Bab 7
Aldy dan Kevin sedang terpaku pada komputer jinjingnya masing-masing. Kevin adalah seorang yang melek IT, ia benar-benar hacker yang cukup handal untuk ukuran anak SMA. Saat ini ia sedang membobol sistem keamanan Shinhwa Group Korean yang bekerja sama dengan perusahaan JK milik seseorang bernama Ferdi Haikal. Tak salah jika saat ini Kevin telah ditawari untuk bekerja di Hilton Company yang merupakan salah satu perusahaan bidang perhotelan yang cukup besar di dunia.
Kenapa mereka lebih memilih membobol situs resmi SGK, karena ternyata saat ini perusahaan JK sudah tidak memiliki situs resmi sehingga informasi yang diberikan pun tidak terjamin faktual.
"Gila nih situs lumayan susah juga buat diretas," Kevin mengacak rambutnya frustasi.
"Tapi lo bisa, kan?" Aldy mulai khawatir.
Lima menit kemudian.
"Al, nih udah bisa tapi kita cuma punya waktu lima belas menit."
Dengan cepat Aldy mengambil alih laptop yang berada di depan Kevin. Waktu mereka terbatas. Aldy harus cepat mengunduh data-data yang diperlukan ke laptopnya. Jika tidak, peretasan yang Aldy dan Kevin lakukan akan terdeteksi sistem keamanan situs SGK. Gerak cepat, Aldy meng-copy data kerja sama perusahaan, investasi asing, dan informasi anggota direksi.
"Done," ucap Aldy.
Dia sudah selesai dalam waktu tujuh menit.
"Well done!" sorak Kevin saat menghentikan peretasan sambil mengangkat sebelah tangannya yang disambut oleh Aldy.
"Thanks, bro. Lo mau makan apa? Ayo keluar!" ajak Aldy yang memang sudah berjanji akan mengajak Kevin makan setelah selesai melakukan misi.
***
"Stop-stop, Vin!" ucap Aldy pada Kevin yang saat ini sedang mengemudikan mobil milik Aldy.
Kevin melihat arah pandang Aldy.
"Ada apa sih, Al? Liat apa sih lo?"
"Itu Revan, kan?" Menunjuk seseorang yang sedang berdiri di halte dekat RSJ Bandung bersama seorang perempuan.
"Mana? Oh iyah bener. Wah lagi apa dia sama Tea? Itu Anthea, kan?" Kevin memastikan.
"Coba kita ke sana, ayo puter arah!"
Kevin dengan cepat memutar mobilnya dan saat ini sudah menepi di depan halte.
***
"Lo abis ini mau ke mana, Te?" Revan membuka obrolan dengan Tea, karena Tea semenjak berangkat tadi tidak mengatakan apa-apa lagi pada Revan.
"Ya menurut lo gue mau apa? Pulang lah!" jawab Tea ketus.
Tea sangat sebal dengan perlakuan Revan padanya, yang sudah seperti penguntit. Tak lama berhentilah sedan warna putih yang tak asing bagi Tea maupun Revan yang tentu saja ia juga mengenali mobil Aldy.
"Van, lo ngapain di sini? Mobil lo mana?" Aldy bertanya saat turun dari mobil.
"Mobil gue ada, lagi pengen naik angkot aja," jawab Revan santai.
Ada apa lagi ini? Selamatkan aku Tuhan. Batin Tea berteriak. Tea merutuki dirinya dalam hati. Ia ditempatkan di posisi yang sangat tidak menguntungkan.
"Tea lo mau pulang?" tanya Aldy. "Lo berdua bareng kita aja," lanjutnya.
"Iya, ayo cepet bentar lagi mau hujan," ajak Kevin sambil berjalan memasuki mobil.
"Oke, gue ikut." Tea memutuskan ikut dengan Aldy karena tak ingin berduaan terus dengan Revan yang mengikutinya terus sejak tadi di mall.
"Oke deh," Revan pun akhirnya menyusul masuk ke mobil.
***
"Thanks ya, Al. Gue duluan Te, bye! Hati-hati!" pamit Revan yang turun lebih dulu karena memang lokasi rumahnya berada paling dekat dari tempat tadi mereka bertemu.
"Oke bro," sahut Aldy cuek.
Sekarang mereka sudah kembali ke jalan utama.
"Te, lo udah makan belom? Sekalian aja lo ikut kita makan?" tanya Aldy.
"Belum. Gue makan di rumah aja. Kenapa kalian gak ajak Revan aja tadi?" Tea sedikit heran dengan sikap Aldy dan Kevin.
"Revan mah kalo kita ajak ke rumah makan Sunda gak akan mau. Dia kan gak suka terasi. Hahaha," jelas Aldy cukup logis sambil tertawa.
Tea tercengang melihat Aldy tertawa lepas.
"Ehem ehem. Kacang-kacang." Kevin yang merasa di abaikan akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Telur, telur, telur," ucap Tea dan Aldy bersamaan yang akhirnya membuat mereka tertawa bersama.
Kevin sebenarnya heran dengan sikap Aldy yang tak biasanya mengobrol panjang lebar dan tertawa lepas seperti itu, receh pula. Tapi ia bersyukur akhirnya dapat melihat tawa lepas sahabat kecilnya lagi.
***
"Danke schön Al, Vin, buat traktir sama jemputannya, hehe." Tea hendak turun dari mobil Aldy yang sudah berhenti di depan rumah nomor 18 itu.
"Bitte Tea," jawab Kevin.
"Oh iya Al, baju lo belum diambil." Tea baru ingat baju Aldy yang ia pinjam belum dikembalikan.
"Oke nanti aja gue ke rumah lo lagi. Sekalian ketemu sama nyokap lo."
"Hmmm, o-okay." Lagi-lagi Aldy seperti memberikan titik dan bintik harapan padanya.
Tea merasa saat ini ia sedang terbang ke langit ke tujuh, menggunakan awan yang empuk dan mendarat di permadani yang tebal.
"Bye!" Tea sudah keluar dari mobil.
Kevin membunyikan klaksonnya dan mobilnya pun telah menghilang dari pandangan Tea.
***
"Lo ngerasa aneh gak, sih? Tadi Tea bilang dia sama Revan tuh jadi relawan di RSJ?" tanya Kevin.
Aldy berpikir sejenak.
"Iya, gue juga. Dia gak pernah cerita ke kita-kita." Aldy mengerutkan keningnya. "Sejak kapan pula anak itu deket-deket Tea?" lanjutnya.
"Hahaha aduh gue musti hati-hati, nih. Bentar lagi ada yang cinta segitiga nih," goda Kevin.
"Apaan cinta segitiga? Gak ada!" Aldy terlihat begitu kesal.
"Yeh, jangan ngambekan gitu, dong! Sekarang lo gak ngaku, gak apa-apa. Cuman gue saranin lo untuk cepet kenalin apa yang lo rasa Al. As a friend gue gak mau lo nyesel."
Gue tau Tea sumber baru kebahagiaan lo Al.
*Line Group*
Anthea PS :
Guyss, gue bener-bener nge flyyyyy
Relina :
ASTAGFIRULLAH
Lo abis ngapain te ASTAGFIRULLAH AMPUNI DOSA TEMANKU
Joana :
Apaan si berisik
Putri :
Nge fly gimana?
Lin perlu gue benerin keyboard lu?
Gue kick juga lo Jo dari grup
Anthea PS :
Gue dianter pulang lagi sama Aldy gilaa gak sihhh
Joana :
Emang si Aldy gila kenapa jg dia mau-maunya nganterin lo pulang
Anthea PS :
Gak ada yang bener aih. udah ah mau bobo. Besok aja ye ceritanya
Tea menon-aktifkan data selulernya. Sekarang ia mulai memasuki alam mimpinya.
***
Saat ini di sebuah restoran steak Lidya dan Ninda tengah bertemu.
"Apa kabar Lidya?" ucap Ninda sambil kecup kanan dan kiri dengan teman lamanya.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri apa kabar, Nin?"
"Baik Alhamdulillah."
Ninda dan Lidya telah selesai makan lalu berbincang.
"Sepertinya sekarang aku dan keluarga aku dalam bahaya, Lid," ucap Ninda sendu.
"Apa dia datang lagi?"
"Iya, Septi dia kembali tapi melalui orang lain."
~Kertas putih yang telah dibersihkan saat ini terkena titik -titik hitam lagi. Tinta hitam itu membuat kertas yang putih kembali ternoda. Dengan apalagi aku harus menjaga kertasku? Bagaimana lagi aku harus terjaga untuk menjaga kertasku? Semoga ini hanya titik yang tak akan melebar semakin besar.~
***
Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 namun Aldy saat ini masih memeriksa data yang tadi siang ia retas bersama Kevin. Saat sampai di file biodata pemegang saham, Aldy terkejut melihat foto seorang laki-laki yang tak asing baginya walau hanya pernah sekali melihat laki-laki itu, tapi Aldy yakin ini orang yang sama.
Jadi, Ferdi Haikal itu ...
***
