Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Alpha Asing

Perbatasan Silver Fang Territory dijaga oleh bau yang berbeda. Bukan bau Bloodmoon dan juga bukan bau hujan dan pengkhianatan. Ini bau salju tua, baja dingin, dan disiplin. Bau pack yang tidak main-main.

Aku berhenti tiga meter sebelum garis batas. Wraithwolf di belakangku mendengus rendah, waspada. Kami sudah berjalan dua hari tanpa henti. Luka-lukaku sembuh sendiri, tapi tidak dengan lelah mentalnya. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat mata Kade saat dia berlutut. Aku sangat puas, tapi itu tidak cukup.

"Mereka tahu kita di sini," bisik suara itu. "Pack sekuat Silver Fang tidak buta."

Benar. Dari balik pohon pinus, aku merasakan tiga pasang mata mengamatiku. Bukan niat membunuh, tapi niat menilai. Seperti aku hewan langka yang tiba-tiba nyasar ke kebun binatang mereka.

Langkah kaki berat terdengar. Tiga serigala keluar dari kegelapan. Serigala besar hitam kelabu. Tidak menggeram dan tidak menyerang, tapi energi dominasi mereka menekan dadaku seperti batu.

"Perkenalkan dirimu," kata yang di tengah. Suaranya dalam, tenang serta tidak butuh diteriakkan untuk didengar. Dia seorang Alpha. Tapi bukan Alpha seperti Kade. Ini tipe yang kekuatannya diam, bukan teriak.

Aku mengangkat dagu. "Selena."

"Selena apa? Selena yang ditolak."

Keheningan. Serigala di sebelahnya mendesis pelan. "Bloodmoon? Di sini? Kau bunuh diri, gadis."

Aku tertawa pelan. "Kalau mau bunuh diri, aku nggak akan datang ke sini. Aku datang karena kalian netral. Dan karena aku butuh jawaban."

Alpha itu menatapku lama. Mata kuningnya menyala di kegelapan lalu pandangannya jatuh ke punggungku. Ke bayangan Wraithwolf yang mulai merayap keluar karena marah.

"Turunkan dia," katanya pelan. Perintah, bukan permintaan. "Kau tidak bisa mengendalikan apa yang ada di dalammu, di wilayahku."

Aku mendesis. "Dia bagian dari aku."

"Dan bagian dari dirimu itu baru saja membunuh tiga pemburu Bloodmoon di perbatasan utara. Bau mereka masih menempel di bulumu."

Sial, cepat juga berita nyebar. Aku mengepalkan tangan. "Jadi kalian mau menyerahkan aku ke Kade?"

Alpha itu menggeleng. "Aku tidak melayani Bloodmoon, tapi aku juga tidak menampung ancaman liar di wilayahku. Kau pilih, kendalikan dia, atau aku yang akan memaksa.

Ancaman, tapi bagus. Aku sudah muak dengan orang yang bicara manis tapi menusuk dari belakang. Setidaknya yang ini jujur.

Wraithwolf menggeram. Dia tidak suka diperintah.

"Bunuh dia. Dia lemah. Kita bisa mengambil alih pack ini, malam ini."

Tidak. Aku tidak akan jadi monster yang Kade tuduhkan. Belum saatnya. Aku menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengingat rasa sakit saat ikatan mate patah. Rasa sakit itu murni dan jujur.

Aku berpegangan pada itu. Pada kemarahan yang dingin, bukan liar.

"Turun," kataku pelan pada Wraithwolf, pada diriku sendiri.

Bayangan hitam itu menatapku marah lalu perlahan, dia menyusut. Merayap kembali ke bawah kulitku, tidak rela tapi dia nurut untuk sekarang.

Alpha Silver Fang mengangguk sekali. "Cukup. Aku Riven Ashford, Alpha Silver Fang. Dan kau ,,, kau masalah besar, Selena yang ditolak."

"Aku tahu."

"Ada api di Bloodmoon malam ini. Kade mengumumkan kau buronan dengan hadiahnya tinggi. Kau yakin mau tinggal?"

Aku menatapnya lurus. "Kalau aku pergi, aku cuma akan kembali lebih kuat, lebih marah dan lebih berbahaya. Kau mau musuh atau aset, Alpha Riven?"

Dia menyipit. Berani sekali aku bicara seperti itu di depannya, tapi dia tidak marah. Dia malah... tertarik.

"Aset tidak datang sambil membawa mayat dan bau pembalasan," katanya.

"Lalu apa?" tanyaku.

"Ikut aku."

Riven berbalik dan berjalan masuk ke hutan.

Dua pengawalnya tetap di tempat, mengawasi.

Ini tes. Kalau aku lari, mereka akan membunuhku.

Kalau aku ikut, aku mempertaruhkan leherku.

Aku memilih ikut karena diam di sini berarti mati pelan-pelan. Dan aku belum selesai.

---

Kubu Silver Fang lebih teratur dari Bloodmoon.

Tidak ada pesta pora dan tidak ada pamer kekuatan. Setiap serigala di sini tahu tugasnya masing-masing. Mereka efisien dan dingin seperti Alpha-nya.

Riven membawaku ke sebuah gua di balik air terjun. Di dalamnya ada ruang batu dengan peta kuno terukir di dinding. Simbol-simbol yang tidak kukenal. Simbol yang sama dengan tanda bulan sabit terbalik di dahiku.

"Duduk," katanya.

Aku duduk.

"Apa kau tahu apa itu?" katanya, menunjuk tanda di dahiku.

Aku menggeleng. "Wraithwolf."

Riven mengangguk pelan. "Spesies yang diburu sampai punah 500 tahun lalu. Karena mereka tidak bisa dikendalikan. Karena mereka bisa mematahkan ikatan mate dan membuat Alpha berlutut."

Darahku mendidih. Jadi itu alasannya. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku terlalu berbahaya untuk mereka miliki.

"Kenapa Bloodmoon menyembunyikannya?" tanyaku.

"Karena ibumu."

Kata itu membuatku membeku. "Ibuku mati saat aku lahir."

"Mati pura-pura," kata Riven datar. "Dia Wraithwolf terakhir sebelum kau. Bloodmoon mengurungnya 21 tahun lalu. Mereka pikir dengan membunuhmu saat lahir, garis keturunan itu akan mati."

Tanganku mengepal sampai kuku menembus kulit.

"Mereka gagal," lanjut Riven. "Dan sekarang kau di sini. Marah dan sangat kuat, tapi tidak punya siapa-siapa."

Aku menatapnya tajam. "Apa maumu, Alpha Riven? Kau tidak bantu orang tanpa alasan."

Riven tersenyum tipis pertama kalinya. "Benar. Aku butuh Wraithwolf. Bloodmoon semakin kuat. Mereka punya sekutu baru dari luar negeri. Kalau mereka menyerang Silver Fang, aku butuh sesuatu yang bisa membuat Alpha mereka berlutut lagi."

Jadi aku cuma senjata baginya. Aku harusnya marah, tapi anehnya aku malah lega. Setidaknya dia jujur.

"Dan kalau aku bilang tidak?"

"Maka aku akan mengantarmu ke Bloodmoon sendiri. Dengan hadiah di atas kepalamu," jawab Alpha Fang. "Tapi sebelum itu, aku akan melihatmu mati mencoba melawan tiga serigala terbaikku."

Ancaman lagi. Aku sudah muak dengan ancaman tapi kali ini, aku tidak takut.

Aku berdiri. "Latih aku."

Riven mengangkat alis. "Apa?"

"Kalau kau mau senjata, pastikan senjata itu tajam. Aku nggak mau jadi pisau tumpul yang patah di tanganmu, Alpha Riven. Latih aku dan ajarkan aku kontrol. Ajarkan aku cara membunuh dengan benar."

Keheningan panjang lalu Riven tertawa pelan. "Kau gila, Selena."

"Mungkin." Aku menatapnya lurus. "Tapi kau butuh yang gila untuk melawan Kade Blackwood."

Riven berdiri. Tubuhnya lebih tinggi dari Kade, lebih tenang dan lebih berbahaya. Dia melangkah mendekat sampai kami hanya berjarak satu jengkal.

"Kalau kau gagal mengendalikan Wraithwolf itu," katanya pelan, "aku yang akan membunuhmu duluan demi Silver Fang."

Aku tersenyum. "Deal."

Di luar gua, bulan mulai naik. Dan untuk pertama kalinya sejak ditolak, aku merasa punya rencana.

Riven Ashford mau menggunakanku. Bagus karena aku juga mau menggunakannya untuk kembali ke Bloodmoon. Dan kali ini, aku yang akan membuat mereka berlutut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel