Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Malam ini, pukul setengah tujuh malam waktu Indonesia barat, aku baru saja terbangun dari tidurku. Astaga, berapa lama aku tertidur?

"Kamu baru bangun?"

Aku menolehkan kepala ke arah sumber suara, ternyata ada Alex disana. Di sofa kamar yang ku tempati sekarang.

"Oh, brother. Aku sangat merindukanmu," aku mendekati Alex dan duduk disampingnya.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Alex, mama menyuruhku untuk ikut tinggal disini." Ucapku padanya, sontak dia langsung menatap wajahku.

"Ck, bukannya aku udah bilang buat kamu tinggal disini." Jawabnya dengan berdecak kesal.

"Iya, sih. Tapi, aku takut akan terus merepotkan kamu."

"Sarah, apa pipi dan bahumu masih sakit?"

Sudah biasa, dia akan mengalihkan pembicaraan.

"Masih, pipiku terasa bengkak. Aku sangat takut, Alex."

"Tenanglah, sweeti. Aku yakin di sini, kamu akan aman."

"Semoga aja. Terimakasih, kamu udah jadi pelindungku."

"Ayo kita makan malam, aku membawa pulang pizza. Dan setelah itu aku akan obati lagi, pipimu."

"Yeayy. Terimakasih, pak dokter." Ucapku kegirangan.

Aku dan Alex pergi ke ruang tengah, karena Alex menaruh pizza nya disana.

Kami pun memakan pizza itu dengan menonton tv.

Dan saat itu pula, Axel baru saja pulang dari, emm entah dari mana. Aku tidak tahu,

"Axel, kemarilah. Bergabung dengan kami, makan pizza pembelian ku." Tawar Alex pada saudara kembarnya, Axel.

Lidahku sering berlibet menyebut nama dua orang itu. Beruntung aku tidak dekat dengan Axel, walaupun sebenarnya ingin dekat. Hehe,

Aku tak menyangka, ternyata Axel akan ikut bergabung dengan kami.

"Kau terlihat lesu, apa yang sebenarnya terjadi?"

Aku hanya menyantap pizza dengan melihat si kembar bercakap.

Aku bisa secara langsung melihat perbedaan di antara mereka berdua, jika Alex adalah laki-laki yang tampan, seorang dokter, lembut dan perhatian. Sedangkan Axel, dia jauh lebih tampan dibanding Alex, badannya juga lebih kekar darinya, tatapannya sangat tajam, dan kulitnya berwarna lebih gelap dibanding Alex. Membuatnya terlihat sangat sexy, aku terkekeh membayangkan Axel dan Alex menjadi orang sangat mementingkan ku.

Aku tersadar saat ada telapak tangan menyentuh dahulu.

"Iih, Alex. Kenapa pegang-pegang?" Racau ku dengan cemberut.

"Kau yang kenapa? Tiba-tiba terkekeh." Jelasnya.

"Eh, emang iya? Aku kok lupa ya, hehe." Jawabku dengan cengiran yang terlihat seperti manusia bodoh.

"Sial!!!"

Aku dan Alex terkejut dan menatap pada Axel yang kini tengah kesal, seperti terjadi sesuatu.

"Kenapa?" Tanya Alex pada kakaknya.

Axel lebih tua lima menit dari Axel.

"Nessa bener-bener kebanyakan drama. Udah tau salah, masih aja ngelak."

"Kan udah dedek bilang, kalau Nessa punya pacar lagi. Di bilangin sama dedek ngeyel aja."

Iyuh, menjijikan sekali mendengar Alex menyebut dirinya dengan sebutan dedek. Dedek beruang, aku terkekeh sendiri.

"Kau menertawakan ku?" Axel melontarkan pertanyaan itu dengan menatapku tajam.

"B-bukan, aku hanya membayangkan Alex yang menyebutnya dengan sebutan dedek. Semacam dedek beruang." Jawabku dengan gugup.

'Tak!!'

"Aduh, Alex." Aku meracau kesal dan mengusap dahiku yang di sentil Alex.

"Kau mengataiku dedek beruang?"

Aku hanya nyengir tanpa dosa padanya.

Aku bertemu pandangan dengan Axel yang kini masih menatapku. Jantungku tidak sehat, aku langsung menundukkan kepala. Sebelum aku terburu mati di sana hahaha,

"Sar, besok kamu kuliah 'kan?" Aku menoleh pada Lex, saat dia bertanya.

"Iya, kamu mau antar aku?"

"Ya, sweeti. Selesai jam berapa?"

"Sekitar jam setengah empat, kenapa?"

"Jam segitu, aku gak bisa jemput kamu. Kamu pulang sendiri gak papa kan?"

Aku terdiam sejenak, jujur saja, aku masih merasa takut dengan Arga.

"Ehm, ya udah. Iya deh, gak papa." Aku menjawab dan mencoba untuk terus tersenyum pada Alex.

"Maaf ya, aku sibuk besok. Mungkin juga aku gak pulang."

"Ya udah, gak papa. Aku tau kok, kamu mau liat Selina terus." Jawabku dengan menggoda Alex.

"Hei, diamlah."

Lalu ponselku berdering. Aku mengernyitkan dahiku, menatap layar ponsel. Nomor tak dikenal,

"Angkat tuh, siapa tau penting." Ucap Alex padaku.

Dengan ragu, aku menjawab panggilan itu.

Hening,

"Halo,?"

Hening,

"Halo?"

Lalu panggilan itu terputus.

"Kenapa?"

Alex kembali bertanya padaku.

"Aku tidak tau, itu nomor baru."

"Hm, orang iseng mungkin."

"Alex, Axel, aku tidur duluan ya?"

Axel hanya menjawab dengan anggukan.

"Ya udah, sweeti. Selamat tidur, jangan begadang nonton drama."

"Aku beneran ngantuk, kok. Malam semua," lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua.

***

"Ku kira dia kekasihmu, Alex." Ucap axel pada adiknya.

Alex hanya tertawa mendengar perkataan Axel.

"Yang bener aja. Dia ini sudah ku anggap jadi adikku, aku juga sedang mengincar gadis di kantin rumah sakit."

Axel sedikit bernapas lega, setelah mendengar jawab dari Alex.

"Lalu, kenapa dia ada disini?"

"Gak papa, aku menyuruhnya untuk tinggal disini. Sepertinya itu tak masalah, kau jarang pulang. Aku pun begitu, bang Toyib."

Lalu Axel melempar bantal sofa ke wajah Alex,

"Bang Toyib, mbahmu. Aku jarang pulang karena banyak kerjaan, lagian gak ada kegiatan dirumah."

"Ya deh, terserah anda. Tuan keras kepala."

"Ck, berani banget sama abang."

Alex hanya terkekeh,

"Mungkin besok, aku dirumah. Aku menginginkan ketenangan."

"Apa ini karena Nessa??"

Axel menjawab dengan anggukan lagi,

"Dia membuatku pusing, hanya uang yang dia inginkan."

"Kau bahkan menyukai sex dengannya."

"Itu sudah kebutuhan biologisku."

"Itu tidak sehat, Axel. Aku sudah memberitahumu, untuk tidak melakukan hal itu di luar ikatan tali pernikahan." Ujar Alex mengingatkan kakaknya.

"Sudahlah, kau tidak perlu ikut campur. Kau belum merasakan itu, aku yakin jika kau sudah merasakan hal itu, kau akan jauh lebih gila dariku." Jawab Axel dengan seringainya.

***

Sarah (POV)

Aku sudah selesai kelas, ternyata diluar dugaan. Aku mengira semua akan selesai jam empat sore, ternyata jam tiga pun sudah selesai.

Aku berjalan menyusuri lorong kampus, hingga tiba di depan gerbang. Aku berdiri dan menunggu taksi.

Ku menoleh ke samping, sedikit lebih jauh dariku.

Ada orang memakai Hoodie hitam yang menatap ke arahku.

Aku menelan ludah, dia berjalan pelan menuju diriku.

Aku dengan terburu menyetop taksi, dan beruntung taksi yang ku stop langsung berhenti.

Aku benar-benar terkejut, ternyata orang itu berlari mengejar taksi yang ku tumpangi.

Dia benar-benar mengejar taksiku.

"Mau kemana, neng?"

Tanya sopir taksi padaku.

"Pak, tolong dipercepat ya? Antar ke perumahan Puri indah."

Lalu sang sopir mempercepat, aku tak menyangka jika pria itu masih mengejar taksi yang ku tumpangi.

Akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah Alex, aku dengan cepat membayar taksi dan tak memperdulikan kembaliannya.

Aku berlari dengan tergesa, aku langsung berlari masuk dan,

'brakkk'

Aku menutup pintu dengan kencang.

Napasku terengah-engah, aku menyandar di pintu.

"Ya Tuhan, tolong aku."

Aku benar-benar kehabisan napas.

"Kenapa kau?"

Aku langsung menaikkan pandanganku, menatap Axel.

Aku hanya menggeleng kecil.

Axel, sedikit memicingkan matanya.

Lalu ponselku berdering,

Nomor tak dikenal, seperti nomor yang semalam menghubungi ku.

Aku menjawabnya, mungkin saja itu nomor teman kampus atau dosen.

"Halo,?"

Hening,

"Halo?"

Lalu terdengar suara tertawa disana, laki-laki.

"Mati!!!" Suara itu terdengar berbisik.

Sontak aku melemparkan ponselku ke lantai, hingga pecah menjadi tiga bagian.

Axel terkejut dan menghampiri ku.

"Hei, ada apa?"

"Axel, hiks hiks.. A-aku takut." Aku tak peduli dengan tatapan tajam Axel, aku langsung memeluk dirinya. Menangis didalam pelukannya.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel