Bab 7
Sarah(POV)
Aku benar-benar malu, dan aku tak mengerti kenapa Axel berani berbuat seperti itu padaku? Dan kenapa tubuhku tak bisa bergerak saat dia melakukan hal itu, dan lebih memalukan saat mulut ku mengeluarkan suara yang secara refleks mengeluarkan desahan.
Astaga, memalukan… Axel melihatku yang hanya mengenakan pakaian dalam. Dan bodohnya aku tak menyadari jika aku tak menutup pintu dengan rapat.
Selepas Axel pergi, aku langsung mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Mengerikan jika dia sampai masuk lagi.
Tapi, jujur saja, ada perasaan senang karena dia mulai hangat padaku. Atau itu hanya perasaanku saja?
Aku menangis sejadi-jadinya, melihat film tentang perselingkuhan seorang suami dari istrinya. Tak menyangka jika istrinya meninggal dunia karena ulah suaminya, si istri malah bunuh diri. Ya Tuhan, aku tidak mau seperti itu.
Lalu terdengar suara ketukan pintu kamarku dari luar.
"Sarah…"
Suara berat memanggilku, aku tahu, ini suara Axel. Tapi jujur saja, aku sedikit gugup tapi aku tak peduli, toh aku sedang menangis kan, karena drama yang kulihat tadi.
Aku membuka pintu perlahan dengan sesenggukan, aku tak menyangka jika Axel akan terkejut seperti itu.
"Sarah, ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
Aku tak menyangka jika aku akan di bondong pertanyaan oleh Axel, si wajah datar.
"Itu, aku nonton film hiks.. suaminya selingkuh, terus istrinya bunuh diri, hiks.."
Axel memutar bola matanya malas.
"Hanya film saja kau sampai segitunya?" Axel memandang wajahku datar.
"Axel, aku ini seorang wanita. Bagaimana jika itu terjadi padaku? Itu sangat menyedihkan, kau tahu!!!"
"Iya, iya, iya.. terserah kau saja, hon."
"Lalu, ada apa hiks.. kamu kesini?"
Aku masih bertanya dengan tangisan.
"Baiklah, ayo ikut denganku." Aku terkejut saat Axel menarik tanganku tiba-tiba.
Aku tercengang melihat tanganku yang digenggam Axel, aku mengikuti langkahnya dan berhenti di dapur.
"Kenapa ke dapur?"
"Ya, aku lapar. Bisakah kau buatkan makanan untukku?"
Aku mengedipkan mataku beberapa kali, memandang Axel tak percaya.
"Apa? Kau lapar dan menyuruhku untuk membuat makanan?"
Axel mengangguk kecil.
"Ya sudah, kau ingin apa?"
"Apa saja, hon. Sebelum aku memakanmu." Axel menyeringai.
Entahlah, aku tak paham dengan omongannya.
"Mana bisa kau memakanku, kau mau jadi Sumanto?"
Axel menepuk jidatnya.
"Kau ini terlalu polos atau bodoh?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
Lagi-lagi kulihat, Axel hanya geleng-geleng kepala.
"Sudahlah, kau hapus air matamu. Aku tak ingin makan makanan asin karena terkena air matamu."
Sindir Axel padaku.
Lalu dengan senang hati aku membuatkan nasi goreng untuknya. Aku sedikit malu, karena Axel sedang duduk bertumpu dagu, melihatku.
Benar-benar seperti suami yang sedang menunggu istrinya selesai masak.
Aku tersenyum disela-sela kesibukanku dengan wajan.
Aku tersentak saat lagi-lagi, tangan kekar Axel berada di lingkar perutku.
"Aku sudah sangat lapar, hon. Jangan senyum-senyum sendiri seperti orang gila begitu." Bisik Axel padaku, aku langsung melirik sinis padanya.
"Udah nyuruh, maunya cepet-cepet. Sabar kek.."
Tak berapa lama, nasi goreng buatanku sudah siap. Aku masukkan piring dan ku kasih ke Axel.
"Udah kan?"
"Duduk,"
"Aku udah ngantuk, Axel.."
"Duduk atau minta di cium?"
Aku menghela napas panjang.
Ingin rasanya ku cakar-cakar wajah Axel.
Aku pun dengan terpaksa duduk, di dekat Axel.
Aku lihat dia menyuapkan nasi goreng buatanku.
"Enak…"
"Terimakasih." Ucapku singkat.
Aku menguap tanpa Axel sadari, aku benar-benar lelah. Besok pun aku ada kelas pagi.
Huh, menyebalkan..
Aku pun menidurkan kepalaku dimeja.
***
Author(POV)
Setelah beberapa menit..
Axel telah menghabiskan nasi goreng buatan sarah.
"Besok, buatin nasi goreng kaya gini lagi ya?"
Axel menolehkan kepalanya, dan tersenyum tipis.
"Tidur, ternyata.."
Axel menyelipkan rambut yang menutup wajah cantik Sarah ke daun telinganya.
"Kamu itu cantik, Sarah.."
Lalu Axel membopong tubuh Sarah dan membawanya ke kamar.
Merebahkan tubuh Sarah secara perlahan, tanpa sadar, ia terfokus pada bibir Sarah.
'Damn!! Sangat menggoda.' batin Axel.
Axel pun dengan berani, mencium bibir Sarah, melumatnya perlahan. Lalu dia tersadar, dan melepaskan lumatannya.
"Manis.."
Lalu Axel menyelimuti tubuh Sarah.
Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya, sebelum ia berbuat lebih jauh.
Axel merebahkan tubuhnya.
Seketika ponselnya berdering, ia membuka ponselnya dan melihat di layar ponsel. Nomor itu mengirim chat ke ponsel Sarah.
'Sarah, aku mencintaimu. Kemanapun kau pergi, akan aku kejar. Atau kau akan mati.'
Axel mengerutkan dahinya, dengan cepat ia menghapus pesan itu.
Namun dia sudah mencatat nomor itu lebih dulu. Menghubungi salah satu rekannya untuk melacak nomor itu.
"Halo, dengan Edwin disini?"
"Ck, gak usah banyak drama, Ed. Aku serius.."
"Iya, iya, gak usah sensi kaya cewe lah El,"
Axel memutar bola mata malas.
"Aku mau minta tolong, bisa gak cari tahu siapa yang punya nomor yang tadi aku kirim."
"Oh itu,.. tapi itu siapa?"
"Mana aku tau, kalo tau mana mungkin aku nyuruh kamu, Malih!!!"
"Eh, hehehe.. bener juga ya, El."
"Ya udahlah, mau tidur. Kabarin kalo udah ketemu jawaban."
"Beres, brother.."
Lalu Axel mematikan sambungan secara sepihak.
Axel menghembuskan napasnya kasar.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa juga aku harus ikut campur dengan ini?"
Lalu Axel perlahan memejamkan matanya.
***
Pagi harinya…
Saat Sarah akan berangkat kuliah, dia berniat untuk membangunkan Alex dikamarnya. Meminta dirinya untuk mengantar Sarah ke kampus.
Dia sedikit terkejut saat melihat pintu kamar Axel sedikit terbuka.
Dan hal itu, membuat Ciki, kucing Sarah masuk kesana.
"Astaga, kenapa masuk sih.." gumam Sarah cemas.
"Ciki, Ciki…"
Sarah memajukan langkahnya, ia sebenarnya sangat takut. Tapi, ia justru semakin takut jika Ciki akan membuat kamar Axel berantakan.
Saat Sarah mendorong sedikit pintu kamar Axel.
'krieet'
Dari lorong kamar khusus Axel menatap tajam padanya.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU, HAH?" teriak Axel dengan tatapan tajamnya.
Lalu ia berjalan mendekati Sarah yang terkejut dan ketakutan.
"A-axel, aku hanya.."
'bugh'
Axel, mendorong keras bahu kanan. Sarah hingga membentur dinding.
"Ah…" Sarah memegangi bahunya. Lalu buliran bening jatuh membasahi pipinya.
Hal itu justru membuat Axel merasa tersayat.
Tubuh Sarah merosot ke lantai.
"S-sakit, hiks..hiks.." Sarah menangis dan memegangi bahu kanannya.
Alex yang baru saja keluar kamar pun terkejut. Ia langsung berjalan cepat mendekati Sarah.
"Astaga, Sarah… kamu kenapa?"
"Hiks… Alex, hiks.. bahu aku, aku nggak mau pulang, hiks.."
'deg'
Alex menatap tajam pada Axel sekilas.
Lalu membopong tubuh Sarah dan membawanya pergi dari rumah.
Alex membawa Sarah ke rumah sakit.
"A-apa yang telah aku lakukan? Segitu kasarnyakah aku, sampai dia seperti sangat kesakitan." Gumam Axel dengan raut penyesalan.
Bersambung...
