itu terkapar. Saat ia masuk ternyata Aurel memang berada di sana dengan seseorang yang sudah menempelkan pisau di leher Aurel.
"Lepasin adik gue atau lo yang gue kirim ke neraka!" bentaknya pada pria yang memakai topi, masker, dan pakaian serba hitam.
