Bab 8
"Dokter Lita,"
Thalita tersadar dari lamunannya saat ada tepukan ringan dibahunya. Thalita menengok dan terlihat Dokter Rival berdiri dibelakangnya. "Kamu melamun? Daritadi aku panggil,”
"Maafkan aku, tadi aku sedang menatap gadis ini," jawab Lita segera mengusap air matanya yang tak terasa luruh membasahi pipi.
"Oh begitu, tadi aku hanya lewat dan melihat kamu di sini," ucap Rival tersenyum.
"Dia sakit apa? melihat dari alat medis yang terpasang di tubuhnya sepertinya cukup kronis," ujar Rival menatap Rahma.
"Dia mengidap kanker paru-paru stadium akhir," jawab Thalita.
"Kasian sekali, gadis semuda ini harus merasakan rasa sakit yang teramat," ujar Rival simpati.
"Iya, meskipun selalu di suntikan oxycodone tetapi itu tidak akan bertahan lama menahan rasa sakitnya," ujar Lita menatap sendu gadis yang tengah terlelap itu.
"Thalita" suara dari seorang wanita membuat Thalita dan Rival menengok.
"Ibu Sari?" ucap Lita menghampiri ibu itu dan memeluknya.
"Kamu kemana saja? Rahma selalu mentanyakan kamu bahkan Ridha, Risa dan Riza selalu mentanyakan kamu," ucap Sari saat melepas pelukan Lita.
"Aku pergi ke Wina dan melanjutkan kuliah di sana. Ibu sama BaPak apa kabar?" tanya Lita.
"Ibu sama BaPak baik-baik saja, hanya keadaan Rahma-" ibu Sari tidak melanjutkan pembicaraannya, air matanya sudah luruh membasahi pipi.
"Ibu tenang yah, saya akan berusaha membantu untuk menolong Rahma," ucap Lita.
"Tapi hampir semua Dokter yang memerikstanya mengatakan kalau dia tidak akan mampu disembuhkan. Tingkat kesembuhannya tidak ada," tangis Sari pecah.
"Saya akan coba berbicara dengan Dokter khusus, nanti akan saya kabarin ke BaPak dan Ibu. Saya akan berusaha mencari cara untuk membantu menyembuhkan Rahma," ucap Lita membuat Sari mengangguk dan Thalita memeluk tubuhnya memberi ketenangan.
***
Saat ini Lita tengah duduk disofa yang ada di ruangan Dhika, sebelumnya Lita sudah menghubungi Dhika dan Dhika memintanya untuk menunggunya di ruangan Dhika karena kebetulan Dhika tengah memeriksa beberapa pasien. Lita menatap ruangan Dhika yang terlihat bersih dan rapi, pandangannya terarah ke arah meja kebesaran Dhika. Entah ada dorongan dari mana, Lita berjalan mendekati meja dan berjalan ke dekat kursi kebesaran Dhika. Pandangannya langsung terarah ke arah pigura yang terpajang indah di meja kerja Dhika. Dimana seorang gadis yang tengah memakai gaun berwarna pink yang terlihat sangat cantik, dengan rambutnya yang disanggul dan ditata secantik mungkin menyisakan beberapa helai rambut yang terjuntai ke bawah. Di sampingnya seorang lelaki dengan tuxedo hitamnya dan terlihat sangat gagah juga sangat tampan. Terpancar kebahagiaan dari wajah keduanya. Lita sangat mengetahui siapa orang yang ada difoto itu, dan saat acara apa foto itu di abadikan. Itu adalah foto Dhika dan Lita saat mereka bertunangan dulu, kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya sangat jelas, tetapi itu meruPakan akhir kebahagiaan mereka berdua dan awal dari malapetaka yang menyebabkan semuanya menjadi seperti ini. Lita ingin mengambil pigura itu tetapi tanpa sengaja lengannya menyenggol laptop di hadapannya membuat layar itu menyala dan memperlihatkan media player yang sepertinya baru diputar. Disana terpangpang jelas wajah Thalita yang terlihat sangat pucat. Dengan tangan yang bergetar, Lita menekan spasi membuat video berdurasi 3 menit itu berputar. Mata Lita berkaca-kaca mengingat saat dia merekam video itu.
'Ternyata dia masih menyimpan semuanya, tapi apa yang terjadi? Bukankah dia sudah menikah dengan Kak Natasya?' batin Lita.
Lita mendengar derap langkah seseorang, membuatnya segera menghentikan video itu dan berjalan menuju sofa. Baru saja Lita mendaratkan pantatnya di atas sofa, pintu ruangan terbuka, dan muncullah.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Dhika.
"Tidak apa-apa," jawab Lita sinis, Lita tidak ingin memandang Dhika. Ia tidak ingin Dhika menatapnya tengah berkaca-kaca.
Dhika lalu duduk disofa yang bersembrangan dengan Lita.
"Ada apa?" tanya Dhika lembut.
"Saya datang ingin mentanyakan perihal penyakit pasien bernama Rahma," ucap Lita to the point.
"Gadis itu..." gumam Dhika. "Kemarilah."
Dhika berdiri menuju computer yang berjajar di sudut ruangannya. Dhika mulai mengotak atik computer itu sehingga muncullah organ tubuh manusia yang bernama paru-paru di layar komputer itu.
Thalita sudah berdiri di samping Dhika menatap ke arah Komputer. Thalita terdiam memperhatikan setiap sudut organ pernafasan yang muncul di tiga layar kOmputer itu.
"Kankernya sudah menyerang paru-paru dan mulai menyebar ke ruas jantung kirinya." ucap Dhika menunjukkan gambar yang berada di layar komputer sebelah kanannya. "kamu lihat Lita, ini arteri pulmonalis dan aorta. Kankernya sudah menyebar ke sana.”
"Pasien ini termasuk pasien DNR," tambah Dhika.
"Apa tidak ada jalan lain untuk menolongnya?" tanya Lita tetap fokus menatap layar computer.
"Ada, mungkin jalur operasi. Tapi tingkat keberhasilannya sangat rendah," ucap Dhika. "Jika terjadi Serangan jantungpun, kita tidak boleh melakukan CPR.”
"Jadi kita akan biarkan dia mati begitu saja, tanpa melakukan apapun?" tanya Lita sedikit tersulut emosi.
"Itu lah inti dari aturan untuk pasien DNR" ujar Dhika membuat Thalita terdiam, bagaimana cartanya dia menolong adik kecilnya itu. Lita tidak mampu melihatnya semakin menderita.
"Ada apa Lita?" Dhika selalu tau setiap gerak gerik Lita.
"Tidak apa-apa, aku pergi." Lita berlalu pergi meninggalkan Dhika yang masih penuh tanya.
***
