
Ringkasan
Di Bloodmoon Pack, setiap serigala punya satu mate, satu takdir, dan satu kehormatan. Selena Mooncrest punya semuanya, kecuali kekuatan. Di usia 21 tahun, dia masih manusia. Sementara yang lain sudah shift sejak umur 16, Selena jadi bahan tertawaan, aib yang ditoleransi hanya karena nama besar keluarganya. Tapi malam Bulan Darah mengubah segalanya. Di depan ratusan pasang mata, Alpha Kade Blackwood, mate yang sudah 3 tahun diam-diam mengikat jiwanya malah membuangnya di tengah upacara. "Aku menolakmu, Selena Mooncrest. Kau lemah. Tidak layak jadi Luna." Rasa sakitnya merobek ikatan mate, menghancurkan harga diri Selena. Dan membangunkan sesuatu yang selama ini terkunci. Di bawah cahaya bulan purnama, sesuatu kuno dan lapar terbangun di dalam diri Selena. Bukan serigala biasa, bukan kekuatan yang seharusnya dimiliki Luna. Ketika Bloodmoon Pack mengira mereka sudah membuang sampah, mereka baru sadar. Mereka baru saja melepas monster yang mereka ciptakan sendiri. Ditolak. Dihina. Dianggap gagal. Tapi sekarang, Selena akan membuat mereka semua berlutut atau mati.
1. Malam Penolakan
Udara dingin menusuk kulitku malam ini, tapi bukan dinginnya angin malam yang membuat tubuhku gemetar.
Aroma hujan bercampur bau pinus memenuhi lapangan upacara seremonial bulan purnama. Tanah di bawah kakiku basah. Setiap langkah kecil yang kuambil meninggalkan jejak lumpur di gaun putih upacara. Gaun yang seharusnya jadi simbol kesucian, dan kehormatan. Sekarang cuma jadi kain mahal yang akan kotor karena darah dan malu serta hinaan.
Ratusan pasang mata menatapku. Menunggu momen sakral di mana seorang Luna menemukan mate-nya. Menunggu momen di mana aku, akhirnya, berhenti jadi aib.
Dan aku, Selena Mooncrest, menunggu hukuman.
Jantungku berdetak kencang tidak beraturan, tapi bukan karena gugup, karena gugup itu untuk gadis-gadis yang masih punya harapan.
Sementara aku? Aku cuma menunggu gongnya jatuh.
"Selena."
Suara itu rendah, dingin seperti belati yang ditarik perlahan dari sarungnya, sengaja biar suaranya bikin merinding semua yang mendengar.
Alpha Kade Blackwood melangkah ke tengah lingkaran. Tinggi, lebar, dengan rahang tegas yang membuat semua betina di sini diam-diam mendesah. Warna hitam selalu cocok untuknya. Jubahnya, matanya, dan jiwanya.
Dia mate ku. Sejak kami berusia 18 tahun, ikatan itu sudah terasa di dadaku namun terasa panas, menyakitkan, dan tidak bisa diabaikan. Tiga tahun aku menyembunyikannya, dan tiga tahun pula aku pura-pura tidak merasakan tarikan itu setiap kali dia lewat.
Tapi malam ini, matanya tidak punya jejak kelembutan untukku. Tatapannya kosong seperti melihat noda kotor di sepatunya.
"Aku, Kade Blackwood, Alpha dari Bloodmoon Pack, menolakmu sebagai mate-ku, Selena Mooncrest."
Kata-katanya jatuh seperti palu godam menghantam jantungku, dadaku, dan hatiku. Seketika dunia ku runtuh, hancur.
Rasa sakitnya bukan metafora. Bukan kiasan sastra murahan. Sakitnya seperti ada cakar tak terlihat merobek dadaku dari dalam, mencabut separuh jiwaku dan menginjak-injaknya di tanah basah. Ikatan mate yang seharusnya menghangatkan, sekarang membakar habis. Api itu merambat ke tenggorokan, ke mata, ke ujung jari.
Lututku langsung lemas. Aku hampir jatuh kalau saja tanganku tidak mencengkram rok panjang upacara ini sampai buku jari ku memutih. Tapi, kalau aku jatuh sekarang, mereka akan bilang aku lemah.
Jadi aku tidak akan jatuh, aku tidak akan membiarkan mereka melihat kelemahanku apalagi menertawakan ku.
"Alasannya?" suara Elder Moon terdengar berat. Dia harus bertanya. Aturan menuntut itu. Hukum kuno lebih peduli prosedur daripada nyawa seorang gadis.
Kade menatapku. Tatapannya kosong, seperti melihat sampah di jalan yang menghalangi jalannya.
"Dia lemah. Tidak punya kekuatan, tidak layak jadi Luna Bloodmoon," kalimat Kade berhenti sejenak, menikmati setiap kata. "Aku sudah menemukan mate sejatiku yaitu Lyra Vale. Dia kuat, murni, dan yang terpenting dia yang pantas berdiri di sisiku."
Lyra Vale, gadis dari pack sekutu. Dengan rambut pirang berkilau dan senyum manis yang selalu menatapku seperti aku kotoran yang menempel di sol sepatunya. Dia baru 19 tahun, tapi sudah bisa shift tiga kali. Mata serigalanya perak, sempurna. Berbeda 180 derajat denganku.
Tawa kecil terdengar dari kerumunan. Beberapa bisikan yang sengaja dikeraskan biar aku bisa mendengarnya.
"Gue sudah bilang, kan dia memang tidak berguna."
"Luna tanpa kekuatan itu sebuah aib. Seharusnya dibuang sejak lahir."
"Kasihan Kade, dapat mate rusak tidak bisa apa-apa."
Aku ingin berteriak, ingin membalas, dan ingin meludahi wajah mereka satu per satu. Tapi kata-kata macet di tenggorokanku karena apa yang mereka katakan itu benar. "Aku memang tidak punya kekuatan serigala."
Di usia 21 tahun, saat semua orang sudah shift pertama kali di umur 16, aku masih manusia kosong dan gagal. Ibu bilang itu sebuah kutukan. Ayah bilang itu malu. Aku bilang itu fakta. Dan fakta itu sekarang dipakai untuk mengubur ku hidup-hidup.
Kade melangkah mendekat. Jarak kami tinggal setengah meter. Cukup dekat untuk kurasakan bau cedar dan darahnya. Cukup dekat untuk kulihat jijik murni di matanya.
Dia menunduk sampai bisa kurasakan hembusan nafasnya, berbisik cukup keras hanya untukku dengar. Biar semua orang tahu dia cukup berani menghina di depanku.
"Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, Selena. Kau membuatku jijik. Keberadaanmu saja membuat ikatan mate terasa seperti penyakit."
Rasa sakit di dada memuncak lalu putus. Ikatan mate itu patah. Suara retakan itu hanya aku yang mendengar seperti kaca mahal yang dihancurkan dengan sengaja, pelan-pelan sambil ditertawakan. Dan bersamaan dengan itu, sesuatu di dalam diriku juga pecah.
Tapi bukan aku yang menangis. Aku sudah habis menangis tiga tahun lalu, di kamar kosong saat aku sadar, aku satu-satunya serigala di pack ini yang takut pada malam purnama. Bukan karena takut berubah, tapi karena takut tidak bisa berubah.
Yang menangis sekarang adalah sesuatu yang lain. Dari dalam kegelapan hutan di belakangku, sesuatu terbangun. Sesuatu yang selama ini diam, terkunci di balik tulang rusukku, lapar. Selama 21 tahun, aku membungkamnya dengan obat penenang, dengan latihan, dan dengan berpura-pura menjadi manusia biasa yang tidak berbahaya. Bodoh, seharusnya aku membiarkannya lapar.
Sebuah suara rendah berbisik di kepalaku, tapi bukan suaraku. Suaranya lebih dalam, dan lebih tua. Seperti gema dari dasar gua yang belum pernah tersentuh cahaya.
"Akhirnya, kau mendengarku, Luna kecil."
Suaranya membuat darahku mendidih. Bukan rasa sakit, tapi pengakuan. Seperti akhirnya aku pulang menemukan diriku sendiri.
Bulan purnama di atas bersinar lebih terang. Cahayanya perak, kejam, tanpa ampun. Kulitku terasa panas. Tulang-tulangku berderak pelan. Bukan rasa sakit transformasi. Ini berbeda. Ini kebangkitan.
Kade mundur selangkah. Untuk pertama kalinya malam ini, ada keraguan di matanya. Bagus, takutlah. Kalian semua harusnya takut.
Lyra yang berdiri di belakang Kade, memegangi lengannya, berbisik panik. "Kade, dia ,,, dia aneh."
Aneh. Ya, aku aneh, bahkan sangat aneh. Aku aneh karena kalian semua terlalu buta untuk melihat apa yang sebenarnya ada di dalam diriku.
Aku mengangkat kepala. Rambut hitamku basah oleh hujan dan keringat. Bibirku retak, tapi mataku, mataku sekarang bukan mata manusia lagi.
Di lapangan itu, Selena Mooncrest jatuh berlutut tapi bukan untuk memohon.
Aku berlutut karena bumi tidak bisa menahan bebannya karena kalau aku berdiri, hutan ini akan terbakar.
"Jangan takut," bisik suara itu lagi. "Biarkan aku keluar. Biarkan mereka melihat apa yang mereka tolak. Biarkan mereka melihat apa yang seharusnya mereka lihat."
Suara itu menggores tulangku, tapi kali ini tidak ada jijik. 21 tahun aku menguburnya, dan pura-pura tidak mendengar.
Tanganku gemetar. Udara di sekitarku jadi berat, dinginnya menusuk kulit. Di kejauhan, lolongan pack masih ada, tapi terasa jauh.
Aku menutup mata, menarik napas panjang, dan sangat dalam. Untuk pertama kalinya dalam 21 tahun, aku bilang, "iya."
Rasa sakit meledak dari tulang punggung. Panas dan membela, tapi anehnya, aku tidak mau berhenti.
Bulan meraung.
Dan aku ikut meraung bersamanya.
