3. Salah Paham Pertama
Pagi di SMA Tunas Bangsa selalu dimulai dengan keramaian yang sama. Suara langkah kaki memenuhi koridor, diselingi tawa, teriakan kecil, dan suara loker yang dibuka tergesa. Matahari menembus jendela panjang di lantai dua, memantulkan cahaya hangat di lantai keramik.
Caroline berjalan menuju kelas dengan langkah cepat. Dia terlihat sedang membawa buku tebal di dada, matanya fokus ke depan. Semalam, pikirannya masih dipenuhi oleh dua sosok pria yang terus bergantian muncul. Dafa dengan ketenangannya dan Jeremy dengan segala kekacauannya.
“Kenapa harus dia lagi yang muncul pagi ini?” batinnya kesal.
Saat mendekati tangga utama, Caroline melihat Jeremy berdiri di sana bersama tiga teman cowoknya, Aldo, Jason, dan David. Mereka tertawa keras, membicarakan sesuatu yang Caroline tidak pedulikan hingga gadis itu mendengar namanya disebut.
Aldo mencondongkan badan ke Jeremy dan berbisik, tapi cukup keras untuk terdengar jelas,
“Tuh, lihat calon pacarnya si Jeremy lewat. Caroline Shania, si gadis impian!”
Langkah Caroline langsung terhenti.
Dadanya seketika menegang, napasnya tertahan. Kalimat itu seperti tamparan keras baginya. Beberapa siswa lain yang lewat ikut menoleh, lalu tersenyum penuh arti. Rasa panas menjalar ke wajah Caroline bukan karena malu, tapi karena marah. Dia sangat membenci Jeremy yang selalu usil kepadanya.
“Jadi ini kelakuanmu, Sinclair?” ujarnya tajam.
Tanpa ragu, Caroline berbalik arah dan menghampiri Jeremy dengan langkah cepat. Suara sepatunya terdengar keras di lantai, membuat semua yang ada di sana menoleh.
“Kamu ngomong apa ke teman-temanmu?” bentaknya kasar dengan wajah yang sangat cemberut.
Jeremy terkejut setengah mati. Dia baru saja tertawa bersama para sahabatnya, kini senyumnya lenyap seketika.
“Hah? Aku?” tanyanya bingung. Dia melirik ke arah Aldo, David, dan Jason yang langsung saling pandang.
Aldo segera berdeham. “Eh Jer, kita ke kelas dulu, ya.”
“Iya nih, bel tanda masuk, sudah berbunyi” sambung David cepat.
“Kami cabut dulu, Bro!” ucap Jason sambil menarik tangan Aldo dan David untuk segera menyingkir dari sana.
Sepertinya teman-temannya tahu jika Caroline sedang mengamuk kepada Jeremy dan mereka tidak mau ikut-ikutan dimarahi olehnya.
Tanpa menunggu jawaban, ketiganya langsung bubar, meninggalkan Jeremy dan Caroline yang berdiri saling berhadapan di dekat tangga.
Jeremy mengangkat kedua tangannya defensif. “Caroline, serius, aku nggak ngomong apa-apa lho.”
“Jangan bohong!” Caroline mendengus marah. “Aku dengar sendiri tadi!”
Jeremy mengerutkan kening. “Dengar apa?”
“Calon pacarnya Jeremy!” Caroline hampir berteriak. “Kamu pikir aku mau jadi bahan gosip sekolah?”
Beberapa siswa yang lewat melirik dengan penasaran. Jeremy menoleh sebentar, lalu menarik Caroline sedikit menjauh dari jalur orang lewat.
“Tunggu dulu,” katanya pelan. “Aku beneran nggak ngerti ini dari mana asalnya omongan itu.”
Caroline menepis tangannya. “Jangan sentuh aku, Sinclair!”
Jeremy menarik napas panjang. “Aku cuma bilang ke mereka kalau kamu itu menarik.”
“Menarik?” Suara Caroline meninggi. “Kamu sadar nggak sih omongan kamu bisa ke mana aja arahnya?”
Jeremy terdiam, matanya melebar. “Aku nggak mikir mereka bakal mikir yang lain.”
“Itu masalahnya!” potong Caroline tajam. “Kamu nggak pernah mikir!”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Caroline sadari.
Jeremy menelan ludah. “Aku nggak bermaksud bikin gosip.”
“Bukan bermaksud, tapi tetap terjadi!” Caroline mengepalkan tangannya. “Kamu tahu reputasi aku? Aku capek harus jaga image sementara kamu seenaknya ngomong sembarangan!”
Jeremy merasakan dadanya sesak. Dia ingin membela diri, tapi kata-kata Caroline membuatnya ragu.
“Caroline,” Suaranya lebih lembut. “Aku nggak pernah mau kamu dipermalukan.”
“Lalu kenapa aku harus selalu kena imbas karena ulah kamu?” Mata Caroline mulai berkaca-kaca. “Kenapa hidup aku selalu ribet gara-gara kamu, Jeremy?”
Jeremy terdiam. Dia tidak pernah melihat Caroline sesedih ini.
Saat gadis itu berbalik hendak pergi, Jeremy refleks menahan lengannya.
“Caroline, tunggu.”
Sentuhan itu membuat Caroline membeku sesaat. Tangannya hangat dan terlalu dekat.
Namun detik berikutnya, Caroline menarik tangannya dengan kasar. “Jangan pegang aku!”
Jeremy terhenyak. “Aku cuma mau jelasin.”
“Jelasin ke siapa?” Caroline menatapnya tajam. “Semua orang sudah keburu mikir yang aneh-aneh.”
“Bukan salahku kalau mereka salah paham,” Jeremy membalas, tanpa sadar nadanya meninggi.
Caroline tertawa pendek, getir. “Kamu selalu ada alasan, ya?”
Bibir Jeremy terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.
“Simpan komentar kamu buat diri sendiri,” lanjut Caroline dingin. “Aku capek.”
Gadis itu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Bahunya sedikit bergetar. Jeremy tahu Caroline sedang menahan tangis dan itu membuat dadanya terasa diremas kuat.
“Caroline,” panggil Jeremy pelan.
Namun gadis itu tidak menoleh.
Jeremy berdiri terpaku di dekat tangga. Suara bel masuk kelas masih berbunyi nyaring, tapi dia tidak bergerak. Matanya tertuju pada tangannya sendiri. Tangan yang tadi sempat menahan lengan Caroline.
Kenapa aku lakuin itu? batinnya.
Ada rasa asing menjalar di dadanya. Perasaan bersalah. Takut. Dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak diketahuinya.
“Jer?” Suara Aldo terdengar dari kejauhan. “Lo nggak masuk kelas?”
Jeremy menggeleng pelan. “Nanti.”
David ikut mendekat. “Bro, soal tadi, kita cuma bercanda.”
“Bercanda kalian kebangetan,” balas Jeremy dingin.
Jason pun terdiam. “Lo beneran suka sama dia, ya?”
Jeremy menatap lantai. “Gue nggak tahu.”
Dan itu jawaban paling jujur yang bisa dia berikan saat ini.
Di kelas, Caroline duduk di bangkunya dengan pandangan kosong ke papan tulis. Guru menjelaskan materi, tapi suaranya terasa jauh. Kata-kata Jeremy terus terngiang di kepalanya.
“Menarik.”
Dia memejamkan mata sebentar.
“Kenapa kamu peduli dengannya?” Caroline memarahi dirinya sendiri. “Dia cuma pengganggu!”
Namun hatinya tidak sepenuhnya setuju.
Marsha mencondongkan badan. “Caroline, kamu kenapa? Tadi di koridor rame banget.”
Caroline menggeleng. “Nggak apa-apa.”
“Tapi kamu kelihatan mau nangis,” celetuk Eve.
Caroline menghela napas pelan. “Aku cuma capek.”
Jam istirahat, Caroline memilih ke perpustakaan. Dia butuh ketenangan. Namun bahkan di sana, pikirannya masih penuh.
Dia tidak tahu kenapa gosip itu begitu menyakitkan baginya. Bukankah Caroline tidak peduli pada Jeremy?
Atau dia ternyata peduli lebih dari yang dirinya akui?
Sore hari, Jeremy duduk sendirian di tribun lapangan basket. Biasanya tempat ini penuh tawa, tapi hari itu terasa sunyi.
Dia memandangi langit yang mulai memerah.
“Gue cuma bilang Lo menarik,” gumamnya lirih. “Kenapa rasanya jadi masalah besar?”
Jeremy menyadari satu hal yang selama ini dihindarinya Caroline bukan sekadar target usilannya. Tapi gadis itu sangat penting baginya.
Dan salah paham hari ini adalah retakan pertama bagi keduanya.
Retakan kecil yang bisa menjadi jurang jika dibiarkan.
Di ujung hari yang sama, Caroline berdiri di depan cermin kamarnya. Matanya masih sedikit merah.
“Kenapa sih kamu bikin aku ngerasa gini?” gumamnya pelan, entah ditujukan pada Jeremy atau dirinya sendiri.
Di dua tempat berbeda, dua orang sedang terluka oleh satu kesalahpahaman yang sama dan belum tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Dan ini, baru salah paham pertama.
