Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Tea lebih terkejut lagi setelah sadar bahwa laki-laki itu ...

Ya, yang terkapar dengan darah di ujung bibir dan pelipisnya adalah Aldy. Tea panik dan langsung berlari hingga kapucino kesukaannya terjatuh begitu saja. Tea berteriak tak karuan meminta tolong.

***

"Aw!"

Walau hanya gumaman, tetapi Tea masih bisa mendengar suara laki-laki yang saat ini baru siuman dan sedang memegangi pelipisnya di atas ranjang rumah sakit kecil tempat Aleana co-ass.

*30 menit yang lalu*

"Aldy lo gak apa-apa? Kenapa lo bisa dikeroyok gitu sih, ya ampun darah lo." Aldy hanya memandang Tea dengan susah payah.

"Tolong jangan bawa gue ke rumah sakit," ucap Aldy lemah sambil terus meringis.

"Tapi lo kaya gini, lo harus ke rumah sakit." Tea menatap Aldy cemas dan terus berusaha menahan darah yang keluar dari pelipis Aldy.

"Please, gue gak bisa ke rumah sakit to-long."

"Oke gue gak akan bawa lo ke rumah sakit, lo jangan pingsan dulu."

Dan ternyata itu suara terakhir yang keluar dari mulut Aldy.

Ya Allah semoga Aldy baik-baik aja. Ucap Tea dalam hati, tangannya bergetar dan segera mengambil ponsel di sakunya dan menelpon seseorang.

*Saat ini*

"Hai Aldy? Feeling better?" Tea menunggu jawaban dengan wajah cemas yang begitu kentara.

Tentu saja dia cemas, Aldy adalah laki-laki yang Tea kagumi, dan dia dikeroyok live di depan Tea dengan hasil wajah Aldy yang babak belur.

"I feel much better," ucap Aldy sambil mencoba mengubah posisinya menjadi duduk dibantu oleh Tea.

"Thanks,"

Ucapannya menggantung dan Tea sadar bahwa dia belum berkenalan secara resmi dengan Aldy sehingga ia cepat mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.

"Gue Anthea, panggil aja Tea."

"Oh oke, gue Aldy," Aldy menyambut uluran tangan Tea.

Setelah berbincang sebentar, Aldy akhirnya keluar dari ruangan tempat ia dirawat.

"Gue minta lo jangan bilang hal ini ke siapapun," Aldy berbisik pada Tea dengan nada ultimatum yang datar tapi menohok.

"Makasih, Kak Lea. Gue pamit nanti supir gue yang urus biayanya." Setelah itu ia pergi dengan mobil sedan hitam yang menjemputnya.

Saat Aldy siuman, dia memang langsung menelepon Pak Parto yang merupakan sopir keluarganya untuk menjemput Aldy. Hal ini tak lagi aneh bagi Parto, ia tahu apa yang harus dilakukannya, dia hanya perlu mengurus administrasi dan setelah itu bergegas pergi membawa anak sulung majikannya itu.

Di parkiran, Tea hanya termangu melihat mobil sedan yang Aldy tumpangi melesat jauh. Ia bingung, sebenarnya kenapa ia dipertemukan di situasi seperti ini dengan laki-laki itu, dan sekarang dia harus menyimpan rahasia laki-laki itu dengan baik. Tea bingung apakah dia harus senang karena ia sekarang tau rahasia Aldy atau bahkan ini akan menjadi masalah besar yang menambah beban hidupnya selama ini. Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

***

Suasana di kantin hari ini cukup ramai, bahkan Tea dan Lina pun harus berdesakan saat memesan jus jeruk.

"Huft, ampun deh kenapa sih orang-orang pada gak bisa apa sabar sedikit udah tau ngantri eh nyeruduk ae," celoteh Relina.

Sedangkan Tea hanya sibuk dengan jus jeruk dan makanan ringannya, sambil mencari sosok laki-laki yang ia tolong tadi malam. Tapi sepertinya akan sulit karena ia juga tak yakin Aldy masuk sekolah hari ini.

Ia sempat berfikir untuk menceritakan kejadian tadi malam pada Lina. Tapi saat teringat kalau tadi malam ia diancam keras oleh Aldy ia mengurungkan niatnya.

Terasa ada yang bergetar di saku rok Tea, dan ternyata itu ponselnya yang menunjukkan notifikasi aplikasi Line-nya.

*LINE*

Juan L :

Lo cepet ke ruang guru sekarang mau ada pengarahan dari bu Dewi. GPL

Anthea Permata :

Y. otw

Sesampainya di ruang guru Tea terkejut, bukan karena temannya sudah berkumpul dan dia ketinggalan informasi. Tapi karena laki-laki itu ternyata ada di sini. Mata mereka bertemu beberapa saat sampai Tea melepas pandangannya terlebih dulu untuk menghilangkan rasa groginya. Terlebih, dia harus pura-pura tidak pernah bertemu di luar sekolah dengan Aldy.

Tea masih bisa melihat luka yang belum sepenuhnya pulih di pelipis Aldy. Karena otaknya semakin mengarahkannya untuk memikirkan semua tentang Aldy, akhirnya dia mencegahnya dan memilih untuk fokus dan mencari Juan.

**Aldy's POV**

Cewek itu Anthea?

Cewek yang tadi malem nolong gue ternyata cewek yang sama pas waktu gue di perpustakaan. Kenapa matanya tajam kali ini, beda sama tatapannya tadi malem. Tea liatin gue kali ini dengan tatapan yang gak bisa diartikan. Maksud gue dia, ya, dia berbeda.

Tapi kenapa? Tapi baguslah, dengan begitu berarti dia menepati janjinya buat gak ngasih tahu kejadian tadi malam ke siapapun. Mata kita bertemu lagi dan gue coba mengunci pandangan kita karena gue kira gue bakal dapat jawaban. Tapi ternyata enggak. Dia malah mengalihkan mukanya.

Kurang lebih dua puluh menit Bu Dewi memberii pengarahan untuk acara hari Sabtu besok. Besok gue harus satu bus sama temen-temen gue yang super berisik selama lima jam, dan kabar buruknya lagi adalah rombongan harus menginap juga di sana. Gue harus persiapin mental buat bareng mereka dua puluh empat jam nonstop.

Ya, siapa lagi kalo bukan Revan sama Doni yang kalau disatukan bagai Tom and Jerry versi manusia.

Setelah keluar dari ruang guru, entah kenapa mata gue menjelajah lagi mencari sosok Tea. Sebenarnya ada apa sama tingkah gue yang tiba-tiba aneh seperti ini. Biasanya gue biasa aja. Mungkin perasaan gue doang. Secara kan kemarin dia tolong gue, tanpa tahu menahu sebab gue dikeroyok dan pasalnya dia liat gue dikeroyok. Mungkin gue gak enak saja sudah bikin dia repot, atau mungkin gara-gara kemarin gue lupa bilang makasih sama dia? Tapi nggak kok. Oh, mungkin karena gue kesal kenapa dia harus lihat adegan memalukan seperti kemarin.

Ah! Kenapa hidup gue jadi banyak mungkinnya gini sih. Dan kenapa juga gue harus peduli dengan cara dia menatap gue. Who cares?

**Author POV**

"Yeah, finish!" sorak Tea. Ia menutup resleting tas ranselnya yang penuh dengan baju ganti, dan makanan untuk perbekalan besok ke Bogor.

Tak lupa ia juga memasukan buku catatan sakralnya yang isinya bagaikan berlian. Ya, itu julukan untuk buku catatan Tea yang diberikan khusus oleh Lina. Saat akan memasukkan charger ponsel, ia lupa harus men-charge dulu ponselnya malam ini sehingga charger-nya tidak ia masukkan.

"Tea, Lea, ayo turun. Makan malemnya udah siap, nih. Hurry up honey!" panggil Lidya.

"Aye-aye captain!" sahut Tea.

Dia menyimpan tas ranselnya di pinggir tempat tidurnya.

Saat menuruni tangga ia melihat ibunya sedang berbincang di telepon.

"Kondisinya memburuk? Baik, saya akan segera ke sana."

Tea sudah menduga siapa yang sedang berbicara dengan Lidya.

"Mah ..."

Tea menggenggam tangan Lidya.

Segera Lidya berbalik sambil mengusap matanya yang tadi empat menitikan air mata.

"Gak apa-apa, sayang. Kamu besok tetep harus ke Bogor, biar mamah pergi sendiri." Lidya berusaha meyakinkan putri bungsunya.

"Tapi Mah, aku takut Mamah kenapa-kenapa."

Dengan suara lirih akhirnya Tea tak dapat membendung lagi air matanya.

Ia menangis.

"What's going on? Mom will be okay, I'm here, Tea. Kakak besok libur dulu kok, jadi kamu gak usah khawatir." Lea menenangkan Tea.

"Tapi Kak, pas kunjungan terakhir 'kan kakak tau," ucapannya menggantung. Kemudian Tea sedikit menyingkirkan kain yang membalut lengan halus dengan kulit berwarna kuning langsat milik Mamahnya.

Terlihat jelas guratan biru yang mulai menghitam seperti bekas cambuk di tangan ibunya. Tea kembali memandangi lengan Mamahnya sambil terus mengusapnya.

"Mah, kalau Mamah ke sana sendirian dengan kondisinya yang lagi memburuk bukan hal yang mustahil dia akan nyakitin Mamah lagi."

Lidya menghela napas panjang dan mengusap air mata anak bungsunya.

"Honey, I promise I'll be fine. Moreover, please just focus on your competition. I hope you'll be the winner for debate competition. So don't worry!"

Lea mengangguk mengiyakan kata-kata ibunya.

"I'll make sure. Mom safe."

Dengan berat hati, Tea mengangguk dan menyetujui langkah ibunya.

***

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Tea sudah berada di pekarangan sekolah menggendong tas ransel dan menjinjing tas selempangnya. Ia diantar Lidya ke sekolah.

"Sayang hati-hati di jalan, jangan telat makan, sholat dan kabarin Mamah terus, ya. Semoga lancar dan pulang bawa piala, oke?" Senyum Lidya mengembang sambil mencubit hidung Tea.

"Iya, Mah, cuma semalem doang nginepnya. Ya ampun, kaya aku mau pergi jauh aja."

"Yaudah Mamah pulang lagi ya." Lidya pamit sambil mengecup puncak kepala Tea.

"Dah Mamah, hati-hati!"

Saat membalikan badan menuju ke tempat bisnya terparkir, tak sengaja Tea melihat siluet laki-laki yang memakai hoodie sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Matanya menyipit memerhatikan laki-laki yang saat ini berdiri sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Dengan cahaya remang ia mencoba melihat lebih jelas siapa laki-laki itu. Saat laki-laki itu merasa ada yang memerhatikan ia balik menatap Tea.

Ternyata itu adalah Revan. Tentu saja Tea mengenal Revan, karena dia adalah teman satu geng Aldy. Saat Revan mengetahui bahwa Tea memerhatikannya ia merasa tidak aman sehingga ia berlari.

Tea yang sadar bahwa dirinya harus bergegas tak ambil pusing dengan kelakuan Revan yang tiba-tiba berlari tadi. Hingga datang seseorang menepuk bahunya.

"Woi! Lo ngapain di sini? Cepet ke bus, bentar lagi berangkat."

Suara datar dan terkesan sarkastis itu membuat Tea berlari ke arah bus.

Cerobohnya Tea, saat ia berlari ia lupa kalau ia membawa banyak barang sehingga ia terjatuh.

Aduh malu-maluin aja sih, Te!

Namun tak disangka ada tangan yang terulur untuk membantu Tea.

Ketika Tea meraih tangan itu, ternyata orang itu melepaskan pegangannya dan ia menatap Tea aneh.

"Apaan lo megang-megang gue? Sini tas lo!"

Aldy berhasil membuat Tea malu dua kali dalam waktu kurang dari semenit.

"Oh iya, hehe nih. Gue kira mau angkat gue, ternyata tas gue." Tea melepas tas ranselnya dan ia berikan pada Aldy.

"Jangan GR lo. Gue bantu lo supaya gue gak berhutang budi sama lo."

Tea mengangguk mengerti dan segera berjalan mendahului Aldy masuk ke dalam bus.

"Di sini aja, Al." Saat Tea melihat bangku ke dua dari depan yang ia kira nyaman untuk ia duduki.

"Than..ks" Belum sempat Tea mengucapkan terima kasih saat ia menata tasnya, Aldy sudah pergi dari tempat ia berdiri tadi.

Manusia aneh. Gerutunya dalam hati.

***

Tea yang sebangku dengan Nanda mulai bosan dengan perjalanan yang baru seperlima jarak Bandung-Bogor. Dia memutuskan untuk medengarkan musik dengan headset yang memang masuk list barang yang wajib ia bawa ke manapun.

Empat jam waktu yang ditempuh untuk sampai di Bogor. Waktu menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit. Tadi sempat ada gangguan kecil di jalan, bus yang mereka tumpangi tiba-tiba sedikit oleng, untungnya saat ada rest area sopir bus langsung mengeceknya. Dan setelah dicek ternyata ada kabel mesin yang putus, yang lebih mengejutkan lagi adalah menurut sopir sepertinya kabelnya sengaja dipotong.

Saat sampai, Tea dan rombongan segera check in di hotel tempat mereka akan menginap. Dia sekamar dengan Nanda, Risya, dan Vira perwakilan dari pengurus inti OSIS, serta Bu Dewi.

Yang laki-laki pun berada dalam satu kamar yang terdiri dari pak Dava, Aldy, Juan, Kevin, dan Doni. Revan juga seharusnya ikut bersama, namun tidak jadi dengan alasan ia tiba-tiba masuk angin dan demam.

Saat masuk ke kamar mereka harus membereskan kamar terlebih dulu untuk mengatur posisi, kurang lebih memakan waktu lima belas menit. Selesai di kamar, Tea dan squad Tunas Bangsa berjalan menyusuri lorong gedung yang lumayan panjang untuk sampai di aula tempat opening ceremony dilaksanakan.

***

Aula sudah dipenuhi banyak calon peserta debat tingkat provinsi yang memakai baju khas sekolah masing-masing, beserta pendukungnya.

Saat ini, waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. Di sebelah kanan Tea ada Juan dan di sebelah kirinya ada Doni dan Aldy.

"Cek, cek." Terdengar suara panitia yang sedang mengecek microphone di atas panggung.

Tak lama kemudian dua orang naik ke panggung, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka adalah MC acara pembukaan ini.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!"

Kalimat pertama yang diucapkan kedua MC tersebut.

Banyak sekali sambutan yang disampaikan oleh para petinggi dinas provinsi dan Pemprov Jabar yang mewakili Gubernur yang tidak bisa hadir hari ini. Sehingga ini cukup membuat suasana sedikit monoton.

"Tea, pokoknya nanti pas debat lo harus fokus. Yang penting gak kebawa emosi."

Di sela-sela sambutan yang tengah disampaikan, Juan berbicara pada Tea.

"Bukannya lo ya yang suka kepancing emosi. Harusnya lo nasehatin diri lo sendiri!" Tea membalikkan perkataan Juan.

Karena memang faktanya Juanlah yang mudah terpancing emosi.

"Yee, iya dah iya. Gue cuma ngingetin aja gak usah sewot gitu. Tar manisnya ilang."

Tea yang mendengar langsung menjulurkan lidahnya karena merasa mual dilempari gombalan oleh Juan. Doni yang mendengar Juan menggoda Tea juga ikut tertawa.

"Hahaha lo emang manis, kok. Serius deh," sahut Doni dengan tiba-tiba.

Tea yang mendengar pujian itu merasa pipinya memanas dan sepertinya sekarang memang sudah mirip kepiting rebus. Aldy yang sadar bahwa temannya sedang mencoba mengaplikasikan jurus pemikatnya hanya menyenggol lengan Doni ringan.

"Lo jangan macem-macem, deh."

Doni mengerutkan dahinya.

"Wahh wahh, peduli banget lo? Biasanya juga mau gue tepe-tepe atau nggak, lo gak peduli."

Malas menanggapi akhirnya Aldy hanya diam.

Tapi kata-kata si Doni kok bikin gue bingung juga.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel