Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

Tiga hari kemudian, Sarah sudah diperbolehkan pulang karena dia selalu merengek pada Alex.

Belum lagi, maminya selalu menginginkan video call dengannya. Sarah takut jika nanti maminya akan curiga padanya.

"Jangan pulang ke apartemen ya, aku takut kalau aku tidak ada waktu. Karena jadwalku padat di rumah sakit."

"T-tapi, Alex.." Sarah ragu untuk melanjutkan ucapannya.

"Kamu tenang saja. Axel tidak akan menyakitimu lagi."

"Aku nggak yakin.." jawab Sarah lirih.

"Katakan padaku, jika dia berbuat kejam padamu. Kau mengerti?"

Sarah menggigit bibir bawahnya dan Alex menatapnya dengan tatapan tajam.

"A-alex, ada apa??"

Alex memejamkan matanya sejenak, dan mengatur napasnya.

"Tidak ada. Ayo, sekarang kita pulang. Aku sudah memberitahu Axel untuk tidak berbuat jahat padamu."

Lalu Sarah pun mengangguk menuruti ucapan Alex.

Mereka pun berjalan menyusuri lorong, dengan Alex membawa semua barang milik Sarah.

"Sarah, apa kau tahu?"

"Apa?"

"Aku adalah orang pertama yang mengobrak abrik isi lemarimu untuk mencari celana dalammu dan bramu." Ucap Alex terkekeh.

Sarah memukul pelan lengan Alex dengan wajah cemberut.

"Jangan mesum!!"

"Aku hanya bicara fakta."

"Tutup mulutmu, bodoh! Aku malu mendengarkannya."

Alex terbahak mendengar umpatan dari Sarah. Sarah mempercepat jalannya mendahului Alex yang masih terbahak. Hingga langkah Sarah terhenti, berjalan mundur saat melihat laki-laki berhodie dan memakai masker menatap tajam padanya.

Sarah meneguk ludahnya susah, keringat dingin membanjiri keningnya.

Hingga sebuah tepukan mengagetkannya.

'Puk'

"Sarah.."

Sarah terlonjak kaget dan berteriak.

"Sarah, hei.. ada apa? Ini aku, Alex."

Sarah menatap wajah Alex untuk memastikan dan dia pun segera menghambur pelukan padanya.

"Ada apa? Kenapa kau ketakutan seperti ini?"

"A-alex, orang itu… disana hiks, a-aku takut."

Sarah menunjuk belakangnya.

Alex mengedarkan pandangannya dan tak melihat siapapun disana.

"Tidak ada siapapun, Sarah. Tenanglah, ada aku disini."

"Tapi, Alex.. tadi dia ada disana, berdiri dengan tatapan menyeramkan padaku."

"Sudah, sudah. Ayo, kita pulang.. kau harus banyak istirahat."

"Alex, kau tidak percaya padaku?" Tanya Sarah lirih.

"Aku percaya padamu, aku hanya tak ingin kau terlalu banyak pikiran. Jadi, ayo kita pulang."

Alex menggenggam tangan kiri Sarah, menariknya lembut. Dan Sarah pun sedikit tenang karena Alex bersamanya.

'aku benar-benar tidak mengerti, siapa dia sebenarnya?' batin Sarah.

Mereka pun naik ke dalam mobil Alex, lalu melaju dengan kecepatan sedang. Alex membawa Sarah kembali ke rumahnya.

Sesampainya disana, Sarah melihat rumah yang nampak sepi. Axel, tidak ada disana, di rumah kekasihnya --- mungkin.

"Sarah, kau baik-baiklah dirumah. Aku harus kembali ke rumah sakit. Dan jangan buka pintu jika ada orang yang tak kau kenal. Satu lagi, kunci dan tutup pintu kamar mu rapat-rapat, hubungi aku kalau ada sesuatu terjadi padamu, mau mengerti?"

"Baiklah, kau posesif sekali." Jawab Sarah terkekeh.

"Kau itu sangat penting untukku, Sarah. Jadi ingat semua pesanku, kau mengerti?"

"Iya, iya, bawel. Lagian di rumah ini masih ada bi Etik, kan? Jadi, kau pergilah."

"Baiklah, ingat pesanku. Jangan terlalu mengandalkan bi Etik. Aku pergi dulu." Alex pun mengacak pelan rambut Sarah sebelum pergi meninggalkannya.

Sarah mendengus sebal, karena rambutnya begitu berantakan.

Sarah menghela napasnya dalam-dalam, dia berusaha untuk menenangkan diri.

Dia pun berniat untuk melepas cardigan yang ia pakai, namun dia kesulitan untuk membukanya. Karena bahunya masih terasa nyeri.

"Sarah…"

Sarah terlonjak kaget saat suara bariton mengagetkannya.

"A-axel.." Sarah gugup dan sedikit ketakutan.

Axel menyadari itu, dan dia berjalan mendekat.

"Sarah, jangan takut. Aku datang kesini untuk meminta maaf padamu. Sungguh, aku tidak tahu jika bajumu ada sedikit masalah."

Sarah terdiam sejenak, karena terpesona dengan ketampanan Axel, dia jauh terlihat lebih sexy di banding Alex. Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Menghilangkan pikiran kotornya.

"Sarah, apa kau sakit kepala?"

"Tidak, hanya saja kau terlihat sangat sexy." Jawab Sarah tanpa sadar dan membuat Axel membelalakkan matanya.

"Apa?"

Sarah tersadar dengan apa yang ia ucapkan.

"O-oh itu, anu.. Sehun oppa sangat sexy."

Axel memicingkan matanya.

"Sepertinya bukan itu yang kudengar tadi dan siapa Sehun?"

"Ehem, dia calon suami masa depanku hehe." Jawab Sarah polos.

Axel mendengus sebal.

"Sarah, aku benar-benar minta maaf padamu."

"Axel, aku tidak apa-apa. Itu semua karena kau tidak tahu, kan?"

Axel mengangguk kecil.

"Oh ya, Sarah.. sebagai gantinya, bagaimana jika ehm, malam minggu esok aku mengajakmu makan malam di luar?"

Sarah terkejut dengan ajakan Axel.

"Ehm, apa itu tidak masalah? Maksudku, kau kan memiliki kekasih, aku takut jika nanti akan menjadi kesalahpahaman diantara kalian." Jawab Sarah pelan.

Axel tersenyum tipis.

"Aku dan dia sudah selesai, kau tak perlu khawatir. Panggil aku jika kau perlu sesuatu, aku ada di atas. Kau boleh ketuk saja." Jelas Axel lalu berjalan keluar meninggalkan Sarah yang masih terdiam di tempatnya.

"Apa, mereka sudah selesai?" Gumam Sarah seraya tersenyum lebar.

Di balik pintu kamar Sarah Axel tersenyum miring.

'Dia pikir aku tidak mendengarnya, dia mengatakan jika aku sexy." Batin Axel terkekeh.

Lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.

Axel merebahkan tubuhnya di ranjang king size miliknya. Kamarnya bernuansa serba abu-abu itu terlihat menenangkan.

Menurut Axel, kamarnya salah tempat ternyaman saat ini.

Dia memikirkan Sarah, dan entah kenapa dia sedikit tertarik padanya.

Terlebih, sepertinya gadis itu juga membutuhkan perlindungan.

"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Sarah.. kenapa kau selalu ketakutan dan kenapa orang itu selalu mengganggumu." Gumam Axel.

Sesaat, saat Axel akan memejamkan matanya terdengar bunyi ketukan pintu kamar. Dia pun mendengus sebal.

Dengan terpaksa dia berjalan dan membuka pintu kamarnya. Dia sedikit terkejut melihat Sarah berdiri di hadapannya.

"Sarah, ada apa?"

"Axel, maaf aku mengganggumu. Tapi, aku mencari Ciki --- kucingku.", Jawab Sarah pelan.

"Oh, jadi namanya Ciki? Dia ada kandang bawah tangga. Kemarin aku membelikan kandang dan ku taruh disana."

"Eh, apa? Kau membelikan kandang baru? Ya Tuhan, Axel.. biar aku ganti. Berapa harganya?" Pekik Sarah.

"Tidak, Sarah. Kau tidak perlu menggantinya."

"Begitu ya? Kalau begitu, terimakasih, Axel. Aku juga kembali ke bawah."

Axel hanya mengangguk dan menatap punggung Sarah yang semakin menjauh.

"Apa penyebab awal bahu Sarah seperti itu? Apa dia pernah mengalami kecelakaan?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Axel sekarang.

Dia benar-benar ingin mengorek semua informasi tentang Sarah. Namun, dia masih kesulitan karena dia benar-benar bingung ingin memulai darimana.

Axel ingin mengenal Sarah lebih jauh, karena saat ini ada perasaan aneh jika melihat adik kembarnya berdekatan dengan gadis itu.

Axel pun kembali menutup pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kamar. Lengannya bertumpu menutup matanya, lalu dia pun tertidur karena semalam full dia berada di club malam miliknya.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel