Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Dafa, Sang Kakak Kelas

Lapangan basket SMA Tunas Bangsa sore itu dipenuhi sorak sorai. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya ke papan ring yang sudah usang. Suara sepatu beradu dengan lantai, teriakan penonton, dan peluit wasit bercampur menjadi satu kesatuan yang ramai.

Caroline duduk di tribun penonton bersama tiga teman perempuannya, Dian, Marsha, dan Eve. Mereka semua baru saja selesai jam pelajaran dan memilih menonton pertandingan persahabatan antar kelas.

“Caroline, lihat itu,” bisik Dian sambil menyenggol lengan sahabatnya.

“Siapa?” tanya Caroline sambil tetap fokus pada lapangan.

“Itu … Dafa.”

Caroline mengikuti arah tatapan Dian. Seorang kakak kelas berdiri di pinggir lapangan, mengenakan jersey hitam dengan nomor punggung sepuluh. Tubuhnya tinggi, bahunya bidang, rambutnya hitam rapi, dan senyumnya hangat, tenang, dan dewasa.

Dafa.

Nama itu memang hampir selalu terdengar di lorong sekolah. Wakil ketua OSIS. Siswa teladan. Pintar, santun, dan nyaris tidak pernah terlibat masalah.

“Ganteng banget, ya ampun!” Eve menutup mulutnya, matanya berbinar.

“Katanya dia sopan banget. Pernah nolongin adik kelas yang pingsan di upacara,” tambah Marsha.

“Aku dengar dia nggak pernah pacaran,” ujar Dian setengah berbisik.

Caroline memperhatikan Dafa sebentar tidak seperti teman-temannya yang terang-terangan terpukau, melainkan dengan rasa penasaran yang tenang. Ada aura berbeda yang terpancar dari Dafa. Bukan tipe yang berisik atau mencolok, tapi justru membuat orang nyaman hanya dengan kehadirannya.

“Caroline, kamu nggak ada komentar?” tanya Eve.

Caroline mengangkat bahu. “Dafa Kelihatan … baik.”

“Cuma itu?” Dian mendengus.

“Ya. Emang kenapa?” Caroline tersenyum tipis.

Di lapangan, pertandingan hampir usai. Peluit panjang terdengar, disambut tepuk tangan. Para pemain saling menepuk bahu, beberapa tertawa, ada juga yang kelelahan. Dafa berjalan ke arah tribun untuk mengambil tas ranselnya yang disimpan di bawah bangku penonton.

Saat itulah, sesuatu yang tidak Caroline duga terjadi.

Dafa berhenti tepat di depan barisan bangku tempat Caroline duduk.

Dia menoleh dan mata mereka bertemu.

“Caroline Shania, kan?”

Caroline refleks menegakkan punggungnya. “Eh, iya?”

“Wah, benar.” Pria itu tersenyum hangat. “Aku Dafa.”

“Aku tahu kok,” jawab Caroline cepat, lalu langsung menyesal karena terdengar terlalu gugup. “Maksudnya, semua orang tahu.”

Dafa tertawa pelan. “Aku pernah lihat kamu menang lomba debat antar sekolah bulan lalu. Kamu sungguh hebat.”

Caroline terdiam beberapa detik, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Terima kasih, Kak. Aku nggak nyangka Kak Dafa ingat.”

“Aku ingat,” jawab Dafa ringan. “Kamu bicara tenang, tapi tegas. Itu jarang terjadi.”

Di belakang Caroline, Dian dan yang lain nyaris menjerit tertahan.

“Ya Tuhan, dia ngobrol sama Caroline!” bisik Eve histeris.

Caroline berusaha menjaga ekspresi tetap netral, meski dia bisa merasakan pipinya sedikit panas. “Kak Dafa juga hebat. Semua orang ngomongin Kakak di OSIS.”

“Ah, lebay,” Dafa tersenyum sambil mengibaskan tangan. “Teruskan prestasinya, ya. Kamu punya bakat besar.”

“Iya, Kak,” Caroline mengangguk kecil.

Beberapa detik hening tercipta, tapi bukan hening yang canggung tapi lebih seperti hening yang nyaman. Hingga akhirnya Dafa mengambil tasnya.

“Sampai ketemu lagi, Caroline,” katanya sebelum pergi.

“Sampai ketemu, Kak,” jawab Caroline sopan.

Begitu Dafa menjauh, teman-teman Caroline langsung heboh.

“Caroline! Dafa ngomong sama kamu! Ya ampun, senyumnya manis banget! Kalian terlihat cocok deh!”

Caroline terkekeh pelan. “Kalian lebay.”

Namun gadis itu tak bisa memungkiri satu hal ada sesuatu yang berbeda saat Dafa berbicara dengannya. Tenang. Dewasa. Dan tidak berlebihan.

Tidak seperti musuh bebuyutannya, Jeremy Sinclair.

“Wah, wah, wah.”

Suara itu membuat Caroline menegang.

Jeremy Sinclair berdiri beberapa meter dari mereka, tangan disilangkan di dada, wajahnya dipenuhi ekspresi tidak senang yang bahkan tidak bisa disembunyikan olehnya.

“Baru juga aku tinggal sebentar,” katanya sinis, “Udah senyum-senyum aja kamu sama kakak kelas.”

Caroline memelototinya. “Apa urusanmu?”

Jeremy mendekat, lalu dengan santainya berdiri di samping Caroline, seolah posisi itu memang haknya.

“Kak Dafa!” Jeremy menyapa pria itu sambil tersenyum sok ramah. “Hati-hati. Jangan tertipu wajah manis Caroline. Dia galaknya minta ampun!”

“Jeremy!” Caroline hampir berteriak.

Dafa tertawa pelan, terlihat santai. “Oh ya?”

“Banget,” lanjut Jeremy. “Satu sekolah tau itu.”

“Ngaco kamu!” Caroline berdiri. “Kamu tuh, ya!”

“Kalian akrab ya?” potong Dafa, matanya berpindah dari Caroline ke Jeremy dengan ekspresi penasaran.

“Tidak!” Caroline menjawab terlalu cepat. “Sama sekali tidak!”

Jeremy justru tersenyum makin lebar. “Iya, nggak akrab kok. Cuma sering ketemu aja.”

Dafa mengangguk sambil tersenyum kecil. “Menarik.”

Caroline hampir mati berdiri di tempat.

“Baiklah,” Dafa melirik jam tangannya. “Aku harus ke ruang OSIS. Sampai ketemu lagi, Caroline.”

Caroline mengangguk. “Iya, Kak.”

Begitu Dafa pergi, Caroline langsung menoleh ke Jeremy dengan wajah memerah antara malu dan marah.

“Kamu puas?” bentaknya.

Jeremy mengangkat bahu. “Aku cuma jujur kok.”

“Jujur kepalamu!” balas Caroline.

“Kamu kelihatan senang ngobrol sama Dafa!” tukas Jeremy datar.

Caroline terdiam. “Itu bukan urusan kamu.”

Jeremy menatapnya tajam. “Kenapa bukan?”

“Karena kamu bukan siapa-siapa buat aku!”

Kalimat itu meluncur terlalu cepat.

Jeremy terdiam. Senyumnya menghilang seketika.

“Oh,” katanya singkat. “Oke.”

Jeremy pun berbalik pergi tanpa berkata apa pun lagi.

Caroline menatap punggungnya yang menjauh, dadanya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di tenggorokan.

“Caroline, kamu keterlaluan nggak sih sama Jeremy?” tutur Dian.

“Dia yang mulai,” jawab Caroline, meski suaranya tidak seyakinkan yang diharapkannya.

Sore itu, Caroline berjalan pulang dengan pikiran berantakan. Bayangan Dafa yang tenang bercampur dengan ekspresi Jeremy yang dingin.

“Kenapa aku peduli dengan kedua pria itu?” pikirnya kesal.

Di depan gerbang sekolah, langkahnya terhenti saat seseorang berdiri di sana, Jeremy. Musuh bebuyutannya.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Caroline ketus.

Jeremy menatap jalanan. “Nunggu kamu.”

“Buat apa?”

Jeremy menoleh, sorot matanya tidak seperti biasanya, tidak jahil, apalagi usil.

“Aku mau nanya sesuatu. Kenapa kamu kelihatan lebih memberikan senyummu ke Dafa?” tanyanya pelan.

Caroline terkejut. “Itu … karena Dafa sangat sopan.”

“Dan aku nggak?”

“Kamu?” Caroline mendengus. “Kamu ganggu aku tiap hari!”

Jeremy tertawa pelan namun pahit. “Iya. Aku tahu.”

Jeremy terdiam sejenak, lalu berkata, “Dafa memang cocok sama kamu.”

Caroline mengernyit. “Kamu ngomong apa sih?”

Jeremy melangkah mundur. “Nggak apa-apa. Lupakan.”

“Jeremy! Dasar nggak jelas!” ketus Caroline jengkel.

“Tapi jangan salahin aku kalau aku kesel melihatmu berdekatan dengannya,” potong Jeremy cepat. “Aku juga manusia!”

Caroline terdiam. Untuk pertama kalinya, gadis itu melihat Jeremy tidak sebagai pengganggu, tapi sebagai seseorang yang terluka.

“Kamu selalu bikin hidup aku ribet,” katanya pelan.

Jeremy tersenyum tipis. “Kalau bukan aku, siapa lagi yang melakukannya?”

Nada itu bukan sebuah candaan yang terkesan sombong. Tapi rasa cemburu.

Caroline menatapnya lama, jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan.

Dan di antara kehadiran Dafa yang menenangkan dan Jeremy yang selalu ribut dengannya namun sebenarnya tulus. Caroline sadar satu hal,

hatinya sedang ditarik ke dua arah yang sangat berbeda yang membuatnya sangat bingung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel