3. Hutan Dan Luka
Hutan Bloodmoon tidak pernah ramah pada mereka yang dibuang. Dulu, aku takut masuk ke sini sendirian. Sekarang, hutan itu yang takut padaku.
Langkahku tidak bersuara, tapi setiap kali kakiku menyentuh tanah, akar-akar tua merayap sedikit ke samping, memberi jalan. Seolah hutan mengenali siapa aku sekarang. Wraithwolf di belakangku berjalan tanpa suara. Bayangan hitamnya menyatu dengan kegelapan, hanya mata merahnya yang jadi penanda kalau dia masih ada.
"Sakit," bisik suara itu di kepalaku lagi. "Tubuhmu belum terbiasa dengan kekuatan yang kamu punya sekarang."
Dia benar. Setiap napas terasa seperti menelan pecahan kaca dan ribuan jarum tajam. Tulang rusukku retak di tiga tempat. Kulit di punggungku sobek saat Wraithwolf itu tadi keluar. Kekuatan itu butuh harga yang dibayar oleh darahku.
Tapi aku tidak berhenti dan menyerah. Berhenti berarti mereka akan menyusulku. Berhenti berarti aku kembali jadi Selena yang berlutut dan memohon. Jadi aku tetap jalan walau terseok membawa kemarahan dan kebencian yang mengalir dalam setiap aliran darahku.
Hujan sudah reda sekarang yang tersisa hanya bau tanah basah dan darahku sendiri. Aku menoleh ke belakang sekali, tidak ada obor dan tidak ada serigala pengejar. Kade terlalu bangga untuk terlihat panik. Dia akan mengirim pemburu malam ini, atau besok pagi. Dan aku masih punya waktu untuk menghadapinya.
Aku menemukan sungai kecil di balik tebing. Airnya hitam di bawah cahaya bulan. Perlahan aku berlutut di tepian. Saat melihat pantulan wajahku, aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.
Mata merah, kulit pucat seperti mayat. Di dahiku, ada tanda hitam berbentuk bulan sabit terbalik sangat cantik, tapi angker dan itu milikku.
Aku mencelupkan tangan ke air. Dinginnya membuatku mendesis. Saat aku mengusap darah di pipi, Wraithwolf mendengus pelan.
"Jangan bersihkan semuanya. Mereka perlu ingat apa yang mereka lakukan."
Aku tertawa pelan. Suaranya masih serak, ganda.
"Kau benar-benar suka drama, ya?"
"Aku suka kebenaran. Dan kebenarannya adalah kau tidak akan pernah bisa kembali jadi manusia biasa, Selena. Kau sekarang berbeda dari manusia biasa yang dulu."
Manusia biasa. Kata-kata itu dulu jadi impian, tapi sekarang jadi penghinaan.
Aku berdiri, tapi lututku goyah. Pandanganku jadi gelap. Terlalu banyak kekuatan yang dipakai sehingga tubuhku tidak kuat lagi.
Sebelum aku jatuh ke sungai, Wraithwolf bergerak.
Dia melingkarkan tubuhnya di sekitarku, hangat, berat dan sangat melindungi. Bulu hitamnya menyerap air hujan, tapi dari dalamnya keluar panas yang menenangkan.
"Tidur," katanya. "Besok kau akan butuh semua kekuatanmu."
Aku ingin membantah, tapi lelahnya tidak bisa kutahan. Aku tertidur di pelukan monsterku sendiri.
---
Aku terbangun karena bau asap. Mata merahku terbuka. Matahari belum naik, tapi hutan sudah tidak gelap lagi. Terlihat ada api di kejauhan.
Asapnya membawa bau familiar yaitu bulu serigala terbakar, daging mentah, dan Bloodmoon.
Mereka datang lebih cepat dari yang kukira. Perlahan aku bangun, tubuhku sakit, tapi lebih ringan. Kekuatan tadi malam tidak hilang, dia masih ada, mendengkur pelan di bawah kulitku, menunggu untuk dilepaskan lagi.
Wraithwolf sudah berdiri, tubuhnya tegang, menghadap ke arah api.
"Tiga orang pemburu. Bau mereka penuh darah dan kebohongan," katanya. "Mereka tidak datang untuk membawamu pulang, Luna kecil. Mereka datang untuk memastikan kau tidak kembali."
"Bagus. Lebih gampang kalau mereka tidak pura-pura punya hati."
Aku mendengar suara cabang patah dan suara-suara bisikan.
"Di sana! Aku lihat gerakan!"
"Itu dia! Jangan bunuh langsung. Alpha mau dia hidup dulu, biar disiksa perlahan."
"Terserah. Yang penting kepalanya pulang."
Sangat Klasik. Aku ditolak, lalu mau dibunuh, lalu mau disiksa, lalu mau dibunuh lagi. Bloodmoon Pack memang konsisten dalam hal jadi sampah.
Aku melangkah keluar dari balik pohon. Pemburu pertama melihatku dan langsung mundur setengah langkah.
"J,,,jangan mendekat!" dia mengangkat perak.
Perak, sangat lucu. Mereka pikir perak bisa membunuhku? Bodoh.
Aku tersenyum. "Teman-teman Kade ya? Sampaikan salamku padanya dan bilang aku kirim hadiah."
Sebelum mereka bisa bereaksi, Wraithwolf bergerak. Kecepatannya tidak manusiawi. Dalam 3 detik, pemburu pertama sudah terlempar ke pohon dengan leher patah. Pemburu kedua berteriak, mengangkat pedang perak. Dan kali ini aku yang bergerak, rasanya aneh. Seperti tubuhku tahu apa yang harus dilakukan, bahkan saat otakku masih kaget.
Aku menangkis pedangnya dengan tangan kosong. Kulitku robek, tapi aku tidak peduli. Lalu kemudian
aku mencengkeram lehernya. "Berapa banyak yang Kade bayar buat kalian jadi pengecut?" bisikku pelan tapi penuh penekanan.
Matanya melebar ketakutan. "Seribu koin perak. Untuk kepala tanpa kekuatannya."
Aku mengangguk pelan. "Murah sekali," bisikku lalu ku retakan lehernya sampai patah.
Pemburu ketiga lari, tapi aku tidak mengejar agar dia melapor pada Kade kalau aku tidak lari karena takut. Aku lari karena aku sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari pembunuhan tiga orang rendahan.
Saat semuanya hening lagi, aku melihat tanganku berlumuran darah tapi yang aneh, lukaku sendiri sudah menutup sangat cepat bahkan terlalu cepat untuk serigala biasa.
"Wraithwolf tidak bisa mati semudah itu, Luna kecil," suara itu berbisik bangga. "Dan sekarang, kau juga tidak."
Aku duduk di atas mayat pemburu. Napasku berat,
ini pertama kalinya aku membunuh. Seharusnya aku merasa mual dan bersalah, tapi yang kurasakan hanya perasaan lega karena untuk pertama kalinya, aku yang memegang pisau.
"Apa selanjutnya?" tanyaku pada kegelapan.
"Kita pergi ke Utara," jawab suara itu. "Ke Silver Fang Territory. Ada yang menunggumu di sana. Seseorang yang tahu siapa kau sebenarnya."
Silver Fang, Pack netral. Tidak bersekutu dengan Bloodmoon. Pack berbahaya, tapi lebih aman dari tinggal di sini dan menunggu Kade mengirim seluruh pasukannya.
Aku berdiri meninggalkan tiga mayat di belakangku.
Membiarkan hutan yang mengurus mereka.
Saat aku berjalan pergi, aku mendengar raungan di kejauhan. Bukan raungan serigala biasa, tapi itu
raungan Alpha yang marah. Kade tahu aku kabur.
Bagus, biarkan dia marah dan biarkan dia mengejar.
Karena setiap langkah yang dia ambil mendekatiku, adalah langkah yang membawanya lebih dekat kepada kematian.
Aku tidak lagi berlari karena takut. Aku berlari karena aku sedang lapar. Lapar akan kebenaran, balas dendam dan kekuatan yang selama ini mereka sembunyikan dariku. Dan malam ini, hutan Bloodmoon mendengar namaku untuk pertama kalinya.
Selena, bukan Mooncrest yang lemah. Tapi Selena, Wraithwolf terakhir.
