Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Ya Allah.

Ia takut, dan bingung. Namun Tea tersentak saat merasakan ada tangan yang menggenggam pergelangan tangannya. Tea masih menutup matanya. Ia masih ketakutan.

Namun, Tea masih merasakan ada seseorang yang memegang tangannya. Apa ini sungguhan? Bukankah ini imajinasinya saja? Pikirannya terus berkelana.

Perlahan Tea pun membuka matanya. Ia mengira ia sudah mati, namun detak jantungnya masih terasa dan kabar baiknya jantung Tea berdetak sangat kencang, berarti dia selamat. Tea membuka matanya perlahan. Ternyata sekarang ia sudah berada di depan hotel. Dia memeriksa tangan dan seluruh badannya memastikan bahwa ia baik-baik saja.

"Untunglah," gumam Tea.

Ini sungguh tak dapat dipercaya, Tea spontan membulatkan bola matanya. Ia sungguh tercengang karena ternyata yang menolongnya adalah Aldy.

Sampai beberapa saat Tea hanya termangu.

"Lo yang narik gue?"

"Lo bisa nyebrang gak, sih?! Gak usah sok-sok'an nyebrang sendiri kalo gak bisa. Untung gue tadi gak sengaja liat lo, kalo nggak gue tarik, tamat riwayat lo." Perkataan itu keluar dari mulut Aldy.

Percaya tak percaya tapi saat ini Aldy pun tak menyadari ia lebih boros bicara dari biasanya saat berbicara. Sikap Aldy yang seolah-olah tidak menginginkan kejadian itu menimpa Tea membuat Tea semakin bingung. Ada apa sebenarnya dengan Aldy.

Tuhan, Aldy segitu perhatiannya sama gue. Bisa-bisanya gue kira yang tadi narik gue adalah malaikat maut.

"Thanks and sorry Al," jawab Tea sambil menundukkan kepala.

"Ayo, ke kamar!" Aldy lebih memilih tidak menanggapi perkataan Tea, karena ia pun tak mengerti kenapa ia bisa semarah itu hanya karena Tea yang akan tertabrak.

Tea mengikuti langkah Aldy. Dari belakang ia memerhatikan lelaki dengan perawakan tinggi bak anggota militer itu dengan seksama. Dia mencoba berpikir jernih bahwa laki-laki itu tidak mungkin menjadi bagian cerita hidupnya. Sampai kapanpun dia dan Aldy bagai minyak dan air yang sulit bersatu.

Tak terasa sekarang mereka sudah berada di depan kamar mereka. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Tea dan Aldy langsung masuk ke kamar masing-masing.

Aldy tak bisa tidur mengingat kejadian tadi. Ia hanya berharap semua akan berjalan baik-baik saja. Dan tak ada yang akan terluka.

***

Tea, Juan, dan Nanda sudah duduk di kursi panasnya. Mereka tengah bersiap menghadapi lawan mereka yang sudah menjadi juara bertahan selama dua tahun ke belakang. Tea saat ini sedang berpikir. Entah kenapa dia yakin kali ini dia harus menang suit dan memilih menjadi tim kontra.

Lalu ia meminta persetujuan dari Juan dan Nanda. Mereka setuju dengan usul Tea.

"Kami persilakan untuk masing-masing perwakilan tim maju ke depan untuk melakukan suit." Tangannya mempersilahkan Tea dan lawannya untuk suit.

Dan ternyata Tea menang suit. Dia tersenyum dan dengan lantangnya dia mengatakan,

"Kontra!"

Padahal dia sendiri belum tahu apa mosi yang akan diperdebatkan.

"Mosi yang akan kita perdebatkan kali ini adalah 'Papua yang akan memisahkan diri dari Indonesia'. Kami persilakan pada masing-masing tim untuk mengonsep materi dalam waktu sepuluh menit dan yang akan menjadi poros utamanya adalah bidang industri. Waktu sepuluh menit, dimulai dari sekarang!"

Terlihat Tea yang duduk di tengah segera menuliskan konsepnya pada kertas yang semula bersih saat ini sudah penuh dengan tinta warna biru miliknya. Begitupun dengan Juan dan Nanda. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan karena ini adalah lomba terakhir yang bisa mereka ikuti karena mereka sudah berada di bangku kelas dua belas.

***

Selesai sudah debat yang cukup membuat temperatur ruangan itu memanas. Tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton membuat kondisi ruangan sangat ramai. Aldy yang memerhatikan jalannya debat pun sangat kagum dengan koordinasi tim, terlebih dengan pemaparan yang disampaikan oleh Tea.

Hebat banget cewek satu ini. She's different.

~Seperti angin yang berembus perlahan, menyapa daun dan ranting yang diam, bergeming. Sekeras apapun daun dan tangkai mengelak untuk menari bersama angin. Namun apalah daya, walau hanya semilir angin yang berembus, daun dan tangkai mesti ikut menari dan bersenandung.~

"Good job, Tea! Mereka kelabakan sama pernyataan kamu, ke mana-mana argumennya alias OOT," ucap pak Dava begitu antusias.

"Apa OOT teh, Pak Dava?" tanya Doni tidak paham.

"Out Of Topic, Dodon, ih da si kasep mah sok pura-pura bolot," Kevin menyambar saja perkataan Doni sambil menjitak kepala Doni.

Doni mencoba melindungi kepalanya tapi tak berhasil. Alhasil dia sekarang mengusap-usap kepalanya.

"Untung gak gagar otak," gumamnya.

"Hehe, kan siapa dulu kawan setimnya, Pak!" Tea merangkul Juan dan Nanda.

Mereka juga terus tertawa karena kelakuan Doni yang memang hobi mendramatisir keadaan. Tak salah jika Doni diberikan title 'drama king'.

***

"Pokoknya rame banget deh, Kak." Tea selesai bercerita pada Lea dan Lidya.

Mereka bercengkrama di ruang keluarga. Seperti biasa Tea selalu tiduran di atas pangkuan Lidya, bermanja ria.

"Mamah baik-baik aja, kan?" Tanya Tea tiba-tiba mengubah suasana menjadi serius.

"Iya. Baik kok, sayang."

Tea mengangguk.

Beberapa saat hanya terjadi keheningan hanya terdengar suara televisi dengan volume kecil.

Sampai tiba-tiba Tea membuka mulutnya.

"Mah, Tea mau jadi relawan di Cisarua." Terdengar seperti pernyataan tapi sebenarnya itu adalah pertanyaan.

"Ngapain kamu? Mamah gak akan izinin. Kondisinya makin parah, Mamah gak akan biarin kamu di sana."

Lea yang sedari tadi hanya memerhatikan Lidya dan Tea akhirnya angkat bicara.

"Kali ini aku setuju sama Tea, Mah. Mungkin dengan adanya Tea di sana akan membuat keadaannya membaik, dan itung-itung Tea belajar kerja juga, kan?"

Lidya sebenarnya mengerti apa maksud Tea dan Lea. Tapi ia takut putri bungsunya akan dalam bahaya, takut anak bungsunya tersakiti.

"Lagian kan di sana banyak orang. Mamah juga kan kemarin ke sana nggak kenapa-kenapa." Tea berusaha meyakinkan Lidya.

Sejenak Lidya berpikir.

"Hmmm, sebenernya Mamah takut apa keputusan kamu ini benar atau nggak. Mamah juga takut kamu terluka, bukan cuma fisik, tapi hati kamu. Tapi Mamah tau ini wujud bakti kamu, jadi Mamah izinin kamu."

"Yeayyy!" Tea bersorak.

"Tapi dengan satu syarat, gak boleh ada lecet sedikit pun saat kamu pulang. Apalagi lecet di hati."

"Aye aye captain!"

Suasana di ruang keluarga itu sekarang mencair dipenuhi senyum dan tawa karena candaan-candaan kecil yang mereka lontarkan untuk menggoda satu sama lain.

***

Hanya kamar nuansa monochrome inilah yang mengetahui semua rahasia lelaki yang satu ini. Dia duduk di karpet dan bersandar pada ranjangnya. Hanya sekolah yang bisa membuat dia lupa akan semua masalahnya. Masalah hidup dan beban berat yang ia tanggung selama ini bukanlah perkara mudah. Hidup bersama orang tua, tapi nyatanya sampai hari ini ia tak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya orang tua pada anaknya.

Tok! Tok! Tok!

"Kak! Aku masuk, ya?" tanya Aurel sambil membuka pintu.

"Hmm."

"Kakak udah makan, belum? Bi Surti udah masak, makan yuk!" ajak Aurel.

Tapi yang diajak malah bergeming.

"Mamah sama Papah gimana?" Aldy bertanya sambil membenamkan wajahnya di atas tangannya yang ia letakan di kakinya yang ia tekuk.

"Yah seperti biasa, Kak," jawab Aurel sendu.

Orang tua Aldy memang masih tinggal dalam satu rumah, tapi Papahnya- Utomo yang tak lain CEO salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara, kelakuannya sudah tidak terbendung lagi. Utomo yang sering ke luar kota bahkan ke luar negeri ternyata memiliki wanita idaman lain. Dan bahkan saat Ninda melahirkan Aldy, sebulan kemudian wanita itu pun melahirkan anak laki-laki hasil hubungannya dengan Utomo. Aldy mengetahui hal ini saat Ninda hamil Aurel. Ninda ingin menggugurkan kandungannya karena ia merasa pernikahnnya dengan Utomo sudah tidak berguna lagi.

Aldy juga akhirnya mengetahui siapa wanita jalang itu. Dia adalah Septi, mantan sekretaris Utomo. Namun sayang keberadaan Septi dan anak laki-lakinya saat ini tidak diketahui.

Mata Aurel saat ini sudah memanas. Dia tak kuasa lagi menahan rasa sakitnya. Menjadi anak yang tidak diinginkan bukanlah sebuah hal yang mudah untuk diterima. Tak pernah merasakan belaian ibu dan ayahnya juga adalah ujian yang paling berat baginya.

"Suutt ..." Aldy menangkup wajah adik kecilnya ini.

Dia mengusap air mata Aurel. Tidak ada lagi bahu untuk dijadikan sandaran selain bahu Aldy, kakaknya. Aldy lah yang selama ini mencurahkan perhatian pada Aurel selain Bi Surti yang mengasuh Aurel sejak lahir.

Setelah merasa lebih baik Aurel beranjak dari bahu Aldy.

"Kak ayo makan, kasian Bi Surti udah masak." Ia mengajak Aldy sambil mengusap air matanya.

Ujung bibir Aldy terangkat. Lesung pipinya terlihat sangat jelas. Mungkin hanya Aurel dan sahabatnya yang mengetahui bahwa Aldy memiliki lesung pipi yang begitu terlihat sempurna ini.

***

Bel pulang sudah berbunyi. Tea dan Relina sedang membereskan buku mereka.

"Tea, abis ini lo mau ke mana?" tanya Relina sambil menyampirkan tas di lengan kanannya.

"Gue mau ke Cisarua," jawab Tea santai.

Spontan Relina menggebrak meja.

"What? Are you crazy?"

Setelah beres memasukan buku-bukunya Tea langsung berdiri.

"Iya, gue emang gila. Udah ah ayo balik."

***

Di sinilah Tea sekarang.

Tea berdiri menatap plang bertuliskan Rumah Sakit Jiwa Bandung. Ia mempersiapkan diri bertemu seseorang yang telah lama ia rindukan.

***

"Permisi, saya yang kemarin ngirim formulir pendaftaran jadi relawan."

"Ditunggu sebentar ya, Mbak." Perawat itu mengecek sesuatu di komputernya.

Tak lama sepertinya ia menemukan data Anthea.

"Mbak Anthea Permata Safitri?" tanyanya pada Tea.

"Iya. Betul, Sus."

Perawat itu keluar dari sekat yang memang sengaja dibuat untuk menjadi pembatas bahwa itu adalah sudut ruangan khusus untuk bagian informasi.

"Mari ikut saya!"

Tea mengikuti perawat itu. Tak jarang saat ia melewati lorong lalu ia disapa oleh orang-orang yang sedang mengistirahatkan pikiran mereka.

Setelah sampai di ruangan yang berlabel "staff only" perawat itu mengajak Tea masuk, lalu ia memberikan baju seragam khas perawat di rumah sakit ini.

"Ini Mbak seragamnya. Nanti ada teman saya yang mengarahkan Mbak dan relawan yang lain."

"Oke Sus. Terima kasih banyak."

***

Nampan yang sedang ia pegang saat ini berisi makanan yang ia masak sendiri. Ia sedang berjalan dengan semangat. Terlihat dari tempat ia berjalan saat ini seseorang yang ia kenal, dan telah lama ia rindukan. Pria itu memeluk kakinya sendiri dan mulutnya bergetar seperti orang yang kedinginan, tidak, lebih tepatnya ketakutan, ia duduk di atas salah satu batu yang ada di taman belakang rumah sakit. Setelah berjarak 5 meter, Tea berhenti sejenak. Entah kenapa tapi air matanya mendesak keluar.

Tangannya terulur menyentuh bahu pria itu.

"Ayah ..."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel