Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Pagi ini aku sedang berada di dapur rumah Alex. Aku membuat sarapan pagi untukku sendiri, membuat omelette telur.

Barang-barang milikku belum sampai di sini, jadi aku juga memakai kemeja Alex. Kemeja berwarna putih, sangat besar di badanku. Aku terkekeh melihat penampilanku sekarang.

Alex sudah berada di rumah sakit. Sebelum itu dia berpesan padaku, untuk melakukan apa saja sesuai keinginanku dirumah ini.

Aku beruntung memilikinya, susah payah aku berada di kota Jakarta. Ini semua berkat Alex, yang ikut meminta ijin pada kedua orang tuaku.

Aku terdiam sejenak, merasakan pipiku seperti memar akibat tamparan pria sialan itu.

"Auh," aku melenguh kesakitan saat menyentuh pipiku.

Aku tak menyadari jika ternyata ada orang yang memperhatikan diriku.

"San** ya?"

Aku terlonjak kaget, menolehkan kepalaku. Dan terkejut, ternyata Axel berdiri, melipat tangan didada dan menatapku dengan tatapan tajam.

'gluk'

Aku menelan ludah, mengerikan jika harus bertatap muka langsung dengannya.

"K-kamu tanya apa? A-aku gak ngerti, El." Ucapku dengan gugup.

Aku melihat Axel menyunggingkan senyumnya.

"Kamu gak tau, san**?"

Axel semakin mendekatiku, aku benar-benar gugup.

Aku menggeleng pelan.

Axel hanya tertawa kecil. Aku benar-benar bingung, apa maksud dari pertanyaannya.

"Oh ya, kamu ngapain dirumah ini?"

Aku benar-benar takut, saat Axel memberikan pertanyaan itu padaku.

"I-itu, maaf. Aku cuma mau numpang tinggal." Jawabku dengan nada lembut.

Axel semakin menatap tajam padaku.

Tatapan itu, membuatku semakin tertarik padanya. Sekian lama aku menanti waktu seperti ini, ingin bercakap langsung dengannya.

"Untuk apa kamu ikut tinggal disini? Miskin hah?"

Uh, pertanyaan Axel membuat hatiku tertusuk. Aku menghela napas berat.

Lalu kulihat Axel sedang memicingkan matanya menatapku.

"A-ada apa?" Tanyaku gugup, sungguh jantungku berdetak tak beraturan.

Axel semakin mendekat padaku. Hingga aroma maskulin menyeruak di hidungku. Benar-benar menggoda.

Lalu Axel berbalik dan meninggalkanku yang terdiam.

Aku langsung terduduk di kursi, dan menghela napas lega.

"Benar-benar menegangkan menghadapi dirinya. Lidah yang tajam." Gumamku.

Lalu aku menyuapkan potongan omelet ke dalam mulutku.

"Aduh, bibirku terasa perih. Gara-gara Arga menamparku."

Lalu aku menyelesaikan ritual makan ku, dan setelahnya aku membersihkan piring bekas ku makan.

Aku berjalan naik, kembali ke kamar Alex.

Aku berpapasan dengan seorang gadis, mungkin itu kekasih Axel.

Sangat sexy, cantik dan juga mempunyai dada besar.

Dia melihat sinis padaku, padahal aku tak berbuat apapun.

Lalu aku berjalan kembali ke kamar Alex, kini aku berpapasan lagi dengan Axel.

Axel menyeringai, aku benar-benar terkejut saat dia menepuk bokongku.

'puk'

"Aaahhh," aku teriak karena terkejut.

"Aku bahkan hanya menepuk saja dan kamu sudah segitunya." Lalu Axel pergi begitu saja.

Tanpa minta maaf, hanya dengan seringaian licik.

Aku bergidik ngeri, karena sikapnya jauh berbeda dengan Alex.

Tapi, entah kenapa, aku menyukai Axel.

Aku merebahkan tubuhku, diranjang empuk milik Alex.

Lalu aku berinisiatif untuk menghubungi mama ku di batam.

"Sayang," aku mendengar suara lembut di seberang ponselku. Suara mamaku, aku sangat merindukan dirinya.

"Mama, Sarah kangen." Aku mengeluarkan suara manjaku padanya.

Ku dengar mama hanya terkekeh.

"Kau sendiri yang ingin tinggal di Jakarta dengan Alex. Kalau Alex gak ngeyakinin, pasti kamu masih di sini."

"Ya, kan Sarah mau sama Alex. Udah gitu Alexnya baik, ma."

"Iya, mama tau. Oh ya gimana, kamu jadi pindah?"

"Udah kok, ma. Ini Sarah ikut tinggal dirumah Alex. Rumahnya besar, tapi isinya cuma dia orang." Jelasku.

"Memang gak papa tinggal dirumah, Alex?"

"Untuk sementara aja mungkin, ma. Sarah gak mau ngerepotin Alex lebih jauh lagi."

"Sarah, kamu ini perlu tempat yang aman. Mama rasa kamu lebih baik tinggal disitu. Mama khawatir, kalau pria gila itu datang mencarimu jika ku tinggal seorang diri."

"Ma, sar … "

"Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, mama mau kamu pulang dan berhenti kuliah."

'Deg'

Aku merasa takut dengan ancaman mama.

Aku menghela napas panjang.

"Ya udah, iya. Sarah tinggal dirumah Alex. Alex juga udah nyuruh Sarah tinggal disini."

Aku mendengar mama menghela napas lega.

"Mama sayang sama kamu, papa juga tiap hari kangen sama kamu." Mama mengatakan itu dengan tertawa kecil.

Mama dan papa selalu memanjakan ku, itu karena aku adalah anak tunggal dari mereka.

Aku juga sangat merindukan mereka, di Batam. Di kota itulah aku tercetak dan terlahir. Aku terkekeh memikirkan hal itu.

"Sayang, jangan lupa makan yang teratur, minum. Jaga bagimu, biar cepat sembuh. Jangan sampai cidra nya bertambah parah. Kau mengerti?" Lagi-lagi mama bawel, tapi bawel bukan memarahiku. Bawel karena mengkhawatirkan diriku.

"Iya, mama. Sarah sayang sama mama, sama papa. Sarah rindu kalian. Udah dulu ya mama, ada yang datang. Bye mama, love you. Muaaach." Lalu Sarah mematikan sambungan teleponnya sepihak.

Lalu terdengar suara bel, aku berlari turun. Berniat untuk melihat siapa yang datang.

"Permisi,"

"Iya, siapa ya?"

"Ini saya mau antar barang-barang milik nona Sarah. Saya disuruh tuan Alex, mengantar ini."

"Oh, ya. Bapak, tolong bawakan masuk ya pak. Saya gak bisa angkat beban berat."

"Iya, non."

Ternyata orang suruhan Alex, yang datang membawa barang-barang milikku dari apartemen.

Menyuruh orang itu masuk dan membawakan barang-barang milikku.

Aku pun terkejut saat melihat seorang wanita paruh baya berada di kamar dekat tangga.

"Selamat pagi, non Sarah." Sapanya membuatku paham, mungkin dia maid dirumah ini.

Aku tersenyum lembut.

"Pagi, bi. Dengan bi???"

"Bi Etik, non." Jawabnya dengan sedikit menunduk.

"Aduh, bibi. Jangan nunduk gitu, Sarah lebih muda dari bibi. Ih Sarah jadi terkesan gak sopan, tau." Gerutuku karena aku tak suka dihormati dari orang yang lebih tua dariku.

"Baiklah, non. Oh ya non, itu kamarnya sudah saya bereskan, ini barang-barangnya mau diberesin juga?"

"Boleh, bi. Sarah minta bantuin ya? Soalnya Sarah gak bisa kerja berat-berat. Bahu Sarah masih belum bisa, bi."

"Non Sarah sakit?"

"Cuma cidra, bi. Masih masa pemulihan. Ayo, bi … bantuin Sarah." Pintaku pada bi Etik.

Lalu bi Etik mengiyakannya, dan aku membereskan barang-barang milikku dengan dibantu bi Etik.

Hingga hampir sore hari, aku dan bi Etik baru selesai membereskan semua barang-barang milikku. Aku tak menyangka, ternyata barang-barang ku sangat banyak.

Ah, tak lupa dengan kesayanganku, Ciki. Dia kucing kesayanganku. Aku merindukannya, karena kemarin belum sempat ku bawa ke rumah ini dengan Alex.

Aku memberikan makanan untuknya, lalu aku menghempaskan sejenak tubuhku di ranjang.

Hari yang sangat melelahkan, tak terasa aku pun sangat ngantuk. Tapi, badanku terasa tak enak. Merasa lengket, membuatku beranjak untuk mandi lebih dulu.

Setelah itu aku memilih piyama motif bunga Opium, sama seperti namaku. Sarah Opium.

Ini adalah nama pemberian dari ayahku, entahlah. Aku tak mengerti dengan kata Opium, karena yang aku tahu. Bunga Opium ini sangat cantik, namun akan mengeluarkan getah jika dia tergores.

Lalu aku kembali merebahkan tubuhku, mataku terasa sangat berat, semakin berat dan membuatku tertidur.

Bersambung...

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel