Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Acara pembukaan telah selesai dan pengundian lawan juga telah dilakukan. Saat ini Tea, Juan, dan Nanda sedang duduk di depan ruang yang bertuliskan angka tiga, yaitu tempat mereka akan bertanding nanti. Sebelum bertanding Tea juga menyempatkan menelepon Lidya terlebih dulu untuk meminta doa agar lancar.

"Iya mah, dahh!" ucapnya di akhir percakapan.

Ketika selesai menelepon dan membalikkan badan untuk kembali duduk ternyata ada Aldy yang sebenarnya sedari tadi memerhatikan Tea dari belakang dengan satu tangannya yang dimasukkan ke saku celana. Dia berjalan ke arah Tea sembari melihat-lihat ke kanan dan ke kiri, kalau diibaratkan seperti gaya-gaya idola sekolah di drama-drama. Tea hanya bisa mematung. Jantungnya memompa darah lebih cepat sehingga membuatnya seperti tersengat listrik. Hingga saat ini jaraknya dengan Aldy hanya sekitar satu setengah meter. Akhirnya Tea memberanikan diri membuka obrolan.

"Ngapain lo di sini?"

"Gue iri sama lo."

"Kenapa lo harus iri? Aneh. Lo punya segalanya, kan? Lo ganteng, duit banyak, gue punya apa sampe lo yang hampir sempurna iri sama gue? Gak bersyukur banget!"

Untuk kalimat yang terakhir Tea memelankan volumenya berharap Aldy tak mendengarnya.

"Karena hidup lo bahagia."

"Lo tau quotes don't judge a book by its cover, kan? So, lo jangan sok tau!"

"Ya intinya gue iri karena nyokap lo," ucap Aldy kukuh.

"Emang nyokap lo kenapa?"

Tea menatap Aldy dalam. Hanya helaan napas yang terdengar dari mulut Aldy.

"Tadi lo dicari Bu Dewi sama Pak Dava." Aldy mengangkat dagunya menunjukkan keberadaan kedua gurunya.

"What? Kenapa gak bilang dari tadi? Fool!"

"Apa lo bilang?!"

"Udah ah, gue ke sana dulu".

~Sesuatu ini makin mendesak. Makin mendesak. Dia ingin bebas. Tapi tak bisa. Bagaimana aku bisa membendung? Suara ini makin bising di telinga. Terlalu ramai hingga aku tak bisa mengendalikannya~

***

Tiga pertandingan telah dilewati. Cukup menguras tenaga dan pikirannya. Tea saat ini sedang menunggu hasil pertandingannya. Dia melihat arloji warna merah yang melingkar di tangan kirinya ternyata saat ini sudah pukul 20.00 WIB.

"Guys, cepet liat nih, udah ada pengumumannya!" seru Risya hingga semua orang segera berlari ke tempat bagan pertandingan dipampang.

Tea diam sejenak dia menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya. Ia terlihat seperti ibu-ibu yang sedang mengatur napasnya saat melahirkan. Ia takut, sangat takut, jika usahanya sampai sejauh ini akan berakhir di babak semifinal. Dia harus mengumpulkan keberanian untuk melihat hasilnya.

Entah kenapa Aldy pun ikut berhenti sejenak, ia memerhatikan gerak-gerik Tea yang terlihat sangat gugup dan bisa dibilang cukup kacau. Perempuan yang ia perhatikan pun saat ini melakukan hal yang cukup aneh.

Hingga tak Aldy sadari, ia tersenyum simpul melihat kelakuan perempuan yang satu ini.

Sekarang perempuan itu sedang melakukan gerakan seperti yang dilakukan kebanyakan orang sebelum olahraga. Pemanasan.

Kalo lagi kaya gitu, lo lucu banget sih, batin Aldy.

Tea memang selalu melakukan hal itu jika sedang gugup atau khawatir. Setelah Tea merasa cukup dengan streching yang ia lakukan, ia menyusul teman-temannya yang sudah menuju ke arahnya. Karena sudah terlalu lama ia menenangkan diri.

"Teaaaa!!" Risya memanggil Tea dengan girang.

"Kita lolos, Te!" timpal Juan tak kalah heboh. Matanya berbinar sambil mengangkat tangan untuk highfive ria.

"What? Seriously?!" Tangan Tea menepuk tangan Juan yang tadi diacungkannya.

Namun, matanya meminta diyakinkan oleh gurunya dan temannya yang lain. Ya, ia butuh diyakinkan.

Bukannya Tea tidak percaya diri, tapi tadi dia merasa bahwa juri tidak memberi apresiasi yang wah terhadap timnya. Lawannya pun tidak memancing tim Tea sehingga debatnya kurang greget. Sehingga ia berfikir bahwa ia mungkin saja tidak lolos ke babak final.

"Selamat ya, Ibu bangga sama kalian." Bu Dewi mengusap puncak kepala Tea.

"Seriusan ini teh?"

"Nya serius atuh, neng geulis," Nanda menyahut.

"Wahhh yeayyy, ALHAMDULILLAH." Tea akhirnya yakin bahwa ia bersama dengan Juan dan Nanda lolos ke babak final.

Tak lama Pak Dava datang. Ia baru kembali setelah dipanggil panitia untuk mengikuti pengarahan mengenai teknis lomba debat babak selanjutnya.

"Babak final akan dilaksanakan besok jam delapan pagi. Sekarang kalian istirahat dulu. Tenangkan pikiran. Oh iyah, satu lagi, lawan kalian adalah kota Bogor. Jadi bapak harap kalian bisa lakukan yang terbaik."

"Bukannya mereka juara bertahan ya, Pak?" tanya Risya.

"Wahh, kalian lawan juara bertahan, hebat-hebat!" sahut Kevin dengan nada kekaguman.

Dari ujung matanya, Tea bisa melihat bahwa laki-laki itu sedang memerhatikannya. Aldy terlihat senang dan bangga, tapi tidak seekspresif teman-temannya yang lain.

"Ya udah, ayo kita ke kamar, I'm sleepy."

Vira sambil menguap mengajak yang lain untuk segera ke kamar karena memang saat ini sudah pukul 20.30 dan mereka sangat lelah karena aktivitas mereka sedari tadi subuh.

"Yuk Te, kita ke kamar!" ajak Nanda pada Tea.

"Duluan aja gih, gue mau beli makanan ringan dulu, hehe. Suka laper soalnya apalagi dingin-dingin begini." Tea melakukan gerakan memutar di atas perutnya menandakan dia benar-benar lapar.

"Gak apa-apa sendirian? Gue soalnya udah ngantuk," sesal Nanda.

"Iya, gak apa-apa kok. Ya udah, gue ke sana dulu, ya." Tukas Tea menunjuk mini market di sebrang hotel.

Nanda mengangkat jempolnya sebagai tanda mengiyakan.

***

"Terima kasih!" ramah kasir itu sambil memberikan kembalian pada Tea.

Tea berjalan sambil memakan makanan yang ia beli. Tanpa sepengetahuan Tea, sebenarnya ada seseorang yang sedari tadi memerhatikannya. Orang yang terlihat memiliki dendam pada Tea.

Sejujurnya Tea tidak bisa menyebrang sendiri sejak lama, karena trauma masa kecilnya. Oleh karena itu, saat ini sebenarnya ia nekat pergi sendiri. Hingga saat Tea menyebrang jalan, tiba-tiba dari sebelah kirinya melaju sebuah motor dengan kecepatan tinggi yang jaraknya hanya tinggal sepuluh meter lagi akan mengenai dirinya.

Semua kejadiannya terlalu cepat. Ia pasrah memejamkan matanya, memori kecelekaan saat ia kecil kembali terputar. Ia mematung di tempat, tetapi kalaupun dia berlari tetap saja ia takkan selamat.

Ya Allah!

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel