Bab 9
"Lepasin adik gue atau lo yang gue kirim ke neraka!" bentaknya pada pria yang memakai topi, masker, dan pakaian serba hitam.
***
Saat Aldy mendekat ia langsung menyerang pria itu, ia menghantam bahu pria itu lalu memukulnya tepat di rahangnya hingga ia pingsan. Leher Aurel tak lagi mulus karena tergores pisau ketika Aldy tadi mencoba menghantam bahu pria itu dan tangannya terus mencoba mengibaskan pisau itu ke arah Aurel yang terikat.
Aldy mencoba mengambil alih pisau yang orang jahat itu todongkan pada Aurel. Namun sayang pisau itu tetap terkena leher Aurel. Aldy segera melepaskan ikatan Aurel yang saat ini mengalami pendarahan. Darahnya mengalir hingga terkena seragam Aldy. Aldy berlari sambil memangku Aurel yang saat ini sudah tak sadarkan diri.
Ya Allah, lindungilah adikku.
Ternyata Kevin dan Doni sudah berada di sana, di lantai satu rumah itu bersama petugas kepolisian. Orang-orang yang tadi Aldy hajar sudah diamankan oleh polisi.
"Aurel luka" seru Aldy sambil terus berlari menuju mobilnya.
"Ya Tuhan." Kevin kaget melihat leher Aurel yang terus mengeluarkan darah.
"Don, lo bawa mobil gue, gue yang nyetir mobil Aldy," Kevin melempar kunci mobilnya.
"Oke, Vin," sahut Doni yang langsung berlari menuju mobil Kevin.
***
Keadaan Aurel saat ini kritis. Sejak kejadian tadi sore Aldy belum minum dan makan apapun. Ia pun masih mengenakan baju seragamnya yang masih belum dibersihkan dari darah.
"Al, kamu pulang ya. Biar Mama di sini jaga Aurel," ucap Ninda pada Aldy.
"Jagain Aurel? Sejak kapan Mama jagain Aurel? Yang ada Mama tuh nyakitin dia. Biarin aku di sini," ucap Aldy tegas sambil mengusap wajahnya dengan frustasi.
Dia kecewa pada Ninda yang memang tidak pernah memberikan perhatiannya pada Aurel. Ninda tidak pernah mengajari Aurel bagaimana cara makan, memakai baju, mengepang rambut, dan tidak pernah mengecup kening Aurel saat Aurel akan pergi ke sekolah. Bahkan saat terpenting pubertas bagi perempuan pun, Aurel harus belajar sendiri tanpa perhatian dari ibunya.
"Apa Mama masih pantas dipanggil Mama sama Aurel?" Aldy berkata datar, hingga Ninda tidak sadar air matanya telah mengalir deras saat ini.
"Maafin Mama. Mama gak bermaksud seperti itu, sayang. Ada alasan lain yang Mama gak bisa jelasin ke kalian," ucap Ninda di sela isak tangisnya.
"Alasan apa, Ma? Alasan karena Mama benci Papa? Gak adil!"
Lalu tak lama dokter telah keluar dari ruangan gawat darurat.
"Keluarga Aurel?" tanya dokter.
"Iya saya dok, saya Mamanya."
"Keadaannya mulai membaik."
Ucapan sang dokter membuat Ninda dan Aldy menghela napas lega karena lebih tenang setelah mendengar bahwa kondisi Aurel membaik.
"Tapi untuk saat ini dia harus di rawat di ICU, agar kami pantau lebih intensif," imbuh dokter.
"Baik dok, terima kasih," Aldy menyalami dokternya.
"Al, gimana kondisi Aurel?" Kevin dan Doni baru saja kembali dari kantin.
"Alhamdulillah udah membaik."
"Syukurlah." Kevin dan Doni pun merasa lega.
"Makasih banyak ya Doni, Kevin udah nolong Aurel sama Aldy." Ninda berterima kasih.
"Iya tante sama-sama. Lagian Aurel udah kita anggap kaya adik sendiri kok," Kevin berujar sambil tersenyum.
"Al, lo ganti baju gih, sekalian sholat magrib." Doni menyerahkan kaos yang baru ia beli dari mini market kepada Aldy.
"Thanks bro. Kalian gak pulang?"
"Kita pulang setelah liat lo makan, Al. Ya nggak, Don?"
"Betul, betul, betul!" seru Doni macam Upin dan Ipin.
Begitulah mereka, sahabat rasa keluarga.
**Anthea's POV**
Jam istirahat ini gue mau balikin baju Aldy. Gue gak berharap Aldy mau ke rumah gue lagi cuman buat ngambil bajunya. Dan gue juga bukan orang yang lupa berterima kasih.
Tapi aneh, hari ini Aldy gak kelihatan. Dicari di kantin gak ada, di perpusatakaan juga nggak ada. Akhirnya gue mutusin untuk nyari ke kelasnya.
"Hai, Vin!"
"Hai Tea. Ada apa? Tumben ke kelas gue."
"Hehe, ada Aldy, gak?"
"Ohh nyari Aldy. Dia absen hari ini."
"Oh, absen," gue kecewa.
Tapi ya mau gimana lagi.
"Ini gue mau balikin bajunya yang waktu itu gue pinjem," gue berikan baju itu ke Kevin.
"Oke Te, makasih banyak ya. Anyway lo mau gue salamin ke Aldy, gak?"
"Uh? Bilangin aja makasih. Thanks ya Vin, gue balik ke kelas dulu."
"Hahaha, oke sip."
Gak ada kerjaan banget Kevin ngusilin gue. Huh. Tapi kenapa gue gak tanya dia, kenapa Aldy gak masuk, ya? Ah bego dasar.
"Woyy!"
"Apaan sih lo,Jo ngagetin aja, ah!" Joana dateng tanpa aba-aba bikin jantung hampir copot.
"Abisnya lo jalan sambil bengong. Daripada gue biarin nabrak kan mending gue sadarin lo. Abis dari mana?"
"Gue abis dari kelas IPA 3. Balikin baju Aldy yang gue pinjem."
"Ohh, emang Aldynya ada, ya? Bukannya dia absen gara-gara adeknya sakit?"
"Emang dia gak sekolah."
"Trus lo ke manain bajunya?"
"Ya gue titipin Kevin lah."
"Ihh dasar ya, lo aneh Te. Bukannya lo ngegebet Aldy, ya? Harusnya lo jadiin ini peluang."
"Peluang apaan sih? Gue gak ngerti."
Tet... Tet... Tet...
"Udah ah, udah masuk tuh."
Joana malah narik gue balik ke kelas dengan pertanyaan gue yang masih digantung.
**Author POV**
Pagi tadi Aurel sudah siuman. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Saat ini Ninda dan Aldy masih setia menemani Aurel.
"Ma ..."
"Iya, sayang?" Ninda mengusap rambut Aurel.
"Makasih ya, Ma."
"Maafin Mama, nak. Mama janji gak akan ada lagi yang berani nyentuh kamu."
"Love you, Mom," ucap Aurel lirih.
Aldy masuk ke ruang rawat Aurel ia baru saja memberikan arahan pada bodyguard Ninda untuk berjaga di rumah sakit tanpa mengenakan atribut seperti bodyguard. Agar dapat menangkap pelaku penculikannya yang kemungkinan memang akan terus mengawasi Aurel.
"Ma, Aldy udah nugasin anak buah Mama buat jaga-jaga terus di sini."
"Bagus. Makasih, Al."
Aurel tersenyum senang karena saat ini Ninda dan Aldy akhirnya bisa akur. Ia juga senang karena akhirnya ia merasakan perhatian dari sang mama. Setelah berbincang sejenak Aldy berpamitan pada Ninda dan Aurel.
"Aldy pergi dulu, ya. Ada yang harus Aldy urus." Aldy pun mencium kening Aurel.
"Hati-hati Al," pesan Ninda yang tak direspon Aldy.
***
Saat ini Aldy berada di rumahnya bersama Kevin dan Doni karena Revan absen harus mengantar Om Danang ke luar kota. Mereka baru saja pulang dari sekolah.
"Gue penasaran kayanya ini bener-bener wanita jalang itu?"
"Seberapa yakin lo sama dugaan lo itu?" telisik Kevin ingin meyakinkan.
"Itu dia, gue mesti mastiin, Vin," kata Aldy yang masih berdiri dengan tangan menopang ke pagar balkon kamarnya.
"How?" Kevin semakin bingung dengan pernyataan Aldy.
"Gue harus cari tau lewat orang yang namanya Ferdi Haikal."
Gue harus mastiin juga apa Ferdi Haikal beneran ayahnya Tea, batin Aldy menambahkan.
"Telepon aja si Revan, bukannya dia jadi relawan di RSJ, ya? Abis itu tanya deh dia tau apa nggak sama yang namanya, siapa tadi?" celetuk Doni yang sedang asik memainkan play station-nya.
"Ferdi Haikal," gumam Kevin.
"Iya! Nah itu. Udah telepon sana!" ucap Doni yang tidak mengalihkan pandangannya dari game-nya.
"Tumben lo pinter," lalu Kevin menjitak kepala Doni.
"Aww, atitt dede," Doni berpose ala anak kecil yang sedang ketakutan.
Ya, saat ini Doni sudah mengetahui semuanya. Kevin sudah menceritakan apa yang terjadi. Hingga cerita mengenai Ferdi Haikal. Kevin segera mendial nomor ponsel Revan. Terdengar beberapa kali nada sambung hingga Revan mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Hai Van, lo lagi di mana?" sapa Kevin.
"Lagi di Yogya nih, ngedadak bokap pengen dianter," jawab Revan dari sebrang telepon.
"Widih, oleh-oleh dong bakpiaaa!" teriak Doni masih dengan stik PS di tangan.
"Iyee, ntar gue beliin. Tapi bayar, ya," Revan terkikik.
"Van, lo tau orang yang namanya Ferdi Haikal, gak? Dia dirawat di RSJ tempat lo magang," tanya Aldy.
"Iya, gue tau kok."
"Kalau lo tau, bisa gak lo bawa kita ke orang itu?" giliran Kevin yang bertanya.
"Kayanya nggak bisa. Soalnya dia sering ngamuk. Dijenguk anaknya aja begitu, apalagi ketemu sama kalian," jelas Revan dengan jujur.
"Oke kalo gitu. Tapi siapa anaknya?" Aldy bertanya lagi dengan nada seperti penyidik yang sedang menginterogasi tersangka.
"Wait wait. Lo nanya ke gue kaya gitu banget sih Al. Peace," Revan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya walau tak terlihat oleh Aldy.
"Jadi siapa anaknya?" Aldy mendesak.
"Ferdi Haikal itu punya anak. Dan anaknya itu adalah Anthea Permata Safitri."
Ternyata bener dugaan gue.
***
