
Ringkasan
Anthea Permata Safitri, gadis yang hanya memiliki satu mimpi, yaitu berbahagia. Namun ternyata mimpi sederhana ini tidak mudah diwujudkan karena pada akhirnya semua hancur tak terselamatkan. Ayah yang selama ini ada namun tiada akhirnya mengorbankan dirinya untuk sang putri tercinta, Tea. Sampai satu hari, sosok Aldy Mahendra Utomo datang ke kehidupan Tea. Sedikit demi sedikit luka yang membekas dalam diri Tea dapat terobati. Namun nyatanya semua hanya ilusi, karena sosok baru selalu hadir membawa luka yang baru.
Bab 1
“Anthea Permata Safitri, coba jelaskan materi penginderaan jauh!” Wanita paruh baya itu memberikan perintah pada anak didiknya yang duduk di barisan kursi paling belakang. “Baik, Bu,” sahut gadis itu. Beruntunglah gadis itu dapat menjelaskan dengan baik.
Tet! Tet! Tet!
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa di SMA Tunas Bangsa itu bergegas pergi ke kantin sekolah. Tak terkecuali Tea, merupakan nama kecil dari gadis bernama Anthea Permata Safitri. Dia berjalan bersama Relina yang sudah menjadi teman sekelas sekaligus teman sebangkunya selama hampir 2,5 tahun di bangku sekolah putih abu ini.
**Anthea's POV**
Saat jalan berdua ke kantin bersama Lina, mataku tidak sengaja melihat sosok laki-laki idaman para gadis di sekolah. Ya, kurang lebih seperti itu karena tak sedikit perempuan di kantin memerhatikan lelaki yang bernama Aldy Mahendra Utomo itu. And for your information, aku juga salah satu pengagum lelaki itu. Tampan dengan mata hazel dan hidung mancung, ketua OSIS, jago main basket, dan anak dari pemilik Yayasan Tunas Bangsa.
Walaupun sebenarnya aku tau, aku sama Aldy bagai bumi dan langit, air dan api, air dan minyak, dan apapun yang tidak bisa disatukan deh, pokoknya. Secara aku cuma orang biasa sedangkan dia berasal dari keluarga konglomerat. Aku bisa sekolah di sini pun karena aku mendapat beasiswa dari Yayasannya. Aku juga sadar wajahku tak secantik cewek-cewek populer di sekolah jadi aku dan dia, just in my wildest dream.
Sebenarnya Aldy adalah tipe anak yang sombong, arogan, tapi karena aku sudah terlanjur kagum, jadi ya begini deh.
"Eh Lin, gue abis ini mau ke perpus ada janji sama Juan latihan buat debat Sabtu besok."
Sebenarnya aku ingin pergi karena terlalu malas melihat cewek-cewek yang matanya tidak pernah bisa dikontrol ketika melihat Aldy, sekalian saja acara ketemuan dengan Juan aku jadikan alasan.
"Ya udah, tapi bentar tunggu gue sampe dapet bakso ya."
Lina menjawab sambil melihat-lihat ke arah kios bakso di kantin karena sudah hampir 10 menit pesanannya belum juga diantar mas Tuo sang pedagang bakso terhits di kantin sekolah.
Setelah pesanan Relina datang aku langsung pamit dan pergi ke perpustakaan.
"Ke mana aja lo Te, janjinya pas istirahat langsung ke perpus. Nyangkut di mana lo tadi?"
Baru dateng sudah kena samber si Juan aja, nih.
"Tadi abis anter si Lina beli bakso dulu di kantin, puas?" Dengan muka datar dan malas aku menjawab pertanyaan Juan.
"Apa? Lina, Relina temen sebangku lo itu maksudnya?"
Juan seketika berdiri dan memajukan badannya, matanya melotot hampir keluar dari tengkoraknya, dan tangannya dia pakai untuk menahan bobot badannya di meja, dia bertanya dengan suara menggelegar tanpa sadar kalau kita sedang berada di perpustakaan. Kesal, akhirnya aku pukul mulutnya dengan buku catatan khusus coretan yang selalu aku bawa ke manapun.
Tanpa sadar ternyata yang ada di balik meja baca sebrang adalah ALDY. Si lelaki idaman itu. Tanpa aba-aba dia langsung melemparkan tatapan mautnya ke arahku dan juga Juan.
"Ma- maafin temen gue, ya."
Dengan susah payah aku minta maaf, beruntunglah aku karena dia tak memperpanjangnya.
"Bukannya tadi dia ada di kantin, ya?" gumamku.
Tapi ternyata Juan bisa mendengarnya, dan insting keponya keluar tanpa diundang.
"What?! Kok, lo tau tadi dia di kantin? Trus kenapa lo merhatiin dia?" dia benar-benar antusias.
Untungnya dia bertanya memakai suara yang lebih pelan dari suara sebelumnya saat dia lontarkan pertanyaan sebelumnya.
"Udah ah berisik, siapapun tau dia. Dan gue juga bukan merhatiin dia tadi, gak sengaja liat pas gue di kantin." jawabku sekenanya. Malas dengan pertanyaan lain yang mungkin dilontarkan Juan. Juan pun hanya bisa ber-"oh" ria mendengar jawabanku.
***
Sepulang sekolah aku langsung menghempaskan badanku di atas kasur dan memejamkan mata sejenak karena latihan debat tadi bersama Juan dan Nanda cukup menguras energi.
"Otakku mesti di-refresh, nih."
Setelah mengganti pakaian seragam dengan setelan rumahan, aku baru sadar, tadi adalah percakapan pertama antara aku dengan Aldy sepanjang aku sekolah di Tunas Bangsa. Saat membayangkannya lagi sepertinya tadi wajahku tidak terkontrol.
Oh My God, kenapa di saat pertama kali aku bisa bicara langsung dengan lelaki idaman aku dan banyak perempuan lain sepanjang masa SMA dan rela menjomlo gara-gara dia, giliran komunikasi malah tidak semanis cerita di Wattpad atau di novel-novel teen fiction yang aku baca. Ingin menangis bombay rasanya.
"Kayanya dia bakal jijik liat muka melas gue tadi."
"Siapa yang bakal jijik liat muka kamu, sayang?"
Tanpa disadari ternyata Nyonya besar tercintaku sudah duduk di ujung kasur dengan tubuh yang masih dibalut pakaian kantor.
"Eh Mamah, sejak kapan ada di situ?"
Mamah hanya tersenyum dan memicingkan matanya seperti seorang penyidik yang mendesak sang tersangka untuk mengakui kesalahannya.
"Ya ampun Mah, beneran deh bukan apa-apa, suwer deh." Aku mengangkat tangan kanan lalu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah.
"Oke deh, but don't you remember now you have to go with me to grandma's house? Cepetan ganti baju soalnya acara pengajiannya mau dimulai." Titahnya sebelum meninggalkan kamar.
**Author POV**
Aurelia Utomo perempuan berumur 14 tahun yang masih menduduki bangku kelas delapan SMP sedang mencari sesuatu di rak buku yang terdapat di ruang yang penuh nuansa monochrome. Saat sang empunya kamar datang, sudah pasti ia akan mengomeli adik satu-satunya itu karena masuk kamarnya tanpa permisi.
"AURELIA UTOMO !" Sontak perempuan cantik dengan rambut lurus sebahu itu kaget ternyata kakaknya sudah pulang.
"Hehehe ada kakak, ini Aurel cuma mau nyari buku matematika paket kakak pas waktu SMP soalnya yang punya Aurel ketinggalan di sekolah dan sekarang ada PR jadi aku minjem punya kakak, ya?"
Jelasnya panjang lebar dengan satu tarikan napas pada kakaknya yang dari tadi hanya diam memandangi buku yang berantakan sana sini.
"Kalo emang mau minjem, ngomong dulu. Kalo gak bilang dulu namanya nyuri, Aurelku," ucap Aldy lembut. Lalu mengambil buku yang ada di dekat kaki Aurel dan mengacak rambut adik kesayangannya itu.
Aurel tersenyum senang lalu mencium pipi kakaknya sebelum keluar.
Meskipun Aldy adalah seorang yang cuek dan terksesan tidak pedulian, tapi sikapnya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat ketika dia dihadapkan dengan adiknya.
Setelah selesai mandi dan ganti baju, dia segera membuka benda kotak seribu fungsi untuk memainkan game balap mobil kesukaannya. Tak lama, ponselnya berdering dan tertera nama Kevin yang tak lain adalah sekretarisnya di forum OSIS sekaligus sahabatnya.
"Halo, Al," terdengar suara dari sebrang telepon.
"Wa'alaikumsalam, Vin," Kevin hanya nyengir saat disindir sahabat kecilnya itu.
"Heheheh assalamu'alaikum, ganteng. Gue cuma mau ngasih tau lo, tadi pas waktu lo udah pulang Bu Dewi manggil gue dan dia bilang kalo hari sabtu ini bakal ada lomba debat se-provinsi di Bogor, kita pengurus OSIS inti disuruh buat ikut jadi supporter ke Bogor. Gimana, lo mau ga? Ya gue saranin sih lo mau, kan kita bentar lagi demisioner."
Yang ditanyai hanya diam saja tak menjawab selama beberapa detik.
"Oke deh. Nginep gak, bro?" tanyanya balik.
"Gue gak tau persisnya paling juga besok Bu Dewi manggil lo. Udah ah, gue mau jalan sama anak-anak dulu. Mau ikut, ga?"
"Ke kafe yang biasa, kan?"
"Yoi, gue duluan ye. ASSALAMU'ALAIKUM!" ucap Kevin dengan lantang.
"WA'ALAIKUMSALAM!" balas Aldy tak kalah kencang.
Saat ia mengingat kata-kata Kevin kalau mereka didaulat jadi supporter tim debat, ia jadi ingat tadi saat di perpustakaan dia tidak sengaja mendengar dua orang siswa yang tadi mengobrol di dekatnya mendiskusikan mengenai debat tingkat provinsi. Berarti nanti dia harus mendukung orang yang tadi. Pantas saja berisik di perpustakaan, mereka ternyata tukang debat pikirnya.
***
"Hai bro, tumben lo telat dateng nongki?" sapa Revan pada Aldy yang sedang membayar pesanan di kasir.
"Kan dia abis nganterin akyu, iya kan beib?" sambar Doni dengan nada manja. Kalau didengar-dengar seperti wanita pamer kekasih lengkap dengan tangannya yang menyentuh dagu Aldy.
"Apaan sih, lo?! Gue jadi pengen muntah di muka lo tau ga!" sahut Revan yang muak dengan sikap Doni.
"Biasa aja dong mas, pacar akyu juga gak kenapa-kenapa. Ya kan, beib?" balas Doni dengan kadar kealayan yang makin bertambah.
"Huekkk. Jijik gue punya temen kaya lo. Ya Allah kenapa bisa gue dapet temen kaya Dodon. Cobaan macam apa ini ya Allah," keluh Revan begitu dramatis.
Aldy hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan teman-temannya. Dia langsung duduk di bangku pojok kafe tempat ia dan teman-temannya biasa berkumpul. Ya, mereka berempat, Aldy, Kevin, Doni, dan Revan. Mereka adalah geng hits di sekolah, selain karena ketampanan masing-masing anggota, mereka adalah geng yang paling ditakuti oleh seluruh siswa Tunas Bangsa. Mereka terkenal berandal tapi juga cukup berprestasi. Bingung, kan? Mereka adalah geng middle class. Berandal tulen bukan, tapi anak baik sejati juga bukan.
Lalu setelah itu Aldy memesan kopi latte favoritnya dia hanya berbincang dengan teman-temannya.
***
Saat Tea tiba di rumah neneknya, karpet-karpet sudah digelar. Terlihat dari luar, neneknya sedang mengarahkan mang Ujang dan bi Anih yang membawa meja untuk ditaruh di luar. Seketika Tea langsung memeluk neneknya dari belakang, sontak neneknya kaget.
"Nenek apa kabar? Tea kangen," ucapnya tanpa melepas pelukannya.
"Baik, Alhamdulillah sayang, tapi lepasin dulu ini tangannya Nenek jadi sesek nih," protes sang Nenek.
"Assalamu'alaikum, Mih," ucap Lidya- Mamah Tea pada ibunya.
"Wa'alaikumsalam. Kok kakaknya Tea gak dibawa?" Nenek berusia 72 tahun ini melihat ke arah belakang Lidya berusaha mencari sosok Aleana- kakak Anthea.
"Itu Nek, tadi kakak bilang mendadak disuruh lembur jadi gak bisa datang."
Dengan wajah yang sedikit kecewa Neneknya mengajak masuk anak dan cucunya.
Selesai acara pengajian bulanan di rumah neneknya, Tea merasa haus dan pergi keluar untuk mencari minuman. Sesampainya di kafe dekat rumah neneknya, dia langsung memesan cappuccino dingin dan duduk di kursi dekat jendela paling sisi kanan kafe. Setelah pesanan siap, dia segera keluar kafe dan menikmati minumannya sambil berjalan.
Namun, di tengah jalan ia mendengar suara orang sedang berkelahi, dan ternyata asal suaranya dari gang sebelah kafe. Tea yang tidak tahu harus melakukan apa melihat orang-orang di depannya yang sedang adu jotos, atau lebih tepatnya mengeroyok seseorang, hanya bisa mematung dan bergetar hebat sampai seseorang dari mereka yang memakai topi hitam memerintahkan temannya untuk pergi dari situ. Tea lebih terkejut lagi setelah sadar bahwa laki-laki itu adalah ...
