Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6

Axel(POV)

Malam ini aku pulang lebih awal dari club, kepalaku terasa pening jika terus menerus berhadapan dengan Nessa. Gadis yang baru saja ku ketahui bahwa dia hanya menginginkan uangku. Hal yang lumrah, melihat gaya hidupnya yang terlalu berlebihan. Pasti sangat jelas membutuhkan uang yang banyak. Tak hanya itu, aku pun melihatnya memasuki ke dalam hotel dengan laki-laki lain. Aku tak peduli dengan itu, karena aku pun tak mencintainya.

Aku baru saja tiba dirumah, aku berniat ingin mengambil air minum untuk membasahi tenggorokan ku yang terasa kering.

Ku dengar suara berisik dari dalam kamar Sarah.

Entah, aku harus bersyukur atau bahkan mencaci diriku sendiri.

Pintu kamarnya sedikit terbuka. Aku sedikit terkejut saat melihatnya hanya menggunakan celana dalam dan bra yang berwarna cream. Itu sangat sexy,

Entah, dorongan dari mana.. aku berani mendekatinya yang sedang berdiri di depan cermin panjang.

Ya Tuhan, tanganku dengan refleks memeluk perutnya, menggerakkan lembut di perutnya.

Dan sialnya, dia mengeluarkan suara yang terdengar sangat merdu di telingaku.

Dia mendesah akan sentuhanku. Kulihat dia refleks menutup mulutnya.

Aku mencoba untuk menggodanya, namun dia seperti tak terima dengan hal itu. Mungkin dia lupa, jika dirinya hanya memakai pakaian dalam saja.

Dia berbalik badan dan menatapku, aku dengan kuat menarik pinggangnya mendekat, bahkan terasa dua belah dadanya menempel sempurna didadaku.

Aku memejamkan mata, menikmati betapa kenyalnya dada Sarah.

Aku pikir, gadis bertubuh ramping itu memiliki dada yang kecil, tak ku sangka. Ternyata itu jauh lebih besar dari milik Nessa. Terlihat kencang menantang, aku tersadar. Dia gugup dan mulai ketakutan.

Aku pun memutuskan untuk pergi dan mendaratkan kecupan singkat di pipinya. Aku takut, jika aku terus berada disana, aku bisa saja dengan cepat meniduri gadis itu.

Mungkin Alex akan membunuhku. Aku terkekeh, membayangkan itu.

Entahlah, aku tak mengerti kenapa Alex bisa dekat dengan Sarah.

Aku hanya bingung, kenapa mereka tak menjalin hubungan spesial? Ku lihat Alex pun sedang jatuh cinta dengan gadis yang berada di kantin rumah sakit.

Lalu bagaimana dengan Sarah? Apa dia memiliki kekasih? Atau dia memiliki rasa yang lebih pada Alex?

Aku tak mengerti dengan diriku, semenjak kejadian kemarin.. aku sedikit mencemaskan gadis itu.

Saat aku lihat dari balkon, Sarah keluar dari taksi yang ia tumpangi dan berlari dengan tergesa-gesa.

Ia berlari masuk kedalam rumah, aku menautkan kedua alisku. Melihat dari kejauhan orang memakai topeng berlari ke arah rumah ini, atau dia mengejar Sarah?

Lalu aku turun dari kamarku, aku terkejut saat Sarah dengan keras dan cepat menutup pintu. Dia bersandar dipintu.

Aku bertanya padanya, apa yang terjadi? Tapi hal itu justru membuatnya kaget.

Dia menutupi hal itu, padahal terlihat jelas dia sangat ketakutan.

Aku menatapnya intens, saat ada panggilan masuk di ponselnya. Entah apa yang di katakan orang di dalam ponsel itu, tapi Sarah membanting ponselnya hingga menjadi tiga bagian.

Aku melirik keluar jendela, orang itu memegang ponsel dan langsung pergi.

Mungkinkah orang itu?

Sarah menangis histeris, dan dia langsung memelukku.

Aku tak ingin egois, mungkin dia butuh pelampiasan.

Aku membalas pelukannya, tubuhnya bergetar, gugup dan ketakutan.

Aku mengusap punggungnya, mencoba untuk menenangkannya.

Membawanya untuk duduk, dengan masih berada didalam pelukanku.

Dia menangis sejadi-jadinya dipelukanku.

Hingga beberapa saat kemudian, tangisannya mereda. Aku menundukkan wajahku, menatap wajah Sarah.

Ternyata dia tidur di dalam pelukanku. Tanpa sadar aku tersenyum menatapnya.

Aku baru sadar, jika dia sangat cantik, sungguh cantik. Dagunya yang terbelah dua, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tebal nan sexy, kulitnya, ku lihat kulitnya putih dan mulus.

Aku membuang jauh pikiran kotorku, aku menggendong tubuh Sarah dan membawanya ke dalam kamar. Aku merebahkannya dengan pelan.

Menyelimutinya, lalu aku menghubungi Alex. Memberitahunya tentang apa yang baru saja terjadi pada Sarah. Alex terdengar sangat panik.

Entahlah, aku pun tak mengerti dengan jalan hidup mereka berdua.

Aku mengambil pecahan ponsel Sarah, mencoba memasang dan menghidupkan kembali.

Lalu aku membawanya ke dalam kamar.

Mencoba untuk mengecek panggilan masuk.

Aku mencoba menghubungi nomor itu, namun nihil, nomor itu tak dapat aku hubungi.

Diam-diam aku menyadap ponsel Sarah dan menghubungkan ke ponselku. Entahlah, aku pun tak mengerti dengan ini semua.

Aku menghela napas berat, lalu mencoba untuk memejamkan mataku.

Sesaat aku akan tertidur, ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk di ponselku.

Terpampang di layar, nama Daddy. Ya, Daddy menghubungiku.

Aku menjawab panggilan dengan malas.

"Axel,.." panggil Daddy dengan suara beratnya.

"Ya, dad.. ada apa?"

"Bisa Daddy minta tolong padamu?"

"Kenapa dad?"

"Daddy sedang sibuk, tolong besok kau datang ke kantor. Karena ada beberapa berkas penting yang harus kau setujui. Bagaimanapun juga, kantor itu adalah milikmu."

Axel menghela napas panjang.

Lalu aku menyetujui permintaan Daddy.

"Baiklah, dad.."

"Terimakasih, Axel. Itu takkan menguras tenaga dan waktumu. Kau tenang saja."

"Ya, dad.. terserah kau saja."

"Axel, mommy ingin bicara denganmu."

"Baik, dad."

"Halo, Axel.. ini mommy. Kamu apa kabar?"

"Aku sangat baik, mom. Mom sendiri?"

"Mommy juga sangat baik. Axel, berhentilah bermain-main. Kau ini sudah dewasa. Bisakah kau menikah saja, daripada harus terus menerus meniduri gadis yang kau temui?"

Aku mendengus kesal.

"Ma, bukan aku yang mau, tapi merekalah yang menawarkan diri padaku."

"Mama sangat kecewa padamu, bisa-bisanya kau menyakiti hati para gadis. Mereka punya orang tua Axel, bagaimana jika itu terjadi pada anak mama?"

Aku terdiam mendengar perkataan mommy. Ya, katakanlah jika aku ini orang egois, tapi jika mereka yang menawarkan diri, kenapa tidak?

"Axel, kau dengar mommy?"

"Ya, mom.. aku dengar."

"Axel, lihatlah Alex.. kenapa kau sangat berbeda sekali dengan adikmu."

"Jelas berbeda mom, aku dan dia memang kembar tapi jelas watak kita berbeda. Mom, tak perlu khawatir… nanti kalau aku sudah menemukan yang terbaik, aku akan berhenti."

Lalu aku memutus panggilan secara sepihak.

Melempar ponsel secara asal.

Ya mungkin benar, aku akan berhenti jika sudah menemukan seseorang yang tepat. Yang bisa membuatku jatuh cinta padanya.

Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba. Dimana aku akan menaruh benih cintaku di dalam dirinya. Ya, entah, gadis mana yang nanti akan bisa mengambil hatiku.

Aku yakin, dia akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku nantinya.

Perlahan, pandanganku semakin berat, aku terlalu lelah akhir-akhir ini. Mengurusi urusan yang tidak begitu rumit, hanya saja banyak memakan waktu.

Ku coba pejamkan mataku, sangat mengantuk, tapi.. perutku terasa sangat lapar.

Aku mendengus kesal, perutku berbunyi.

Tersirat di benakku untuk menemui gadis itu.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel