Bab 5
"Ayah ..."
Pria itu menoleh. Tea menyimpan nampan yang ia bawa di samping pria itu. Ia berlutut di dekat batu tempat Ayahnya- Ferdi duduk memeluk kakinya. Tea menatap Ferdi dengan lekat. Sudah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan ayahnya itu. Lidya tak pernah mengizinkannya untuk menjenguk ayahnya karena saat Lidya berkunjung, Ferdi pasti mengamuk.
Ferdi hanya menatap Tea kosong. Hingga beberapa detik kemudian ...
"Pergi."
Kata pertama yang Ferdi katakan pada Tea terdengar datar.
"Ayah, ini Tea. Ini Anthea Ayah. I'm your little princess. Don't you remember?" Tea mengatakannya sambil menangis.
Namun tak disangka Ferdi mendorongnya. Makanan yang dibuat Tea pun sekarang sudah tumpah dan berserakan. Ferdi melemparnya, hingga sup yang masih panas mengenai punggung tangan Anthea. Namun ia sama sekali tidak menggubris rasa panas dan sakit di tangannya. Ia yakin bahwa ayahnya sebenarnya ingat kepadanya.
"Ayah, ini Tea, Yah. Ayah inget kan?"
Bukannya mereda, Ferdi malah semakin menjadi. Ia melempar nampan yang tadi Tea bawa. Tea didorong dan terhempas ke tanah.
"Pergi! Pergi! Pergi!"
Tea menangis melihat ayahnya membabi buta, rasa sakit karena tersiram sup panas tak sebanding dengan sakit hatinya yang menahun menahan rindu pada Ayahnya.
Dan,
"Aaaaaaahhhhh!"
***
Dokter telah selesai memeriksa Ferdi yang tadi dibius. Saat ini Ferdi sudah ada di kamar tempat ia dirawat.
"Ayah ..." Tea membenamkan wajahnya di sisi ranjang.
"Ini ..." Seorang laki-laki memberikan kotak P3K, handuk, serta baskom kecil pada Tea.
"Hmm, makasih," ucap Tea tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
Laki-laki itu menaruh handuk dan kotak P3K di atas nakas. Tak lama ia kembali dengan baskom yang sudah terisi air.
"Sini tangan lo!" ucapnya sambil memegang tangan Anthea.
Tea pun berbalik, dan tak disangka, laki-laki itu adalah Revan.
***
"Lo kok ada di sini? Lo Revan temen segengnya Aldy, kan?" Tea bingung dengan keberadaan Revan di rumah sakit ini.
Tea masih menatap Revan menunggu jawaban Revan. Tea pun mengamati bahwa ternyata Revan menggunakan seragam yang sama dengannya. Itu cukup menjelaskan keberadaannya di sini. Saat Revan akan mengusap punggung tangan Tea dengan handuk, Tea langsung mengambil handuk itu dari Revan.
"Gue bisa obatin luka gue sendiri. Dan please deh, kalo orang ngomong tuh dijawab. Lo tuh gak sopan," ucap Tea cukup menohok Revan.
"Iya, deh. Maaf," jawab Revan dengan wajah yang memang terlihat menyesal. "Kita belum kenalan," imbuhnya.
"Kan gue udah tau nama lo." Tea menjawab tanpa menoleh, ia masih sibuk mengolesi tangannya dengan salep.
"Kenalin, gue Revan Putra," Revan mengulurkan tangannya.
Tea hanya menepuknya sekejap.
"Gue Anthea Permata."
"Lo anak kelas mana? Gue sering liat lo di sekolah."
"Gue anak 12 IPS 1. Oh." Tea selesai mengoles salep dan memasukkan salep ke kotak P3K.
"Sayang banget, ya," sesal Revan.
Seketika Tea mengerutkan keningnya, tak paham maksud Revan.
"Sayang? Apanya yang sayang?" tanyanya tak mengerti maksud Revan.
"Sayang, gue baru ketemu lo sekarang."
Deg!
Kata-kata Revan membuat Tea meninggalkan alam sadarnya sejenak. Tea berpikir bolak balik apa maksud Revan berkata seperti itu. Dia bagai disengat belut listrik karena saat ini badannya tiba-tiba kaku.
"Udah ah, gue balikin P3K-nya dulu. Kita bakal sering ketemu kok. Bye!" ucap Revan seraya membawa kotak P3K dan keluar dari ruangan.
Tea masih tertegun di tempat duduknya.
Apa maksud kata-katanya? Apa dia baru aja nyesel karena baru ketemu gue sekarang? Tidak bisa dipercaya!
***
Seperti hari-hari biasanya, Tea dan Relina sedang ada di kantin pada saat jam istirahat berlangsung. Kali ini mereka tak hanya berdua, ada Putri dan Joana di sana. Putri dan Joana duduk di bangku tepat di depan mereka di kelas.
"Eh, jadi gimana kemaren, lo jadi ke Cisarua kan?" Relina membuka obrolan.
"Hmm, jadi," Tea masih fokus pada ponselnya.
"Cisarua RSJ maksud lo?" Putri bingung karena Tea dan Relina tidak bercerita apa-apa.
"Iya, si Tea nekad jadi relawan di sana," jawab Relina sebal.
"Yah, kalo menurut gue sih bagus-bagus aja kali. Semoga bisa ngebantu ayahnya cepet sembuh," timpal Joana.
"Tapi gue sendiri gak yakin. Lo liat nih." Tea menunjukkan punggung tangan kirinya yang dibalut perban.
Seketika Relina membulatkan mulutnya.
"Ya ampun Te, kok lo baru liatin ini, sih? Tuh, kan kata gue juga apa!"
"Ini gak seberapa, kalo bisa bikin Ayah cepet sembuh, gue bakal lakuin apapun. Dan lo tau gak?" ucap Dara sambil merapatkan posisi teman-temannya. "Kemaren yang nolong gue di rumah sakit adalah Revan," tukas Tea.
"What?!" sontak Relina,Putri, dan Joana kaget mendengar perkataan Tea.
"Iyeh!" Tea aneh melihat teman-temannya bersikap seperti baru melihat hantu saja.
"Wow it's amazing! First you met Aldy in library, then you met Revan in hospital. Itu bukan cuma kebetulan, Te." Ucap Joana sambil memandang teman-temannya meminta persetujuan bahwa perkataannya itu benar adanya.
Relina dan Putri hanya bisa diam melongo karena tak percaya bahwa temannya ini baru saja berkenalan dengan most wanted boys di sekolah. Hingga mereka lupa memakan bakso Mas Tuo yang mereka pesan.
"Permisi, boleh gue duduk di sini?"
Tiba-tiba seorang lelaki menghampiri meja mereka. Dengan suara beratnya lelaki itu meminta izin duduk di bangku yang mereka berempat sedang tempati.
"Whha-tt? Ehh iyah boleh boleh," Putri menjawab pertanyaan Revan.
Ya, laki-laki itu Revan.
"With my pleasure," bisik Joana pada Putri.
"Ngapain lo duduk di sini? Kenapa gak bareng temen lo aja?" Tea bertanya pada Revan dengan nada sarkastis sambil memakan bakso.
"Kan gue udah izin, dan temen-temen lo ngizinin. Ya, kan?" Revan melihat Relina, Putri, dan Joana.
Dan mereka bertiga hanya mengangguk saja sambil tersenyum kikuk.
"Udah. Gak apa-apa, kok. Kenapa sih lo sewot banget?" Relina kembali menegaskan Revan boleh duduk di tempat mereka sambil menyenggol Tea.
"Uhuk-uhuk! Lo- lo ah, ya keselek nih!" Tea terbatuk karena tersedak mi, tangannya menutup mulutnya dan yang satu mencoba meraih air minum.
Di saat yang bersamaan Revan mengambilkan air minum itu dan meminumkannya pada Tea. Tea langsung mengambil alih gelasnya.
"Gue bisa sendiri."
Tea pun pergi meninggalkan teman-temannya dan Revan yang termangu dengan tingkah Tea.
***
Di sebrang sana, Aldy memerhatikan gerak-gerik temannya itu. Entah kenapa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, seperti terbakar. Namun ia segera mengakhiri menonton drama yang tak ia sukai itu. Hingga ia tak memerhatikan jalannya dan,
bruk!
Nampan yang berisi jus dan bakso miliknya tumpah dan mengenai baju seseorang.
Dan seseorang itu adalah Tea.
"Maaf, maaf gue gak sengaja," Aldy mencoba merapikan nampan, gelas, dan mangkuknya.
"Ya ampun, ah sial banget sih gue. Jadi basah kan nih baju gue." Tea menepuk-nepuk seragamnya yang saat ini sudah basah dan beraroma bakso tercampur jus jeruk.
Aldy tersenyum senang seakan ia baru kedapatan rezeki, ia pun mendapatkan ide untuk bertanggung jawab.
***
Tea keluar dari toilet perempuan. Sekarang ia memakai baju yang kedodoran. Ia harus mengenakan baju Aldy karena bajunya basah. Sedangkan Aldy saat ini hanya mengenakan kaus oblongnya yang berwarna putih.
"Sorry banget ya, gue gak bawa baju lagi soalnya," sesal Aldy.
"Iya, gak apa-apa. Yang penting sekarang gue pake baju, yang gak bau bakso." Tea masih merasa sebal dan terus memerhatikan baju yang ia pakai.
"Agak kedodoran sih, tapi gak apa-apa deh."
Yang penting ini baju lo, lanjut batin Tea.
Siapa yang tak senang dipinjami baju sama gebetan. Kesempatan tidak datang dua kali pikirnya.
"Nanti pulang sekolah sebagai permintaan maaf, gue anterin lo pulang," Aldy berkata sambil bergegas pergi.
"Apa? Gak usah Al!" Tea sedikit berteriak.
"Pokoknya lo pulang bareng gue, titik!" Aldy hanya berbalik sebentar lalu melanjutkan kembali jalannya.
Ya Tuhan, apalagi ini? Gak. Gue gak boleh baper!
Tea tak sadar sebenarnya seseorang yang sedang memerhatikannya sangatlah dekat dan jelas.
***
~Seperti sampan yang kudayuh sendiri melewati telaga berwarna ini. Tanganku mulai terasa pegal, diriku mulai jenuh menunggu sampai ke tepi. Akankah telaga ini berujung? Kapankah itu? Tak berani aku menatap ke depan. Terlalu takut untuk menegakkan kepalaku dan melihat, apakah di tepi nanti aku akan menemuinya? Sungguh telaga berwarna ini memanglah sebuah misteri.~
***
