
Ringkasan
mohon di bawah umur menjauhlah, cerita ini hanya untuk usia 18 ke atas. Lanjutan story 'Pacar Ponakn'.Aku benar-benar menyesal telah mengabaikan dirinya. Aku berjanji, aku akan mendapatkan dirimu kembali. Sarah Opium, yah.. dirinya sama seperti bunga Opium, sangat cantik bila dipandang namun mematikan jika disalahgunakan. Begitu juga dengan dirinya, dia sangat cantik, lembut dan perhatian tapi akan berubah menjadi kejam jika hatinya terluka oleh seseorang - Axel Leonard Oswald.
Bab 1
Aku Sarah Opium, biasa dipanggil Sarah. Aku mungkin adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, karena aku punya seorang sahabat yang bernama Alexander Oswald biasa dipanggil Alex. Dia satu tahun lebih tua dariku, aku menganggapnya sebagai kakak. Dia benar-benar melindungiku, aku sangat juga dekat dengannya. Orang-orang mengira aku dan Alex adalah sepasang kekasih, tapi tidak. Aku tahu, Alex menyukai Selina. Dia adalah penjual makanan berat di kantin rumah sakit Oswald.
Alex sudah bekerja di rumah sakit milik orangnya tuanya. Sedangkan, aku? Aku masih jadi anak kampus hahaha …
Hari ini Alex berjanji akan menjemputku di kampus. Menyebalkan, aku sudah menunggunya selama setengah jam.
Lalu mataku tertuju pada mobil sport yang kini berhenti di hadapanku.
Aku sangat mengenalnya, dialah Alex.
"Hello, sweeti. Apa kau marah karena aku terlambat datang?" tanyanya padaku yang kini sudah memasang wajah kesal.
"Kami telat setengah jam. Gak sadarkah ini udah jam berapa? Terus ini juga panas cuacanya. Kulitku hitam nanti, aku gak mau jadi hitam. Aku udah susah pasah membuat kulit jadi cerah begini." Aku mengoceh dengan mengerucutkan bibirku.
Sedangkan Alex? Dia hanya terkekeh. Menyebalkan sekali, untung ganteng. Ganteng banget malah, mirip bule bule luar negeri .
Aku cekikikan membayangkan wajah Alex.
"Hei, kenapa kau cekikikan sendiri?" Tanyanya yang mungkin sudah memandangku aneh.
"Udah ah, ayo. Aku mau makan dikantin Selina."
Menjijikan sekali, wajah Alex kini berubah menjadi merah semu.
"Hei, aku hanya mengatakan nama Selina. Kenapa wajahmu merah begitu?" Teriakku padanya.
"Hehe, ayolah. Nanti kamu makin kelaperan."
Lalu dia membukakan pintu mobil untukku. Sungguh, dia benar-benar sangat baik padaku. Tapi, tidak ada perasaan lebih di antara kita. Karena kita hanya menjalin hubungan sebagai salah sahabat.
Aku tak bisa membayangkan jika dia bekerja di luar negeri. Uhhh, aku tidak mau membayangkan.
"Alex, aku bingung." Ucap ku sedih, dia langsung menoleh padaku.
"Kenapa? Apa yang mengganggu dirimu?"
Tanyanya dengan sedikit cemas.
"Alex, mama menyuruhku untuk pindah apartemen."
Aku lihat Alex menghembuskan napas kasar.
"Ehmmm, begini. Aku dan Axel memiliki rumah yang lumayanlah besar, yang kebetulan banyak kamar kosong dan bisa untuk kau tempati. Kau boleh memakainya dan tinggal dirumah kami." Ucapnya begitu perhatian padaku. Ingat, ini hanyalah perhatian sebagaimana sahabat mengkhawatirkan sahabatnya.
"Alex, apa kau yakin?" Aku bertanya lagi padanya, untuk memastikan.
"Yakin, aku tak ingin kau selalu dikhawatirkan. Apalagi, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah sakit. Aku tak bisa menjagamu seperti kemarin, Sarah." Jelasnya lagi padaku.
Kulihat ada rasa cemas di wajahnya. Ya, itulah Alex, selalu mengkhawatirkanku.
"Percayalah, dirumahku kau akan aman." Ucapnya meyakinkan ku.
Aku terdiam sejenak.
"Baiklah, aku akan memikirkan hal itu. Nanti kita bicarakan lagi, Alex."
"Baiklah, sweeti. Kita sudah sampai, ayo kita turun."
"Let's go!!!" Ucapku semangat, ah tidak, sepertinya Alex jauh lebih semangat. Yah, kalian pasti bisa menebaknya. Jelas sekali, dia ingin bertemu dengan Selina.
Kami berdua berjalan menuju kantin dengan penuh canda tawa. Sampai-sampai banyak pasang mata menatapku sinis.
Yah, hal itu sudah biasa terjadi. Apalagi dengan wajah Alex yang tampan, dengan badan kekar nan sexy.
Mereka menatap iri padaku, tapi aku tak peduli. Yang aku pikirkan, aku dan Alex adalah sahabat.
Sampailah kami di kantin rumah sakit.
Kami berdua duduk di kursi pojokan dekat tembok, karena aku lebih memilih tempat yang bisa untuk bersandar, karena aku tidak memiliki sandaran hati, jadi aku berinisiatif bersandar pada dinding tembok, hahaha.
Aku tersenyum senang, melihat Alex yang kini sedang terfokus pada pandangan indah yang tidak jauh di hadapannya.
Siapa lagi, kalau bukan Selina.
"Selina?!!" Teriakku memanggil Selina, sedangkan Alex? Dia melotot padaku, aku hanya menanggapi dengan tawaku.
Selina mendekat pada kami, oh lihat!! Wajah Alex sangat menyebalkan.
"Ada yang bisa Selina bantu, kak?"
"Selina, aku mau pesa, … oh, aku buat sendiri aja deh. Kamu temani Alex, ya?" Pintaku padanya.
"Hah?" Selina menatapku bingung.
"Selina, kamu duduk sini dengan Alex. Aku mau buat minum buat kalian. Tau?!!"
"E-eh, tapi kan, … " Selina berusaha untuk mencari alasan.
Tapi aku tak peduli dan berjalan menuju ke arah tempat pembuatan makanan di kantin. Di tempat milik Selina.
Aku hanya cekikikan melihat Alex dari jauh, dia terlihat gugup.
Alex menatap Selina yang terlihat tak nyaman.
"Selina, ada apa? Apa aku membuatmu tidak nyaman?" Tanya Alex pada Selina dengan formal.
"I-itu pak dokter, semua orang menatap ke arah sini. Selina gak enak." Ucap Selina yang terlihat menunduk.
Aku melihat Alex mengedarkan pandangannya pada meja sekitar, dan benar. Mereka semua menatap tak suka pada Selina.
"Selina, jangan pedulikan dengan mereka. Sarah pun sama sepertimu, sering mendapatkan tatapan tajam dari para deterjen."
Selina menaikkan pandangan menatap wajah Alex.
"Maksud pak dokter, netijen?"
"Ah, iya itu maksud saya. Hehe,"
Aku hanya terbahak mendengar samar percakapan mereka.
Damn!!! Kenapa Alex begitu bodoh, dengan leluconnya yang menurutku tidak berbobot.
Pandanganku seketika teralihkan, saat seseorang datang yang entah kenapa, selalu menarik perhatianku.
"Alex, bisa kita bicara?"
Alex menatap Axel, ya itu saudara kembar Alex.
Dia itu angkuh dan juga sering bersikap kasar. Dia tak pernah menatap senang padaku. Entahlah, aku tak mengerti.
Tapi, kalian harus tahu. Meskipun mereka saudara kembar, tapi sungguh, wajah Axel jauh lebih tampan dan gagah dibanding Alex dimataku.
Tatapan tajam dari manik matanya, bisa membuat wanita manapun terhipnotis.
Termasuk, aku. Upssss!!
Tapi, sayangnya dia telah memiliki seorang kekasih. Ya, aku sering melihatnya sedang berciuman dengan kekasihnya. Iyuhh, hal yang sangat menjijikan untuk dilihat.
Tapi, entah kenapa, hatiku terasa tertusuk duri jika melihatnya bersama wanita lain.
Aku ingin memilikinya, Axel yang benar-benar menghipnotis ku.
Tubuh Axel jauh lebih kekar dari Alex, dia sangat keren.
"Sarah, aku antar kau pulang." Ucap Alex yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Eh, apa kau ada hal penting?"
Alex menganggukkan kepalanya.
"Ehm, baiklah. Aku akan pulang sendiri. Kau terlihat sedang terburu-buru."
"Sarah, aku mengkhawatirkanmu. Aku harus memastikan dirimu pulang dengan selamat, aku tak ingin papamu menggantungku."
Aku tertawa kecil,
"Jangan bercanda, aku akan menghubungimu jika sudah sampai. Percayalah padaku."
"Dasar keras kepala. Baiklah, kau janji harus menghubungiku."
"Iya, iya, bawel."
Lalu aku melihat Alex pergi meninggalkan ku, sebelum dia mengusap pelan rambutku.
Aku merasa nyaman di dekatnya, tapi ingat. Nyaman karena dia selalu melindungiku, layaknya seorang kakak selalu melindungi adiknya.
Dan aku, aku membayar minuman dan sedikit cemilan yang ku makan di kantin. Aku baru sadar, jika Alex belum memakan makanan apapun sejak tadi.
Aku sedikit khawatir dengannya. Aku mengirimkan pesan chat padanya untuk tidak melupakan makan, karena ia adalah seorang dokter jadi harus lebih pintar menjaga kesehatan tubuhnya.
Lalu aku pergi meninggalkan rumah sakit, menyetop taksi dan meminta untuk mengantar ke apartemen Edelweis.
Sesampainya di depan apartemen, aku sangat terburu-buru untuk masuk. Aku takut jika pria gila itu keburu muncul dihadapan ku. Setelah itu, aku pun dengan cepat mengunci pintu. Akhirnya aku bisa bernapas lega.
Bersambung...
