4. Rivalitas Akademik
Musim kompetisi akademik selalu membawa suasana berbeda di SMA Tunas Bangsa. Poster-poster lomba ditempel di papan pengumuman, guru-guru mondar-mandir membawa map tebal, dan para siswa berprestasi mulai dipanggil satu per satu untuk seleksi. Aula sekolah dipenuhi suara diskusi, perdebatan, dan kadang-kadang ada ambisi yang terlalu besar.
Caroline berdiri di depan papan pengumuman tim debat, membaca daftar kandidat dengan wajah tenang. Namanya tercantum paling atas, seperti yang sudah diduganya.
“Sudah pasti kamu masuk,” ujar Marsha di sampingnya.
Caroline mengangguk. “Semoga.”
Namun senyumnya menghilang ketika matanya turun ke baris berikutnya, Jeremy Sinclair.
“Apa?” Caroline mendekatkan wajahnya ke papan, memastikan dia tidak salah baca. “Ini bercanda, kan?”
“Jeremy?” Eve ikut membaca. “Serius? Bukannya dia anti kegiatan kayak gini?”
Caroline menutup mata sejenak. Kenapa lagi kamu, Jeremy?
Bel istirahat berbunyi, dan seolah dipanggil oleh pikirannya sendiri, Jeremy muncul dari ujung koridor dengan tangan di saku dan ekspresi santai yang menyebalkan.
“Kamu daftar tim debat?” Caroline langsung menghampirinya tanpa basa-basi.
Jeremy berhenti melangkah. “Pagi juga, buat kamu.”
“Jangan belokkan topik!” Caroline menatapnya tajam. “Kamu ikut cuma buat ganggu aku, kan?”
Jeremy terkekeh kecil. “Percaya diri banget kamu.”
“Jawab!”
Jeremy mengangkat bahu. “Aku ikut karena aku pintar. Kamu saja yang nggak sadar.”
Caroline terdiam sejenak, lalu mendengus frustasi. “Kamu itu pintar, iya. Tapi kamu nggak pernah serius.”
“Siapa bilang?” Jeremy menyipitkan mata. “Atau kamu takut disaingi?”
“Aku nggak takut apapun,” balas Caroline cepat. “Aku cuma capek kamu selalu muncul di waktu yang salah.”
Jeremy mendekat sedikit. “Atau mungkin di waktu yang tepat?”
“Jeremy!”
“Tenang,” potongnya sambil tersenyum santai. “Ini cuma debat. Kata-kata. Kamu jago itu.”
Caroline menatap Jeremy lama. Ada sesuatu dibalik sikap santainya. Sesuatu yang gadis itu tidak mengerti, dan justru membuatnya semakin kesal.
Sesi latihan pertama berlangsung di ruang multimedia. Meja disusun melingkar, papan tulis penuh dengan topik debat, dan suasana tegang terasa sejak awal.
Pak Arman, pembina tim debat, membuka pertemuan. “Kalian dipilih karena kemampuan kalian. Tapi kemampuan saja tidak cukup. Kalian harus bekerja sebagai tim.”
Caroline duduk tegak, membuka buku catatan dengan rapi. Di seberangnya, Jeremy menyandarkan tubuhnya di kursinya sedikit ke belakang, tangannya terlipat di dada. Benar-benar tak peduli dan terkesan cuek.
“Topik simulasi hari ini, adalah kebijakan pendidikan berbasis teknologi,” lanjut Pak Arman,
Caroline langsung mengangkat tangan. “Pendekatan yang paling kuat adalah dampak jangka panjang terhadap kesetaraan akses.”
“Setuju,” sahut salah satu anggota tim.
Namun Jeremy ikut angkat bicara. “Tapi itu terlalu idealis. Realitanya, teknologi justru memperlebar jurang.”
Caroline menoleh cepat. “Kalau datanya dipilih dengan benar, justru sebaliknya.”
Jeremy menyeringai. “Data bisa dipilih. Realita nggak.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Jeremy!” Caroline menahan nada suaranya. “Argumen kamu terlalu impulsif.”
“Dan argumen kamu terlalu teoritis,” balas Jeremy cepat.
Beberapa anggota tim saling pandang, bingung harus memihak siapa.
Pak Arman mengangkat tangan. “Oke. Kalian berdua benar. Tapi cara penyampaiannya …”
“Kalau Jeremy mau realistis,” Caroline menyela tanpa sadar. “Dia harus berhenti memotong pembicaraan, dan lebih menghargai lawan bicara!”
Jeremy tertawa pendek. “Kalau Caroline mau menang, dia harus berhenti pengin terus terlihat sempurna.”
Caroline menoleh tajam. “Kesempurnaan itu hasil dari kerja keras, bukan sebuah kelemahan.”
“Dan kerja keras tanpa fleksibilitas itu buntu,” balas Jeremy.
Latihan berakhir dengan suasana yang tidak nyaman. Tim lain keluar dengan wajah lelah, sementara Caroline membereskan buku catatannya dengan gerakan kaku.
“Kenapa kamu selalu harus berlawanan sama aku?” desisnya saat hanya mereka berdua yang tersisa.
Jeremy berdiri. “Karena kamu selalu mau paling benar.”
“Aku mau yang terbaik.”
“Versi kamu,” jawab Jeremy. “Tapi tidak bagi orang lain. Hargai dong pendapat aku,” ujar Jeremy pura-pura kesal.
Caroline menatap pria itu dengan sinis. Dia tahu benar jika Jeremy sedang mempermainkannya.
“Terserah!” sahut Caroline lalu berlalu dari tempat itu.
Hari-hari berikutnya dipenuhi latihan intens. Rivalitas Caroline dan Jeremy semakin terasa. Setiap simulasi debat berubah menjadi duel personal. Setiap strategi yang diusulkan Jeremy dikritik Caroline, dan setiap struktur rapi Caroline dianggap Jeremy terlalu kaku.
“Kalau kamu terus nyerang dari emosi, kita bisa kehilangan fokus,” ucap Caroline suatu sore.
“Dan kalau kamu terus baca catatan kayak robot, lawan bisa baca strategi kita,” tutur Jeremy membalas.
“Ini lomba debat, bukan stand-up comedy!”
“Dan debat itu bukan presentasi PowerPoint!”
Anggota tim lain mulai terdiam setiap kali dua nama itu saling bersuara. Bahkan Pak Arman beberapa kali menghela napas panjang.
Namun di balik semua pertentangan itu, Jeremy selalu pulang paling akhir. Dia membaca ulang materi, menonton video debat, dan mencatat argumen-argumen Caroline. Bukan untuk menjatuhkannya, tapi untuk menyamai levelnya.
“Kalau aku mau Caroline lihat kemampuanku, aku harus berdiri sejajar dengannya,” pikir Jeremy suatu malam.
Sehari sebelum lomba, latihan terakhir diadakan lebih lama dari biasanya. Semua sudah lelah. Emosi menipis.
Jeremy menyandarkan punggung ke dinding. “Caroline, kamu terlalu perfeksionis.”
Kalimat itu meluncur tanpa nada bercanda.
Caroline membeku. “Apa?”
“Kamu mau semuanya sesuai rencana kamu,” lanjut Jeremy. “Padahal debat itu dinamis.”
“Aku nggak mau kita kalah karena kamu asal ngomong,” balas Caroline dingin.
“Asal ngomong?” Jeremy menatapnya tajam. “Aku juga mikir, Caroline. Cuma caraku beda.”
“Caramu selalu merusak segalanya!” Suara Caroline meninggi. “Kamu masuk tim ini tanpa komitmen, tanpa persiapan dari awal, lalu sok menantang!”
Ruangan itu hening.
Jeremy terdiam. Wajahnya tak lagi menyimpan senyum.
“Aku latihan tiap malam,” katanya pelan. “Aku baca semua materi kamu.”
Caroline terkejut, tapi amarahnya sudah terlanjur meluap. “Kalau begitu, kenapa kamu nggak pernah serius dari awal?”
Jeremy menatap gadis itu lama. Ada luka di matanya, dalam dan sunyi.
“Karena dari awal, kamu nggak pernah anggap aku serius.”ucapnya lirih,
Caroline membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.
Pak Arman berdiri. “Cukup. Kalian semua pulang. Kita lanjut besok.”
Jeremy mengambil tasnya tanpa menoleh lagi. Dia berjalan keluar dengan langkah tenang, tapi dadanya bergejolak.
Caroline duduk sendirian setelah semua orang pergi. Kata-katanya sendiri terngiang di kepalanya.
“Selalu merusak segalanya.”
Caroline menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ada rasa tidak nyaman yang menggerogoti dadanya.
Dia teringat tatapan Jeremy bukan marah, atau menantang. Tapi terluka.
Di luar gedung, Jeremy berhenti sejenak. Dia menatap langit malam yang mulai gelap.
“Aku cuma mau kamu lihat aku,” gumamnya pelan. “Bukan sebagai sebuah gangguan.”
Tangannya mengepal, lalu mengendur.
Besok mereka akan bertanding bersama. Berdiri di satu tim. Dengan luka yang belum sembuh.
Dan Caroline, tanpa menyadarinya, gadis itu baru saja melukai orang yang paling keras berusaha untuk menyamainya.
Rivalitas itu tidak lagi sekadar akademik.
Tapi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.
