Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Sesuatu Yang Bangun

Raungan itu merobek malam. Bukan raungan manusia, dan juga bukan raungan serigala biasa.

Itu suara yang datang dari dasar bumi, tua, lapar, dan marah. Suara yang membuat kaca jendela packhouse di kejauhan bergetar hingga retak rambut. Suara yang membuat serigala-serigala Bloodmoon menutup telinga dan meringkuk ketakutan, naluri mereka berteriak bahwa ada predator yang jauh lebih tua dari mereka semua yang telah bangun.

Dan suara itu keluar dari tenggorokanku.

Aku merasakannya sejak detik pertama. Bukan di tenggorokan, tapi dari tulang belakang, naik merayap seperti api cair yang memaksa keluar. Terasa panas, dingin, dan sakit. Semuanya terasa sekaligus.

Hutan di sekitarku merespon. Pohon-pohon bergoyang tanpa angin, daun-daunnya berjatuhan seperti hujan hijau. Tanah di bawah lututku retak, retakan itu menjalar cepat, mengeluarkan uap tanah basah yang berbau besi. Hujan yang tadi hanya gerimis tiba-tiba jadi badai, seolah langit ikut marah karena aku dipermalukan. Petir menyambar jauh, menerangi wajah-wajah pucat di sekitarku.

"Apa,,, apa itu?" Lyra mundur, tumitnya hampir terpeleset di lumpur. Wajahnya pucat di balik cahaya bulan merah. Untuk pertama kalinya, senyum manisnya hilang. Yang tersisa hanya ketakutan murni. Dia menatapku seperti menatap sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

Kade berdiri kaku. Matanya menyipit, menganalisis, menghitung ancaman. Postur Alpha-nya masih tegak, tapi aku bisa melihatnya, ada retakan kecil di topeng Alpha-nya. Otot rahangnya mengatup keras, napasnya berat. Dia takut, dan dia benci karena dia takut padaku.

"Jangan melawan," bisik suara itu lagi di kepalaku. Suaranya rendah, serak, seperti bergema dari ruang kosong yang sudah mati selama berabad-abad. "Biarkan aku. Biarkan aku melindungi kita."

Rasa sakit menjalar dari tulang punggungku, bukan sakit seperti patah tulang. Ini sakit seperti sesuatu yang terlalu besar dipaksa masuk ke tubuh yang terlalu kecil. Tulangku berderak, kulitku terasa terbakar dari dalam dan kuku-ku memanjang hitam, tajam seperti cakar binatang buas, merobek sarung tangan kain yang kupakai. Darah menetes ke tanah, tapi segera menguap menjadi asap hitam tipis.

Aku ingin berteriak, tapi suaraku sudah bukan suaraku lagi.

"Selena, kendalikan dirimu!" Elder Moon berteriak. Suaranya gemetar, tongkat kayunya bergetar di tanah. "Ini melanggar hukum alam! Bunuh dia sebelum ,,, sebelum terlambat!"

Sebelum apa?

Sebelum aku jadi monster?

Terlambat, tua bangka. Kalian sendiri yang menciptakan monster ini dengan menolakku selama 21 tahun. Kalian yang menyebutku cacat dan yang membuatku percaya aku tidak berharga.

Aku mengangkat kepala perlahan. Rambut basahku menempel di wajah, tapi aku tidak merasakannya. Mataku bukan lagi coklat. Sekarang irisnya hitam pekat, dengan pupil vertikal seperti mata predator. Saat aku menatap Kade, aku melihat pantulanku di matanya, dan dia mundur setengah langkah. Sekecil itu, tapi aku melihatnya.

"Lihat ini, Alpha," gumamku. Suaraku ganda, satu suaraku dan satu lagi suara rendah yang bukan manusia, bergema di udara seperti guntur. "Ini mate lemah yang kau tolak di depan seluruh pack. Ini Selena yang kau bilang memalukan."

Udara di sekitarku mendadak berat. Tekanan yang membuat semua orang di lapangan upacara berlutut tanpa sengaja, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan bahu mereka. Kekuatan mentah, kuno, dan kejam menyembur keluar dari tubuhku. Ini bukan kekuatan serigala Bloodmoon. Ini sesuatu yang lebih tua dari Bloodmoon itu sendiri. Lebih tua dari sumpah mereka, lebih tua dari hutan ini.

Kade menggeram, suaranya rendah dan terancam. Dia mencoba melawan tekanannya. Sebagai seorang Alpha, dia seharusnya kebal terhadap dominasi lain. Tapi malam ini, dia bukan Alpha di sini. Aku yang memegang kendali.

"Berlutut," kataku pelan, tapi kata itu jatuh seperti perintah raja.

Otot lehernya menegang. Rahangnya mengatup sampai terdengar suara geraman tertahan. Aku tahu Kade menolak. "Bagus. Aku suka yang keras kepala. Lebih puas kalau dia hancur dengan tangannya sendiri."

Tanah di bawah kakinya retak lebih dalam. Batu-batu kecil terangkat dan melayang sejenak sebelum hancur menjadi debu. Kade akhirnya berlutut dengan satu lutut. Matanya penuh amarah dan penghinaan pada dirinya sendiri karena dipaksa. Harga dirinya berdarah.

"Berani sekali kau," desisnya, suaranya penuh kebencian.

Aku tersenyum. Pertama kalinya malam ini aku tersenyum. Dan itu bukan senyum manusia. Itu senyum sesuatu yang sudah lama menunggu untuk bebas.

"Aku belum mulai berani, Alpha."

Angin menderu lebih kencang, merobek spanduk Bloodmoon yang tergantung di tiang. Dan aku merasakan sesuatu berubah di dalam dadaku. Ikatan mate yang patah tadi? Sisanya terbakar habis. Panas itu menjalar sampai ke ujung jari, lalu padam, meninggalkan ruang kosong yang dingin tapi lega. Sekarang tidak ada lagi yang mengikatku pada Kade Blackwood. Aku bebas.

"Selena!"

Suara itu, suara ayahku dari pinggir kerumunan. Suaranya pecah, penuh putus asa dan ketakutan yang berbeda. "Cukup! Hentikan ini! Mereka akan membunuhmu!"

Aku menoleh pada ayah. Pria yang malu mengakui aku sebagai anaknya selama 21 tahun. Pria yang menundukkan kepala setiap kali orang bertanya kenapa aku tidak bisa shift. Sekarang dia menangis memintaku berhenti, tapi itu sudah terlambat. Terlambat seribu kali.

Aku berdiri. Kaki yang tadi lemas sekarang kokoh, ditopang oleh kekuatan yang bukan milikku, tapi memilihku. Kekuatan itu menopangku, dan saat aku berdiri penuh, sesuatu terjadi.

Bayangan hitam besar merayap keluar dari punggungku, bukan ilusi dan juga bukan trik cahaya. Itu nyata dan itu serigala, bukan serigala biasa. Tubuhnya sebesar kuda perang, bulunya hitam pekat seperti malam tanpa bintang, mata merah menyala seperti bara api. Dan dari punggungnya, keluar duri tulang seperti mahkota, memanjang ke belakang dengan anggun dan mematikan.

Seluruh lapangan terdiam. Bahkan hujan terdengar berhenti sejenak untuk mendengarkan.

"Impossible," bisik Elder Moon. Suaranya hampir tidak terdengar, tenggelam oleh napas tertahan ratusan orang. "Itu ,,, itu bukan serigala. Itu ,,,"

"Wraithwolf," jawab suara di kepalaku, kali ini dengan nada bangga. "Spesies yang punah 500 tahun lalu. Diburu sampai habis karena mereka tidak bisa dikendalikan. Dan kau adalah yang terakhir, Selena."

Wraithwolf.

Jadi itu alasannya aku nggak bisa shift karena aku bukan serigala biasa. Aku bukan bagian dari Bloodmoon Pack. Aku adalah sesuatu yang mereka semua takutkan, sesuatu yang mereka hapus dari sejarah mereka.

Serigala hitam itu menundukkan kepalanya padaku. Mengakui dan patuh. Nafasnya panas di punggungku. Sementara serigala-serigala Bloodmoon menggigil dan bersujud, perut mereka menempel ke tanah basah. Naluri mereka tahu siapa yang seharusnya berlutut.

Kade menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia, dia terlihat takut. Bukan marah, tapi takut.

"Keluar," kataku tenang. Suaraku tidak lagi bergetar. "Keluar dari hadapanku sebelum aku mengubah pikiranku dan membunuhmu di sini. Di tanah upacara yang kau kotori dengan penghinaanmu."

Dia mengepalkan tangan ingin menyerang. Aku bisa lihat itu dari cara otot lengannya menegang, tapi naluri predatornya berteriak lebih keras, "lari, sekarang. Dia akan mengakhirimu."

Kade mengangkat dagu. Harga dirinya tidak mengizinkannya kabur di depan semua orang. Jadi dia memilih mundur perlahan, menyeret Lyra yang masih gemetar bersamanya. Lyra tidak melawan. Dia bahkan tidak berani menatapku.

"Ini belum selesai, Selena," katanya sebelum berbalik. Suaranya rendah, mengancam. "Kau mengkhianati pack. Kau akan diburu."

Aku tertawa. Suara itu dalam, bergema, membuat beberapa serigala muntah di tempat mereka bersujud.

"Pack?" Aku menunjuk ke tanah di bawah kakiku, ke lumpur, ke darah, ke retakan yang kutinggalkan. "Ini bukan packku. Kalian yang mengkhianatiku pertama. Sejak hari aku lahir dan kalian menyadari aku berbeda. Dan sekarang giliranku."

Aku berbalik. Meninggalkan lapangan upacara, meninggalkan Bloodmoon Pack, meninggalkan Selena Mooncrest yang lemah, yang menangis diam-diam di sudut kamar setiap malam.

Wraithwolf di belakangku mengikuti, langkahnya berat dan pasti, membuat tanah bergetar setiap kali cakarnya menyentuh tanah. Hutan menyambutku.

Gelap, dingin dan sangat berbahaya, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa pulang. Di sini tidak ada yang menuntutku jadi kecil.

"Kemana kita pergi, Luna kecil?" tanya suara itu, kali ini terdengar hampir lembut.

Aku menatap bulan, masih merah dan masih marah, seolah langit sendiri menolak apa yang terjadi malam ini.

"Jauh," kataku. Suaraku tenang, tapi ada baja di dalamnya. "Sejauh mungkin dari mereka. Dan suatu hari ,,, kita kembali. Bukan sebagai Selena yang ditolak, tapi sebagai malam yang akan menelan mereka semua."

Hujan semakin deras, membasuh lumpur dan darah dari wajahku. Dan di kegelapan hutan, raungan kedua terdengar. Kali ini, bukan raungan kesakitan, bukan raungan kemarahan.

Tapi raungan kelahiran.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel