Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Perpisahan Penuh Kebencian

Hari kelulusan SMA Tunas Bangsa tiba dengan langit yang cerah, seolah alam pun ikut merayakan akhir sebuah perjalanan panjang. Aula sekolah dipenuhi bunga, pita warna emas, dan deretan kursi yang tertata rapi. Spanduk besar bertuliskan, Selamat dan Sukses Atas Kelulusan, membentang di atas panggung.

Senyum, tawa, dan tangis haru bercampur menjadi satu.

Namun tidak bagi Caroline Shania.

Gadis itu berdiri tegak di barisan depan bersama para siswa berprestasi lainnya, mengenakan toga kelulusan dengan wajah yang terlalu tenang untuk hari sebesar ini. Tangannya menggenggam topi wisuda erat-erat, seolah hanya itu satu-satunya yang menahannya tetap di tempat.

Di sudut lain aula, Jeremy Sinclair berdiri bersama teman-temannya. Tidak di barisan depan. Tidak pula di belakang. Tepat di tengah tempat yang mencerminkan posisinya selama ini, tidak pernah sepenuhnya terlihat, tapi selalu ada.

Matanya sesekali mencari satu sosok yaitu Caroline.

Namun setiap kali Jeremy menemukannya, pria itu segera mengalihkan pandangan.

“Jangan hari ini,” batinnya. “Jangan rusak hari kelulusannya.”

Upacara dimulai. Kepala sekolah memberikan sambutan panjang tentang prestasi, kenangan, dan masa depan. Tepuk tangan bergema berkali-kali. Nama-nama siswa dipanggil satu per satu untuk menerima sertifikat.

Dan akhirnya.

“Penerima penghargaan Siswa Terbaik, dengan prestasi akademik dan non akademik luar biasa diberikan kepada Caroline Shania.”

Tepuk tangan langsung meledak memenuhi aula.

Caroline berdiri, langkahnya mantap saat berjalan menuju panggung. Senyumnya sopan, dan terlatih. Senyum yang selalu ditampilkan olehnya selama bertahun-tahun. Kamera-kamera mengarah padanya. Guru-guru berdiri memberikan apresiasi.

Namun saat Caroline berdiri di atas panggung, memegang piala berkilau di tangannya, matanya mencari satu wajah yang tidak ikut bertepuk tangan yaitu Jeremy.

Gadis itu menemukannya.

Jeremy berdiri di kejauhan, tidak bertepuk tangan, apalagi tersenyum. Dia hanya menatap Caroline dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan karena marah, ataupun bangga. Tapi sebuah tatapan kosong.

Dan sebelum Caroline sempat mengalihkan pandangannya, Jeremy berbalik. Dia berjalan keluar aula.

Langkahnya tenang, tapi dadanya berisik.

“Selamat,” ucapnya dalam hati. “Kamu pantas dapat semuanya.”

Caroline menuruni panggung dengan perasaan aneh yang mengganjal dadanya. Tepuk tangan masih menggema, tapi terasa jauh. Gadis itu duduk kembali, memegang piala itu tanpa rasa bangga yang seharusnya.

“Kenapa Jeremy pergi?”

“Kok aku malah peduli dengannya?”

Acara berlanjut. Foto bersama, pelukan perpisahan dan tangisan bahagia. Namun Caroline merasa terpisah dari semua itu.

Setelah acara selesai, aula mulai sepi. Para siswa keluar satu per satu, mencari keluarga mereka. Caroline menyerahkan pialanya pada ibunya, lalu berkata pelan, “Mommy, aku mau ke belakang sebentar.”

Ibunya mengangguk, meski terlihat heran.

Caroline berjalan menyusuri koridor belakang sekolah, tempat yang jarang dilewati orang. Dindingnya dipenuhi papan pengumuman lama, lantainya sedikit berdebu. Tempat itu selalu sunyi.

Gadis itu bersandar di dinding dan menarik napas panjang.

“Ini seharusnya hari bahagia,” pikirnya. “Tapi kenapa rasanya kosong?”

Suara langkah kaki terdengar. Caroline menegakkan tubuhnya.

Jeremy muncul dari ujung koridor.

Mereka berhenti hampir bersamaan.

Seketika suasana menjadi sunyi.

Hanya suara angin dan gema langkah yang tersisa. Jeremy memasukkan tangannya ke saku jas kelulusan. “Aku kira kamu masih di aula.”

“Aku juga,” jawab Caroline singkat.

Tatapan mereka bertemu dingin, penuh lapisan emosi yang tak terucap. Bertahun-tahun kenangan, pertengkaran, tawa, dan luka berdiri di antara mereka.

“Aku cuma mau bilang …” Jeremy menghela napas kecil. “Jaga dirimu.”

Caroline terkekeh pendek, tanpa senyum. “Itu saja?”

Jeremy mengangguk. “Itu saja.”

Caroline mengangkat alis. “Terima kasih atas semua kekacauan yang kamu buat selama ini.”

Jeremy menegang, tapi wajahnya tetap datar. “Sama-sama.”

“Aku nggak akan rindu,” lanjut Caroline tajam. “Kehidupan aku bakal jauh lebih tenang tanpa kamu.”

Jeremy menatap lantai sebentar, lalu kembali menatap Caroline. “Aku yakin itu.”

Ada banyak hal yang ingin Jeremy katakan.

Bahwa dia selalu bangga pada Caroline.

Jika setiap ejekan hanyalah cara bodohnya untuk dekat dengan gadis itu. Karena setiap kali Caroline marah, Jeremy justru merasa diperhatikan.

Dan dia tidak pernah, tidak sekalipun, membencinya.

Namun lidahnya terasa berat. Yang keluar justru kalimat paling salah.

“Semoga kamu nggak bikin orang lain stres setelah ini.”

Caroline menatapnya tajam, seolah baru saja ditampar. “Kamu pikir aku sumber masalah?”

Jeremy tersenyum tipis, senyum pertahanan. “Bukannya kamu selalu bilang aku yang bikin hidup kamu ribet?”

“Itu karena kamu memang begitu,” balas Caroline cepat.

Jeremy mengangguk pelan. “Mungkin.”

Caroline mengepalkan tangannya. “Aku harap kita nggak ketemu lagi seumur hidup!”

Kalimat itu meluncur dingin, tanpa ragu.

Jeremy merasakan dadanya seperti diremas. Namun dia tidak menunjukkan apa pun.

Jeremy tersenyum tipis. “Iya. Semoga.”

Mereka masih berdiri beberapa detik, saling menatap, layaknya dua orang yang terlalu keras kepala untuk mengakui apa pun.

Kemudian Caroline berbalik lebih dulu.

Jeremy menyusul beberapa langkah kemudian. Mereka berjalan ke arah berlawanan. Tidak ada yang menoleh.

Di luar gerbang sekolah, Caroline berhenti sejenak. Dia menatap bangunan SMA Tunas Bangsa tempat dirinya menghabiskan masa remajanya, tempat Caroline bertemu Jeremy untuk pertama kali.

Dadanya terasa sesak.

“Kenapa rasanya seperti kehilangan?” batinnya.

Gadis itu menggeleng keras, lalu melangkah pergi.

SementaranJeremy berjalan menyusuri trotoar sendirian. Jas kelulusan tergantung longgar di bahunya. Dia berhenti di halte bus, duduk, dan menatap langit sore yang mulai gelap.

“Kamu bodoh, Jeremy!” gumamnya pada diri sendiri.

Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, dan tanpa sadar berhenti di satu foto lama. Sebuah foto tim debat, Caroline berdiri di tengah dengan ekspresi serius.

Jeremy tersenyum miris.

“Aku nggak pernah benci kamu,” katanya lirih pada layar ponsel. “Aku cuma nggak tahu cara bilang jika aku peduli padamu. Dan masih menyimpan cinta sejatiku hanya untukmu, Caroline.” Bus pun datang. Jeremy naik tanpa menoleh lagi ke belakang.

Malam itu, Caroline berdiri di balkon kamarnya, menatap kota dengan gaun kelulusan yang belum digantinya. Piala sebagai Siswa Terbaik, terletak di atas meja, memantulkan cahaya lampu.

Gadis itu seharusnya bahagia. Namun pikirannya kembali pada satu hal, senyum tipis Jeremy saat dia berkata, “Semoga.”

“Kenapa senyum itu terlihat terluka?”

Caroline memeluk lengannya sendiri.

“Dasar menyebalkan,” gumamnya pelan. “Kenapa kamu selalu bikin aku ngerasa begini?”

Air matanya jatuh tanpa dirinya sadari.

Tak ada yang tahu bahwa perpisahan itu akan menghantui mereka bertahun-tahun ke depan. Jika kebencian itu hanyalah perasaan yang salah nama. Dan langkah menjauh hari ini justru akan membawa mereka ke lingkaran takdir yang lebih besar.

Karena ini bukan akhir.

Namun awal dari pertemuan kembali di waktu yang berbeda, dengan luka yang lebih dewasa, dan perasaan yang tak bisa lagi disangkal.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel