Bab 8
"Meong… meong…"
Axel terkejut ketika melihat seekor kucing keluar dari kamarnya.
Kucing itu mengitari kaki Axel. Seperti menyukai dirinya. Axel hanya menundukkan wajahnya, merasakan sebuah penyesalan.
Axel, berjongkok lalu mengusap kucing itu lembut. Lalu bergegas mengambil kunci mobil dan mengejar mobil Alex.
Di dalam ruang perawatan, Alex menemani dokter Aldo yang sedang mencoba menangani kasus Sarah.
"Arghhh…" Sarah berteriak dengan menggigit kain sapu tangan yang Alex berikan. Menggenggam erat tangan Alex, mencoba untuk menahan rasa sakitnya.
Dan lagi, dokter Aldo menggerakkan paksa dengan lembut tangan Sarah, untuk menghindari bengkak di bahunya. Jika tak di paksa gerak, maka akan mengalami pergeseran bentuk bahu.
"Hiks.. Alex, aku nggak mau. Hiks.. mami pasti nyuruh aku pulang." Alex, menangkan Sarah yang sedang sakit dan juga takut untuk di suruh pulang. Perjanjian awa dia berada di Jakarta adalah, dia tak boleh sakit. Terutama jika bahunya mengalami sakit kembali.
"Ssst… kau pasti akan baik-baik saja, sweeti. Maafkan aku, maafkan aku." Ujar Alex yang meminta maaf mewakili kakaknya.
'Kenapa kau selalu bersikap kasar, Axel. Benar-benar kurang ajar.' batin Alex.
Axel, kini telah sampai di halaman parkir rumah sakit. Dia mencari Alex, masuk ke dalam ruangan Alex.
"Dimana Alex? Kenapa tidak ada?"
Lalu Axel berjalan keluar menyusuri lorong.
Dia melihat Alex yang sedang menenangkan Sarah di dalam ruang perawatan.
Ia melihat Sarah sangat kesakitan.
Alex yang menyadari jika Axel telah datang.
Ia pun berpamitan untuk keluar sebentar.
Menatap tajam pada sang kakak.
"Untuk apa kau datang kesini?!"
"Alex, a-aku kesini karena aku harus minta maaf padanya. Demi Tuhan aku tidak tahu jika dia sedang sakit."
"Dan kau akan tetap melakukannya jika dia baik-baik saja."
Axel hanya terdiam.
Alex, menyugar rambutnya kebelakang.
"Seharusnya kau berusaha untuk mengubah dirimu menjadi orang yang baik. Kau akan menyesal jika terus menerus.menjadi orang yang kasar dan arogan."
Lagi-lagi, ucapan Alex sangat menohok di hati Axel.
Alex menghela napasnya dalam.
"Sebaiknya kau pergi saja, jangan dulu kau temui dia. Apalagi dengan kondisi yang menyakitkan seperti ini."
Axel, dia hanya mengangguk kecil menuruti perintah sang adik.
Iya, dia sangat kasar. Tak pernah tahu, apakah dia sakit, apakah dia akan terluka? Meskipun fisiknya tidak sakit? Bagaimana dengan hatinya?
Axel berjalan gontai menuju parkiran, pikirannya sedikit kacau. Dia menyesal, ia sangat menyesal telah berbuat kasar.
Di dalam mobil, Axel memegang setirnya kuat.
"Kau bodoh, Axel!! Kau memang sangat kejam dan kasar." Umpat Axel pada dirinya sendiri.
Lalu ponselnya berdering. Edwin, ia Edwin menghubunginya.
Dengan cepat Axel menjawab panggilan tersebut.
"Axel, bisakah kita bertemu? Kau datanglah ke club milikmu. Aku ada disana, semalam aku menginap di club mu."
"Baiklah.. aku akan segera kesana."
Axel mematikan sambungan teleponnya. Lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang disebutkan Edwin.
***
Sarah kini sudah di pindah di ruang perawatan.
"Alex, aku benar-benar takut. Aku takut, kalau mami dan papi datang menjemputku dan tidak mengijinkan aku untuk berada disini lagi."
Sarah menunduk dan sendu. Air matanya memenuhi korneanya.
Alex, memeluk tubuh Sarah.
"Ssst, kau akan tetap disini. Jangan takut, aku akan terus membuatmu cepat pulih kembali."
"Alex, aku benar-benar merepotkan mu. Maafkan aku, hiks.."
"Tidak masalah, sweeti.. Jangan menangis, hm. Kau terlihat sangat jelek, sekarang."
Alex terkekeh saat mendapatkan pukulan pelan dari Sarah.
"Sarah, aku minta maaf. Karena Axel,.."
Alex sedikit menunduk tak enak.
"Alex.. tidak apa-apa, Axel hanya tidak tahu jika aku adalah orang yang sakit. Dan, yang aku takuti adalah, jika mami tahu, lalu aku disuruh berhenti untuk mencari ilmu disini."
"Tapi, tetap saja.. kau jadi sakit seperti ini."
"Ini tidak sakit.."
"Pembohong besar. Kau tadi menangis meraung-raung, sampai daun telingkaku akan robek. Dan kau bilang ini tidak sakit?" Goda Alex padanya.
Sarah hanya tertawa kecil.
"Iya, iya, ini sakit.. bahkan lebih sakit dari biasanya."
Alex menghela napas.
"Tak apa Alex, aku yakin ini pasti akan sembuh." Ujar Sarah dengan penuh keyakinan.
"Iya, sweeti. Apa kau lapar?"
"Iya, tolong kau panggilkan saja Selina untuk kemari, dan bawa bubur ayam untukku."
Alex menggaruk alisnya yang tidak gatal.
"Ayolah, brother. Kau pasti sangat senang kan?" Goda Sarah pada Alex.
Alex pun mengangguk kecil, dan hal itu membuat Sarah tertawa geli dengannya.
***
Di dalam club milik Axel.
Edwin dengan santainya menunggu sang empunya datang.
'klekkk'
Lalu pintu kamar khusus milik Axel terbuka.
Axel menatap tajam pada Edwin, sedangkan Edwin hanya terkekeh tanpa rasa berdosa.
Axel berjalan mendekatinya, dan mendorong Edwin dari ranjang ukuran king size miliknya hingga terguling ke lantai.
'brukk'
"Aduh, Axel.. kau sangat kejam. Bagaimana jika aku ini perempuan? Apa kau akan tetap sama untuk berlaku kasar seperti ini?" Tanya Edwin dengan terbangun dari lantai.
Seketika Axel terdiam dengan ucapan Edwin, terbesit nama Sarah di benaknya. Ia, mungkin dia sangat kejam.
Axel membuang napasnya kasar.
"Hei, apa kau sedang ditimpa masalah?"
Alex, hanya tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.
Edwin memicingkan matanya.
"Lalu untuk apa kau memintaku untuk melacak nomor itu?" tanya Edwin dengan mendengus kesal.
"Itu… itu, kau tidak perlu tahu. Jadi bagaimana dengan hal itu? Apa kau berhasil mendapatkannya?" Jawab Axel gugup lalu mengalihkan pembicaraan ke topik utama.
Edwin menghela napas kasar.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan menjelaskannya secara detail padamu.."
Axel hanya mengangguk kecil.
"Untuk saat ini, nomor itu sangat sulit untuk dicari. Bahkan, jejaknya pun tak terlihat. Dan aku yakin, orang ini sudah memperkirakannya."
"Jadi?"
"Jadi, nomor itu tidak ada dan tidak berjejak."
Axel menautkan kedua alisnya.
"Bagaimana mungkin? Nomor itu bahkan, bisa menghubungi nomor Sarah." Ujar Axel keceplosan.
"Wow.. siapa Sarah?" Seringai Edwin dengan suara penasaran.
"Sial! Aku keceplosan." Seru Axel, hanya dihadiahi kekehan dari sahabatnya itu.
"Jadi, siapa dia?"
Axel menghela napas sejenak.
"Sarah.. aku juga tidak tahu dia siapa. Aku hanya penasaran dengan hidupnya, ehmm… maksudku, dia adalah sahabat adikku. Tapi, aku melihat tingkahnya yang terkadang sangat aneh. Terlihat seperti sangat ketakutan, dan beberapa hari lalu, aku memergokinya yang dikejar oleh anonymous."
Edwin terkejut dengan penjelasan Axel.
"Maksudmu? Orang bertopeng?"
Axel mengangguk kecil.
"Percayalah, aku hanya penasaran."
Ujar Axel meyakinkan.
"Tidak dengan yang ku lihat. Sepertinya, kau juga ingin melindunginya, betul?" Goda Edwin dengan seringaiannya.
Axel hanya melirik sinis pada Edwin. Namun, tidak dapat dipungkiri, dalam hati kecilnya. Ia begitu ketakutan, akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada Sarah. Karena, pada awalnya, dia melihat semua itu. Sangat tanggung jika dia akan berdiam diri.
"Jangan kau katakan ini pada Alex, atau aku akan melemparmu ke sungai Amazon." Ancam Axel pada Edwin.
Edwin hanya tertawa kecil.
"Coba saja, kau takkan pernah melemparku kemanapun."
"Yah, kau tahu itu, hanya sebuah ancaman saja." Jawab Axel dengan memutar bola mata malas.
Bersambung...
