Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Melayani Suami

"Mama di mana?"

Sayna bisa mendengar suara Ezra dari balik sambungan telepon Melia yang diaktifkan pengeras suaranya.

"Aku di rumah."

Setelah itu panggilan terputus. Sayna sampai menganga melihat panggilan di layar ponsel ibu mertuanya sudah menghilang. Si laki-laki irit segalanya itu sangat menyebalkan sekali. Seenaknya menelepon, seenaknya juga mengakhiri tanpa mendengarkan dulu ibunya menjawab.

"Kita pulang sekarang, ya, Sayna. Ezra sudah menunggu di rumah. Sepertinya dia sudah kesal." Alih-alih marah, Melia malah tertawa geli sambil memasukkan ponsel ke dalam tas mewah miliknya.

Mereka kini sedang berada di rumah kerabat Ezra, rumah bibinya. Melia mengajak Sayna berkunjung ke sana untuk mengenalkannya pada semua keluarga supaya Sayna bisa tahu satu per satu keluarga suaminya, sehingga jika ada apa-apa dia bisa menghubunginya dan itu juga baik untuk hubungan kekeluargaan, katanya.

Sebagai menantu yang ingin terlihat baik, Sayna hanya menuruti ke mana pun ibu mertuanya mengajak. Meski tadi sempat menangis, saat ini Sayna sudah terlihat biasa saja, mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan. Susah payah Sayna meredam semua perasaan dan bayang-bayangan si bajingan itu dari dalam dirinya. Dia harus bangkit, harus bisa melupakan laki-laki itu secepatnya jika ingin hidup tenang. Maka, saat Melia mengajaknya untuk pergi, Sayna tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut. Dia juga butuh pengalihan.

Sampai di rumah, Melia tergesa untuk masuk, sedangkan Sayna mengekorinya dengan heran. Mereka berjalan sangat buru-buru sudah seperti dikejar maling atau bahkan seperti pedagang kaki lima diuber Satpol PP. Entah apa yang membuat langkah Melia demikian.

Dan jawabannya baru Sayna dapatkan saat masuk ke ruang makan, Melia mengusap bahu Ezra dengan lembut sambil mengucapkan kata maaf. Melia salah apa pada anaknya? Sayna terus memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Hingga Ezra menoleh ke belakang, bersitatap dengannya yang langsung salah tingkah.

"Mama lupa, Zra. Maaf, ya." Melia meletakkan tas mewahnya di atas meja makan. Dia mengambilkan minum untuk anaknya, namun Ezra malah menolak dengan halus. Dia tidak haus, katanya. "Tadi mama ajak Sayna keluar sebentar. Cuma sebentar banget, kan kamu nelepon duluan. Padahal tadinya mama mau ajak Sayna belanja. Tapi gak jadi."

Sayna membalas tatap Ezra dengan ragu. Dia tidak tahu kenapa Melia jadi merasa bersalah seperti itu berhadapan dengan anaknya. Keluarga ini sangat baru untuk dia masuki, belum tahu bagaimana kehidupan mereka sebenarnya.

"Kamu sudah lama sampai di rumah?" Melia menarik Sayna yang hanya terdiam di belakang. Ia meminta menantunya untuk duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ezra. Sayna terlihat kebingungan melihat dua orang itu berinteraksi.

"Lumayan. Sudah lebih dari satu jam." Ezra masih terlihat tenang, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Sekali lagi Melia meminta maaf pada Ezra. Sampai saat ini, Sayna hanya terdiam masih tidak mengerti ada apa di antara mereka, dan kenapa Melia bersikap seperti itu pada anaknya?

Pandangan Sayna mengikuti pergerakan Melia. Ibu paruh baya itu beranjak untuk memanggil bu Imu agar menyiapkan makanan untuk makan siang. Sayna ingin berdiri menyusul, siapa tahu bisa membantu. Namun, tangan Ezra malah menahan tangannya untuk tetap berada di tempat.

"Kenapa, Ez?" Sayna kembali di posisinya, memandangi Ezra penasaran.

Laki-laki itu menghela napas sejenak. "Tuan Danu menghubungi saya," katanya, tanpa melirik Sayna sedikit pun.

"Papa bilang apa?" Sekarang Sayna malah penasaran dengan ucapan Ezra, ketimbang niatnya untuk membantu Melia dan bu Imu di dapur.

"Saya salah membawa kamu pulang tanpa bicara dulu sebelumnya." Kepala Ezra mengarah pada Sayna yang termangu. "Maaf."

Sayna menggelengkan kepala. Itu bukan masalah besar, seharusnya Danuarta tidak mengatakan hal macam-macam pada Ezra. Sekarang laki-laki minim ekspresi itu malah terlihat sangat serius, sedikit rasa bersalah terlihat jelas di matanya. Sayna baru sadar, ternyata Ezra juga manusia.

"Gak usah minta maaf, Ez. Gak apa-apa, kok. Aku sudah jelaskan semuanya sama papa. Mungkin papa cuma butuh penjelasan lebih dari kamu."

Kepala laki-laki itu mengangguk samar, lalu beralih memandangi buah dalam wadahnya yang berada di tengah meja. Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Sayna melirik Ezra bingung. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada suaminya. Keadaan mereka saat ini kurang nyaman bagi Sayna. Dia ingin pergi ke dapur saja menyusul Melia dan sekarang Ezra tidak menahannya lagi. Tapi, ibu mertuanya langsung berteriak dari dapur, membuat Sayna terkejut setengah mati.

"Jangan ke sini, Sayna!" Melia mengacungkan telunjuknya, memperingatkan Sayna sudah seperti melarang anak kecil bermain lumpur. "Semuanya sudah siap, tinggal dihidangkan di meja. Kamu jangan ke sini! Gak pa-pa. Mama sama bu Imu bisa melakukannya berdua. Kamu diam saja di sana, temani Ezra, ya."

Membantah pun tidak bisa. Sayna memutar kembali tubuhnya, karena Melia begitu tegas memperingatkan. Ia tidak mau dianggap sebagai menantu penentang, lebih baik kembali lagi duduk di samping Ezra yang masih terlihat tenang.

Ezra melepaskan jas yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Dia juga melepaskan kancing lengan, kemudian menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Dan dasi yang sejak tadi melilit leher, kini ia longgarkan dan perlahan mulai dilepaskan, lalu di taruh di meja. Sayna tidak berkedip menyaksikan betapa tampannya Ezra saat ini. Terlihat lebih dewasa dan berwibawa.

"Ehem!"

Sayna gelagapan mendengar Ezra berdehem. Ezra memang tidak melihat padanya, tapi ia terlihat risih diperhatikan oleh Sayna dari samping. Maka, istrinya langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Mengenyahkan rasa kagum yang semakin sering melihat Ezra, maka semakin besar dirasakannya.

Melia datang bersama dengan bu Imu menyiapkan makanan di atas meja. Bu Imu sudah memasak sejak tadi, hanya saja di rumah tidak ada orang, makanya ia simpan semua makan siang sampai majikannya pulang. Tadi juga sempat menawari Ezra untuk makan siang duluan, tapi putra sulung Melia tersebut lebih memilih untuk menunggu ibu dan istrinya datang.

"Ezra itu gak suka kalau harus menunggu lama, padahal sudah dibuat janji, Sayna. Mama lupa, tadi mama yang maksa dia buat gak kerja terus, Ezra janji akan makan siang di sini. Tapi, kita malah keluyuran," jelas Melia sambil tertawa.

Semua makanan sudah terhidang di atas meja. Sayna mencoba untuk melayani suami dengan baik dan Ezra tidak menolak perlakuannya. Dengan telaten Sayna melayaninya mengambilkan makanan, masih harus dibimbing oleh Melia supaya tidak melakukan kesalahan dan mengerjakan apa yang menjadi kebiasaan suaminya. Di sela-sela makan siang, Melia juga kembali menceritakan sedikit tentang Ezra.

Kini Sayna paham kenapa Melia pulang tergesa. Dia pasti tidak ingin anaknya menahan kesal lebih lama untuk menunggu. Ternyata Ezra orangnya seperti itu. Selalu menepati janji dan tidak suka membuang waktu. Sayna akan catat pelajaran itu dalam benaknya. Dia harus selalu ingat supaya menjadi istri yang pengertian nantinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel