Bab 5
Kepalaku terasa berat, aku membuka mataku perlahan.
"Uhhh, ya Tuhan. Kepalaku, rasanya pusing." Aku mencoba duduk dengan memegang kepalaku yang terasa pening.
Seketika aku terdiam, mengingat kejadian tadi sore. Aku dikejar orang tak dikenal, diteror dan, OMG, aku meluk Axel.
Aku benar-benar panik, aku pasti sudah lancang memeluk tubuh kekarnya.
Lalu pintu kamarku terbuka, dan Alex dia menghampiri ku.
"Udah bangun, hm?"
"Alex, aku takut. Orang itu ma,---"
"Ssst, gak usah dibahas. Nanti kalo aku sibuk gak bisa jemput kamu, biar aku suruh Axel jemput kamu,"
"Aku benar-benar merasa bersalah sama kamu, aku gak bisa jagain kamu di sini. Padahal aku udah janji sama mama dan papa kamu." Alex tertunduk, merasa bersalah. Padahal ini bukanlah salah dirinya.
"Kenapa kamu malah nyalahin diri kamu? Ini bukan salah kamu, tau gak ini salah siapa?"
Alex menaikkan pandangan menatapku.
"Apa?"
"Itu karena aku terlalu cantik, Lex. Hahaha," canda ku padanya.
'takk'
"Aduh, kebiasaan. Pake sundel menyundel keningku." Aku mengomel dengan mengusap keningku.
"Aku sangat khawatir begitu Axel menghubungi ku, tentang dirimu."
Aku meraih tangan Axel, lalu menggenggamnya.
"Aku baik-baik saja, brother. Aku bersyukur memiliki kamu, kamu benar-benar keluargaku Axel." Aku tersenyum lalu memeluk tubuhnya.
Lalu pintu kamar terketuk,
Axel, aku dan Alex menoleh ke pintu.
"Aku mau kembalikan hp mu, udah ku kembalikan seperti semula." Ucapnya dengan menghampiri ku dan memberikan ponsel itu padaku.
Aku mengangguk,
"Axel, terimakasih. Maaf, aku udah ngerepotin kamu."
Kulihat Axel menyeringai,
"Semua itu gak gratis, hon.."
Ucapnya dengan menatapku dengan tatapan sulit ku artikan.
"Gak usah macam-macam, El." Aku menolehkan kepala ku menatap Alex, aku terkejut. Ternyata Alex sedang menatap tajam dengan saudara kembarnya.
Aku tak mengerti maksud dari perkataan Axel.
"Itu urusanku, Alex. Kau tidak perlu ikut campur," ucapnya lagi lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Aku melihat rahang Alex mengeras, bahkan mengepalkan tangannya.
Aku mencoba menyentuhnya, dia langsung menoleh padaku.
"Are you okay?"
Dia menghela napas, lalu menganggukkan kepalanya padaku.
"Aku akan baik-baik saja, Alex. Kau harus percaya itu."
"Jangan pernah lupa untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu padamu."
Aku mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
***
Author(POV)
Axel meneguk segelas Vodka miliknya. Lalu datanglah, Nessa dan langsung bergelayut manja di lengannya.
"Sayang, aku minta maaf."
Axel hanya melirik sekilas.
"Sayang, jangan diam saja. Katakan kalau kau sudah memaafkan ku."
Axel masih diam tak peduli.
"Axel, aku benar-benar khilaf dan aku tak sengaja membentakmu."
"Sudahlah, lupakan saja. Aku pun tak memikirkan hal itu. Aku sudah melupakannya."
"Terimakasih, sayang." Ujar Nessa dengan memeluk lengan Axel.
"Untuk?"
"Kau telah memaafkan ku?",
Axel hanya menyeringai.
"Apa kau merasa memiliki kesalahan besar padaku?"
"M-maksud kamu?" tanya Nessa gugup.
"Lupakan saja.." Axel mencoba untuk bersikap biasa saja dengan Nessa.
'Dasar bodoh, aku hanya butuh hartamu, Axel..' batin Nessa.
'Kaulah, yang bodoh. Aku yang akan membuatmu menangis darah, aku takkan terjebak lagi, Nessa." Batin Axel.
***
Malam ini Sarah baru saja selesai mandi, ia bergegas mencari ponselnya saat ponselnya berdering.
Ia menjawab panggilan itu..
"Hai, sayang.. apa kabar?"
"Hai, mami.. Sarah baik, mami apa kabar? Baru saja kemarin kita telponan." Jawab Sarah terkekeh.
"Hm, mami merindukanmu, sayang.."
"Iih, Sarah juga rindu sama mami. Mau ketemu mami.." jawab Sarah dengan suara manjanya.
Amel hanya terkekeh mendengar ucapan putri semata wayangnya.
"Siapa suruh kamu tinggal disitu? Kan mami udah bilang, resiko hidup jauh dari mami sama papi ya gitu. Harus bisa menahan rindu.. tapi ya udah sih, biar dilan aja yang rasa." Kata Amel terkekeh.
"Iih, mami ngelawak."
"Hehe, ganti V.call dong sayang. Mama mau liat wajah jelek kamu."
Sarah mencibirkan mulutnya, lalu mereka mengganti dengan Video call.
"Ah, anak mami.. makin cantik aja."
Sarah tersenyum lebar.
"Anak mami gitu loh.."
Jawab Sarah bangga.
"Eh, tapi… kamu kok makin chubby sih?"
"AAAAA." Sarah teriak tak terima mendengar ucapan sang mami.
Amel terkekeh.
"Mami, serius sayang. Pipi kamu makin gembul, mami suka."
"Aaa, mami gitu.. Alex gak ada ngomong, kalo Sarah makin chubby."
"Dia mana berani ngomong itu ke kamu, yang ada dia kena amuk sama kamu."
Sarah terdiam sejenak. Benar juga yang di katakan mami nya. Alex mungkin tak berani mengatakan hal itu pada Sarah.
"Aduh, mami… bahaya kalo Sarah jadi gendut. Aduh, mi…." Sarah panik dan sedikit frustasi.
"Ih, anak mami kenapa coba? Lebih cantikan gembul begitu kok. Jadi kan kamu bisa gampang dapat pacar."
Sindir Amel yang mengetahui jika Sarah belum memiliki kekasih.
"Iih, mami apaan sih. Sebel deh Sarah."
Sarah mencibirkan mulutnya.
"Yang penting kamu sehat terus, sayang. Eh mami tutup dulu ya, mami mau buatkan coffee buat papi."
"Ya udah, salam buat papi, mi."
"Ya, sayang. Jaga dirimu baik-baik. Bye.."
"Bye, mami…"
Alea melepas handuk yang melilit di tubuhnya. Kini ia hanya memakai dalaman saja.
Berdiri di hadapan cermin..
Menatap dirinya, dari bawah hingga ke atas.
"Arghhh… aku beneran harus diet!!!" Teriak sarah dengan mengacak rambutnya.
"Aku gak mau gendut, gak mau, gak mau. Nanti aku jelek, aaa… gak mau.." ujar Sarah dengan menghentakkan kakinya di depan cermin besar.
Dia tersentak saat melihat seseorang sudah berdiri di belakang tubuhnya.
Sarah menundukkan pandangan ke perutnya. Lengan kekar melingkar di pinggangnya.
Membelai lembut perut Sarah.
"Ugh.." mulut yang kurang ajar, beraninya mengeluarkan suara yang menggoda seperti itu.
"Kau menyukai ini, hon?"
"A-axel, k-kamu mau ngapain?"
Sarah tergugup saat Axel mendekatkan tubuhnya di punggung Sarah.
"Tidak ada, hon. Aku hanya sedang memandang tubuh sexymu, yang kau sediakan secara gratis." Ucap Axel dengan seringaiannya.
Sarah berbalik badan dan ia terkejut, Axel dengan cepat merengkuh pinggangnya semakin menempel di dada bidang Axel.
Sarah menatap Axel yang memejamkan matanya.
"A-axel, aku mohon. Keluar…" Sarah gugup dan merasa takut.
"Aku akan keluar, hon. Kau tenang saja. Aku takkan menyakitimu. Aku bukanlah orang jahat."
Axel mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah.
"Kau sangat sexy, hon." Bisik Axel sensual di telinga Sarah.
Lalu mengecup lembut pipi Sarah dan pergi dari hadapannya.
Sarah mematung, ia tak mempercayai apa yang telah terjadi padanya dan Axel.
Dia dengan cepat mengunci pintu kamarnya.
"Ya, Tuhan.. ada apa denganku?!" Sarah mengibaskan tangannya di depan wajahnya dan bermondar-mandir tak tentu arah.
"Astaga, kenapa aku bodoh sekali. Gimana kalo Alex tau? Gimana kalo Axel bilang yang enggak-enggak ke Alex?"
Lalu Sarah mencoba mengatur napasnya, mencoba agar ia lebih rileks.
Bersambung...
