Pustaka
Bahasa Indonesia

TERJEBAK ANTARA CINTA DAN OBSESI

19.0K · Baru update
Zemira Fortunatus
16
Bab
20
View
9.0
Rating

Ringkasan

Caroline tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak pernah diinginkan olehnya. Terlebih lagi dengan Jeremy, pria yang telah menjadi musuh bebuyutannya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Bagi Caroline, Jeremy adalah sosok yang selalu berhasil membuat emosinya naik turun. Pertengkaran dan persaingan di antara mereka seolah tidak pernah berakhir. Namun, semua itu berubah ketika kedua keluarga memutuskan untuk menjodohkan mereka demi kepentingan bisnis. Berbagai cara dilakukan Caroline untuk membatalkan pernikahan tersebut. Dia bahkan memohon kepada kedua orang tuanya agar memberinya kesempatan memilih jalan hidup sendiri. Sayangnya, keputusan keluarga sudah bulat. Demi menyelamatkan kerja sama bisnis dan masa depan perusahaan, Caroline tidak memiliki pilihan selain menerima pinangan Jeremy. Di tengah keterpurukannya, Caroline justru mengetahui kenyataan pahit tentang Dafa, pria yang selama ini dirinya cintai. Kekasihnya itu ternyata telah berselingkuh di belakangnya. Hatinya hancur, dan Caroline akhirnya menyerah pada keadaan. Dia memilih menikah dengan Jeremy, meski tanpa cinta dan hanya berbekal janji bahwa pernikahan itu tidak lebih dari sebuah kesepakatan bisnis. Namun, pernikahan yang awalnya hanya sebuah transaksi perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka duga. Jeremy yang selama ini Caroline anggap sebagai musuh ternyata memiliki sisi lain yang tak pernah dikenalnya. Di balik sikap dingin dan kerasnya, Jeremy justru menunjukkan ketulusan, kesabaran, dan perhatian yang perlahan membuat dinding di hati Caroline retak. Sayangnya, ketika Caroline mulai mencoba membuka lembaran baru, Dafa kembali hadir dalam hidupnya. Dafa tidak terima kehilangan Caroline. Rasa cinta yang berubah menjadi obsesi membuatnya melakukan berbagai cara untuk merebut Caroline kembali. Dafa mulai mengusik rumah tangga Caroline dan Jeremy, menyebarkan fitnah, memanfaatkan kelemahan Caroline, bahkan menggunakan cara-cara licik untuk menghancurkan hubungan mereka. Caroline pun berada di persimpangan yang sulit. Haruskah dia kembali kepada Dafa, pria yang pernah dicintainya tapi telah mengkhianatinya? Ataukah Caroline berani memberikan kesempatan kepada Jeremy, pria yang dulu dibencinya tapi justru sekarang menjadi satu-satunya orang yang selalu berdiri di sisinya? Ketika obsesi Dafa semakin berbahaya dan rahasia di balik pernikahan bisnis mereka mulai terungkap, Caroline harus menentukan pilihan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Akankah kebencian Caroline kepada Jeremy berubah menjadi cinta yang tak tergantikan? Ataukah masa lalu bersama Dafa kembali menyeretnya ke dalam hubungan yang penuh luka? Dan seberapa jauh Dafa akan melangkah demi mendapatkan kembali Caroline, bahkan jika itu berarti menghancurkan kehidupan wanita yang dicintainya? Penasaran dengan kelanjutan kisah Caroline dan Jeremy? Mari ikuti perjalanan cinta, pengkhianatan, obsesi, dan pernikahan yang perlahan berubah menjadi cinta sejati. Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.

RomansaPresdirBillionaireFlash MarriagePengkhianatanMusuh Jadi CintaPernikahanDewasa

1. Si Jahil Jeremy

Suara bel SMA Tunas Bangsa Jakarta menggema keras, bergulung di sepanjang koridor seperti gema yang memanggil kebebasan singkat di antara jadwal pelajaran yang padat. Para siswa berhamburan keluar dari kelas, beberapa tertawa, beberapa mengeluh soal PR, dan beberapa lainnya sibuk mengobrol tentang rencana pulang. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang gadis berjalan dengan langkah anggun, Caroline Shania.

Caroline melangkah dengan percaya diri. Rambut panjangnya yang hitam lembut bergerak selaras dengan ayunan langkahnya. Wajahnya tetap tenang, meski dia sadar banyak mata mengikuti gerakannya. Caroline dikenal sebagai siswi teladan, pintar, cantik, sopan, dan selalu berada di posisi teratas. Guru-guru menyukainya, siswa menghormatinya atau iri padanya. Namun satu orang justru punya hobi lain yang berkaitan dengan Caroline yaitu Jeremy Sinclair.

Di ujung lorong, di dekat deretan loker biru, Jeremy sudah berdiri menunggu. Seragamnya seperti biasa tidak rapi, kemeja dikeluarkan separuh, dasi menggantung lemas, rambut sedikit berantakan seakan baru bangun tidur padahal sudah siang. Dia menyandarkan punggung ke dinding, satu kaki menekuk, dan kedua tangannya berada di saku celana.

Saat melihat Caroline mendekat, sebuah senyum jahil muncul di bibirnya.

“Pagi, Putri Kesempurnaan,” sapa Jeremy dengan nada berlebihan seperti seorang pangeran yang menyapa bangsawan.

Caroline bahkan tidak menoleh. “Jangan mulai, Sinclair!”

Namun Jeremy, tentu saja, tidak pernah berhenti hanya karena diminta.

“Aduh, kasar banget. Padahal aku sudah latihan semalaman untuk menyambutmu dengan manis.”

Caroline mengabaikannya dan membuka loker. Dia lalu memasukkan buku matematika dan mengambil catatan Bahasa Indonesia. Tapi sebelum gadis itu sempat menutup lokernya, tok tok tok! Jeremy mengetuk bagian dalam pintu loker Caroline dari sisi sebelahnya, membuat gadis itu terlonjak.

“Jeremy!” seru Caroline kesal.

Jeremy tertawa lepas. “Jantungmu masih aman? Jangan sampai aku harus memanggil anak UKS karena kamu shock gara-gara tampangku yang terlalu mempesona.”

“Sinclair, pergi nggak! Sebelum aku lempar kamus ini ke kepala kamu!” ancam Caroline sambil memijit pelipisnya.

Jeremy pura-pura mengangkat tangan menunjukkan sikap menyerah. “Oke, oke. Aku cuma mau memastikan kamu nggak pingsan gara-gara lihat aku.”

Caroline memutar bola matanya. “Percaya diri sekali ya, Anda?”

“Itu bakat alami,” jawab Jeremy sambil berkedip nakal.

Caroline menutup lokernya dengan keras lalu berusaha pergi. Namun langkahnya terhenti ketika Jeremy kembali berjalan sejajar dengannya.

“Ngapain kamu ngikut?” tanya Caroline ketus.

“Siapa bilang ngikut? Kita kebetulan satu arah,” jawab Jeremy dengan gaya santai.

“Kelas kamu ke arah kanan, ini ke kiri.”

Jeremy terdiam sepersekian detik lalu berkata, “Aku mau ke kafetaria dulu.”

“Kamu punya pelajaran fisika lima menit lagi.”

“Tahu banget jadwalku. Kamu nguntit aku ya?” pancing Jeremy, mencoba mencairkan suasana.

Caroline menatapnya tajam. “Sinclair, pergi sana!”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Jeremy benar-benar berhenti mengikutinya. Dia memperhatikan punggung Caroline menjauh, langkahnya tegas dan penuh keyakinan. Tapi ekspresi Jeremy berubah senyumnya memudar, tatapannya menjadi lembut.

“Aku cuma pengin kamu lihat aku sedikit lebih lama, Caroline,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Istirahat pertama tiba. Suasana kafetaria ramai. Caroline memilih duduk di meja pojok sambil membuka bekal yang disiapkannya sendiri. Dia bukan tipe siswa yang suka belanja makanan kafetaria setiap hari. Caroline lebih suka ketenangan sambil membaca buku.

Namun ketenangan tidak bertahan lama.

“Boleh duduk, Nona Caroline?” Suara yang sangat dirinya kenal itu muncul lagi.

Caroline menatap Jeremy yang sudah membawa nampan berisi burger dan minuman soda.

“Tidak boleh!”

“Terlambat,” ucap Jeremy sembari duduk tanpa menunggu izin.

Caroline menghela napas dengan kasar. “Kenapa sih kamu selalu menggangguku?”

Jeremy pura-pura berpikir keras. “Hmm … mungkin karena kamu terlalu menarik?”

Caroline menahan dorongan untuk melempar sendok ke wajahnya. “Kamu itu musuh abadi aku, bukan pengagummu!”

“Kamu mengagumiku, ya?” Jeremy mengangkat alis. “Kalau aku bilang iya, apakah kamu senang?”

“Tidak!” jawab Caroline cepat.

Jeremy tersenyum miring. “Berarti kamu udah mikir ke arah situ?”

Caroline terdiam tiga detik. “Aku akan pindah meja.”

Namun Jeremy mencegahnya dengan berkata, “Tunggu dulu. Aku cuma mau tanya sesuatu.”

Caroline menatapnya dengan hati-hati. “Apa lagi?”

Jeremy mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Kenapa kamu selalu belajar terus? Kamu nggak capek?”

Pertanyaan itu membuat Caroline terkejut sejenak. Biasanya Jeremy hanya mengusili, bukan bertanya serius.

“Itu karena aku punya tujuan,” jawab Caroline pendek.

“Tujuan?” Jeremy mencondongkan badannya. “Apa?”

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Hey, aku penasaran. Masa sih nggak boleh? Kita kan, teman.”

“Kita bukan teman!” bantah Caroline cepat.

Jeremy menatapnya sesaat, dan sesuatu di matanya terlihat berubah. Entah kecewa atau sekadar tersindir. Tapi dia segera menyembunyikannya dengan senyuman.

“Oke, oke. Kita musuh kalau itu bikin kamu senang.”

Caroline membuka mulut ingin menjawab, tapi kata-kata itu terasa aneh terdengar. Dia lalu memperhatikan Jeremy dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda hari itu, tatapan Jeremy terlihat sedikit terlihat sedih.

Namun Caroline menepis pikiran itu. Jeremy Sinclair tentu tidak punya sisi lembut.

Atau apakah dia salah menilai selama ini?

Usai jam sekolah, Caroline menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi. Lorong sudah hampir sepi. Dia melangkah santai sambil membuka pesan dari ibunya di ponsel.

Namun tiba-tiba seseorang muncul dari balik pilar.

“Hai lagi!” Jeremy menyapa sambil tersenyum malu-malu.

Caroline terkejut dan spontan memelototinya. “Sinclair! Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu latihan basket setiap pulang sekolah?”

“Aku bolos,” jawab Jeremy singkat.

“Kamu! Apa? Bolos? Kenapa?”

Jeremy menggaruk tengkuknya. “Karena aku mau ngomong sesuatu.”

Caroline merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, meski dia berusaha tidak menunjukkan apa pun. “Ngomong cepat. Aku sibuk.”

Jeremy menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, dia terlihat benar-benar serius.

“Caroline, aku tahu kamu nggak suka aku. Atau mungkin kamu benci aku.”

Jeremy berhenti bicara lalu menatap mata Caroline.

“Aku ganggu kamu tiap hari, karena jujur aku nggak tahu cara lain buat dekat sama kamu.”

Caroline terpaku.

Jeremy melanjutkan. “Aku tahu itu bodoh. Dan aku tahu kamu bakal marah. Tapi aku cuma, suka lihat kamu marah karena itu satu-satunya cara aku bisa dapat perhatianmu.”

Caroline merasakan seluruh tubuhnya merinding. Dia tidak pernah menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulut Jeremy Sinclair.

“Aku nggak minta kamu suka aku balik,” lanjut Jeremy. “Cuma aku mau kamu tahu alasan aku selalu ada di dekatmu.”

Caroline menunduk, tidak tahu harus merespons. “Jeremy, kenapa kamu bilang ini sekarang?”

“Karena aku capek bikin kamu benci aku,” jawab Jeremy jujur.

Rasa canggung tiba-tiba menyelimuti lorong. Caroline menggenggam tali tasnya erat-erat. Dia tidak pernah menyukai Jeremy tapi gadis itu juga tidak pernah membencinya seperti yang selalu dikatakannya. Jeremy memang menyebalkan, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kehadiran anak itu.

“Aku …” Caroline membuka mulut, tapi terhenti ketika dia melihat sesuatu.

Dari kejauhan, dua teman Jeremy dari klub basket memanggilnya.

“Jer! Latihan udah mau mulai! Coach nyariin Lo!”

Jeremy menoleh, lalu kembali menatap Caroline.

“Aku pergi dulu.” Pria itu tersenyum tipis bukan senyum jahil, tapi tulus. “Jangan kabur dari aku besok.”

Caroline menghela napas. “Aku bukan kabur, aku cuma …”

“Terserah kamu mau sebut apa,” sela Jeremy sambil mundur sambil berjalan. “Yang penting, besok aku tetap ingin ketemu kamu.”

Caroline menatap punggung Jeremy yang menjauh, merasa ada sesuatu yang berubah hari itu. Seluruh hari-hari mereka penuh pertengkaran, usil, dan gangguan tapi untuk pertama kalinya, dia melihat sisi yang berbeda. Sisi yang jauh dari kebiasaan menyebalkan Jeremy.

Sisi yang membuat jantungnya sedikit bergetar.

Keesokan paginya, Caroline tiba di sekolah dengan pikiran yang masih berkecamuk. Dia hampir takut menuju loker, membayangkan Jeremy muncul lagi dengan senyum jahil.

Namun yang Caroline lihat ketika tiba membuatnya membeku.

Di pintu lokernya, ditempel secarik kertas kecil berwarna biru dengan tulisan tangan Jeremy.

“Hari ini aku nggak ganggu kamu. Aku mau kamu tenang dulu. Tapi kalau kamu siap ngomong, aku ada di lantai paling atas saat jam istirahat.”

Caroline menyentuh kertas itu perlahan.

Dan untuk pertama kalinya dia tersenyum tipis tanpa sadar.

“Dasar Jeremy,” gumamnya.

Caroline menutup lokernya dan melangkah pergi. Ada sesuatu yang berubah.

Di antara gangguan, pertengkaran, dan ejekan, perlahan muncul sesuatu yang lain.

Sesuatu yang Caroline belum siap akui tapi makin sulit dirinya abaikan.

Sesuatu hal yang mungkin mirip dengan cinta.