Bab 10
Hingga malam pun tiba, Sarah yang baru saja selesai mengganti piyama tidurnya dengan susah payah. Dia berniat untuk ke dapur karena haus.
Sarah menenggak habis segelas air putih lalu terkejut saat tiba-tiba listrik dirumah itu padam.
"AAAAA…" teriak Sarah ketakutan saat rambutnya di Jambak oleh seseorang.
'PRANKK" gelas yang Sarah pegang terjatuh ke lantai.
"Kau harus mati, Sarah. Kau harus mati, kau tidak boleh bahagia." Bisik orang itu penuh penekanan.
"J-jangan hiks.. jangan," ucap Sarah menangis ketakutan.
'Dukkk'
"Arghhh…" Sarah menggeram sakit saat keningnya di benturkan ke ujung meja.
Hingga suara langkah membuat orang itu mengumpat.
"Sial.. sampai jumpa lagi, sayang." Bisiknya lalu pergi dari sana dengan langkah cepat.
Axel baru saja tiba di dapur dengan raut cemas, dia menyorotkan senter di tangannya dan terkejut saat mendapati Sarah dengan kondisi yang lemah.
Axel berlari mendekat namun dia terhenti saat tiba-tiba listrik menyala dan terkejut melihat pecahan di bawah kaki Sarah.
Dia mendekati Sarah dengan berhati-hati.
"Astaga, Sarah.. siapa yang melakukan ini. Katakan padaku?"
"A-axel, aku takut. Hiks.. aku tidak tahu, dia kesini hiks.. Axel," racau Sarah dengan tangis histeris.
Axel menarik Sarah ke dalam dekapannya.
"Tenanglah, Sarah. Tidak akan terjadi apapun, maafkan aku datang terlambat."
Axel mengusap lembut kepala Sarah.
"Sarah, apakah itu sakit? Di keningmu?"
"Iya, dan ini sangat membuatku merasa pusing, Axel."
Axel mengepal kuat dan bersumpah akan menghajar siapapun yang telah melukai Sarah tadi.
"A-axel, jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar sangat takut." Lirih Sarah.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Sebaiknya, kita ke kamarku. Ehm, maksudku di kamarku kau akan aman, Sarah."
Sarah mengangguk.
"Dimana pun itu, yang penting aku tidak sendiri. Aku benar-benar sangat takut." Ucap Sarah.
Lalu Axel menuntunnya menaiki tangga, dan dia membawa Sarah masuk ke dalam kamarnya.
Sarah terkejut melihat isi kamar Axel, kamarnya begitu rapi dan wangi. Kamarnya sedikit gelap, tapi terasa sangat nyaman.
"Sarah, kau tidurlah di ranjang ku. Dan aku akan tidur di sofa."
"Tidak, ini kamarmu. Aku akan tidur di sofa, kau tidurlah di ranjang."
"Sarah, aku paling tidak suka di bantah." Axel menatap tajam wajah Sarah, dan membuat Sarah beringsut mundur.
Mata Sarah kembali berkaca-kaca.
Jujur, ia sangat takut dengan Axel, namun Sarah tahu jika Axel tak akan berbuat sekejam itu.
"AAAAA.." Sarah berteriak saat tangan sebuah menyentuhnya.
"Hei, Sarah.. ada apa? Ini aku, Axel. Apa yang kau pikirkan?"
"Axel.." Sarah benar-benar terkejut dengan tingkahnya sendiri.
Axel menautkan kedua alisnya.
"Sarah, are you okay?"
Sarah mengangguk ragu.
"M-maafkan aku, Axel. Aku benar-benar masih shock dengan kejadian tadi dan aku benar-benar takut." Jelas Sarah.
Axel menghela napas panjang.
"Tidak apa-apa, maafkan aku jika aku membuatmu takut."
"Aku tahu, aku memang takut padamu tapi aku yakin kau tidak akan berusaha untuk membunuhku seperti orang tadi."
Axel benar-benar terkejut dengan penuturan Sarah.
"Sarah, aku harus membantu mengobati luka di keningmu."
Lalu Axel menuntun Sarah untuk duduk di tepi ranjang dan dia berjalan menuju lemari kecil di kamarnya, membuka laci dan menarik kotak p3k disana.
Lalu duduk di hadapan Sarah.
Membuka kotak itu, mengambil kapas dan meneteskan obat merah disana. Lalu, menempelkan dengan pelan di kening Sarah yang terluka.
"Ssshh.." Sarah meringis perih saat Axel mengobati lukanya.
'sial, kenapa dia seperti sedang mendesah?' batin Axel.
"Kau tahanlah sedikit, Sarah. Ini, benar-benar lecet dan pasti sangat sakit."
"Iya, Axel. Dan kepalaku benar-benar sangat pusing."
Axel menggertakkan giginya. Dia benar-benar marah dengan orang yang telah mencelakai Sarah.
"Ah… Axel, kau menekannya."
Axel tersadar karena dia baru saja menekan luka Sarah dengan kuat.
"Maaf, aku benar-benar tidak ingat."
"Pencitraan."
Axel terkekeh mendengar jawaban Sarah.
Sarah benar-benar terpesona dengan ketampanan Axel saat ini. Jantungnya berdetak kencang saat berhadapan dengan Axel, jaraknya sangat dekat, benar-benar dekat.
Aroma maskulin tercium hingga membuat tubuhnya melemas.
"Sarah, sudah selesai. Kau boleh tidur sekarang."
"Euhm,. terimakasih, Axel."
"Tidak masalah."
Lalu Sarah pun merebahkan tubuhnya di ranjang Axel.
"Kau pakai saja selimutnya, aku akan mengambil lagi di lemari."
Sarah mengangguk kecil lalu memanggil Axel.
"Axel.."
"Ya?" Axel menolehkan kepalanya menatap Sarah.
"Jangan tinggalkan aku."
Axel pun mengangguk pada Sarah.
"Kau tenang saja. Aku takkan meninggalkanmu."
"Terimakasih, Axel.."
Axel hanya menjawab dengan gumaman, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus Sarah. Ternyata gadis itu sudah tertidur.
Axel terkekeh kecil mendengar gadis itu mendengkur.
Dengan berani Axel mendekatinya dan menatap wajah Sarah lekat.
"Kau sangat cantik, Sarah. Kau juga sangat sexy, bibirmu juga sangat menggoda. Beruntung aku bisa mengontrol diriku, jika tidak aku tidak yakin kau bisa tidur tenang. Kau aman denganku, Sarah. Aku akan mencari tahu siapa pelaku di balik semua ini. Selamat malam dan selamat tidur, maaf.. aku mencobanya sedikit."
Ucap Axel dan dengan berani mengecup singkat bibir Sarah.
Axel tersenyum tipis lalu berjalan ke sofa. Dia merebahkan tubuhnya disana. Sebelum memejamkan matanya, ponselnya berdering.
Axel mengambilnya sebelum suara dering ponsel itu membuat tidur Sarah terganggu.
"Hallo, Ed.. ada apa?"
"Hei, kenapa kau tak datang di club milikmu?"
Alex memandang wajah Sarah sekilas.
"Eum, tidak. Aku sedang malas dan hanya ingin bersantai di kamarku."
"Tumben sekali. Oh ya, tadi aku melihat kekasihmu dengan pria lain, apa kalian sedang bertengkar?"
"Jangan membahasnya lagi, itu membuatku muak. Aku dan dia sudah selesai."
"Upsss… okay, bolehlah aku tidur di kamarmu?"
"Kau, biasanya saja tak memerlukan izin dariku sudah berlaku seenaknya, Ed!" Jawab Axel mendengus sebal.
Di seberang sana justru Edwin terkekeh-kekeh.
Axel memutar bola matanya malas dan memutus sambungan teleponnya.
Lalu dahi Axel berkerut sesaat mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal, dari jaringan yang tersambung dengan ponsel Sarah.
Axel pun menjawab panggilan itu.
Dan sangat terkejut mendengar suara bisikan dan mengerikan disana.
"Sarah, kau harus mati. Dan kau tak akan ku biarkan hidup bahagia. Kau harus mati." Bisik dari orang itu.
Lalu Axel dengan segera mematikan telepon itu.
Dia pun berjalan ke kulkas kecil di pojok kamarnya.
Mengambil minuman kaleng favoritnya.
Lalu menenggaknya.
Dia berjalan dan berdiri di balkon kamar.
Matanya memicing, melihat seseorang yang berhodie berdiri di hadapan gerbang rumahnya.
"Brengsek!" Desis Axel, dia pun menenggak kembali minumannya,dengan menatap tajam pada orang itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Sarah… siapa dia yang ingin membunuhmu." Gumam Axel.
Axel menggertakkan giginya, rahangnya mengeras menahan amarah. Namun, dia tak boleh gegabah, dia harus memantau Sarah dengan hati-hati. Dia tak ingin orang itu curiga padanya.
Hingga orang itu berjalan menjauh dari rumahnya. Lalu Axel meremas kaleng kosong di tangannya dan melempar ke dalam tong sampah dengan kasar.
Lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Kembali merebahkan tubuhnya, kali ini dia tidak lagi di sofa, melainkan di samping Sarah. Dan dia mulai berani dengan membawa Sarah ke dalam dekapannya.
Bersambung...
