Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

**Anthea's POV**

Di sinilah gue sekarang. Duduk di samping Aldy yang masih fokus dengan jalan. Masih gak percaya? Iya, gue gak percaya ternyata dia gak secuek yang gue kira.

"Ini, di depan belok kiri."

"Oh, oke."

Jawaban yang emang, super duper singkat. Ya, tak apalah, dianterin pulang juga udah berasa kaya lagi di padang pasir terus nemu oase.

"Yang nomer berapa, Te?"

"Ini nomor 18."

Sekarang mobil yang kita tumpangi sudah berhenti pas di depan rumah gue.

"Thanks, Al. Mau masuk dulu?"

"Oh, boleh boleh."

Tadinya gue cuma basa-basi tapi ternyata eh dia malah mau turun beneran dan sekarang sudah lepas seat belt. Uh, sekarang dia narik handle pintu. Oh my God.

Kenapa gue gak mau dia turun? Alasannya adalah bukan gue pelit atau emang gak pengen dia masuk rumah, tapi karena tadi pagi gue belum beres-beres rumah. Ya, FYI aja, gue gak punya asisten rumah tangga. Kenapa? Karena menghemat pengeluaran. Oke Te, gak apa-apa sekarang lo terima nasib aja lah.

**Author's POV**

"Lo mau minum apa?"

"Apa aja yang ada."

"Oke, oke. Tunggu bentar, ya."

Ya, saat ini Aldy sedang duduk di ruang tamu kediaman keluarga Ferdi dan Lidya. Aldy melihat-lihat ke sekitar ruangan. Sampai ia tertarik pada foto yang dipajang di dinding pemisah antara ruang tengah dan ruang tamu. Nampak di foto itu dua gadis kecil, yang satu kira-kira lima tahun, dan yang satu sepuluh tahun sedang duduk di pangkuan ibu dan ayahnya. Aldy mengira keluarga mereka sempurna.

If I got locked away

And we lost it all today

Tell me honestly would you still love me the same~

Suara ringtone ponsel terdengar. Muncul nama Pak Parto di layar ponsel berlogo apel tergigit warna putih yang sedang ia pegang.

"Halo?"

"Halo Mas, ini berkas yang Mas Aldy cari sudah ada." Terdengar Pak Parto menyahut dari seberang telepon.

"Makasih, Pak. Saya pulang sekarang," tukas Aldy di akhir pembicaraan.

"Al, ini minumnya. Cuman ada jus jeruk," kata Tea sembari membawa nampan dengan gelas yang terisi penuh oleh jus jeruk.

"Oh, iya." Aldy meneguk jus jeruknya sampai habis sambil berdiri.

Entah karena buru-buru atau memang karena haus.

"Gue pulang dulu, ya. Ada urusan mendadak. Kapan-kapan gue main ke sini lagi," Pamit Aldy pada Tea.

"O-oh i-iya. Makasih udah anterin gue pulang."

Tea gugup mendengar ucapan Aldy 'kapan-kapan gue main ke sini lagi' rasanya ia tiba-tiba disihir jadi es yang langsung membeku.

"Oke," ujar Aldy sambil mengacak rambut Tea. Aldy pun bergegas keluar.

Tea mengantar Aldy sampai depan rumah.

Sekarang sedan BMW putih itu sudah melaju tak terlihat lagi. Tapi Tea masih mematung. Otaknya baru dapat mencerna kalimat dan sikap yang tadi Aldy lakukan kepadanya. Rasanya es yang tadi membeku sekarang mulai mencair karena rasa hangat di dalam hatinya lah yang membuat es itu meleleh.

"Aaaaaaaaaaaaa! Oh My God!! Panas, panas, panas. Huh!"

Ia berteriak tanpa memedulikan orang lain akan terganggu atau tidak dengan teriakannya. Ia merasa sekarang minyak dan air tak mustahil melebur jadi satu.

***

"Mas, ini berkasnya." Pak Parto menyerahkan map berwarna coklat itu pada Aldy.

Aldy membuka map yang diberikan oleh pak Parto.

"Makasih, Pak." Saat ia merasa berkas ini yang ia cari.

Satu per satu kertas yang berada di dalamnya ia baca. Ia mencari informasi mengenai keberadaan Septi, wanita selingkuhan ayahnya- Utomo. Karena selama ini Aldy mulai merasakan ada orang yang menerornya. Seperti pada saat ia dikeroyok di dekat kafe tempat ia dan teman-temannya berkumpul.

Waktu menunjukkan pukul 21.00.

Aldy hampir selesai membaca semua berkas dalam map. Sampai di lembaran terakhir ia melihat berkas yang cukup menarik.

'Surat Serah Terima Saham.' Isinya mengenai penyerahan 100% saham atas nama Ferdi Haikal kepada Septi Yanti.

Ferdi Haikal?

***

Terdengar riuh sorak dari kelas 12 IPS 1. Baru saja Obay- KM IPS 1 mengumumkan bahwa nanti pukul 10.00 mereka akan dipulangkan lebih cepat dari biasanya.

"Gurunya rapat," ucap Obay menjawab pertanyaan Joana.

"Gengs mau jalan, gak?" panya Joana pada Putri, Tea, dan Relina.

Putri mengetuk-ngetuk dagunya seolah ia sedang berpikir.

"Gimana kalo kita nonton aja?"

"Hayu aja. Tapi gue pengen makan dulu, ya," Relina mengeluarkan jurus puppy eyes-nya.

"Tea, lo gimana mau, gak?" lanjut Relina.

"Iya, gue ikut kok."

"Yeayyyy! Okay nanti langsung cuss aja, ya," tukas Putri.

***

Di kelas, Aldy sedang mengingat-ingat apa ada orang yang ia kenal bernama Ferdi Haikal. Siapa dia? Kenapa bisa menyerahkan seluruh sahamnya pada wanita jalang itu?

"Kenapa? Kok lo kaya gak seneng gitu mau pulang cepet?" tanya Kevin yang heran melihat sikap Aldy.

Sejenak Aldy berpikir.

"Lo mau bantuin gue, gak?"

"Bantu apaan?"

"Nyari orang."

"Wah, mau jadi detektif nih ceritanya? Gue suka nih."

***

Saat ini Tea dan teman-temannya sudah berada di dalam bioskop. Mereka duduk di kursi VIP alias barisan tengah dan urutan tengah. Saat Tea mengedarkan pandangannya sebelum film diputar, matanya menangkap sosok laki-laki dengan jaket dan topi hitam. Dia mengingat-ingat di mana dia pernah melihat laki-laki itu. Setelah Tea ingat, ia membelalakan matanya karena ternyata topi yang digunakannya sama, dan perawakannya pun sama persis dengan laki-laki yang saat itu menjadi dalang pengeroyokan Aldy.

Wah, gue harus hati-hati. Jangan-jangan karena dia liat gue, jadi sasaran selanjutnya.

Ia berpikir bahwa ia juga sekarang jadi sasaran empuk pria misterius itu. Karena saat pria itu mengeroyok Aldy, ralat tapi lebih tepatnya anak buahnya yang mengeroyok Aldy, Tea berada di sana dan mengacaukan rencana pria itu.

***

"Gue gak ikut makan, ya?"

"Kenapa lagi Tea? Lo mah gak asik, ah!" protes Relina pada Tea.

"Yeh, gue mau jenguk Ayah gue lagi," timpal Tea.

"Oh iya, ya. Sekarang lo harus terus ke sana," ucap Putri sambil menepuk jidatnya.

"Ya udah, gue duluan ya. Bye!" Tea melambaikan tangan seraya berjalan menjauh dari teman-temannya.

"Hati-hati, yee!" Joana berteriak.

Tea hanya mengacungkan jempolnya saja.

***

Sudah lima belas menit Tea menunggu angkot yang tak kunjung datang. Earphone pun telah terpasang di telinganya dan sekarang ia sedang mendengarkan lagu favoritnya.

Say, go through the darkest of days

Heaven's a heartbreak away

Never let you go, never let me down

Oh, it's been a hell of a ride

Driving the edge of a knife

Never let you go, never let me down

Don't you give up, nah-nah-nah

I won't give up, nah-nah-nah

Let me love you

Let me love you

Don't you give up, nah-nah-nah

I won't give up, nah-nah-nah

Let me love you

Let me love you

Tanpa disadari ternyata Revan sebenarnya sudah dari lima menit yang lalu berdiri di samping Tea dan menghalangi sinar matahari siang yang menyengat badan Tea dengan tubuhnya, hingga Tea tertutup bayangannya. Pada akhirnya Tea pun melihat ke arah sampingnya.

"Lo?! Kok bisa di sini?" Tea membulatkan matanya meminta penjelasan.

"Siapa aja bisa ke mall, kan?" jawab Revan santai masih dengan posisi badan menghalangi sinar matahari.

"Maksud gue ngapain lo deket-deket gue, hah? Mall tuh, luas!"

"Tuh, angkotnya udah ada. Ayo!"

"What? Ishhh!"

Akhirnya karena takut menunggu angkot lebih lama, Tea memutuskan untuk naik angkot itu.

Tea heran kenapa laki-laki seperti Revan yang katanya orang kaya itu mau naik angkot dengannya. Apakah mobilnya sedang di bengkel atau ia memang sedang cari perhatian? Karena kepalang penasaran Tea angkat bicara.

"Mobil lo ke mana?"

"Oh, ada," jawab Revan singkat.

"Trus kalo ada kenapa lo naik angkot, sih? Mana bareng gue, kalo nggak mah ya, bodo amat," kesal Tea.

"Ya karena emang itu tujuan gue." Revan melihat Tea dengan senyum yang sebenarnya Tea juga bisa saja meleleh dengan senyumnya yang manis itu.

"Maksud lo?"

"Lo tuh ya emang gak peka," ucap Revan sambil memalingkan pandangan ke arah jendela.

"Emang gue gak peka. Emangnya kulit, harus peka!" umpat Tea.

Revan hanya terkekeh melihat kelakuan Tea yang kalau sedang marah memang seperti anak kecil.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel