Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Tawaran

Latihan dimulai saat matahari belum terbit. Riven tidak percaya omong kosong seperti "pemanasan" atau "adaptasi mental". Bagi dia, kalau kau bisa bertahan hidup di latihan pertama, kau layak hidup di latihan kedua.

"Aku tidak melatih manusia," katanya sambil melemparkan pedang kayu ke kakiku. "Aku melatih binatang yang mencoba jadi manusia. Jangan kecewakan aku."

Aku memungut pedang itu. Pedang yang sangat berat dan kasar.

"Aturannya sederhana," lanjut Riven.

Dia berdiri di seberangku, di tengah arena batu Silver Fang. Dingin dan tanpa penonton. Hanya ada aku, dia, dan dua pengawalnya yang jadi saksi kalau aku mati konyol.

"Suruh Wraithwolf itu keluar. Kendalikan dia selama 5 menit tanpa membunuh siapa pun di sini. Kalau gagal, aku patahkan lenganmu. Anggap itu pelajaran."

Aku menatapnya lama. "Kalau berhasil?"

"Kau dapat makanan dan kesempatan kedua," jawab Riven.

Klasik, selalu ada harga. Tapi setidaknya kali ini harganya jelas.

Aku menutup mata. Mencari suara itu. Suara rendah yang sejak malam penolakan tidak pernah benar-benar diam. Dia ada di bawah kulitku, gelisah, lapar, marah pada dunia.

"Waktunya main," gumamku pelan.

Sakitnya datang seperti biasa. Tulang bergeser. Kulit terbakar, tapi kali ini aku tidak melawan. Aku menyambutnya.

Bayangan hitam merayap keluar dari punggungku. Sangat dingin dan tentu saja sangat berat. Wraithwolf berdiri di sampingku, lebih besar dari sebelumnya. Mata merahnya menatap Riven tanpa kedip.

Arena mendadak sunyi. Bahkan pengawal Silver Fang mundur setengah langkah.

Riven tidak bergerak, matanya menyipit. "Bagus. Sekarang, kendalikan."

Mudah diucapkan namun sulit dilakukan.

Wraithwolf mendengus. Dia tidak suka diperintah apalagi berada di bawah siapa pun, termasuk aku.

Dia menginginkan darah. Darah semua orang yang pernah menatapku rendah.

"Bunuh dia," bisiknya di kepalaku. "Dia sama seperti yang lain. Dia akan mengkhianatimu."

Mungkin, tapi kalau aku membunuhnya sekarang, aku akan mati besok.

"Turun," kataku pelan. Tidak ada yang terjadi.

Wraithwolf malah menggeram, cakarnya menggores tanah batu sampai berderak.

Riven melihat itu dan menilai. "Kalau kau tidak bisa mengendalikannya, aku yang akan melakukannya untukmu," katanya datar.

Ancaman itu memicu sesuatu di kepalaku yaitu kemarahan. Tapi bukan kemarahan liar, kemarahan dingin yang terarah.

Aku tidak akan jadi boneka siapa pun lagi. Tidak Kade, tidak Bloodmoon, dan tidak Riven.

Aku maju selangkah, menatap langsung ke mata merah Wraithwolf. "Lihat aku."

Untuk pertama kalinya, dia benar-benar menatapku.

Bukan sebagai tuan, bukan sebagai mangsa tapi

sebagai dirinya sendiri.

"Aku tahu kau marah," kataku. "Aku juga marah.

Tapi kalau kita membunuh mereka semua sekarang, kita tidak akan pernah bisa membunuh Kade dengan cara yang benar. Kita butuh waktu. Kita butuh kontrol."

Wraithwolf mendengus, tapi dia tidak menyerang.

Riven mengangkat alis. "Menarik. Kau bicara pada monster itu seperti bicara pada manusia."

"Karena dia aku," jawabku. "Dan aku tidak gila."

Riven mengangguk pada pengawalnya. "Serang."

Dua serigala Silver Fang bergerak dalam sekejap. Sangat cepat dan presisi. Mereka tidak mencoba membunuh, hanya mencoba memprovokasi membuat Wraithwolf kehilangan kendali.

Cakar menyambar ke arahku, aku bisa menghindar.

Wraithwolf menggeram. Tubuhnya tegang, siap menerkam.

Aku merasakan darahku mendidih. "Jangan," bisikku. "Sekali lagi. Jangan."

Salah satu pengawal nyaris menggores pipiku.

Darah hangat mengalir, Wraithwolf meraung. Dan aku membalas raungannya, tapi bukan untuk menyerang. Itu raungan untuk memerintah.

"DUDUK."

Kata itu keluar dari mulutku dengan suara ganda.

Manusia dan monster.

Wraithwolf membeku. Otot-ototnya tegang, menahan insting membunuh. Lalu perlahan, dia duduk.

Arena hening.

Riven menatapku lama lalu dia tersenyum tipis.

"5 menit belum lewat, tapi cukup."

Pengawal berhenti, mundur. Aku merasakan Wraithwolf menyusut kembali ke dalam diriku, tidak rela, tapi patuh.

Lututku goyah. Latihan 5 menit itu menguras lebih banyak energi daripada lari dua hari di hutan.

Riven melemparkan botol air ke arahku.

Aku menangkapnya, dan meminumnya dengan rakus.

"Kau punya kendali," katanya. "Tidak sempurna, tapi cukup untuk tidak membuatku membunuhmu hari ini."

"Terima kasih atas kemurahan hatinya," gumamku sarkas.

Dia mengabaikan sarkasme ku. "Ada syarat."

Aku menatapnya. "Sudah kuduga."

"Mulai besok, kau ikut patroli malam. Silver Fang sedang diawasi. Kalau Bloodmoon mengirim pemburu lagi, kau yang akan jadi dinding pertama."

Aku mengangguk pelan. "Iya." Dia melindungiku dan aku membayar dengan darah.

"Tapi ada satu hal lagi," lanjut Riven. Suaranya lebih rendah sekarang. "Kalau kau kehilangan kendali dan membunuh salah satu dari orangku, aku tidak akan memberimu kesempatan kedua. Aku akan membunuhmu sendiri."

Aku menatap matanya, Riven serius tidak main-main. "Deal," kataku.

Riven berbalik. "Latihan selesai. Besok pagi, jam 4. Jangan telat, aku tidak mengulangi perintah."

Dia pergi meninggalkanku dengan pengawal yang masih menatapku seolah aku bom waktu.

Aku duduk di tanah batu yang dingin. Napas masih belum beraturan, tapi untuk pertama kalinya sejak malam penolakan, aku merasa tidak sendirian dalam perang ini.

Aku punya musuh dan punya tujuan. Dan sekarang, aku punya pelatih.

Wraithwolf di dalamku mendengus pelan, puas.

"Dia kuat," katanya. "Dia bisa jadi ancaman atau sekutu."_

"Atau keduanya," jawabku pelan.

Malam itu, aku tidur di sel kecil di bawah tanah Silver Fang. Tempat yang tidak nyaman apalagi aman, tapi untuk pertama kalinya, aku tidur tanpa mimpi tentang Kade yang menolakku.

Aku mimpi tentang api dan tentang Bloodmoon yang terbakar, juga tentang diriku yang berdiri di tengahnya, menyaksikan semuanya sambil tersenyum puas.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel